Sabtu, 06 Mei 2017

Berpikiran sempit


Dulu, sewaktu saya baru lulus SMA, saya pernah bertanya kepada seorang teman.
“Kenapa kamu mengambil jurusan itu, bukankah nantinya akan sulit mencari pekerjaan?” tanya saya.
“Karena saya menyukainya,” jawabnya sambil tersenyum.
Seiring waktu, kami sudah lulus kuliah.  Bertemu banyak orang membuat saya sadar, betapa sempitnya pemikiran saya dulu. Seseorang pernah bercerita pada saya, bahwa dia membebaskan anaknya untuk mengambil jurusan kuliah apapun. Bukankah semua jurusan itu  ada ilmunya. Jika semua orang memilih menjadi dokter, lalu siapa yang akan mengurus perekonomian negara ini, jika semua orang menjadi ekonom, lalu siapa yang akan menjadi pendidik di negara ini. Semua ada porsinya masing-masing.
Ya, yang paling sulit bukan tentang mengalahkan orang lain, tapi mengalahkan rasa lebih tahu, padahal kita tak tahu apapun. Teman saya itu juga sekarang sudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai bidangnya.

Kopi pagi ini terasa lebih manis. Jika ditelisik, bukankah kopi yang saya minum juga bukan hanya dari kopi saja, ada gula, krim, yang menjadikan rasanya lebih seimbang, lebih pas di lidah saya. Semua ada perannya masing-masing.