Kamis, 01 Desember 2016

Langkah



Sebenarnya kemana saya akan melangkah? Apa tujuan saya? Sering sekali pemikiran itu mampir di kepala, dan sialnya saya belum menemukan jawaban.
Langkah. Apa sih pentingnya langkah? Orang sering bilang bahwa langkah pertama itu penting. Tapi menurut saya ada yang lebih penting, yaitu meneruskan langkah pertama sampai langkah terakhir. Awal dan akhir. Dengan begitu kita bisa melihat hasil. Bagus atau tidaknya, yang penting kita bisa menikmati proses.
Lalu, sampai manakah sebenarnya saya melangkah? Dalam mimpi saya, dimana posisi saya sekarang? Saya pun tak tahu. Sejujurnya saya butuh seorang teman, dengan passion yang sama. Tapi kadang saya terlalu malu, saya bukan apa-apa dibanding mereka. Mereka yang konsisten berkarya, mengejar mimpi, berusaha. Dan yang mampir dalam kepala saya hanya andai saya tak sejauh ini, bisakah saya lebih dekat dengan rumah? Pemikiran yang sangat saya hindari. Ternyata saya sering cemburu pada orang-orang yang bisa melakukan sesuatu yang diinginkan, yang dengan satu tas ransel saja bisa menjejak ke semua tempat. Mungkin sebenarnya saya juga bisa seperti mereka. Mungkin saya hanya butuh tak banyak berpikir. Ah, saya rasa, saya butuh patner untuk mengikuti ide gila saya yang sering mencuat, patner yang akan mengingatkan jika saya mulai banyak berpikir.
Sebenarnya saya sudah banyak melangkah jika hanya masalah jarak. Bahkan, kadang terbersit dalam kepala saya, apakah sebenarnya saya sudah melangkah terlalu jauh? Saya lahir dan tumbuh di Purworejo, sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Masa kecil saya habiskan dengan banyak bermain. Permainan yang sekarang jarang saya temui, terebut oleh teknologi yang kian melejit. Bermain masak-masakan dengan tempurung kelapa dan alat masak mainan seadanya, petak umpet, engklek, kasti, memberi kejutan saat ada yang ulang tahun, bermain hujan. Pagi berantem dengan teman tak menjadi masalah karena sorenya masalah pagi sudah lenyap, seperti tak ada apa-apa. Ini yang paling saya rindukan. Karena ternyata menjadi “dewasa” saat ada perasaan dongkol susah sekali lenyap. Bikin lelah hati. Beranjak semakin besar, langkah yang saya jangkau lebih jauh. Jika saat SD masih berada di satu desa, SMP di lain kecamatan, SMA di ibu kota kabupaten (yang jaraknya lumayan dari rumah) dan melanjutkan kuliah di Jakarta. Bahkan sekarang saya bekerja di Kalimantan. Tapi ternyata saya belum berhenti, saya berharap bisa melanjutkan study saya nanti di luar negeri. Menjejak benua biru, atau negeri sakura. Jika bukan saya, mungkin saya bisa menemani patner saya.
Kenapa tulisan ini merambah kemana-mana? Memang saya sedang galau. Galau karena terlalu lama terkena kebosanan. Dan ini masalah saya, saya benci sekali bosan tapi sering kali saya malas mengusahakan sesuatu. Jika ditanya, sampai di mana langkah saya? Mungkin jawaban saya.

“Saya di sini, sedang beristirahat.”

Rabu, 28 September 2016

Maaf, Tolong, Terima kasih

Tak bisakah kau berkata “tolong” saat meminta tolong
Tak bisakah kau berkata “maaf” saat kau bersalah
Tak bisakah kau berkata “terima kasih” saat kau terbantu
Kata-kata simpel tapi punya arti yang dalam
Kata-kata yang sebenarnya sederhana tapi ternyata tak semua orang bisa mengatakannya

