Rabu, 28 September 2016

Maaf, Tolong, Terima kasih

Tak bisakah kau berkata “tolong” saat meminta tolong
Tak bisakah kau berkata “maaf” saat kau bersalah
Tak bisakah kau berkata “terima kasih” saat kau terbantu
Kata-kata simpel tapi punya arti yang dalam
Kata-kata yang sebenarnya sederhana tapi ternyata tak semua orang bisa mengatakannya

Sabtu, 17 September 2016

Teruntuk Saya

Sebelum saya membicarakan banyak hal, saya ingin mengucap syukur Alhamdulillah, tahun ini saya masih bisa menulis. Terima kasih juga untuk ibuku tercinta, mamak, yang selalu membuatkan putri-putrinya nasi kuning walaupun kami tak bisa selalu berada di sampingmu. Terima kasih untuk doanya, walaupun tanpa kuminta pun aku tahu, engkau selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anakmu.
Teruntuk diri saya sendiri, saya ingin membicarakanmu kali ini. Membicarakan diri sendiri tidak membuat dosa kan? Hehe. Walaupun setiap hari, saya selalu menyuruh diri saya sendiri untuk menanyakan kabar tentang diri sendiri  hanya beberapa menit, mari kita berbicara panjang kali ini.
Setahun terakhir, banyak sekali pemikiran yang mampir dalam kepala saya. Tentang, kenapa saya sekarang ada di tempat ini? Kenapa saya melakukan pekerjaan ini? Kenapa saya jauh dari rumah ibu? Kenapa saya sering kali merasa bosan? Kenapa saya rindu masa kecil saya? Dan kenapa saya banyak berpikir? Ada yang bilang kadang tensi darah saya cenderung tinggi karena saya suka berpikir. Ya. Mungkin saya sering kali terlalu banyak berpikir tanpa saya sadari. Bahkan, jika boleh jujur, salah satu alasan kenapa saya menyukai sebuah perjalanan selain kesempatan bertemu orang asing yang menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah karena saya suka berpikir saat sedang bepergian. Dulu, sewaktu masih kuliah, saya sering berpikir di antara deru kereta api. Sering juga saya berpikir, ternyata banyak sekali orang-orang yang bepergian setiap harinya. Terbukti dari sarana transportasi umum jarak jauh semacam kereta yang selalu penuh. Lantas, ketika harus bekerja di luar Pulau Jawa, ada alasan bagi saya untuk merenung di dalam pesawat. Ketika teman sebangku bukanlah orang asing yang menyenangkan untuk mengobrol, saya memilih untuk merenung sambil memandangi awan-awan yang berarak. Memutar kehidupan saya sendiri untuk beberapa episode-episode terakhir.
Kenapa saya di sini? Kenapa saya melakukan pekerjaan ini? Inilah pertanyaan yang sering kali mampir dalam benak saya. Di antara banyak pilihan, saya berada dalam pekerjaan ini. Menyesal? Tidak. Sejak awal saya tahu bahwa saya akan bekerja di bidang ini, walaupun sebenarnya banyak sekali hal-hal yang tak terduga sebelumnya. Tapi, hidup ini memang sebuah misteri bukan? Saya tak akan tahu apa yang akan terjadi kecuali saya menjalaninya. “Walaupun ini sulit, cobalah untuk menikmatinya” inilah yang selalu saya katakan pada diri sendiri. Temukan sesuatu yang membuatmu memiliki hati yang ringan dan tinggalkan hal-hal yang membuatmu berat hati. Saya tahu hal ini kadang terasa sulit, tapi cobalah. Dan cobalah untuk bersabar. Bukan tidak mungkin bahwa suatu hari nanti saya akan bekerja di bidang lain, pekerjaan yang amat sangat saya sukai.
