Kamis, 28 November 2019

Butir butir syukur


Aku tahu, bahwa setahun terakhir banyak sekali rasa yang singgah. Ada kalanya kamu melonjak girang, termenung sedih, protes yang menggejolak, kesepian sangat dan kamu biasa-biasa saja seolah oleh memang itu yang harus terjadi.
Bukankah ini sudah sangat lama, sejak terakhir kali kita bersua? Ini sudah hampir penghujung tahun dan baru kali ini kamu kembali.
Ah, bukankah manusia memang kadang seperti itu? Mengapa ia dan aku tidak? Pertanyaan itulah yang akan terus menggerogotimu. Mengikis satu per satu butir-butir syukur tentang apa yang diberikan Allah untukmu.
Bahwa kamu masih bisa menikmati rasa di lidahmu.
Bahwa kamu masih bisa menggerakkan tubuhmu.
Bahwa kamu masih dikelilingi orang-orang yang baik.
Bahwa kamu masih bisa menghirup udara.
Bahwa kamu masih bisa tidur nyenyak.
Bahwa kamu masih bisa…..banyak sekali bukan, yang bahkan tidak bisa kamu sebutkan satu per satu.
Kamu tahu itu dan kamu harus menyukurinya. Lihatlah orang lain dalam sudut pandang yang beda, karena tiap orang juga pasti punya perjuangannya masing-masing.
Oh iya, kuingatkan lagi, selamat bertambah umur, semoga kamu menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bermanfaat.


Kamis, 06 Desember 2018

Watak


Dini hari. Malam masih pekat. Kereta sudah berhenti. Orang-orang berduyun-duyun turun. Bukan orang-orang sebenarnya, karena hanya segelintir orang. Kuambil tas punggung, juga teman sebelahku.
“Siapa yang menjemput?” tanyanya.
“Saudara,”  jawabku singkat, juga tak yakin.  Ini masih dini hari, bulan puasa. Siapa pula yang akan beranjak keluar saat malam masih cukup menggigil menusuk tulang.
Dia akan berangkat sepuluh menit lagi.
Sebuah pesan masuk. Tak apa. Paling tidak tiga puluh menit lagi ia akan datang.
“Dijemput atau nunggu terang?” tanyaku pada teman lain. Rumahnya lebih jauh dariku, juga kutahu taka da yang bisa menjemputnya.
“Nunggu terang.”
Baguslah, ada teman.
Kami turun, bertiga. Lalu duduk di ruang tunggu.
“Ayo bareng,” ajaknya. Teman sebelahku tadi. Sebut saja K.
Dia dijemput orang tuanya, dengan mobil. Temanku yang satunya, sebut saja Y, juga ditawari.
Kutolak, arah rumahku tak sama. Lebih baik aku menunggu tiga puluh menit lagi.
“Nggak papa sekalian lewat,” ucap laki-laki setengah baya, Bapaknya yang entah kapan sudah berdiri di depan kami.
“Tidak usah, terima kasih.” Tolakku halus.
“Dari pada di sini sendiri, ayo kami antar,” ucapnya lagi.
“Baiklah.”
Kami beriringan menuju mobil. Aku akan diantar lebih dulu. Arah rumahku berbeda dengan mereka. Desaku, pukul tiga pagi masih sepi, jarang sekali orang-orang keluar. Rumahku juga tak dipinggir jalan raya. Tak mungkin aku minta diantar sampai rumah ketika si Bapak sudah mengeluh bensinnya akan segera habis, sepanjang jalan.
Kuminta diturunkan di pinggir jalan. Kubilang tak apa, saudaraku akan segera menjemput.
Apakah tak apa jika aku menunggu sendiri, dia beralasan sesuatu yang tak lagi bisa kudengar. Aku mengangguk.
Mobil itu menjauh. Aku sendirian, di pinggir jalan, perempuan, dini hari, gelap, takut, memencet cepat tombol HP, mulai terisak.
Tak pernah kutemui seorang Bapak yang setega itu. Punya anak perempuan pula. Tapi, siapa saya? Hanya orang asing.
Untuk beberapa bulan kemudian aku tahu bahwa dia orang terpandang di desanya, juga keluarganya.
Suatu kali pula, aku dan teman-teman mendaftar universitas di kota sebelah, menyewa sebuah mobil dan supirnya, tetangga salah seorang teman.
Pulang malam, masih jam tujuh, angin kencang sekali, hujan akan segera bertandang. Salah seorang teman meminta turun, dia akan dijemput bapaknya.
Kami berhenti di pinggir jalan, dekat tenda pecel lele. Suasana ramai. Si teman minta ditinggalkan, ini belum terlalu malam, masih terang, ramai, banyak orang. Si bapak supir bersikukuh menunggu, tak baik perempuan menunggu sendirian. Kami menunggu cukup lama, hujan sudah mengincar sejak tadi, apalagi angin yang sudah wira-wiri.
Kami kembali naik mobil ketika bapak si teman menjemput, mengucapkan terima kasih.
Si bapak supir baik, ia mau menunggu. Tapi untuk beberapa bulan kemudian aku mendengar kabar bahwa dia bukanlah laki-laki yang baik, karena ibu temanku didekatinya, hingga keluarga mereka terpisah.
##
Entahlah. Mungkin sisi seseorang tak pernah bisa benar-benar dilihat. Sisi yang benar-benar banyak.
Hal yang cukup menggangguku kini, apakah dia orang yang baik? Tanya seseorang. Si teman yang memberi tumpangan mobil dulu maksudnya. Dan susah sekali untuk bilang bahwa, dia orang yang baik. Jelas saja tak ada yang akan percaya jika kubilang begitu. Penampilannya jauh lebih meyakinkan untuk dikatakan bahwa dia orang baik. Ini salahku. Aku berusaha melupakannya dan itu susah sekali. Harusnya aku tak mendemdam, semoga suatu saat nanti, secepatnya, ingatan itu hilang.
Penampilan mungkin salah satu cerminan seseorang. Tapi, watak, tak bisa benar-benar dikenali dari itu.
Dari seorang teman yang sudah kuanggap saudara, beliau pernah memberitahuku. Nasehat Umar bin Khattab, tentang mengenali watak seseorang. Memiliki hubungan dagang/hutang piutang, pernah beragumentasi/berbeda pendapat hingga bisa dilihat bagaimana sikap seseorang ketika marah, juga bepergian dengan batas waktu 10 hari/lebih hingga tinggal bersamanya dan bisa mengamati hal-hal yang tak terlihat selama ini.