Sabtu, 17 September 2016

Teruntuk Saya

Sebelum saya membicarakan banyak hal, saya ingin mengucap syukur Alhamdulillah, tahun ini saya masih bisa menulis. Terima kasih juga untuk ibuku tercinta, mamak, yang selalu membuatkan putri-putrinya nasi kuning walaupun kami tak bisa selalu berada di sampingmu. Terima kasih untuk doanya, walaupun tanpa kuminta pun aku tahu, engkau selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anakmu.
Teruntuk diri saya sendiri, saya ingin membicarakanmu kali ini. Membicarakan diri sendiri tidak membuat dosa kan? Hehe. Walaupun setiap hari, saya selalu menyuruh diri saya sendiri untuk menanyakan kabar tentang diri sendiri  hanya beberapa menit, mari kita berbicara panjang kali ini.
Setahun terakhir, banyak sekali pemikiran yang mampir dalam kepala saya. Tentang, kenapa saya sekarang ada di tempat ini? Kenapa saya melakukan pekerjaan ini? Kenapa saya jauh dari rumah ibu? Kenapa saya sering kali merasa bosan? Kenapa saya rindu masa kecil saya? Dan kenapa saya banyak berpikir? Ada yang bilang kadang tensi darah saya cenderung tinggi karena saya suka berpikir. Ya. Mungkin saya sering kali terlalu banyak berpikir tanpa saya sadari. Bahkan, jika boleh jujur, salah satu alasan kenapa saya menyukai sebuah perjalanan selain kesempatan bertemu orang asing yang menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah karena saya suka berpikir saat sedang bepergian. Dulu, sewaktu masih kuliah, saya sering berpikir di antara deru kereta api. Sering juga saya berpikir, ternyata banyak sekali orang-orang yang bepergian setiap harinya. Terbukti dari sarana transportasi umum jarak jauh semacam kereta yang selalu penuh. Lantas, ketika harus bekerja di luar Pulau Jawa, ada alasan bagi saya untuk merenung di dalam pesawat. Ketika teman sebangku bukanlah orang asing yang menyenangkan untuk mengobrol, saya memilih untuk merenung sambil memandangi awan-awan yang berarak. Memutar kehidupan saya sendiri untuk beberapa episode-episode terakhir.
Kenapa saya di sini? Kenapa saya melakukan pekerjaan ini? Inilah pertanyaan yang sering kali mampir dalam benak saya. Di antara banyak pilihan, saya berada dalam pekerjaan ini. Menyesal? Tidak. Sejak awal saya tahu bahwa saya akan bekerja di bidang ini, walaupun sebenarnya banyak sekali hal-hal yang tak terduga sebelumnya. Tapi, hidup ini memang sebuah misteri bukan? Saya tak akan tahu apa yang akan terjadi kecuali saya menjalaninya. “Walaupun ini sulit, cobalah untuk menikmatinya” inilah yang selalu saya katakan pada diri sendiri. Temukan sesuatu yang membuatmu memiliki hati yang ringan dan tinggalkan hal-hal yang membuatmu berat hati. Saya tahu hal ini kadang terasa sulit, tapi cobalah. Dan cobalah untuk bersabar. Bukan tidak mungkin bahwa suatu hari nanti saya akan bekerja di bidang lain, pekerjaan yang amat sangat saya sukai.
Lantas, kenapa saya sering kali merasa bosan? Merasa hidup datar-datar begitu saja. Saat itulah, waktu merenung saya semakin panjang. Benar kata orang, kebosanan adalah hal yang mematikan. Alasan kenapa saya merasa bosan sebenarnya sudah saya tahu. Saya tak punya sesuatu yang saya usahakan. Semua hal di sekeliling saya saperti berjalan dengan semestinya. Benjamin Franklin said, ”Most people die at 25 and aren’t buried until they’re 75.” Saya tak mau seperti itu. Saya tak ingin merasa bosan. Saya harus kembali mengupayakan mimpi-mimpi saya. Jika satu mimpi sudah tercapai, saya harus membuat mimpi yang lain. Dengan begitu, saya tak akan merasa bosan. Bermimpi dan berusaha menggapainya membuatmu hidup.
Kenapa saya banyak berpikir? Bahkan ketika ingatan saya tentang pekerjaan tercecer entah kemana, saya bisa mengingat kebiasaan tetangga saya yang bahkan tak terlalu saya kenal. Hal-hal kecil yang ada di lingkungan saya, yang seringkali dianggap tak penting bagi orang lain, begitu mudahnya menempel dalam kepala saya. Mungkin tanpa saya sadari, saya terlalu memperhatikan banyak hal. Bahkan pernah, saat buang air besar di kamar mandi, tiba-tiba tatapan saya tertuju pada satu hewan yang menempel di lantai kamar mandi. Hewan yang seperti nyamuk, dengan kaki-kaki yang sangat panjang, entah apa namanya. Kakinya menempel di lantai kamar mandi yang basah. Saya melihatnya. Ia begitu keras berusaha menggerak-gerakkan kakinya, berusaha melepaskan diri dari basahnya lantai untuk kembali terbang. Saat itu saya berpikir, bagaimana kalau ia tak bisa melepaskan diri. Pasti ia akan hanyut terbawa air saat ada yang sedang mandi atau malah terinjak tak sengaja. Saat saya sudah selesai, saya membebaskan kakinya dari lantai. Bahkan seekor hewan kecil pun berusaha untuk hidupnya. Harusnya saya malu. Ini menjadi tamparan bagi saya ketika saya malas dan banyak mengeluh. Kadang, apa yang saya usahakan memang terasa sulit, tapi saya harus berusaha sekeras mungkin untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai.
Kenapa saya rindu masa kecil saya? Saya lima belas tahun lalu adalah diri saya yang berbeda. Masa kecil adalah masa yang menyenangkan bukan? Rasanya saya tak terlalu banyak berpikir, terlalu lelah, ketika masa-masa saya saat masih SD. Saya berangkat sekolah. Hampir setiap pagi mandi bersama kakak perempuan kedua  saya. Berebut air mandi yang hangat di ember-ember yang disiapkan ibu. Lantas, kebiasaan itu hilang ketika kakak perempuan saya sudah memasuki masa SMP.
Saya tinggal di lingkungan yang menurut saya menyenangkan. Walaupun jauh dari hiruk pikuk kota. Jauh dari permainan-permainan modern yang baru saya tahu ketika saya besar. Sawah, sungai, parit, ladang, sepeda. Saya dan kakak saya sering kali mencuri-curi waktu bermain di sungai. Saya berteman dengan sepupu saya, juga anak tetangga. Saat salah satu dari kami ada yang berulang tahun, masing-masing dari kami akan sibuk menyiapkan kado, sebenarnya ibu kami yang menyiapkan. Kami hanya akan asyik menggunting kertas bekas buku sekolah yang tak terpakai. Malamnya kami akan datang ke rumah anak yang berulang tahun. Tak pernah ada undangan sebenarnya. Kami akan datang dengan senang hati. Saya tahu, setiap anak yang berulang tahun akan menunggu kedatangan kami pada malam hari sebelum hari ulang tahunnya datang. Ibunya akan menyiapkan sebuah bingkisan yang berisi jajanan atau akan mengantar sepiring nasi kuning dengan pelengkap keesokan paginya.