Lantas, kenapa saya sering kali merasa bosan? Merasa hidup datar-datar begitu saja. Saat itulah, waktu merenung saya semakin panjang. Benar kata orang, kebosanan adalah hal yang mematikan. Alasan kenapa saya merasa bosan sebenarnya sudah saya tahu. Saya tak punya sesuatu yang saya usahakan. Semua hal di sekeliling saya saperti berjalan dengan semestinya. Benjamin Franklin said, ”Most people die at 25 and aren’t buried until they’re 75.” Saya tak mau seperti itu. Saya tak ingin merasa bosan. Saya harus kembali mengupayakan mimpi-mimpi saya. Jika satu mimpi sudah tercapai, saya harus membuat mimpi yang lain. Dengan begitu, saya tak akan merasa bosan. Bermimpi dan berusaha menggapainya membuatmu hidup.
Kenapa saya banyak berpikir? Bahkan ketika ingatan saya tentang pekerjaan tercecer entah kemana, saya bisa mengingat kebiasaan tetangga saya yang bahkan tak terlalu saya kenal. Hal-hal kecil yang ada di lingkungan saya, yang seringkali dianggap tak penting bagi orang lain, begitu mudahnya menempel dalam kepala saya. Mungkin tanpa saya sadari, saya terlalu memperhatikan banyak hal. Bahkan pernah, saat buang air besar di kamar mandi, tiba-tiba tatapan saya tertuju pada satu hewan yang menempel di lantai kamar mandi. Hewan yang seperti nyamuk, dengan kaki-kaki yang sangat panjang, entah apa namanya. Kakinya menempel di lantai kamar mandi yang basah. Saya melihatnya. Ia begitu keras berusaha menggerak-gerakkan kakinya, berusaha melepaskan diri dari basahnya lantai untuk kembali terbang. Saat itu saya berpikir, bagaimana kalau ia tak bisa melepaskan diri. Pasti ia akan hanyut terbawa air saat ada yang sedang mandi atau malah terinjak tak sengaja. Saat saya sudah selesai, saya membebaskan kakinya dari lantai. Bahkan seekor hewan kecil pun berusaha untuk hidupnya. Harusnya saya malu. Ini menjadi tamparan bagi saya ketika saya malas dan banyak mengeluh. Kadang, apa yang saya usahakan memang terasa sulit, tapi saya harus berusaha sekeras mungkin untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai.
Kenapa saya rindu masa kecil saya? Saya lima belas tahun lalu adalah diri saya yang berbeda. Masa kecil adalah masa yang menyenangkan bukan? Rasanya saya tak terlalu banyak berpikir, terlalu lelah, ketika masa-masa saya saat masih SD. Saya berangkat sekolah. Hampir setiap pagi mandi bersama kakak perempuan kedua  saya. Berebut air mandi yang hangat di ember-ember yang disiapkan ibu. Lantas, kebiasaan itu hilang ketika kakak perempuan saya sudah memasuki masa SMP.
Saya tinggal di lingkungan yang menurut saya menyenangkan. Walaupun jauh dari hiruk pikuk kota. Jauh dari permainan-permainan modern yang baru saya tahu ketika saya besar. Sawah, sungai, parit, ladang, sepeda. Saya dan kakak saya sering kali mencuri-curi waktu bermain di sungai. Saya berteman dengan sepupu saya, juga anak tetangga. Saat salah satu dari kami ada yang berulang tahun, masing-masing dari kami akan sibuk menyiapkan kado, sebenarnya ibu kami yang menyiapkan. Kami hanya akan asyik menggunting kertas bekas buku sekolah yang tak terpakai. Malamnya kami akan datang ke rumah anak yang berulang tahun. Tak pernah ada undangan sebenarnya. Kami akan datang dengan senang hati. Saya tahu, setiap anak yang berulang tahun akan menunggu kedatangan kami pada malam hari sebelum hari ulang tahunnya datang. Ibunya akan menyiapkan sebuah bingkisan yang berisi jajanan atau akan mengantar sepiring nasi kuning dengan pelengkap keesokan paginya.
