Kamis, 31 Mei 2018

Novel Tentang Kamu, Tere Liye


Judul         : Tentang Kamu
Penulis         : Tere Liye
Penerbit         : Republika
Tahun Terbit : 2016

Awalnya, kukira novel ini tentang kisah romantis, tapi tidak ketika dibalik bukunya kubaca sebuah sinopsis.Tak berbeda jauh dengan novel-novel Tere Liye yang lain, novel ini mengandung pesan yang cukup mengena. Tentang memeluk masa lalu, memeluk hal-hal buruk yang terjadi, tentang perjuangan.

Novel ini diceritakan dengan alur campur. Zaman, seorang pengacara di salah satu kantor yang memiliki reputasi terbaik  di dunia menangani harta warisan Sri Ningsih. Melalui catatannya, Zaman menapak tilas kehidupan Sri untuk bisa mendapatkanpewaris harta Sri Ningsih. Karena jika tidak ada ahli waris, harta peninggalan Sri akan diberikan kepada Ratu Inggris karena saat meninggal Sri adalah pemegang passport Inggris.

Di sini, saya merasa tertampar, tentang betapa kerdilnya saya dibanding "Sri Ningsih". Ya, novel ini tentang Sri Ningsih, seorang gadis yang lahir di lingkungan nelayan dan menjelajah ke berbagai tempat. Gadis yang selalu menantang dirinya sendiri dengan sesuatu yang baru, sesuatu yang akan membuatnya lebih hidup. Gadis yang terus  mencoba keluar dari zona nyamannya.

Di sini, saya belajar tentang perjuangan dan penerimaan. Kau memiliki sebuah harapan, maka kau harus siap untuk memperjuangkannya. Jika kau tak mau merasakan lelahnya berjuang, ya terima saja ketika hidupmu biasa-biasa saja. Saya suka sekali melihat seseorang membicarakan tentang mimpinya. Tentang bagaimana cara ia menggapainya. Karena sesungguhnya tak akan ada yang akan memperjuangnya mimpinya kecuali dirinya sendiri.

Di matanya, ada binar semangat yang tak dimiliki semua orang. Dia lebih hidup. Hal ini sering sekali membuat saya sebal ketika bertemu seseorang dan dia hanya bilang "saya akan
mengikuti arus". Dan salah satu hal yng dituliskan Sri dalam buku catatanya adalah tak ada yang tahu pasti pada usaha yang
keberapa harapan kita akan terkabul, yang pasti jika kamu terjatuh 1000x, pastikan untuk bangkit 1001x.

Tentang Penerimaan

"Dalam hidupnya, banyak orang yang bisa memberikan kesaksian betapa Sri adalah wanita kuat, yang selalu biisa memeluk hal semenyakitkan apapun, tapi dia bukan wanita super. Hatinya tidak terbuat dari baja, yang tidak bisa tergores. Dia tetaplah wanita biasa. Saat orang melihatnya begitu tegar menghadapi apapun, orang-orang tidak tahu seberapa besar perjuangannya untuk membjuk dirinya sendiri sabar, membujuk dirinya untuk melepaskan, melupakan, dan semua hal yang ringan dikatakan, tapi berat dilakukan. Karena bila bicara tentang penerimaan yang tulus, hanya yang bersangkutanlah yang tahu seberapa ikhlas dia telah berdamai dengan sesuatu." (Halaman 406)

Tak pernah ada orang yang benar-benar tahu bagaimana seseorang berjuang, kecuali dirinya dan Tuhan. Mudah sekali untuk melihat hasil sebuah perjuangan, tapi hanya beberapa yang bisa melihat proses perjuangan itu sendiri.

Membujuk diri sendiri sejatinya hal yang paling sulit bagi saya. Saya ingat betul bagaimana saya berusaha membuat diri ini agar merasa nyaman seperti berada di rumah beberapa tahun lalu. Saat pemikiran, kenapa saya harus pergi sejauh ini sering sekali timbul, kenapa saya dulu tak rajin belajar, dan kenapa-kenapa lainnya. Hingga akhirnya saya bisa merasa biasa saja. Satu tahun. Itu waktu yang saya butuhkan.

