Lili
menggaruk. Kulitnya yang putih kini berhias merah karena garukan tangannya.
Ilalang. Angin musim kering berhembus lancang. Rambutnya yang ikal
bergerak-gerak. Topi bundarnya sudah terbawa terbang. Mendarat di atas rumpunan
ilalang.
“Nat, kenapa
kau membawaku kemari? Tak adakah tempat lain yang lebih indah,” protes Lili.
Nat menjepret
sekali lagi dengan kameranya sebelum menjawab,”Ini sangat indah Lili. Lili dan
ilalang. Sebuah potret yang indah.”
“Jika menjadi
indah harus begini gatalnya, aku akan menolaknya Nat.”
Nat hanya
tersenyum. Temannya itu sudah menggerutu sejak memasuki rumpunan ilalang yang
hampir menyamai tingginya.
“Setelah ini
akan ada taman yang bagus. Percaya padaku, kau akan menyukainya.”
Mereka terus
maju ke depan. Menerobos kawananan ilalang yang seakan tak mengijinkannya
berjalan lebih jauh.
“Ini topimu.”
Nat mengulurkan topi jerami Lili.
“Terima kasih
sudah mengambilkan untukku.” Lili menjawab dengan muka masamnya.
“Ayo,” Nat
menarik tangan Lili, membimbingnya ke suatu tempat.
Tepat saat itu
hati Lili bergetar. Seperti ada kunang-kunang yang beterbangan di dadanya.
Bukan hanya satu.
“Aku tak akan
tersesat.” Lili menepis tangan Nat. Tak dibiarkannya kunang-kunang itu
beterbangan lebih lama.
Nat hanya
tersenyum menanggapinya. Kemudian dia berjalan, membiarkan Lili mengekor di
belakangnya.
Rumpunan
ilalang semakin jauh. Suara serangga yang sengau mulai bising terdengar. Sisi
kanan kiri mulai dihiasai pohon besar dan tanaman menjalar –rumput yang besar
bagi Lili.
“Kapan kita
akan sampai?” Lili dapat mendengar anak kecil yang mulai bosan dalam nada
suaranya.
“Kau memang
harus keluar dari kotakmu, Lili. Hidupmu terlalu datar.”
“Kau
membahasnya lagi? Baiklah, hidupku memang datar tapi aku bahagia.”
“Lalu, apa
tujuanmu hidup Lili? Hanya membuat dirimu bahagia.”
Lili hanya
terdiam. Pertanyaan itulah yang tak pernah berhasil dijawabnya. Nat sudah
melemparkan pertanyaan itu sejak pertama kali bertemu. Lalu, sebuah tanya
hinggap di kepala Lili yang semakin lama semakin besar.
“Kita sudah
sampai.” Ucap Nat yang membuat pikiran Lili kembali ke tempat dia berdiri.
“Wah, bunga
matahari.” Lili berlari ke sekerumun bunga matahari yang seang mekar dengan
wajah sumringah, melupakan gatal dan penat yang beberapa waku lalu digerutukan.
“Kau pasti
lelah, ayo kita makan.”
Nat lalu
membongkar isi tas nya. Mengeluarkan kotak perbekalan satu persatu. Menggelar
kain lebar bermotif kotak yang akan digunakan sebagai alas. Lili cukup terkejut
melihat isi tas Nat yang cukup komplit –Nat tak bermain-main dengan ajakan
pikniknya.
“Aku hanya
membawa ini.” Lili mengeluarkan dua kotak makan dan membukanya. Isinya sudah
cukup berantakan karena tergoyang selama perjalanan.
“Nasi goreng?”
“Yah, ini
mungkin memang tak tepat sebagai hidangan piknik, aku tahu itu.”
“Asal rasanya
enak tak apa.” Nat langsung mencomot sesendok dan memasukkan ke dalam mulutnya.
“Rasanya juga
seadanya Nat.”
Seketika tawa
mereka pecah. Nat dengan nasi goreng di mulutnya yang masih belum tuntas
dikunyah dan Lili dengan bayangan lidah Nat yang sedang mengalami kekagetan
tingkat tinggi sekarang.
“Aku memang
payah dalam memasak.”
“Ya, kau
memang sangat payah.”
Bekal yang
dibawa Nat membuat Lili takjub. Ikan balado dengan rasa yang enak, salad buah
dan sayur, dan beberapa sosis.
“Kau membuat
semua ini?”Lili bertanya dengan mulut penuh.
“Tentu saja.”
Nat menjawab dengan sedikit kagum pada dirinya sendiri.
Mereka
terdiam. Mengobati lapar yang hinggap beberapa waktu lalu.
“Masakanmu lumayan.”
Ucap Lili jujur, tak berniat memuji. Tapi ucapannya tak urung membuat senyum
Nat semakin lebar. Direbahkannya badannya. Angin berhembus sepoi membuai mata.
“Ini masuk ke
dalam waktu terbaikku Nat. Bagaimana denganmu?”
●●●
Lili tergeragap. Bangun mendadak. Terbangun di tempat asing adalah salah
satu hal yang tidak disukainya. Kepalanya pening. Matanya menangkap sosok Nat
yang sedang duduk tak jauh darinya. Seingatnya, dia sedang mengobrol tadi
sebelum kantuk menyekapnya.
“Kau sudah bangun rupanya, Putri Tidur.” Ucap Nat sambil menatapnya.
“Jam berapa ini? Langit sudah sore sepertinya.”
“Sudah setengah enam.”
“Kenapa kau tak membangunkanku. Nanti kita kemalaman di jalan,” protes
Lili. Tangannya tergesa memasukkan kotak-kotak makanan ke dalam tas nya. Nat
sudah membereskan kotak-kotak itu.
Nat bangkit. Membantu Lii beres-beres.
“Aku tak bisa membayangkan harus menyusuri ilalang dalam gelap.”
“Oh, kau mau mencoba?”
“Tentu saja tidak.”
Kemudian mereka lekas mencangklok tas punggung. Lili berjalan ke arah
yang rasanya dilewatinya saat memasuki taman.
“Oh, sungguh kau mau mencoba?” tanya Nat.
“Mencoba? Apa maksudmu Nat? Bukankah kita memang lewat sini. Atau jangan
bilang...” Lili menggantung ucapannya. Teringat keisengan Nat yang memang
parah.
“Jalan raya tak jauh dari sini Lili. Kecuali kalau kau benar mau melewati
padang ilalang itu, akan kutemani.” Nat masih dengan wajah tersenyum.
“Tunjukkan jalannya.” Ucap Lili keras.
“Tak perlu marah begitu.”
Mereka berjalan dalam diam. Hanya sekitar tiga ratus meter, mobil Nat
sudah terlihat.
“Demi apa tadi kita berjalan jauh waktu berangkat.” Lili menatap Nat
tajam.
“Kadang, kau harus merasakan sebuah perjuangan untuk mendapatkan
kebahagian. Piknik tadi lebih memuaskan kan ketimbang kalau kita hanya berjalan
sebentar.” Tangan Nat mengacak-acak rambut Lili pelan sebelum menuju mobilnya.
Seketika, dada Lili gaduh. Entah karena ucapan Nat atau usapan tangannya.