Sejauh ingatanku, tak pernah ada kue dalam setiap ulang tahun. Tapi, kue tak pernah jadi perisau bagi kami. Kami akan menaburi si anak ulang tahun dengan kertas yang telah kami siapkan. Menyanyikan lagu ulang tahun. Memberikan kado. Melihatnya membuka kado satu persatu. Dan bermain. Kado-kado tersebut sebenarnya isinya tak terlalu spesial. Kado yang diberikan hanya berkisar buku tulis, alat-alat tulis, jajanan, lotion, bahkan kadang berisi beberapa bungkus mie instan. Tapi, ulang tahun saat itu selalu menjadi hal yang spesial. Bukan karena kado, tapi karena ada mereka yang ikut bahagia. Ada satu malam dalam setahun terakhir, teman-teman datang dan mendoakan kita dengan tersenyum.
Dari masa kecil saya, saya juga menjadi penikmat hujan. Bahwa, ketika hujan jatuh satu per satu hingga menderas dan membuatmu basah, ada tawa yang muncul. Hujan bukan hanya membuatmu basah, tapi juga bahagia. Saya dan Mbak berdiri di bawah pancuran air hujan di sampin rumah. Atau membuat kapal ketika hujan sangat deras hingga ada aliran air di samping rumah.
Mungkin, suatu kali, saya akan menulis lebih banyak tentang masa kecil saya. Sawah, hujan, galengan, sungai, tangis, tawa, layang-layang, es lilin, kenakalan. Saya rasa, saya tak bisa menukar masa kecil saya dengan apapun.
Beranjak dewasa rasanya semakin banyak hal-hal yang menganggu hati saya. Saya lebih memikirkan banyak hal ketika bertindak. Dulu, saya adalah penikmat tontonan televisi. Suatu kali, saat akan mengahadapi ujian kelulusan SMP, ada tayangan Televisi yang sangat saya sukai sedang diputar. Dari pada saya belajar tapi tidak tenang karena memikirkan bagaimana kelanjutan cerita tayangan yang saya sukai itu, saya memilih meletakkan buku saya dan duduk manis di depan televisi. Soal belajar untuk ujian besok, berarti saya hanya harus tidur lebih malam karena saya menggunakan waktu belajar saya dengan menonton Televisi. Jika mungkin orang tua lain akan melarang anaknya, ibu saya memilih membiarkan saya. Dan voila, saya tak akan memberitahukan hasil ujian SMP saya di sini. Hal itu masih berlaku hingga saya SMA. Mungkin, tanpa saya sadari, saat itulah saya mulai belajar, bahwa setiap pilihan ada sebuah konsekuensi. Dan setiap kita memilih, kita harus siap dengan konsekuensi itu.
Bahkan sekarang, saya tak terlalu berani mengambil resiko atas sesuatu yang ingin saya lakukan. Saya terlalu mempertimbangkan banyak hal. Saat ini, sungguh, saya ingin sifat anak kecil ada dalam diri saya, melakukan sesuatu tanpa terlalu banyak berpikir, jika gagal, saya hanya perlu mencobanya lagi. Tapi, hidup memang bergerak maju. Semakin besar, semain banyak hal yang masuk dalam diri saya. Untuk hal-hal yang bersifat prinsipal, saya harus memikirkan segala perbuatan saya. Keinginan-keinginan saya adalah:
Saya ingin merasa berada di ‘rumah’ di mana pun saya berada. Ketika pagi baru bangun, saya ingin menyambut hari dengan, wah apa yang akan terjadi hari ini. Bukan dengan sebuah pemikiran, ah hari ini mungkin sama aja dengan kemarin, pagi kerja, sore pulang, esoknya kerja lagi. Saya tak ingin pemikiran saya seperti itu.