Lebih dari itu, bagi saya, penerimaan atas sesuatu akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana diri sendiri berusaha. Waktu akan menyembuhkan segalanya? Tidak. Jika seseorang itu tak juga mencoba mengihklaskan. Dan ini, menurut saya pribadi sangat dipengaruhi bagaimana perubahan sudut pandang seseorang.

Saya pernah kehilangan orang yang begitu saya cintai. Seseorang yang sebab senyum di bibirnya menjadi bahan rebutan saya dan kakak saya. Seseorang yang jarang sekali saya tulis dalam catatan-catatan saya. Karena saya takut sekali, saya tak akan sanggup menuliskannya. Seseorang yang karena kepergiannya kadang membuat saya iri terhadap teman-teman saya. Betapa beruntungnya mereka. Saya juga takut, bahwa suatu saat saya tak akan bisa mengingat wajahnya. Dan ketika dia pergi, saya tahu betapa menyedihkannya rasa kehilangan.

Sri kehilangan banyak orang di sekitarnya. Ibunya, bapaknya, anak-anaknya, suaminya.

Tapi dia bangkit. Saya hampir butuh waktu tiga belas tahun untuk menyadari bahwa tak apa kita kehilangan. Karena pada akhirnya semua orang juga akan pergi ke penciptaNya. Ini sudut lain yang saya sadari tentang kematian. Saya masih bisa berdoa, semoga suatu saat kami bisa berkumpul kembali di surga.

Banyak hal sebenarnya yang bisa saya sadari ketika Bapak pergi. Bahwa Mamak adalah wanita yang sangat kuat. Ialah yang mengajari saya tentang perjuangan. Untuk memiliki harapan dan berusaha menggapainya. Untuk percaya bahwa hari esok akan lebih baik. Untuk berdoa mengenai apapun. Karena doa-doanyalah saya bisa berada di mana saya sekarang.  Bahwa, memiliki Bapak Mamak adalah salah satu sebab saya mencintai Allah.

Berikut kutipan percakapan ketika Zaman sedang melakukan wawancara dengan Thompson & Co, kantor hukum tempatnya bekerja.

Ketika Eric bertanya, "Apa harta yang akan dibawa mati saat kita meninggal?"
Zaman menjawab pendek, "Tidak ada, Sir, selain apa-apa yang kita belanjakan untuk kebaikan. Sisanya akan ditinggalkan bahkan diperebutkan."

Terima kasih Zaman, kau telah menapak tilas kehidupan Sri sehingga saya belajar darinya.

Sekian

Senin, 07 Mei 2018

Pak


Pak,
adakah laki-laki sepertimu yang merawat anak nya dengan lembut
tuturmu tak pernah menyakitinya
nasihatmu mengayominya
hingga anak-anakmu berlomba menjadi alasan senyum di bibirmu
yang sekali pun engkau telah pergi, hanya manis sifatmu yang terkenang
Pak,
adakah laki-laki,
yang akan membuatku rindu, sama seperti saat aku merindukanmu