Sejauh ingatanku, tak pernah ada kue dalam setiap ulang tahun. Tapi, kue tak pernah jadi perisau bagi kami. Kami akan menaburi si anak ulang tahun dengan kertas yang telah kami siapkan. Menyanyikan lagu ulang tahun. Memberikan kado. Melihatnya membuka kado satu persatu. Dan bermain. Kado-kado tersebut sebenarnya isinya tak terlalu spesial. Kado yang diberikan hanya berkisar buku tulis, alat-alat tulis, jajanan, lotion, bahkan kadang berisi beberapa bungkus mie instan. Tapi, ulang tahun saat itu selalu menjadi hal yang spesial. Bukan karena kado, tapi karena ada mereka yang ikut bahagia. Ada satu malam dalam setahun terakhir, teman-teman datang dan mendoakan kita dengan tersenyum.
Dari masa kecil saya, saya juga menjadi penikmat hujan. Bahwa, ketika hujan jatuh satu per satu hingga menderas dan membuatmu basah, ada tawa yang muncul. Hujan bukan hanya membuatmu basah, tapi juga bahagia. Saya dan Mbak berdiri di bawah pancuran air hujan di sampin rumah. Atau membuat kapal ketika hujan sangat deras hingga ada aliran air di samping rumah.
Mungkin, suatu kali, saya akan menulis lebih banyak tentang masa kecil saya. Sawah, hujan, galengan, sungai, tangis, tawa, layang-layang, es lilin, kenakalan. Saya rasa, saya tak bisa menukar masa kecil saya dengan apapun.
Beranjak dewasa rasanya semakin banyak hal-hal yang menganggu hati saya. Saya lebih memikirkan banyak hal ketika bertindak. Dulu, saya adalah penikmat tontonan televisi. Suatu kali, saat akan mengahadapi ujian kelulusan SMP, ada tayangan Televisi yang sangat saya sukai sedang diputar. Dari pada saya belajar tapi tidak tenang karena memikirkan bagaimana kelanjutan cerita tayangan yang saya sukai itu, saya memilih meletakkan buku saya dan duduk manis di depan televisi. Soal belajar untuk ujian besok, berarti saya hanya harus tidur lebih malam karena saya menggunakan waktu belajar saya dengan menonton Televisi. Jika mungkin orang tua lain akan melarang anaknya, ibu saya memilih membiarkan saya. Dan voila, saya tak akan memberitahukan hasil ujian SMP saya di sini. Hal itu masih berlaku hingga saya SMA. Mungkin, tanpa saya sadari, saat itulah saya mulai belajar, bahwa setiap pilihan ada sebuah konsekuensi. Dan setiap kita memilih, kita harus siap dengan konsekuensi itu.
Bahkan sekarang, saya tak terlalu berani mengambil resiko atas sesuatu yang ingin saya lakukan. Saya terlalu mempertimbangkan banyak hal. Saat ini, sungguh, saya ingin sifat anak kecil ada dalam diri saya, melakukan sesuatu tanpa terlalu banyak berpikir, jika gagal, saya hanya perlu mencobanya lagi. Tapi, hidup memang bergerak maju. Semakin besar, semain banyak hal yang masuk dalam diri saya. Untuk hal-hal yang bersifat prinsipal, saya harus memikirkan segala perbuatan saya. Keinginan-keinginan saya adalah:
Saya ingin merasa berada di ‘rumah’ di mana pun saya berada. Ketika pagi baru bangun, saya ingin menyambut hari dengan, wah apa yang akan terjadi hari ini. Bukan dengan sebuah pemikiran, ah hari ini mungkin sama aja dengan kemarin, pagi kerja, sore pulang, esoknya kerja lagi. Saya tak ingin pemikiran saya seperti itu.
Saya ingin setidaknya, sekali dalam setahun, saya berkunjung ke tempat yang belum pernah saya kunjungi. Entah sendiri atau bersama teman. Semoga nanti, bisa jalan-jalan dengan seseorang yang halal buat digandeng, hehe. Jika saya belum bisa menemukan orang baik, semoga Allah berkenan mengirimkan orang baik untuk menemukan saya.
Saya ingin lebih banyak membaca. Membaca membuat pemikiran saya terbuka. Saya ingin membuat diri saya tidak mudah ‘nesu’ kalau pendapat orang lain berbeda dengan saya. Banyak sekali sudut pandang untuk memahami suatu hal, dan membaca adalah salah satu cara untuk memperkaya sudut pandang itu. 
You might be poor, your shoes might be broken, but your mind is your palace-Frank McCourt-
Saya ingin menjadi manusia yang berani. Berani untuk bermimpi dan mengejar mimpi. Mungkin mimpi saya hanya sebuah lelucon bagi orang lain. Tapi, bagi saya mimpi adalah sumbu yang membuat saya menjadi lebih hidup. Saya juga ingin berani intropeksi diri, bahwa ketika saya salah, maka saya harus meminta maaf, bukan mencari alasan yang sebenarnya saya sendiri tahu bahwa itu hanyalah sebuah ‘alasan’. Saya ingin menanamkan dalam diri saya bahwa ketika saya berbuat tidak baik, berarti saya sedang menyakiti diri saya sendiri. Walaupun saya tahu, saya tidaklah sebaik apa yang orang lain lihat, karena Allah telah menutup aib-aib saya. Saya hanya ingin menjadi orang yang lebih baik setiap harinya. Ketika saya akan berbuat tidak baik, saya harus berpikir panjang, apakah saya akan sanggup menerima konsekuensinya, apakah saya akan menyakiti diri saya sendiri dan tentunya orang lain. Jika pembalasan atas apa yang kita lakukan di dunia ini tidak sekarang, di akhirat kelak pasti ada. Maka saya harus berpikir panajng ketika akan berbuat tak baik. Tapi, ketika saya ingin berbuat baik, saya tak boleh terlalu banyak berpikir. Seseorang berkata “ketika kau ingin berbuat baik, langsung lakukan saja, jangan dipikir, kalau dipikir akan membuatmu menemukan ‘alasan’, ‘alasan’ untuk tak melakukannya”. Saya tak ingin seperti itu.
Saya tidak ingin iri pada orang lain. Saya ingin tersenyum ketika orang-orang sekeliling saya mendapatkan kebahagiaan. Saya tidak ingin berpikir, kenapa saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan? Mereka mendapatkannya juga dengan usaha mereka. Everyone have their own battle. Saya hanya harus tersenyum. Saya harus berhenti nyinyir terhadap orang lain. Nyinyir terhadap orang lain hanya membuat lelah. Saya tak ingin lelah karena hal itu.
Sekian. Semoga tahun depan bisa berjumpa lagi.
Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (QS. Muhammad 36)
Setiap orang memiliki seninya masing-masing dalam mengenang. Dan inilah cara saya mengenang, dengan menuliskannya. Kelak, suatu hari, ketika pintu-pintu ingatan dalam kepala saya tak bisa lagi saya masuki dengan mudah, saya akan berkunjung ke sini.

