Kualitas suatu
bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya. Kecerdasan dan
pengetahuan sendiri dihasilkan dari berapa banyak informasi yang diterima baik
secara lisan maupun tulisan. Apabila suatu daerah memiliki penduduk yang
semakin semangat dalam mencari ilmu pengetahuan, maka akan semakin tinggi pula
peradabannya.
Secara sederhana,
literasi dapat diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan baca-tulis
menjadi hal penting karena secara umum hal tersebut menjadi dasar cara seseorang menyerap pengetahuan. Kegiatan
membaca merupakan proses awal memasuki dunia pengetahuan yang begitu luas
menuju masyarakat maju.
Hari Aksara
Internasional (HAI) yang ditetapkan untuk diperingati pada tanggal 8 September
melalui Konferensi UNESCO, Kemendikbud menetapkan tema nasional, yakni
“Mengembangakan Literasi yang Berbudaya”. Peringatan HAI bisa menjadi
kesempatan pemerintah dan masyarakat untuk menyoroti peningkatan tingkat melek
huruf di dunia dan merenungkan tantangan keaksaraan.
Di Indonesia,
tingkat kemampuan baca-tulis dapat dilihat dari Angka Melek Huruf (literacy rate). Kata “melek huruf”
dapat diartikan sebagai kemampuan untuk dapat membaca dan menulis huruf
latin/lainnya pada tingkat yang baik untuk berkomunikasi dengan orang lain atau
dapat menyampaikan idenya dalam masyarakat yang mampu baca tulis.
Angka Melek Huruf
Angka Melek Huruf
(AMH) merupakan proporsi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang memiliki
kemampuan membaca dan menulis kalimat sederhana dalam huruf latin, huruf arab,
dan huruf lainnya (seperti huruf jawa, kanji, dan lain-lain) terhadap penduduk
usia 15 tahun ke atas. AMH dapat digunakan untuk melihat sejauh mana penduduk
suatu daerah terbuka terhadap pengetahuan. Berdasarkan data Badan Pusat
Statistik, pada tahun 2017 Angka Melek Huruf di Indonesia adalah 95,92 persen
yang artinya sekitar 95,92 persen penduduk di Indonesia yang berumur 15 tahun
ke atas dapat membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya.
Tingkat melek huruf
yang tinggi dapat menunjukkan adanya sebuah sistem pendidikan dasar yang
efektif dan atau program keaksaraan yang memungkinkan sebagian besar penduduk
untuk memperoleh kemampuan menggunakan kata-kata tertulis dalam kehidupan
sehari-hari dan melanjutkan pembelajaran.
Pada tahun 2017,
berdasarkan data Badan Pusat Statistik, masih terdapat 12 provinsi yang
memiliki persentase penduduk buta huruf usia 15 tahun ke atas di atas angka
nasional yaitu Jawa Tengah (6,61 persen), DI Yogyakarta (5,36 persen), Jawa
Timur (8,18 persen), Bali (7,10 persen), NTB (12,86 persen), NTT (8,32 persen),
Kalimantan Barat (7,52 persen), Kalimantan Utara (4,86 persen), Sulawesi
Selatan (8,35 persen), Sulawesi Tenggara (5,68 persen), Sulawesi Barat (7,21
persen), dan Papua (26,11 persen).
Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan juga telah merumuskan upaya penuntasan buta aksara
dengan memprioritaskan pada daerah-daerah “merah”, komunitas adat
terpencil/khusus, daerahtertinggal, terdepan, dan terluar, meningkatkan
kapasitas dan kompetensi tutor pendidikan dan keaksaraan, mendiversifikasikan
layanan program, serta memangkas birokrasi layanan program melalui aplikasi
daring.
Manfaat Membaca
Kebiasaan membaca
tentu tak bisa muncul begitu saja. Tak akan ada manusia yang langsung memiliki kebiasaan
membaca sejak lahir. Menumbuhkan generasi yang memiliki karakter gemar membaca
membutuhkan waktu yang panjang. Selain itu juga dibutuhkan sarana yang
kondusif. Hal ini bisa dimulai dari lingkungan yang paling kecil yaitu
keluarga, didukung lingkungan sekolah, lingkungan pergaulan, hingga lingkungan
pekerjaan.
