Kamis, 06 Desember 2018

Watak


Dini hari. Malam masih pekat. Kereta sudah berhenti. Orang-orang berduyun-duyun turun. Bukan orang-orang sebenarnya, karena hanya segelintir orang. Kuambil tas punggung, juga teman sebelahku.
“Siapa yang menjemput?” tanyanya.
“Saudara,”  jawabku singkat, juga tak yakin.  Ini masih dini hari, bulan puasa. Siapa pula yang akan beranjak keluar saat malam masih cukup menggigil menusuk tulang.
Dia akan berangkat sepuluh menit lagi.
Sebuah pesan masuk. Tak apa. Paling tidak tiga puluh menit lagi ia akan datang.
“Dijemput atau nunggu terang?” tanyaku pada teman lain. Rumahnya lebih jauh dariku, juga kutahu taka da yang bisa menjemputnya.
“Nunggu terang.”
Baguslah, ada teman.
Kami turun, bertiga. Lalu duduk di ruang tunggu.
“Ayo bareng,” ajaknya. Teman sebelahku tadi. Sebut saja K.
Dia dijemput orang tuanya, dengan mobil. Temanku yang satunya, sebut saja Y, juga ditawari.
Kutolak, arah rumahku tak sama. Lebih baik aku menunggu tiga puluh menit lagi.
“Nggak papa sekalian lewat,” ucap laki-laki setengah baya, Bapaknya yang entah kapan sudah berdiri di depan kami.
“Tidak usah, terima kasih.” Tolakku halus.
“Dari pada di sini sendiri, ayo kami antar,” ucapnya lagi.
“Baiklah.”
Kami beriringan menuju mobil. Aku akan diantar lebih dulu. Arah rumahku berbeda dengan mereka. Desaku, pukul tiga pagi masih sepi, jarang sekali orang-orang keluar. Rumahku juga tak dipinggir jalan raya. Tak mungkin aku minta diantar sampai rumah ketika si Bapak sudah mengeluh bensinnya akan segera habis, sepanjang jalan.
Kuminta diturunkan di pinggir jalan. Kubilang tak apa, saudaraku akan segera menjemput.
Apakah tak apa jika aku menunggu sendiri, dia beralasan sesuatu yang tak lagi bisa kudengar. Aku mengangguk.
Mobil itu menjauh. Aku sendirian, di pinggir jalan, perempuan, dini hari, gelap, takut, memencet cepat tombol HP, mulai terisak.
Tak pernah kutemui seorang Bapak yang setega itu. Punya anak perempuan pula. Tapi, siapa saya? Hanya orang asing.
Untuk beberapa bulan kemudian aku tahu bahwa dia orang terpandang di desanya, juga keluarganya.
Suatu kali pula, aku dan teman-teman mendaftar universitas di kota sebelah, menyewa sebuah mobil dan supirnya, tetangga salah seorang teman.
Pulang malam, masih jam tujuh, angin kencang sekali, hujan akan segera bertandang. Salah seorang teman meminta turun, dia akan dijemput bapaknya.
Kami berhenti di pinggir jalan, dekat tenda pecel lele. Suasana ramai. Si teman minta ditinggalkan, ini belum terlalu malam, masih terang, ramai, banyak orang. Si bapak supir bersikukuh menunggu, tak baik perempuan menunggu sendirian. Kami menunggu cukup lama, hujan sudah mengincar sejak tadi, apalagi angin yang sudah wira-wiri.
Kami kembali naik mobil ketika bapak si teman menjemput, mengucapkan terima kasih.
Si bapak supir baik, ia mau menunggu. Tapi untuk beberapa bulan kemudian aku mendengar kabar bahwa dia bukanlah laki-laki yang baik, karena ibu temanku didekatinya, hingga keluarga mereka terpisah.
##
Entahlah. Mungkin sisi seseorang tak pernah bisa benar-benar dilihat. Sisi yang benar-benar banyak.
Hal yang cukup menggangguku kini, apakah dia orang yang baik? Tanya seseorang. Si teman yang memberi tumpangan mobil dulu maksudnya. Dan susah sekali untuk bilang bahwa, dia orang yang baik. Jelas saja tak ada yang akan percaya jika kubilang begitu. Penampilannya jauh lebih meyakinkan untuk dikatakan bahwa dia orang baik. Ini salahku. Aku berusaha melupakannya dan itu susah sekali. Harusnya aku tak mendemdam, semoga suatu saat nanti, secepatnya, ingatan itu hilang.
Penampilan mungkin salah satu cerminan seseorang. Tapi, watak, tak bisa benar-benar dikenali dari itu.
Dari seorang teman yang sudah kuanggap saudara, beliau pernah memberitahuku. Nasehat Umar bin Khattab, tentang mengenali watak seseorang. Memiliki hubungan dagang/hutang piutang, pernah beragumentasi/berbeda pendapat hingga bisa dilihat bagaimana sikap seseorang ketika marah, juga bepergian dengan batas waktu 10 hari/lebih hingga tinggal bersamanya dan bisa mengamati hal-hal yang tak terlihat selama ini.