                                                                            Gunung Mas, 18 September 2016




Kamis, 15 September 2016

Rumah Peran (Cerpen, Majalah UMMI, edisi Juli 2016)

Alhamdulillah. Yatta. Akhirnya. Berhasil juga netasin anak kecil satu. Hehe
Catatan di awal ini tak bermaksud apa-apa, hehe, hanya pengingat momen untuk diri sendiri.
Cerpen ini sebenarnya sudah lama sekali kubuat, sekitar bulan ke sepuluh tahun 2014. Yap, benar tahun 2014. Jauh banget nggak tuh sampai bulan Juni 2016 pas ada konfirmasi.  Satu tahun setengah ternyata si cerpen ngantri di meja redaksi. Awalnya pas lagi dapat email, saya kira dari olshop (kalo boleh jujur, sebenarnya dari dulu saya selalu excited ketika mendapat email masuk, tapi akhir-akhir ini email saya isinya lebih banyak dari olshop,haha), ternyata sebuah email berisi konfirmasi untuk pemuatan. Langsung senyum-senyum sendiri di pojokan (emang kejatah tempat duduk di pojok sih kalau di tempat kerja, hehe). Untungnya masih sepi, kalau nggak bisa diledekin senyum-senyum sendiri di pojokan.
Langsung deh saya buka file cerpen karena sebenarnya saya sendiri sudah lupa pernah buat cerpen iu dan pernah mengirimkannya ke majalah UMMI. Lupa juga ceritanya tentang apa. Saya juga ubek-ubek lagi email saya, voilaaaaa, ternyata cerpen ini pernah kukirim ke majalah lainnya dan ditolak. Setelah penolakan itu, baru saya kirim ke majalah UMMI. Berbicara soal penolakan, dulu sekali, saat pertama kali menerima email penolakan, saya senang sekali. Padahal emailnya penolakan lho, tapi saya senang.  Ternyata tulisan saya dibaca oleh redaksi. Pernah juga diminta menunggu enam bulan dan tak ada kabar sampai sekarang. Haha. Banyak juga yang tak berbalas. Setiap cerita punya jodohnya masing-masing.
Sambung lagi, mbak nya bilang, kalau cerpennya bakal tayang bulan juli. Alhamdulillah berkah bulan Ramadhan. :)

Cerpen ini murni dan belum ada editan dari redaksi UMMI. Oh ya, FYI majalah UMMI memberi batasan bahwa setiap penulis cerpen majalah UMMI, cerpennya bisa terbit di majalah UMMI dengan minimal jarak enam bulan. Jadi misal cerpennya terbit bulan juli, bisa terbit lagi nanti bulan januari tahun depan. Semoga tahun depan bisa lagi nongol di majalah UMMI :) Selamat membaca.