Membaca membuka
jendela dunia. Ungkapan ini sudah sering kita dengar, tapi tidak semua orang
bisa menerapkan makna sebenarnya dari ungkapan tersebut. Mindset membaca sama dengan belajar, yang digunakan untuk
menghasilkan nilai-nilai akademik masih kental di masyarakat. Padahal, makna
membaca lebih dalam dibanding itu. Membaca bisa dilakukan oleh siapa pun, kapan
pun, dan di mana pun. Membaca tidak melulu soal mempelajari apa yang perlu
didapatkan di bangku sekolah. Membaca bisa menjadi sarana hiburan atau bisa
jadi cara untuk menyelesaikan masalah hidup bagi sebagian orang.
Membaca buku akan
memberikan banyak manfaat. Diantaranya sebagai hiburan, penghilang stress,
membantu meningkatkan kecerdasan otak dan emosional, daya imajinasi, serta
keterampilan berbahasa. Sains membuktikan membaca meningkatkan aktivitas otak
dan kemampuan analisis yang mencerminkan bagaimana seseorang berperilaku dan
mengelola emosinya.
Membaca juga dapat
meningkatkan rasa empati. Seseorang yang punya hobi membaca cenderung memiliki
pembawaan yang tidak gegabah. Ia akan mencoba menganalisis masalah yang ada di
sekitarnya dan mencoba melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang. Kecerdasan
literasi dibutuhkan untuk memilah antara informasi yang mencerahkan dan yang
sekedar sampah. Hal ini sangat penting di tengah era “viralkan” berita yang
sering berlalu lalang di media sosial, yang kebenaran isinya belum tentu benar.
Orang yang hobi membaca cenderung mencari tahu lebih banyak. Secara naluri,
mereka akan menganalisis berita tersebut dan membandingkannya dengan
informasi-informasi lain, sehingga ia akan menjadi lebih bijak dalam bersikap.
Sarana Membaca
Di Indonesia, terdapat
sekitar 25.728 perpustakaan yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk
mendapatkan bahan bacaan. Yang paling banyak adaah perpustakaan sekolah yang
berjumlah 22.375, perpustakaan umum 1.506, perpustakaan khusus 1.002. dan
perpustakaan perguruan tinggi 845. Sementara itu, untuk perpustakaan daerah,
Jawa Barat memiliki perpustakaan terbanyak yaitu 4.780 dan paling sedikit di
Papua Barat yakni 3 perpustakaan. (Perpusnas, 2017).
Di sini, peran
pemerintah daerah dibutuhkan dalam memperbaharui buku-buku baru sehingga
koleksi perpustakaan menjadi lebih banyak. Menciptakan sarana yang nyaman juga
perlu sehingga perpustakaan bisa dijadikan salah satu alternatif untuk
menghabiskan waktu di akhir pekan.
Di tengah era
globalisasi seperti sekarang ini, gawai juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana
untuk membaca. Banyak aplikasi berupa perpustakaan online seperti iPusnas,
iJak, dan sebagainya. Orang-orang tidak perlu lagi membawa buku tebal yang
mungkin akan merepotkan. Walaupun bagi sebagian besar orang, membaca buku dalam
bentuk cetak akan membawa kenikmatan tersendiri.
Kemampuan literasi
yang baik akan melahirkan individu yang hebat. Dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga,
masyarakat, bangsa, serta umat manusia. Dengan membaca akan bertambah ilmu
pengetahuan, sikap, dan keterampilan seseorang. Pada gilirannya, kegemaran
membaca akan terbentuk menjadi budaya yang berperan penting dalam menciptakan
bangsa yang berkualitas.
Membaca itu penting
bagi pikiran sebagaimana berolahraga juga penting bagi tubuh. –Sir Ricard
Steele-