Selasa, 03 November 2015

Lili Mencuri Hujan (2)

Lili menggaruk. Kulitnya yang putih kini berhias merah karena garukan tangannya. Ilalang. Angin musim kering berhembus lancang. Rambutnya yang ikal bergerak-gerak. Topi bundarnya sudah terbawa terbang. Mendarat di atas rumpunan ilalang.
“Nat, kenapa kau membawaku kemari? Tak adakah tempat lain yang lebih indah,” protes Lili.
Nat menjepret sekali lagi dengan kameranya sebelum menjawab,”Ini sangat indah Lili. Lili dan ilalang. Sebuah potret yang indah.”
“Jika menjadi indah harus begini gatalnya, aku akan menolaknya Nat.”
Nat hanya tersenyum. Temannya itu sudah menggerutu sejak memasuki rumpunan ilalang yang hampir menyamai tingginya.
“Setelah ini akan ada taman yang bagus. Percaya padaku, kau akan menyukainya.”
Mereka terus maju ke depan. Menerobos kawananan ilalang yang seakan tak mengijinkannya berjalan lebih jauh.
“Ini topimu.” Nat mengulurkan topi jerami Lili.
“Terima kasih sudah mengambilkan untukku.” Lili menjawab dengan muka masamnya.
“Ayo,” Nat menarik tangan Lili, membimbingnya ke suatu tempat.
Tepat saat itu hati Lili bergetar. Seperti ada kunang-kunang yang beterbangan di dadanya. Bukan hanya satu.
“Aku tak akan tersesat.” Lili menepis tangan Nat. Tak dibiarkannya kunang-kunang itu beterbangan lebih lama.
Nat hanya tersenyum menanggapinya. Kemudian dia berjalan, membiarkan Lili mengekor di belakangnya.
Rumpunan ilalang semakin jauh. Suara serangga yang sengau mulai bising terdengar. Sisi kanan kiri mulai dihiasai pohon besar dan tanaman menjalar –rumput yang besar bagi Lili.
“Kapan kita akan sampai?” Lili dapat mendengar anak kecil yang mulai bosan dalam nada suaranya.
“Kau memang harus keluar dari kotakmu, Lili. Hidupmu terlalu datar.”
“Kau membahasnya lagi? Baiklah, hidupku memang datar tapi aku bahagia.”
“Lalu, apa tujuanmu hidup Lili? Hanya membuat dirimu bahagia.”
Lili hanya terdiam. Pertanyaan itulah yang tak pernah berhasil dijawabnya. Nat sudah melemparkan pertanyaan itu sejak pertama kali bertemu. Lalu, sebuah tanya hinggap di kepala Lili yang semakin lama semakin besar.
“Kita sudah sampai.” Ucap Nat yang membuat pikiran Lili kembali ke tempat dia berdiri.
“Wah, bunga matahari.” Lili berlari ke sekerumun bunga matahari yang seang mekar dengan wajah sumringah, melupakan gatal dan penat yang beberapa waku lalu digerutukan.
“Kau pasti lelah, ayo kita makan.”
Nat lalu membongkar isi tas nya. Mengeluarkan kotak perbekalan satu persatu. Menggelar kain lebar bermotif kotak yang akan digunakan sebagai alas. Lili cukup terkejut melihat isi tas Nat yang cukup komplit –Nat tak bermain-main dengan ajakan pikniknya.
“Aku hanya membawa ini.” Lili mengeluarkan dua kotak makan dan membukanya. Isinya sudah cukup berantakan karena tergoyang selama perjalanan.
“Nasi goreng?”
“Yah, ini mungkin memang tak tepat sebagai hidangan piknik, aku tahu itu.”
“Asal rasanya enak tak apa.” Nat langsung mencomot sesendok dan memasukkan ke dalam mulutnya.
“Rasanya juga seadanya Nat.”
Seketika tawa mereka pecah. Nat dengan nasi goreng di mulutnya yang masih belum tuntas dikunyah dan Lili dengan bayangan lidah Nat yang sedang mengalami kekagetan tingkat tinggi sekarang.
“Aku memang payah dalam memasak.”
“Ya, kau memang sangat payah.”
Bekal yang dibawa Nat membuat Lili takjub. Ikan balado dengan rasa yang enak, salad buah dan sayur, dan beberapa sosis.
“Kau membuat semua ini?”Lili bertanya dengan mulut penuh.
“Tentu saja.” Nat menjawab dengan sedikit kagum pada dirinya sendiri.
Mereka terdiam. Mengobati lapar yang hinggap beberapa waktu lalu.
“Masakanmu lumayan.” Ucap Lili jujur, tak berniat memuji. Tapi ucapannya tak urung membuat senyum Nat semakin lebar. Direbahkannya badannya. Angin berhembus sepoi membuai mata.
“Ini masuk ke dalam waktu terbaikku Nat. Bagaimana denganmu?”
●●●
Lili tergeragap. Bangun mendadak. Terbangun di tempat asing adalah salah satu hal yang tidak disukainya. Kepalanya pening. Matanya menangkap sosok Nat yang sedang duduk tak jauh darinya. Seingatnya, dia sedang mengobrol tadi sebelum kantuk menyekapnya.
“Kau sudah bangun rupanya, Putri Tidur.” Ucap Nat sambil menatapnya.
“Jam berapa ini? Langit sudah sore sepertinya.”
“Sudah setengah enam.”
“Kenapa kau tak membangunkanku. Nanti kita kemalaman di jalan,” protes Lili. Tangannya tergesa memasukkan kotak-kotak makanan ke dalam tas nya. Nat sudah membereskan kotak-kotak itu.
Nat bangkit. Membantu Lii beres-beres.
“Aku tak bisa membayangkan harus menyusuri ilalang dalam gelap.”
“Oh, kau mau mencoba?”
“Tentu saja tidak.”
Kemudian mereka lekas mencangklok tas punggung. Lili berjalan ke arah yang rasanya dilewatinya saat memasuki taman.
“Oh, sungguh kau mau mencoba?” tanya Nat.
“Mencoba? Apa maksudmu Nat? Bukankah kita memang lewat sini. Atau jangan bilang...” Lili menggantung ucapannya. Teringat keisengan Nat yang memang parah.
“Jalan raya tak jauh dari sini Lili. Kecuali kalau kau benar mau melewati padang ilalang itu, akan kutemani.” Nat masih dengan wajah tersenyum.
“Tunjukkan jalannya.” Ucap Lili keras.
“Tak perlu marah begitu.”
Mereka berjalan dalam diam. Hanya sekitar tiga ratus meter, mobil Nat sudah terlihat.
“Demi apa tadi kita berjalan jauh waktu berangkat.” Lili menatap Nat tajam.
“Kadang, kau harus merasakan sebuah perjuangan untuk mendapatkan kebahagian. Piknik tadi lebih memuaskan kan ketimbang kalau kita hanya berjalan sebentar.” Tangan Nat mengacak-acak rambut Lili pelan sebelum menuju mobilnya.

Seketika, dada Lili gaduh. Entah karena ucapan Nat atau usapan tangannya.