#######

Kurenggangkan tubuh, menghilangkan pegal-pegal. Rasanya baru sebentar aku menghadap komputer, tapi punggungku sudah terasa panas. Kulirik jam di dinding, sudah pukul lima sore. Pantas. Sudah tiga jam lebih aku duduk di depan komputer.
Kulangkahkan kakiku ke kamar mandi. Mengambil handuk di jemuran baju terlebih dahulu. Tubuhku terasa segar ketika air dari shower mengguyur. Sedikit menghilangkan penat dan jenuh yang beberapa hari ini menumpuk. Agak lama aku berada di bawah guyuran air, baru melilitkan handuk ketika tubuhku mulai menggigil.
Aku sedang membaca novel yang kubeli kemarin sepulang kerja ketika dia pulang. Lelaki yang satu bulan terakhir ini hidup bersamaku. Aku hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandanganku dari novel ketika dia memberi salam.
Sebenarnya tak ada yang salah dengan hubungan kami. Setidaknya itu yang kurasa. Hanan;lelaki yang kini menjadi suamiku, telah kukenal sejak setahun lalu. Waktu itu aku sedang liburan ke luar negeri dengan menggunakan jasa agen wisata. Dia termasuk dalam salah satu kelompok tur kami. Begitulah kami berkenalan. Mungkin terdengar klise, tapi aku merasa jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Mata hitamnya;yang setiap melihatnya aku merasa seperti ada biji kopi, mampu membuat hatiku tenang. Setahun kemudian kami memutuskan menikah.
“Kamu belum membuatkanku teh?” tanyanya.
Aku hanya menggeleng. Sudah seminggu terakhir aku tak melakukan hal yang dia minta, teh sepulang kerja dan pagi hari. Bukankah dia bisa membuat sendiri, teh dan gula sudah kusediakan di dapur. Air panas juga sudah ada.
“Sudah kubilang kan, aku selalu suka minum teh setiap pulang kerja dan pagi hari. Kenapa kamu tak pernah mendengarkan?” Nada suaranya terdengar satu oktaf lebih tinggi.
“Kamu tahu bukan? Aku tak suka minum teh,” sanggahku. Mataku masih terpaku pada tulisan-tulisan di depanku, tapi tak ada yang benar-benar masuk di kepalaku. Rasa jenuh itu kembali merayap.
“Kamu tak harus minum teh?”
“Lalu buat apa aku membuat teh?”
“Kamu tau aku menyukainya.”
“Kenapa kamu selalu mempermasalahkan tentang teh. Sebegitu pentingkah teh bagimu? Aku tak mempermasalahkan kamu yang tak mengecup keningku tiap pagi sebelum berangkat kerja.” Kutatap matanya.
“Oh sudahlah, kamu tak mengerti maksudku.”
Kudengar langkah kakinya menjauh. Sepertinya dia masuk ke kamar. Kuhembuskan nafas. Apa sebenarnya maunya? Ayahku baik-baik saja tanpa teh sepulang kerja dan pagi hari. Ayah tak pernah mengomel pada Ibu. Sepenting apa teh baginya.
Dulu, sebelum menikah, aku merasa akan menjadi sangat bahagia ketika berumah tangga. Bukan berarti aku tak bahagia sekarang. Aku bahagia dan aku sangat mencintai Hanan. Hanya saja, aku sering merasa tak nyaman. Dia menjadi seseorang yang berbeda.
Hanan seperti orang yang baru kukenal setiap harinya. Banyak hal baru yang kutemui dalam dirinya, yang sayangnya tak begitu kusukai. Salah satunya tentang teh. Jujur, aku bukan orang yang mudah beradaptasi dan aku bukan orang yang akan memaksakan diri melakukan hal yang tak kusukai sekalipun itu untuk orang yang kusayangi. Lebih baik mengatakannya langsung bahwa aku tak suka, begitu caraku. Dan itu sepertinya tak berlaku dalam hubunganku dengan Hanan.
Kutaruh novel yang baru setengah kubaca, tak lagi berminat. Kuambil remot TV dan kutekan tombol on. Memencet-mencet tombol channel, tak ada yang menarik. Kumatikan TV dan beranjak ke kamar.
Dia tidur di bagian kiri ranjang kami, menghadap tembok, entah sudah benar-benar tidur atau belum. Kumatikan lampu kamar, berganti dengan remang lampu tidur. Kurebahkan badan di bagian kanan ranjang kami, saling memunggungi.
Tak ada yang berbicara di antara kami. Apalagi cium dan tatap menghujam bola mata yang dulu begitu menghibur. Hanya punggung kami yang saling menghadap. Sebenarnya, ingin sekali kuceritakan apa yang terjadi denganku hari ini. Tentang anak didikku yang sering bertengkar, tentang guru-guru lain di tempatku mengajar, tentang jalanan Jakarta yang selalu panas, apapun itu. Aku selalu suka bercerita sebelum tidur. Tapi tak ada satu kalimat pun yang keluar dari bibirku. Mungkin jenuh itu bukan hanya ada dalam hatiku, tapi juga merambat ke mulutku.
Begitulah malam yang kami lewatkan. Begitu saja.
Keesokan paginya, kami sibuk dengan persiapan berangkat kerja. Kuurungkan niatku memakaikannya dasi. Kurang rapi, begitu alasan dia menolakku waktu pertama aku melakukannya, dulu. Walaupun pernah kubilang aku menyukai melakukannya, dia tetap menolakku.
Dia menurunkanku di depan tempatku mengajar, sebelum meneruskan ke kantornya.
“Sampai nanti.” Ucapnya sebelum aku menutup pintu mobil.
Dia sudah melaju sebelum aku sempat melambaikan tangan. Sebenarnya apa yang terjadi di antara kami. Ini bulan kedua semenjak aku sah menjadi istrinya, tapi rasanya ada yang salah.
Rasanya hari itu sangat berantakan. Anak-anak didikku menjadi sasaranku. Aku mengomel panjang lebar hanya karena ada yang tak mengerjakan PR. Padahal biasanya aku hanya akan memberi hukuman. Menjadi guru yang suka mengomel, sungguh bukan tipeku.
Hari itu kuputuskan untuk mampir ke toko buku, caraku menghibur diri. Tak ada novel yang sedang ingin kubaca sebenarnya. Baru ketika matahari mulai tenggelam kuputuskan untuk pulang.
Aku melihat mobil Hanan ketika membuka pagar. Tak biasanya dia pulang cepat. Aku menangkap sosoknya yang sedang menonton televisi ketika melewati ruang tengah. Kuucapkan salam. Dia menyahut tanpa menoleh.
Kulangkahkan kakiku ke kamar. Menaruh semua barang-barangku dan menelungkupkan wajahku ke bantal. Aku menangis. Aku tak tahu pasti kenapa aku menangis, tapi mungkin menangis bisa membuatku lega. Kupikir pernikahanku akan membuatku nyaman. Aku hanya ingin membentuk keluarga seperti keluargaku.
Kudengar pintu kamar terbuka dan menutup kembali. Aku tak mengangkat wajahku. Walaupun suara tangisku tak keras, isakanku membuatku bahuku naik turun. Hanan pasti tahu aku menangis.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
Aku masih diam.
“Kita harus bicara Aira?” suaranya terdengar tegas, tanda dia ingin berbicara serius.
Kuangkat wajahku, semuanya memang harus segera diselesaikan.
“Kamu bahagia menikah denganku?” tanyaku.
“Tentu saja.” Dia kemudian duduk di sampingku. “Memangnya kamu tak bahagia?”
“Aku bahagia,hanya saja...aku merasa tak nyaman,” kataku jujur.
Dia terlihat sedikit kaget. Mungkin tak menyangka aku akan mengatakannya secepat itu.
“Begitu...” Dia menghembuskan nafasnya, terlihat berat.
“Aku tak suka minum teh, tapi kamu selalu menanyaiku teh. Apa teh begitu penting?”
“Bukan masalah teh sebenarnya, aku suka ketika aku pulang kamu menyambutku. Dan teh hangat salah satu caranya. Ibuku selalu begitu, dan aku rasa ayahku sangat bahagia ketika dia diperlakukan seperti itu oleh ibu.”
“Aku bukan ibumu,” sanggahku. Dia harus sadar akan hal itu, bahwa kini dia tinggal bersamaku bukan ibunya. Kami terdiam cukup lama.
“Aku akan sangat senang kalau kamu mau melakukannya,” ucapnya lirih.
“Jangan egois. Hanan, kamu juga tak pernah melakukan apa yang kusukai. Aku suka memakaikanmu dasi, aku ingin kau mengecup dahiku tiap pagi, aku ingin kita berolah raga bersama tiap akhir pekan. Ayahku selalu melakukannya dengan ibu. Dan mereka bahagia.”
“Dan aku bukan ayahmu,” ucapnya kemudian. Hanan menatapku lama. Kata-katanya menamparku.
Selama ini, aku hanya menyalahkan Hanan. Tanpa sadar bahwa aku juga melakukan kesalahan. Pernikahan kami tak ubahnya seperti anak kecil yang bermain rumah-rumahan. Yang kami bangun hanyalah sebuah rumah peran. Dia berperan sebagai Ayahnya dan aku berperan sebagai Ibuku. Tak ada benang merah yang menghubungkan peran kami, karena aku mengharapkannya seperti ayahku dan dia mengharapkanku seperti ibunya. 