Senin, 05 November 2018

Berhenti bertanya

Semakin kesini, saya semakin segan untuk bertanya kepada orang lain mengenai kehidupan mereka. Mengurangi rasa kepo. Siapa yang suka bila hal-hal privasi ditanyakan oleh orang lain, terlebih orang-orang yang sebetulnya tidak terlalu dekat dengan kita.
Untuk apa terlalu tahu kehidupan orang lain? Biar lebih bahagia karena merasa kehidupan kita lebih baik dari mereka, atau yang terburuk, malah bisa jadi memperburuk suasana hati, kenapa kita tak mendapat apa yang orang lain dapatkan.
Orang yang dekat cenderung malah tak bertanya jika kita tak menceritakannya, ada batasan apa yang boleh ditanyakan dan tidak ditanyakan. Jika dirasa perlu, pasti kita akan bercerita terhadap orang-orang dekat. Cukup ada untuk mereka. Cukup mendengarkan dan beri saran, tidak menghakimi.
Saya tak terlalu suka bila orang lain kepo pada kehidupan saya, sehingga saya pun tak kepo pada kehidupan mereka. Dan batasan-batasan privasi tiap orang berbeda-beda. Toh, apa untungnya jika kita tahu tentang kehidupan privasi orang lain.
Saya pikir, hal ini akan membahagiakan. Berhenti bertanya, berhenti terlalu melihat kehidupan orang lain.
Dalam drama yang pernah saya tonton berjudul “Wise Prison Life”, ada satu dialog yang membekas dalam ingatan saya. Begini kira-kira,
Jadi apa arti sebuah kebahagiaan?
Kebahagiaan sebenarnya sederhana, jika kita tak melihat pandangan orang lain.
Tidak terlalu berhubungan sih, tapi saya suka aja.
Nikmati hidupmu, lakukan hal-hal positif yang kau sukai, ,menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Hidup cuma sekali, buat apa dihabiskan untuk mengurusi kehidupan orang lain ketika banyak sekali hal dalam hidupmu sendiri yang perlu kau nikmati dan syukuri.