Cerpen Gogirl! Magazine : Peran


Haloooo....Alhamdulillah.
Cerpen ini dimuat di majalah gogirl. Ada di link http://www.gogirl.id/news/buzz/gogirl-weekend-web-story-peran-g28065.html
@@@
PERAN
Lila terbangun dengan rasa asing yang sangat. Sebuah dinding kamar yang berwarna putih. Sangat berbeda dengan corak bunga mawar yang biasa menyambutnya di pagi-pagi sebelumnya. Juga lemari kayu yang menjulang tinggi hampir berbenturan dengan langit-langit kamar. Jika dia masih berusia enam tahun, dia sangat yakin akan merasa takut. Mungkin saat malam, lemari itu akan mengeluarkan monster seperti film yang pernah ditontonnya. Atau jangan-jangan lemari itu sekarang berganti isi, hantu dalam lemari misalnya, pemikiran itu membuatnya bergidik ngeri. Sepertinya ia terlalu banyak menonton film horor.
Pintu kamarnya berderit terbuka disusul sebuah suara yang sangat asing. “Kamu sudah bangun?”
Lila mencari-cari dalam ingatannya siapa laki-laki separuh baya yang masuk ke dalam kamarnya dan beberapa menit kemudian dia berseru tak percaya.
“Oh…ya.” Angguknya pelan.
“Kamu bisa turun sebentar lagi untuk sarapan, kami punya kebiasaan sarapan bersama setiap pagi.”
Laki-laki itu menutup pintu setelah yakin Lila mengangguk.
“Ya ampuuunn…apa sebenarnya yang aku lakukan, kenapa aku harus setuju sama usul Bunda.” Lila mengacak-acak rambutnya.
Ingatannya kembali ke seminggu yang lalu ketika Bundanya bicara serius dan menjanjikan mengabulkan keinginan Lila dengan syarat dia mau membantu. Florence. Itu keinginan Lila. Dia sangat ingin berjalan-jalan ketempat itu sejak lama. Bangunan-bangunan di Florence yang ia lihat di mesin pencari membuatnya ingin mengunjungi tempat itu. Dan tanpa banyak berpikir ia langsung mengiyakan keinginan Bundanya. Sebuah keinginan yang jika Lila pikir-pikir sangat aneh.
Ia lantas berjalan malas ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Setidaknya ia harus mencuci wajah dan sikat gigi.
Saat sampai di meja makan, seorang wanita berwajah sendu menyambutnya.
“Naila, sini sayang,” panggilnya lembut.
Lila tersenyum kikuk, untuk beberapa hari ke depan dia harus terbiasa dengan nama itu.
“Naila, mau makan apa?” tanya wanita itu setelah gadis kesayangannya duduk di sebelahnya.
“Emmm…roti aja Tan..” Lila berhenti berkata ketika dilihatnya kening wanita di depannya berkerut, “maksudnya Naila mau roti aja, Ma,” lanjutnya sambil tersenyum kikuk.
Tangan wanita di depannya—Mama, mengambil sehelai roti tawar dan siap mengoleskan selai kacang.
“Ayo dimakan Nai,” Mama mengulurkan setangkup roti pada Lila. Pagi itu, sarapan teraneh dalam hidup Lila. Ia sering mendapati Mama memandanginya dengan tatapan aneh. Entah rindu atau sedih. Sedangkan Papa, hanya menekuri roti yang ada di piringnya. Tak ada obrolan apapun. Lila yang biasanya cerewet tak berani membuka suara.
Selepas sarapan, Mama memiih ke kebun belakang rumah. Lila memilih mengikuti. Banyak bunga-bunga yang sedang mekar.
“Ini cantik,” komentar Lila jujur.
“Kamu menyukainya?” Mama menanyainya sambil tersenyum.
Lila mengangguk. Di rumahnya, hanya ada tanaman buah musiman. Bunda tak terlalu suka merawat bunga.
“Kamu mau menemani Mama membuat kue?” Ajakan Mama yang segera disambut anggukan Lila.
Mama mengeluarkan alat-alat membuat kue dan menyiapkan bahan-bahan. Acara membuat kue itu memecah kecanggungan. Lila mulai merasa nyaman. Ternyata permintaan Bunda untuk berpura-pura menjadi anak Mama tak seaneh yang ada dipikirannya. Mama, wanita yang menyenangkan. Kue yang dibuatnya terasa sangat enak. Berbeda sekali dengan kue buatan Bunda yang memang tak jago memasak.
“Mama harus cepat sembuh,” bisik Lila sambil memeluk Mama. Ia benar-benar tulus mengatakannya. Jika Naila masih hidup, pasti ia akan melakukan hal yang sama. Ah, seperti apa gadis itu sebenarnya. Seberapa mirip wajah mereka hingga Bunda memintanya berperan sebagai Naila.