Sabtu, 20 Agustus 2016

Secangkir Kopi Jam Lima Pagi


            Hujan pertama setelah kemarau panjang telah reda. Dua kopi hitam yang kuseduh satu jam lalu sudah mulai dingin. Uapnya yang tadi mengepul sudah lenyap. Bau harumnya terganti dengan petricor. Apakah dia akan tetap mencintaiku setelah kuceritakan diriku yang sebenarnya? Aku bisa merasakan bahwa banyak hal yang berkecamuk dalam kepalanya. Aku mungkin tak seperti yang ia bayangkan selama ini.
            Mencintai seseorang berarti menerima segala yang ada padanya. Berkomitmen untuk bersama. Menerima segala masa lalunya, sekarang, dan masa depannya. Mengijinkan seseorang mencintai kita berarti membiarkannya memasuki kehidupan kita, membiarkannya mengetahui masa lalu kita, menerima kita apa adanya. Tapi, apakah ia akan menerima masa laluku? Aku terlalu takut.
            “Kau bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku,”ucapku akhirnya. Dia pantas untuk mendapatkan seorang gadis yang tumbuh dengan lingkungan keluarga yang normal.
            “Aku mencintaimu,” tegas lelaki itu. Laki-laki itu, Hanan, teman satu pekerjaan yang enam bulan terakhir dekat denganku. Walaupun awalnya aku sering merasa terganggu, tapi ia selalu menjejaliku dengan humornya yang akhirnya membuatku tertawa juga. Hanan seperti buku yang terbuka, aku bisa mengenal semua sifatnya dengan mudah.
Tapi datang ke rumahku satu minggu yang lalu tanpa memberitahuku? Ralat, rumah orang tuaku maksudku. Harusnya aku senang karena hal itu menunjukkan bahwa dia serius.
            “Dengan cara seperti ini, tanpa bilang padaku lebih dulu,” kataku cukup keras ketika bertemu dengannya dua hari lalu. Aku sungguh tak siap memberitahunya tentang masa laluku. 
            “Maaf, apakah aku terlalu terburu-buru? Aku hanya…” Hanan tak meneruskan kata-katanya. Mungkin dia terkejut dengan reaksiku. Kutatap matanya.
            “Jangan terlalu baik padaku.” Ya, lebih baik begitu.
            “Tak ada yang bisa melarangku Lili.”
            “Sekalipun itu aku?”
            “Ya, sekali pun itu kau,” tegasnya.
            “Walaupun kubilang kau tak akan pernah bisa menjadi cinta pertamaku.”
            Ia terdiam. Mungkin terkejut dengan apa yang kuucapkan.
            “Ya, sekalipun seperti itu. Tapi, aku yakin akan menjadi cinta terakhirmu.”
            Aku tahu persis, Hanan bukanlah orang yang mudah menyerah. Dia akan selalu mengupayakan apa yag diinginkannya. Jika boleh jujur, aku bahagia saat bersama dengannya. Tapi, ada rasa kesal yang sangat dalam hatiku. Dari dalam matanya aku tahu ia mencintaiku, tapi yang kuragukan, apa benar aku pantas untuk bisa mencintainya. Aku terlalu takut.
            “Datanglah sabtu sore nanti ke tempat kosku, aku akan memberitahumu tentang diriku yang tak kau ketahui.”
###
            Satu-satunya orang yang paling dekat denganku hingga usiaku empat belas tahun adalah Bapak. Bapak mengajariku dalam semua hal. Kecuali ketika aku datang bulan pertama kali, Bulek Dar, tetangga rumah, ia mintai tolong untuk menjelaskan apa yang harus kuperhatikan.
Aku tak pernah melihat ibu, bahkan hanya dalam sebuah potret. Hanya dalam sebuah imajinasi saja ibu ada. Imajinasi yang tumbuh dari cerita-cerita bapak.
            “Ibumu, wanita yang sangat cerdas.” Begitu cerita Bapak. Saat itu senja ketika aku masih kelas tiga SD. Aku tak pernah menanyai Bapak soal ibu.
            “Lalu, di mana ibu sekarang Pak?” kuberanikan bertanya.
            “Ibumu sudah bahagia sekarang.” Aku bisa menangkap wajah sendu bapak. Kuputuskan tak bertanya lagi. Buat apa? Toh Bapak ada di sampingku.
            Bapak selalu menyisir rambutku setiap pagi saat aku akan berangkat sekolah. Mengucir kuda atau mengepang. Aku mengaduh beberapa kali ketika ada rambut ikalku yang kusut tertarik jari-jari sisir. Pun ketika ikatannya terlalu kencang.
            Lalu Bapak akan terbahak dan berucap, “Mungkin Bapak harus membeli buku cara menyisir dan mengikat rambut.”
            Aku ikut terbahak dan membiarkannya melakukan rutinitas sisir menyisir rambut tiap pagi walaupun sebenarnya ketika sampai sekolah aku sering membuka ikatan rambutku karena tak terlalu rapi.
            Menghabiskan waktu bersama Bapak adalah hal yang sangat menyenangkan. Kecuali untuk masakan. Makanan hasil olahan tangan Bapak rasanya hanya berkisar masih bisa diterima lidah dan tidak bisa diterima lidah. Kami akan tertawa sambil menghabiskan makanan. Bapak selalu berjanji akan membeli buku resep masakan. Tapi ketika kami sampai di toko buku, ia selalu lupa membelinya.
            Mengenai buku, Bapak selalu menghadiahiku buku. Kata Bapak dengan membaca buku aku bisa mengetahui banyak hal. Tidak semua buku yang dibelinya adalah buku baru. Lebih sering dari toko buku bekas yang ada di samping warung bakso di dekat alun-alun kabupaten. Oh ya, mengenai bakso, itu adalah makanan spesial. Jika semua orang bisa memakan bakso kapan saja, aku hanya memakan bakso di waktu-waktu spesial. Saat ulang tahunku, hari terima rapor, dan saat lebaran datang. Ketika kutanya kenapa, beberapa hal harus dinikmati saat-saat tertentu agar ia menjadi istimewa, begitu jawabannya. Aku mengangguk setuju. Padahal sebenarnya  aku tahu benar bahwa bakso yang Bapak sukai hanya yang ada di dekat alun-alun kabupaten, sementara rumah kami jauh dari alun-alun kabupaten.
            Bapak tak pernah memarahiku. Ia hanya akan diam ketika aku melakukan sesuatu yang tidak sesuai kehendaknya. Aku pernah sengaja menaruh permen karet yang telah kukunyah hampir setengah jam ke rambut temanku, Doni. Aku sebal, ia mengataiku anak pungut. Hanya karena aku tak memiliki ibu.