Rabu, 03 Oktober 2018

Sebuah kebaikan


Apakah balasan kebaikan selain kebaikan?
Ingat betul bagaimana nasehat mamak ketika saya bilang bahwa saya akan pindah ke tempat yang baru. Baiklah pada orang, nanti orang baik juga akan menghampirimu. Sekalipun ada orang yang tak cukup baik menurutmu, tetaplah baik padanya.
Pesan yang terakhir adalah yang sulit. Itu menurut saya. Susah sekali untuk baik terhadap orang yang menurut saya menjengkelkan.
Tapi jika kau sudah baik, yakinlah bahwa orang-orang baik akan menghampirimu. Karena, apalagi yang akan membalas sebuah kebaikan kecuali kebaikan.
Suatu kali, saat saya sedang PKL pada masa kuliah dulu, ketika lelah hingga saat berkeliling kampung, ada seorang ibu yang terus membohongi saya bahwa anaknya tidak lagi tinggal di rumah, saya butuh untuk bertemu dengan anaknya dan menanyai beberapa hal terkait penelitian yang menjadi tugas saat PKL.
Si tetangga ibu, rumahnya berdempatan, masih terhitung saudara, baik sekali sama saya. Dia menawari saya istirahat ketika saya bolak balik ke sana dan masih belum bisa menemui anak si ibu yang berbohong pada saya. Ibu ini sebenarnya berbohong karena takut bahwa saya adalah seorang penagih hutang, mengingat anaknya yang sering berhutang.
Lepas dari itu, si tetangga ibu itu pernah bercerita pada saya “Saya hanya ingin memudahkan adek, mengingat mungkin anak saya yang sedang kuliah juga mungkin suatu kali akan seperti adek, semoga orang-orang juga memudahkannya.”
Mungkin Mamak juga akan berlaku demikian. Juga mamak-mamak diluar sana. Karena seorang ibu tak bisa mendampingi anaknya seumur hidup, itulah salah satu cara bagaimana mereka mendatangkan orang-orang baik pada hidup anaknya secara ta langsung.
Jadi apalagi balasan sebuah kebaikan kecuali kebaikan. Entah kebaikan mana yang Mamak lakukan, yang saudara saya lakukan, yang teman-teman saya lakukan, hingga banyak orang yang menolong saya ketika saya sedang butuh bantuan. Orang-orang baik yang datang pada saya, hal-hal baik yang terjadi pada hidup saya, entah berasal dari kebaikan mana, karena tak mungkin semuanya berasal dari saya.
Jadi, berbuat baik sajalah.


Rabu, 26 September 2018

Membaca: Dari Karakter Hingga Budaya (Kalteng Pos, Selasa, 11 September 2018)


Kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya. Kecerdasan dan pengetahuan sendiri dihasilkan dari berapa banyak informasi yang diterima baik secara lisan maupun tulisan. Apabila suatu daerah memiliki penduduk yang semakin semangat dalam mencari ilmu pengetahuan, maka akan semakin tinggi pula peradabannya.
Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan baca-tulis menjadi hal penting karena secara umum hal tersebut menjadi dasar cara  seseorang menyerap pengetahuan. Kegiatan membaca merupakan proses awal memasuki dunia pengetahuan yang begitu luas menuju masyarakat maju.
Hari Aksara Internasional (HAI) yang ditetapkan untuk diperingati pada tanggal 8 September melalui Konferensi UNESCO, Kemendikbud menetapkan tema nasional, yakni “Mengembangakan Literasi yang Berbudaya”. Peringatan HAI bisa menjadi kesempatan pemerintah dan masyarakat untuk menyoroti peningkatan tingkat melek huruf di dunia dan merenungkan tantangan keaksaraan.
Di Indonesia, tingkat kemampuan baca-tulis dapat dilihat dari Angka Melek Huruf (literacy rate). Kata “melek huruf” dapat diartikan sebagai kemampuan untuk dapat membaca dan menulis huruf latin/lainnya pada tingkat yang baik untuk berkomunikasi dengan orang lain atau dapat menyampaikan idenya dalam masyarakat yang mampu baca tulis.
Angka Melek Huruf
Angka Melek Huruf (AMH) merupakan proporsi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang memiliki kemampuan membaca dan menulis kalimat sederhana dalam huruf latin, huruf arab, dan huruf lainnya (seperti huruf jawa, kanji, dan lain-lain) terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas. AMH dapat digunakan untuk melihat sejauh mana penduduk suatu daerah terbuka terhadap pengetahuan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2017 Angka Melek Huruf di Indonesia adalah 95,92 persen yang artinya sekitar 95,92 persen penduduk di Indonesia yang berumur 15 tahun ke atas dapat membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya.
Tingkat melek huruf yang tinggi dapat menunjukkan adanya sebuah sistem pendidikan dasar yang efektif dan atau program keaksaraan yang memungkinkan sebagian besar penduduk untuk memperoleh kemampuan menggunakan kata-kata tertulis dalam kehidupan sehari-hari dan melanjutkan pembelajaran.
Pada tahun 2017, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, masih terdapat 12 provinsi yang memiliki persentase penduduk buta huruf usia 15 tahun ke atas di atas angka nasional yaitu Jawa Tengah (6,61 persen), DI Yogyakarta (5,36 persen), Jawa Timur (8,18 persen), Bali (7,10 persen), NTB (12,86 persen), NTT (8,32 persen), Kalimantan Barat (7,52 persen), Kalimantan Utara (4,86 persen), Sulawesi Selatan (8,35 persen), Sulawesi Tenggara (5,68 persen), Sulawesi Barat (7,21 persen), dan Papua (26,11 persen).
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga telah merumuskan upaya penuntasan buta aksara dengan memprioritaskan pada daerah-daerah “merah”, komunitas adat terpencil/khusus, daerahtertinggal, terdepan, dan terluar, meningkatkan kapasitas dan kompetensi tutor pendidikan dan keaksaraan, mendiversifikasikan layanan program, serta memangkas birokrasi layanan program melalui aplikasi daring.
Manfaat Membaca
Kebiasaan membaca tentu tak bisa muncul begitu saja. Tak akan ada manusia yang langsung memiliki kebiasaan membaca sejak lahir. Menumbuhkan generasi yang memiliki karakter gemar membaca membutuhkan waktu yang panjang. Selain itu juga dibutuhkan sarana yang kondusif. Hal ini bisa dimulai dari lingkungan yang paling kecil yaitu keluarga, didukung lingkungan sekolah, lingkungan pergaulan, hingga lingkungan pekerjaan.
Membaca membuka jendela dunia. Ungkapan ini sudah sering kita dengar, tapi tidak semua orang bisa menerapkan makna sebenarnya dari ungkapan tersebut. Mindset membaca sama dengan belajar, yang digunakan untuk menghasilkan nilai-nilai akademik masih kental di masyarakat. Padahal, makna membaca lebih dalam dibanding itu. Membaca bisa dilakukan oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Membaca tidak melulu soal mempelajari apa yang perlu didapatkan di bangku sekolah. Membaca bisa menjadi sarana hiburan atau bisa jadi cara untuk menyelesaikan masalah hidup bagi sebagian orang.
Membaca buku akan memberikan banyak manfaat. Diantaranya sebagai hiburan, penghilang stress, membantu meningkatkan kecerdasan otak dan emosional, daya imajinasi, serta keterampilan berbahasa. Sains membuktikan membaca meningkatkan aktivitas otak dan kemampuan analisis yang mencerminkan bagaimana seseorang berperilaku dan mengelola emosinya. 
Membaca juga dapat meningkatkan rasa empati. Seseorang yang punya hobi membaca cenderung memiliki pembawaan yang tidak gegabah. Ia akan mencoba menganalisis masalah yang ada di sekitarnya dan mencoba melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang. Kecerdasan literasi dibutuhkan untuk memilah antara informasi yang mencerahkan dan yang sekedar sampah. Hal ini sangat penting di tengah era “viralkan” berita yang sering berlalu lalang di media sosial, yang kebenaran isinya belum tentu benar. Orang yang hobi membaca cenderung mencari tahu lebih banyak. Secara naluri, mereka akan menganalisis berita tersebut dan membandingkannya dengan informasi-informasi lain, sehingga ia akan menjadi lebih bijak dalam bersikap.
Sarana Membaca
Di Indonesia, terdapat sekitar 25.728 perpustakaan yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendapatkan bahan bacaan. Yang paling banyak adaah perpustakaan sekolah yang berjumlah 22.375, perpustakaan umum 1.506, perpustakaan khusus 1.002. dan perpustakaan perguruan tinggi 845. Sementara itu, untuk perpustakaan daerah, Jawa Barat memiliki perpustakaan terbanyak yaitu 4.780 dan paling sedikit di Papua Barat yakni 3 perpustakaan. (Perpusnas, 2017).
Di sini, peran pemerintah daerah dibutuhkan dalam memperbaharui buku-buku baru sehingga koleksi perpustakaan menjadi lebih banyak. Menciptakan sarana yang nyaman juga perlu sehingga perpustakaan bisa dijadikan salah satu alternatif untuk menghabiskan waktu di akhir pekan.
Di tengah era globalisasi seperti sekarang ini, gawai juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk membaca. Banyak aplikasi berupa perpustakaan online seperti iPusnas, iJak, dan sebagainya. Orang-orang tidak perlu lagi membawa buku tebal yang mungkin akan merepotkan. Walaupun bagi sebagian besar orang, membaca buku dalam bentuk cetak akan membawa kenikmatan tersendiri.
Kemampuan literasi yang baik akan melahirkan individu yang hebat. Dapat memberdayakan  dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat, bangsa, serta umat manusia. Dengan membaca akan bertambah ilmu pengetahuan, sikap, dan keterampilan seseorang. Pada gilirannya, kegemaran membaca akan terbentuk menjadi budaya yang berperan penting dalam menciptakan bangsa yang berkualitas.
Membaca itu penting bagi pikiran sebagaimana berolahraga juga penting bagi tubuh. –Sir Ricard Steele-