Saya ingin setidaknya, sekali dalam setahun, saya berkunjung ke tempat yang belum pernah saya kunjungi. Entah sendiri atau bersama teman. Semoga nanti, bisa jalan-jalan dengan seseorang yang halal buat digandeng, hehe. Jika saya belum bisa menemukan orang baik, semoga Allah berkenan mengirimkan orang baik untuk menemukan saya.
Saya ingin lebih banyak membaca. Membaca membuat pemikiran saya terbuka. Saya ingin membuat diri saya tidak mudah ‘nesu’ kalau pendapat orang lain berbeda dengan saya. Banyak sekali sudut pandang untuk memahami suatu hal, dan membaca adalah salah satu cara untuk memperkaya sudut pandang itu. 
You might be poor, your shoes might be broken, but your mind is your palace-Frank McCourt-
Saya ingin menjadi manusia yang berani. Berani untuk bermimpi dan mengejar mimpi. Mungkin mimpi saya hanya sebuah lelucon bagi orang lain. Tapi, bagi saya mimpi adalah sumbu yang membuat saya menjadi lebih hidup. Saya juga ingin berani intropeksi diri, bahwa ketika saya salah, maka saya harus meminta maaf, bukan mencari alasan yang sebenarnya saya sendiri tahu bahwa itu hanyalah sebuah ‘alasan’. Saya ingin menanamkan dalam diri saya bahwa ketika saya berbuat tidak baik, berarti saya sedang menyakiti diri saya sendiri. Walaupun saya tahu, saya tidaklah sebaik apa yang orang lain lihat, karena Allah telah menutup aib-aib saya. Saya hanya ingin menjadi orang yang lebih baik setiap harinya. Ketika saya akan berbuat tidak baik, saya harus berpikir panjang, apakah saya akan sanggup menerima konsekuensinya, apakah saya akan menyakiti diri saya sendiri dan tentunya orang lain. Jika pembalasan atas apa yang kita lakukan di dunia ini tidak sekarang, di akhirat kelak pasti ada. Maka saya harus berpikir panajng ketika akan berbuat tak baik. Tapi, ketika saya ingin berbuat baik, saya tak boleh terlalu banyak berpikir. Seseorang berkata “ketika kau ingin berbuat baik, langsung lakukan saja, jangan dipikir, kalau dipikir akan membuatmu menemukan ‘alasan’, ‘alasan’ untuk tak melakukannya”. Saya tak ingin seperti itu.
Saya tidak ingin iri pada orang lain. Saya ingin tersenyum ketika orang-orang sekeliling saya mendapatkan kebahagiaan. Saya tidak ingin berpikir, kenapa saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan? Mereka mendapatkannya juga dengan usaha mereka. Everyone have their own battle. Saya hanya harus tersenyum. Saya harus berhenti nyinyir terhadap orang lain. Nyinyir terhadap orang lain hanya membuat lelah. Saya tak ingin lelah karena hal itu.
Sekian. Semoga tahun depan bisa berjumpa lagi.
Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (QS. Muhammad 36)
Setiap orang memiliki seninya masing-masing dalam mengenang. Dan inilah cara saya mengenang, dengan menuliskannya. Kelak, suatu hari, ketika pintu-pintu ingatan dalam kepala saya tak bisa lagi saya masuki dengan mudah, saya akan berkunjung ke sini.

                                                                            Gunung Mas, 18 September 2016




Kamis, 15 September 2016

Rumah Peran (Cerpen, Majalah UMMI, edisi Juli 2016)

Alhamdulillah. Yatta. Akhirnya. Berhasil juga netasin anak kecil satu. Hehe
Catatan di awal ini tak bermaksud apa-apa, hehe, hanya pengingat momen untuk diri sendiri.