            Ibu Doni marah. Rambut anaknya harus dibotaki karena permen karet itu tak mau lepas. Dia datang pada bapak. Aku tak berani keluar kamar. Dan hanya mendengar beberapa kata bahwa bapak tak becus mendidik anak.
            Bapak mendiamkanku. Bahkan ketika aku terus bertanya tentang kunang-kunang saat makan malam.
            “Lili minta maaf,”kataku akhirnya. Aku tak berani menatap mata Bapak.
            “Apakah begitu lama hingga membuatmu sadar akan kesalahanmu?”
            Aku masih menunduk.
            “Nduk, dengarkan Bapak. Apakah Bapak pernah mengajarimu berbuat hal yang tidak baik pada temanmu?”
            Aku menggeleng.
            “Lalu, kenapa kau melakukannya. Jangan menunduk.”
            “Karena dia mengataiku anak pungut.” Kudapati wajah Bapak yang sedikit terkejut.
            “Kau anak Bapak,” tegasnya.
            “Iya, aku tahu.”
            Esoknya, semua berjalan seperti biasa. Bapak selalu menyeduh kopi hitam tiap jam lima pagi. Sering aku mencicipinya dan bergidik ketika panas kopi hitam menyentuh ujung lidahku.
            “Kenapa Bapak menyukai kopi, itu kan pahit.” Keluhku ketika rasa pahit masih menempel di pangkal lidahku. Bapak tertawa keras.
            “Loh, hidup ini juga kadang pahit, tapi kita tetap bisa menikmatinya.”
            Aku hanya manyun mendengar jawaban Bapak.
Setelah agak besar aku ikut menikmati kopi bersama Bapak. Kopi setiap jam lima pagi adalah waktu yang istimewa. Aku akan menggoreng camilan seperti pisang goreng, singkong, atau tempe sebagai teman ngopi.
“Kenapa kau sekarang jadi suka ngopi?” tanya Bapak.
“Karena hidup tak selalu manis,” jawabku sambil terkekeh.
Bapak tertawa, keras sekali.
“Sejak kapan anak Bapak jadi puitis begini,” ucap Bapak ketika tawanya reda.“Tapi benar, kalau ada hal-hal pahit dalam hidup ini, kita hanya harus menikmatinya seperti saat kita menikmati secangkir kopi.”
Kopi setiap jam lima pagi. Bapak tak pernah melewatkannya. Hingga bau tubuhnya seperti wangi kopi.
            Lalu tiba-tiba semuanya berubah. Tak ada lagi Bapak. Buku. Surat. Sisir. Bakso. Dan kopi. Kecelakaan telah merenggutnya. Bapak pergi. Walaupun aku terus menatap Bapak di rumah sakit, dada Bapak tidak naik turun. Walaupun aku menangis kencang sekali, Bapak tak juga membuka mata. Orang-orang menenangkanku, bilang bahwa bapak sudah bahagia sekarang. Lalu, kenapa Bapak tega meninggalkanku sendiri. Aku semakin tergugu.
            Seminggu setelah kepergian Bapak rasanya aku seperti orang gila. Dalam pandanganku Bapak masih ada di rumah. Di dapur, ruang tengah, teras, aku melihat Bapak. Saat aku mengusap mata untuk memastikan, bayangan Bapak hilang. Luntur bersama air mataku yang jatuh satu-satu.
            Lalu, wanita itu muncul. Dengan sebuah mobil yang kutahu platnya berbeda kota dengan tempatku tinggal.
            “Siapa?”
            “Dia, ibumu.” Bulek Dar yang menjawab. Entah sejak kapan Bulek Dar ada di sampingku. Ia yang selama ini selalu menemaniku di rumah setelah kepergian Bapak mengusap pundakku. Aku sendiri, tak tahu harus berekspresi seperti apa. Kupikir dulu ibu sudah meninggal, karena bapak selalu bilang bahwa ibu sudah bahagia sekarang. Waktu itu, Lyra, teman sekelasku, menjelaskan padaku bahwa ‘sudah bahagia sekarang’ berarti sudah meninggal karena ayahnya Lyra juga sudah bahagia sekarang. Mengingat itu membuatku menangis, lagi. Entah untuk kesekian kalinya minggu ini. Jika meninggal berarti sudah bahagia maka aku ingin meninggal juga. Bapak curang,  merasakan bahagia tanpa mengajakku. Bukankah katanya kita harus saling berbagi. Bahagia harus dibagi bukan?
###
Rumah baru. Orang-orang baru.  Segalanya terasa asing. Aku harus terbiasa tinggal dengan orang-orang asing yang harus kupanggil mama dan papa. Juga seorang adik laki-laki yang umurnya hanya berjarak dua tahun lebih muda dariku dan seorang adik kecil perempuan. Ya, kini aku tinggal dengan ibuku. Tiga hari lalu, walaupun aku menangis meminta untuk tak meninggalkan rumah Bapak, keluarga besarku dari Bapak sepakat untuk menyerahkanku pada Mama, ibu kandungku. Usiaku masih empat belas yang berarti aku masih di bawah umur. Aku tak bisa tinggal sendiri. Bahkan Bulek Dar, dia menggeleng saat aku merengek untuk tetap tinggal.
            “Ini kamarmu, Lili” ucap Mama. Kalau Bapak sering memanggilku dengan sebutan “nduk” maka wanita yang harus kupanggil mama memanggilku dengan nama. Sebuah ruangan yang cukup luas dengan dinding berwarna biru menyambutku.
            “Mama akan menyiapkan makan malam.” Wanita yang berparas cantik dan harum itu meninggalkan ruang. Wanita yang tiba-tiba harus kupanggil Mama sejak tiga hari lalu.
            Kuletakkan tas punggungku asal di atas tempat tidur. Lantas tanganku meraih jendela untuk membukanya. Angin sore menyambutku. Banyak hal yang mampir di kepala.
            Pukul tujuh malam, pintu kamar diketuk. Aku hendak membukanya ketika kenop pintu sudah diputar.
            “Lili, ayo, makan.” Mama mengenakan sebuah apron. Mungkin ia baru selesai masak. Mungkin—karena aku tak mencium bau masakan dalam tubuhnya seperti bau tubuh bapak yang bau asap dan masakan saat memanggilku makan. Mama tetap wangi.
            Aku mengikuti langkahnya menuju meja makan. Aku sering makan bersama bapak di depan TV. Di sebuah tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan. Tapi di sini kami harus makan di meja makan. Tak ada yang bersuara. Hanya bunyi sendok dan garpu yang berdenting dengan piring. Aku agak merasa aneh makan dengan garpu. Biasanya aku hanya akan memakai sendok, bahkan aku dan Bapak lebih sering makan langsung dengan tangan. Seringkali kami makan sambil menonton TV, lantas asyik mengomentari tayangan TV.