“Kamu senang hari ini?” Pertanyaan yang tak diduga Lila.
“Tentu saja.”
Saat itu Lila sadar. Ada pendar bahagia di mata Mama. Setelah dari pagi yang dilihatnya hanya kesedihan, kecemasan, dan ketakutan.
“Kalau Mama sudah sehat, kita akan membuat kue lebih banyak lagi.” Kini bahkan Lila terkejut dengan ucapannya sendiri.
@@@
Sudah lima hari Lila tinggal bersama Mama. Papa beberapa kali bergabung dengan mereka saat jam minum teh di sore hari. Waktu terasa berjalan cepat. Beberapa kali Lila cemas jika minggu itu berakhir dan ia harus memberitahu Mama bahwa ia bukanlah Naila. Kenyataan bahwa anak gadisnya sudah meninggal karena kecelakaan pasti akan membuat Mama menjadi sedih lagi.
“Nai, bisa ambilkan sweater di kamar Mama. Ambil saja di lemari.”
Lila dengan patuh beranjak. Ia tak pernah masuk ke kamar Mama sebelumnya. Kamar Mama sama besarnya dengan kamar Bunda. Dengan sebuah tempat tidur king size dan lemari besar. Naila membuka pintu lemari. Diambilnya sebuah sweater berwarna biru langit yang biasa digunakan Mama. Ia sudah hampir keluar kamar ketika matanya menangkap sebuah album foto di meja rias Mama.
Mungkin ada foto Naila, batinnya. Selama ini, Lila tak pernah menemukan foto Naila. Tak ada satupun foto baik di ruang tamu atau di kamar yang ditempatinya. Padahal di rumahnya, banyak sekali foto-fotonya yang menghiasi dinding. Entah foto Ayah dan Bunda, foto keluarga, atau fotonya sendiri dan adiknya. Karena penasaran diraihnya album foto itu. Dibukanya halaman per halaman. Seorang anak bayi mungil menggunakan topi rajut biru langit terlihat sangat lucu. Lila merasa megenali foto itu. Tapi ia tak yakin di mana. Dibukanya lagi lembar berikutnya. Kini ia yakin dimana ia melihatnya. Juga lembar-lembar foto selanjutnya.
“Nai, kok lama?” Mama berhenti di pintu ketika melihat apa yang sedang dilihat Lila.
Lila bergeming. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi satu yang pasti, kini ia tak harus pusing menjelaskan ke Mama kalau Naila sudah meninggal.
“Aku pulang.” Putus Lila sebelum air matanya tumpah.
@@@
Sudah seminggu sejak Lila mengetahui fakta bahwa Bundanya bukanlah wanita yag melahirkannya. Sudah seminggu pula ia selalu menghindar saat Ayah atau Bundanya mencoba menjelaskan. Lila memilih mengunci diri di kamar. Ia tak tahu harus melakukan apa? Bagaimana ia harus bersikap pada Bunda? Juga pada Ganis, adiknya yang ia yakini adik tirinya sebenarnya. Juga pada Mama. Wanita yang melahirkannya dan memilih meninggalkannya untuk menikah dengan laki-laki lain saat usianya dua tahun. Ia juga merasa bersalah karena tanpa sadar ia membanding-bandingkan Bunda dengan Mama.
Pantas saja dulu saat ia melihat akta kelahirannya, ada yang berbeda dengan nama ibu kandung. Bunda bernama Handayani, sedangkan di akta tertulis Handayani A, nama Mama. Miripnya nama mereka tak membuatnya curiga.           
Tapi, kenapa mereka berbohong padanya? Harusnya Ayah sudah memberitahunya sejak dulu. Walaupun jika harus jujur, ia juga tak tahu apa yang harus dilakukan saat tahu Bunda bukan ibu kandungnya.
Sebuah ketukan pelan terdengar.
“Lila, Bunda masuk ya.”
Lila tak menjawab. Dia membenamkan wajahnya diantara kedua kakinya yang ditekuk.
“Mama sudah meninggal, Li.”
Lila mengangkat wajahnya dan menatap Bunda.
“Baru saja Bunda dikasih tahu Ayah.” Jawaban yang membuat Lila tahu bahwa apa yang didengarnya tak salah. Ia menangis.
Bunda memeluk Lila erat. Ia sangat menyayangi gadis itu seperti anaknya sendiri. Sebenarnya ia juga tak ingin mengirim Lila ke rumah Mamanya. Tapi wanita itu memohon dengan sangat. Bahwa umurnya tinggal sebentar lagi. Kanker  kelenjar getah bening sudah menggerogoti tubuhnya sejak lama. Pada akhir hidupnya, ia sangat ingin melihat satu-satunya anak yang dilahirkannya ke dunia. Lila.
“Maaf, Bunda sudah bohong.”
Lila memeluk Bundanya erat. Ia sangat menyanyangi  Bundanya melebihi apapun. Tapi, kenapa dadanya juga sesesak ini.