Cerpen ini sebenarnya sudah lama sekali kubuat, sekitar bulan ke sepuluh tahun 2014. Yap, benar tahun 2014. Jauh banget nggak tuh sampai bulan Juni 2016 pas ada konfirmasi.  Satu tahun setengah ternyata si cerpen ngantri di meja redaksi. Awalnya pas lagi dapat email, saya kira dari olshop (kalo boleh jujur, sebenarnya dari dulu saya selalu excited ketika mendapat email masuk, tapi akhir-akhir ini email saya isinya lebih banyak dari olshop,haha), ternyata sebuah email berisi konfirmasi untuk pemuatan. Langsung senyum-senyum sendiri di pojokan (emang kejatah tempat duduk di pojok sih kalau di tempat kerja, hehe). Untungnya masih sepi, kalau nggak bisa diledekin senyum-senyum sendiri di pojokan.
Langsung deh saya buka file cerpen karena sebenarnya saya sendiri sudah lupa pernah buat cerpen iu dan pernah mengirimkannya ke majalah UMMI. Lupa juga ceritanya tentang apa. Saya juga ubek-ubek lagi email saya, voilaaaaa, ternyata cerpen ini pernah kukirim ke majalah lainnya dan ditolak. Setelah penolakan itu, baru saya kirim ke majalah UMMI. Berbicara soal penolakan, dulu sekali, saat pertama kali menerima email penolakan, saya senang sekali. Padahal emailnya penolakan lho, tapi saya senang.  Ternyata tulisan saya dibaca oleh redaksi. Pernah juga diminta menunggu enam bulan dan tak ada kabar sampai sekarang. Haha. Banyak juga yang tak berbalas. Setiap cerita punya jodohnya masing-masing.
Sambung lagi, mbak nya bilang, kalau cerpennya bakal tayang bulan juli. Alhamdulillah berkah bulan Ramadhan. :)

Cerpen ini murni dan belum ada editan dari redaksi UMMI. Oh ya, FYI majalah UMMI memberi batasan bahwa setiap penulis cerpen majalah UMMI, cerpennya bisa terbit di majalah UMMI dengan minimal jarak enam bulan. Jadi misal cerpennya terbit bulan juli, bisa terbit lagi nanti bulan januari tahun depan. Semoga tahun depan bisa lagi nongol di majalah UMMI :) Selamat membaca.

#######

Kurenggangkan tubuh, menghilangkan pegal-pegal. Rasanya baru sebentar aku menghadap komputer, tapi punggungku sudah terasa panas. Kulirik jam di dinding, sudah pukul lima sore. Pantas. Sudah tiga jam lebih aku duduk di depan komputer.
Kulangkahkan kakiku ke kamar mandi. Mengambil handuk di jemuran baju terlebih dahulu. Tubuhku terasa segar ketika air dari shower mengguyur. Sedikit menghilangkan penat dan jenuh yang beberapa hari ini menumpuk. Agak lama aku berada di bawah guyuran air, baru melilitkan handuk ketika tubuhku mulai menggigil.
Aku sedang membaca novel yang kubeli kemarin sepulang kerja ketika dia pulang. Lelaki yang satu bulan terakhir ini hidup bersamaku. Aku hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandanganku dari novel ketika dia memberi salam.
Sebenarnya tak ada yang salah dengan hubungan kami. Setidaknya itu yang kurasa. Hanan;lelaki yang kini menjadi suamiku, telah kukenal sejak setahun lalu. Waktu itu aku sedang liburan ke luar negeri dengan menggunakan jasa agen wisata. Dia termasuk dalam salah satu kelompok tur kami. Begitulah kami berkenalan. Mungkin terdengar klise, tapi aku merasa jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Mata hitamnya;yang setiap melihatnya aku merasa seperti ada biji kopi, mampu membuat hatiku tenang. Setahun kemudian kami memutuskan menikah.
“Kamu belum membuatkanku teh?” tanyanya.
Aku hanya menggeleng. Sudah seminggu terakhir aku tak melakukan hal yang dia minta, teh sepulang kerja dan pagi hari. Bukankah dia bisa membuat sendiri, teh dan gula sudah kusediakan di dapur. Air panas juga sudah ada.
