Rabu, 26 April 2017

hujan

kau tahu apa yang kusukai dari hujan?
aromanya
bunyinya
perasaan yang timbul karenanya


Senin, 24 April 2017

rasa sakit

hal yang paling menyakitkan dibanding disakiti orang lain adalah
melihat orang yang disayangi disakiti orang lain


Jumat, 21 April 2017

Hadiah

bahwa Allah menempatkanmu di tempat sekarang
bukanlah sebuah kebetulan

Minggu, 16 April 2017

Kenapa Harus Membaca?

-dokumentasi pribadi-

Dalam sebulan terakhir, berapa buku yang sudah kau baca? Jika sebulan terlalu singkat, berapa banyak buku yang kau baca dalam setahun? Apakah kau bisa menghitung jumlahnya atau tidak?
Sejak kecil, saya suka membaca. Maka, buku menjadi sebuah harta karun bagi saya, menjadi barang berharga. Karena orang tua saya tidak selalu sanggup membelikan buku-buku yang saya inginkan, perpustakaan menjadi salah satu tempat yang saya syukuri keberadaannya. Terlebih ketika buku-buku baru masuk dan dipajang di rak. Saat istirahat, sering kali saya memilih untuk pergi ke perpustakaan bersama teman yang juga suka membaca daripada mengobrol di kelas.
Dulu, menurut saya, banyak anak-anak sekolah yang menganggap perpustakaan adalah tempat bagi mereka yang kuper. Padahal sebenarnya tidak. Membaca sungguh membuka wawasan dan pola pikir seseorang. Ada sebuah perkataan yang sangat saya sukai.
“Semakin muda manusia membaca karya sastra, semakin lenturlah hatinya dan semakin kayalah pikirannya, semoga kebijaksanaan pun mengikutinya.” (Marliana Kuswanti)
Saya sangat setuju. Membaca membuat seseorang menjadi lebih bijak. Terlebih jaman sekarang, dimana berita hoax sering kali tersebar, tak jarang orang memilih langsung percaya tanpa mau mencari lebih lanjut.
Jika saya pikir-pikir, kenapa saya suka mengobrol dengan orang yang jauh lebih tua dari saya, katakanlah, seperti seorang bapak-bapak yang saya temui dalam perjalanan saya kembali ke tempat rantau (kau bisa membacanya dipostingan saya sebelumnya) adalah karena orang-orang seperti itu sangat bijak. Pengalaman hidupnya di berbagai tempat yang tentunya jauh lebih banyak dari saya, membuatnya menatap hidup lebih luas.
Lalu, bagaimana caranya jika kita tak mempunyai kesempatan untuk merantau ke berbagai tempat seperti mereka? Maka, jika kau berada di posisi seperti itu, jawabannya adalah kau harus membaca. Bacalah. Apapun itu. Novel, buku-buku agama, buku-buku pengetahuan, majalah, dan lain-lain. Jangan beralasan kau berada di tempat yang tak tersedia toko buku. Apa kau tak mengenal bahwa sekarang adalah era digital. Buku-buku banyak sekali tersedia dalam aplikasi membaca. Walaupun terkadang, membaca dari sebuah buku langsung lebih enak daripada membaca di e-book.
Membaca membawamu ke berbagai tempat, ke berbagai peristiwa, megaduk perasaanmu berbagai rupa. Itulah salah satu pengganti karena kadang kala kita tak bisa berkelana jauh. Membuatmu mempelajari banyak hal tanpa harus beranjak.
Hal yang paling saya sukai dari membaca adalah membuat kita menjadi lebih kalem dalam menanggapi keadaan. Tak jarang, ada beberapa orang yang saya temui, kalo sudah berpendapat, keukeuh (nulisnya gini bener nggak sih) banget. Merasa bahwa apa yang dia kemukakan adalah yang paling benar. Dialah yang paling tahu. Dan kadang, esoknya, dia mengklarifikasi pendapatnya ternyata salah.

Yuk, yuk, budayakan membaca. Karena saya yakin, membaca membuatmu menjadi lebih baik.

Selasa, 04 April 2017

DL

-Pantai Jetis, dokumentasi pribadi-

Beberapa waktu terakhir, terlintas dalam pikiran, kenapa aku tak membuat DL untuk apa yang harus kulakukan. Selama ini, yang paling sering terjadi hanyalah adanya “list to do” tapi jarang terlaksana. Di tengah banyaknya kerjaan kantor yang selalu ber-DL, kenapa aku tak membuat DL untuk diriku sendiri. Memenuhi DL orang yang ditujukan pada kita aja bisa, masa memenuhi DL yang kita tentuin sendiri tidak bisa. Dan aku harus membuat DL tentang usaha-usaha yang harus kulakukan untuk meraih apa yang kuinginkan (read;mimpi), apa-apa yang harus kuperbaiki dari dalam diriku (this is the most important thing). Seseorang pernah berkata padaku, “dalam bekerja aja kita ada jenjang karirnya, masa dalam ilmu agama tidak”. Yuk, bergerak maju. Yuk, membuat DL. Karena kita tak tahu kapan DL umur kita tiba.  

Senin, 03 April 2017

jarak

-dokumentasi pribadi-

Ada yang datang, ada yang pergi. Pun ada yang tetap tinggal, walau hanya sedikit. Melepasnya menyambut episode baru, rasanya seperti melepasnya ke tempat yang tak bisa dijangkau. Berjarak.
Sepi. Aku menanti.
Dia, yang bersamanya aku bisa menjadi versi terbaik diriku.

Semoga, jarak itu semakin dekat.