Selasa, 01 Mei 2018

Semesta Mendukung


Bocah itu berjalan. Kemudian berlari. Di sekitarnya, banyak sekali yang bilang bahwa dia tak akan pernah mencapai tujuannya. Itu terlalu jauh. Tapi tekadnya sudah bolat. Kenapa harus peduli dengan perkataan orang. Dia hanya butuh berjuang dan berdoa. Begitu juga ibunya yang selalu mendukungnya. Sisanya, semesta akan mendukungmu.
Dan kau tahu, pada akhirnya bocah itu bisa mencapai tujuannya. Dia sudah sampai di titik di mana orang-orang tak percaya bahwa ia mampu. Tapi, nyatanya, yeah, dia berhasil. Kau hanya butuh tekad, doa, usaha, komitmen ,dan percaya diri, sisanya biarkan semesta yang bekerja.
Mungkin banyak orang yang tak percaya dengan cerita tersebut. Siapa mereka? Orang-orang yang tak pernah berani mencoba untuk menggapai mimpinya.
Beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman bercerita pada saya, bahwa kita tak perlu membuat “exception” atau pengecualian, bisa juga batasan bagi diri sendiri. Misal: ah, saya nggak mau ikut kelas itu (kelas yang memakai bahasa inggris), saya tidak bisa bahasa inggris. Ah, saya nggak mau ikut aktivitas itu, saya kan nggak bisa ini.
Hei, rendah hati boleh, tapi rendah diri jangan.
Jika ingin berkembang, cobalah untuk menantang dirimu sendiri. Orang yang nggak bisa bahasa inggris tapi nekad ikut kelas bahasa inggris, dia akan berusaha keras untuk belajar bahasa inggris sehingga dia bisa mengikuti materi di kelas. Dan ternyata dia bisa.
Benar, masih banyak yang tidak percaya bahwa ketika kau berusaha, berdoa, untuk mecapai sesuatu, semesta akan mendukungmu. Mereka, orang-orang yang rendah diri, yang tidak terbiasa memiliki impian, dan yaaahhh,  mereka hanya akan berhenti di tempat mereka berpijak.
Di balik orang sukses itu ada kerja keras. Benar sekali. Mungkin yang kita lihat hanya kesuksesannya saja, tapi sebenarnya ada proses panjang, yang mungkin dia jatuh berkali kali dan bangkit berkali kali, yang tidak pernah kita lihat. Pada akhirnya, hasil tidak akan mengkhianati usaha.
Mungkin saat ini, kita sering tidak diuntungkan dengan lingkungan kita berada, tak pernah ada kesempatan bagi kita untuk mempelajari hal baru atau berkembang. Jika demikian, ciptakanlah kesempatan itu sendiri. Berani belajar di luar lingkungan dengan memanfaatkan waktu yang ada. Tak perlu menunggu kesempatan dari orang lain yang kau sendiri yang kau tak tahu kapan datangnya.
Misal: kita ingin buka usaha membuat kebab. Kalau kita memang punya uang sangat banyak, ada kesempatan besar untuk langsung merekrut orang yang ahli membuat kebab. Tapi kalau kita memang tak punya banyak modal, cobalah sendiri untuk membuat kebab. Belajar dari mencoba rasa kebab-kebab yang dijual di sekitar tempat tinggal, atau dari sosial media. Ciptakan sendiri kebab yang punya khas dan tidak dimiliki penjual lainnya. Jika sudah bisa, bukalah toko dan mulai ajarkan pada bawahan (jika punya) bagaimana cara membuatnya.
Pada akhirnya, semua tergantung atas usahamu dan ridho Allah. Ciptakan mimpimu, berdoalah, berusahalah, dan biarkan semesta bekerja untukmu.