“Sudah kubilang kan, aku selalu suka minum teh setiap pulang kerja dan pagi hari. Kenapa kamu tak pernah mendengarkan?” Nada suaranya terdengar satu oktaf lebih tinggi.
“Kamu tahu bukan? Aku tak suka minum teh,” sanggahku. Mataku masih terpaku pada tulisan-tulisan di depanku, tapi tak ada yang benar-benar masuk di kepalaku. Rasa jenuh itu kembali merayap.
“Kamu tak harus minum teh?”
“Lalu buat apa aku membuat teh?”
“Kamu tau aku menyukainya.”
“Kenapa kamu selalu mempermasalahkan tentang teh. Sebegitu pentingkah teh bagimu? Aku tak mempermasalahkan kamu yang tak mengecup keningku tiap pagi sebelum berangkat kerja.” Kutatap matanya.
“Oh sudahlah, kamu tak mengerti maksudku.”
Kudengar langkah kakinya menjauh. Sepertinya dia masuk ke kamar. Kuhembuskan nafas. Apa sebenarnya maunya? Ayahku baik-baik saja tanpa teh sepulang kerja dan pagi hari. Ayah tak pernah mengomel pada Ibu. Sepenting apa teh baginya.
Dulu, sebelum menikah, aku merasa akan menjadi sangat bahagia ketika berumah tangga. Bukan berarti aku tak bahagia sekarang. Aku bahagia dan aku sangat mencintai Hanan. Hanya saja, aku sering merasa tak nyaman. Dia menjadi seseorang yang berbeda.
Hanan seperti orang yang baru kukenal setiap harinya. Banyak hal baru yang kutemui dalam dirinya, yang sayangnya tak begitu kusukai. Salah satunya tentang teh. Jujur, aku bukan orang yang mudah beradaptasi dan aku bukan orang yang akan memaksakan diri melakukan hal yang tak kusukai sekalipun itu untuk orang yang kusayangi. Lebih baik mengatakannya langsung bahwa aku tak suka, begitu caraku. Dan itu sepertinya tak berlaku dalam hubunganku dengan Hanan.
Kutaruh novel yang baru setengah kubaca, tak lagi berminat. Kuambil remot TV dan kutekan tombol on. Memencet-mencet tombol channel, tak ada yang menarik. Kumatikan TV dan beranjak ke kamar.
Dia tidur di bagian kiri ranjang kami, menghadap tembok, entah sudah benar-benar tidur atau belum. Kumatikan lampu kamar, berganti dengan remang lampu tidur. Kurebahkan badan di bagian kanan ranjang kami, saling memunggungi.
Tak ada yang berbicara di antara kami. Apalagi cium dan tatap menghujam bola mata yang dulu begitu menghibur. Hanya punggung kami yang saling menghadap. Sebenarnya, ingin sekali kuceritakan apa yang terjadi denganku hari ini. Tentang anak didikku yang sering bertengkar, tentang guru-guru lain di tempatku mengajar, tentang jalanan Jakarta yang selalu panas, apapun itu. Aku selalu suka bercerita sebelum tidur. Tapi tak ada satu kalimat pun yang keluar dari bibirku. Mungkin jenuh itu bukan hanya ada dalam hatiku, tapi juga merambat ke mulutku.
Begitulah malam yang kami lewatkan. Begitu saja.
Keesokan paginya, kami sibuk dengan persiapan berangkat kerja. Kuurungkan niatku memakaikannya dasi. Kurang rapi, begitu alasan dia menolakku waktu pertama aku melakukannya, dulu. Walaupun pernah kubilang aku menyukai melakukannya, dia tetap menolakku.
Dia menurunkanku di depan tempatku mengajar, sebelum meneruskan ke kantornya.
“Sampai nanti.” Ucapnya sebelum aku menutup pintu mobil.