Minggu, 09 September 2018

Semasa


Dan jika kalian adalah calon jodoh yang baik, kalian tahu:
Hidup ini tak sedangkal mencari jodoh
It’s just a phase
Ada tujuan yang lebih utama
You’ve gotta find it first
-Alvi Syahrin-

Dulu sekali, semasa saya masih duduk di bangku sekolah entah kelas berapa, saya pernah membaca buku tentang jatuh cinta, dan betapa beruntungnya orang-orang yang jatuh cinta setiap hari. Pada bunga, pada matahari pagi, pada awan yang berarak, pada senyum, pada tangis, dan lainnya. Yang pada akhirnya mengantarkan kita untuk jatuh cinta pada Sang Pencipta semua, Allah SWT. Betapa Dia memberi karunia yang amat sangat tanpa kita minta. Betapa ia telah mengirimkan orang-orang yang sayang pada kita, harta yang cukup, dan sebuah rasa syukur. Saya rasa, ketika kau mencintai Allah, ketika kau percaya padaNya, kau memiliki apa yang kaubutuhkan.

Alhamdulillah.

Karena aku mencintai yang sewaktu-waktu pergi,
Yang sewaktu-waktu diambil,
Yang sewaktu-waktu mati.
Dan aku menjadi belajar tentang melepaskan.
Bahwa sebenarnya aku tidak pernah memiliki apa-apa.
-Kurniawan Gunadi-

Tersebab, kita tak pernah memiliki apa-apa. Juga diri ini. Sewaktu-waktu akan kembali pada Sang Pemilik. Maka, kita harus selalu bersiap.

Untukmu, semoga semakin bermanfaat.