Dia sudah melaju sebelum aku sempat melambaikan tangan. Sebenarnya apa yang terjadi di antara kami. Ini bulan kedua semenjak aku sah menjadi istrinya, tapi rasanya ada yang salah.
Rasanya hari itu sangat berantakan. Anak-anak didikku menjadi sasaranku. Aku mengomel panjang lebar hanya karena ada yang tak mengerjakan PR. Padahal biasanya aku hanya akan memberi hukuman. Menjadi guru yang suka mengomel, sungguh bukan tipeku.
Hari itu kuputuskan untuk mampir ke toko buku, caraku menghibur diri. Tak ada novel yang sedang ingin kubaca sebenarnya. Baru ketika matahari mulai tenggelam kuputuskan untuk pulang.
Aku melihat mobil Hanan ketika membuka pagar. Tak biasanya dia pulang cepat. Aku menangkap sosoknya yang sedang menonton televisi ketika melewati ruang tengah. Kuucapkan salam. Dia menyahut tanpa menoleh.
Kulangkahkan kakiku ke kamar. Menaruh semua barang-barangku dan menelungkupkan wajahku ke bantal. Aku menangis. Aku tak tahu pasti kenapa aku menangis, tapi mungkin menangis bisa membuatku lega. Kupikir pernikahanku akan membuatku nyaman. Aku hanya ingin membentuk keluarga seperti keluargaku.
Kudengar pintu kamar terbuka dan menutup kembali. Aku tak mengangkat wajahku. Walaupun suara tangisku tak keras, isakanku membuatku bahuku naik turun. Hanan pasti tahu aku menangis.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
Aku masih diam.
“Kita harus bicara Aira?” suaranya terdengar tegas, tanda dia ingin berbicara serius.
Kuangkat wajahku, semuanya memang harus segera diselesaikan.
“Kamu bahagia menikah denganku?” tanyaku.
“Tentu saja.” Dia kemudian duduk di sampingku. “Memangnya kamu tak bahagia?”
“Aku bahagia,hanya saja...aku merasa tak nyaman,” kataku jujur.
Dia terlihat sedikit kaget. Mungkin tak menyangka aku akan mengatakannya secepat itu.
“Begitu...” Dia menghembuskan nafasnya, terlihat berat.
“Aku tak suka minum teh, tapi kamu selalu menanyaiku teh. Apa teh begitu penting?”
“Bukan masalah teh sebenarnya, aku suka ketika aku pulang kamu menyambutku. Dan teh hangat salah satu caranya. Ibuku selalu begitu, dan aku rasa ayahku sangat bahagia ketika dia diperlakukan seperti itu oleh ibu.”
“Aku bukan ibumu,” sanggahku. Dia harus sadar akan hal itu, bahwa kini dia tinggal bersamaku bukan ibunya. Kami terdiam cukup lama.
“Aku akan sangat senang kalau kamu mau melakukannya,” ucapnya lirih.
“Jangan egois. Hanan, kamu juga tak pernah melakukan apa yang kusukai. Aku suka memakaikanmu dasi, aku ingin kau mengecup dahiku tiap pagi, aku ingin kita berolah raga bersama tiap akhir pekan. Ayahku selalu melakukannya dengan ibu. Dan mereka bahagia.”
“Dan aku bukan ayahmu,” ucapnya kemudian. Hanan menatapku lama. Kata-katanya menamparku.
Selama ini, aku hanya menyalahkan Hanan. Tanpa sadar bahwa aku juga melakukan kesalahan. Pernikahan kami tak ubahnya seperti anak kecil yang bermain rumah-rumahan. Yang kami bangun hanyalah sebuah rumah peran. Dia berperan sebagai Ayahnya dan aku berperan sebagai Ibuku. Tak ada benang merah yang menghubungkan peran kami, karena aku mengharapkannya seperti ayahku dan dia mengharapkanku seperti ibunya.