            Tapi di rumah Mama, semuanya diam. Beberapa kali aku mencuri lihat wajah Papa. Selama tiga hari terahir hanya Mama yang mengurusi kepindahanku. Malam ini baru perama kali aku melihatnya. Juga, Rio, adik laki-lakiku, dan Ain, adik perempuanku. Makan malam yang sangat canggung. Aku tak berniat memperkenalkan diri. Apa aku harus bilang ‘Halo, aku Lili, anak yang ditinggalkan Mama, untuk pergi bersama orang lain’. Ya, Mama pergi meninggalkanku dengan Bapak, begitu pikirku ketika menerima kenyataan bahwa ibu kandungku masih hidup. Harusnya aku senang, tapi kenapa aku merasa selalu sesak saat memikirkannya.
            Mama menangis malam itu. Aku mendengarnya waktu lewat kamar mama untuk ke kamar mandi. Aku hanya diam. Tak tahu harus berbuat apa ketika Mama menangis. Bapak pernah bilang, wanita itu mudah menangis. Tapi, aku tak tahu kenapa Mama menangis. Apakah Mama menyesal membawaku kemari? Begitu pikirku ketika aku telah berbaring di kasur baruku di kamar.
            Hari-hari selanjutnya, rasanya semua terasa berat. Tak ada bau kopi setiap jam lima pagi. Aku tak banyak mengobrol. Bahkan, rasanya pembicaraanku hanya dengan Mama dan berkisar dengan jawaban antara iya dan tidak. Semua orang memeperlakukanku dengan baik. Minggu kedua, Papa beberapa kali mengajakku ngobrol. Menanyai hal-hal biasa tentang bagaimana sekolah baruku, teman-temanku, dan  apa saja yang kuinginkan.
            Aku sendiri tak tahu harus memperlakukan mereka seperti apa. Rasanya sangat melelahkan. Bahkan ketika aku mendapati Mama, Papa, Rio, dan Ain sedang bercanda di teras belakang rumah, aku hanya bisa menatapnya dari jauh. Apakah, jika dulu Mama tak meninggalkanku dengan Bapak, aku akan merasakan hal seperti itu? Sepertinya di rumah ini aku hanya akan menjadi orang asing. Lebih baik, aku kembali ke rumah Bapak.
            Bahkan tanpa aku sadari, sikapku semakin lama menjadi ketus. Kadang sengaja aku pulang terlambat, padahal tak ada kegiatan sepulang sekolah. Aku tak mengacuhkan Ain saat ia mengajakku bermain. Aku membeli banyak hal yang sebenarnya tak kubutuhkan dengan uang yang Papa berikan padaku, lantas aku meminta uang lagi. Dia hanya akan menatapku tanpa berkata. Padahal uang saku yang diberikannya cukup untuk sebulan.
            “Lili, Mama mau bicara.” Mama datang ke kamarku suatu malam. Malam ke tiga ratus empat lima yang berarti aku hampir satu tahun tinggal di rumah itu. Aku menandai kalender sejak pertama datang.
Aku yang sedang asyik membaca komik hanya mengangguk tanpa berniat menatap wajahnya.
            “Lili, bisakah kita berbicara serius. Ada yang ingin Mama beritahukan padamu.”
            Kututup komik dan menatap Mama dengan ogah-ogahan.
            “Sebenarnya, Ayah kandungmu bukanlah Bapak, tapi Papa.” Ucap Mama pelan yang seperti bisikan. Lantas, Mama mulai menangis.
            Aku bergeming. Bagaimana bisa, Bapak bukan ayah kandungku. Orang yang sangat aku cintai. Aku ingin memprotes, tapi tak ada kata-kata yang keluar sedikitpun.
            “Dulu, Mama mengandungmu sebelum menikah. Karena Papa sedang belajar di luar kota, Mama tak berani memberitahunya. Itu kesalahan Mama. Orang tua Mama menjodohkan Mama dengan Bapak agar tak membuat keluarga malu. Mama tidak tahu kenapa Bapak mau menerima Mama.”
            “Jangan bercanda!” Tanpa kusadari suaraku sangat keras.
            “Maafkan Mama, Lili.”
            Air mataku sudah siap buncah. Aku menahannya hingga membuat dadaku sesak.
            “Kenapa aku sama Bapak, bukan dengan Mama?” tanyaku akhirnya.
            Mama menghirup napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Karena…agar Mama bisa pergi, Mama harus meninggalkanmu. Papa akhirnya tahu dan ingin Mama pergi dengannya.”
            Fakta lain yang sangat mengejutkan.
            “Mama, ini sungguh tak lucu, kalau aku memang harus mencintai kalian sebagai orang tuaku, tapi bukan dengan cara menjelekkan Bapak.”
            Mama hanya menangis. Aku baru menyadari ada seseorang lagi yang berdiri di pintu kamarku ketika kudengar ada isakan yang sangat pelan. Papa.
            “Lalu, kenapa Mama tak memilih untuk tinggal?” Walaupun dalam hatiku aku tak percaya Bapak setega itu memisahkanku dengan orang tua kandungku.
            Mama menatapku. Sebenarnya aku tahu jawabannya. Mama mencintai Papa. Walaupun Bapak memperlakukannya dengan sangat baik, ternyata hal itu tak cukup untuk membuat Mama mencintainya.
            Aku cukup dewasa untuk tahu hal itu tanpa harus mendengar jawaban Mama.
            “Padahal Bapak selalu mencintai Mama.”
            Mama semakin tersedu. Malam itu, Mama dan Papa meminta maaf padaku. Dulu, harusnya Mama memberitahu Papa. Harusnya Papa lebih peduli dengan Mama. Harusnya Bapak…Aku sungguh tak ingin membuat pemikiran tentang Bapak yang memisahkanku dengan orang tua kandungku.
###
“Kau tahu, saat akhirnya aku keluar dari rumah orang tuaku untuk melanjutkan kuliah di luar kota, empat tahun setelah aku tinggal di rumah orang tuaku, tiga tahun setelah pengakuan orang tuaku, aku melihat pendar yang berbeda di mata Mama. Mama terlihat sangat lega. Aku sedih sekaligus juga lega. Sedih karena ternyata mama seperti tak mengharap kehadiranku. Tapi sebenarnya Mama baik. Kurasa saat itu, kami butuh waktu. Empat tahun ternyata bukan waktu yang cukup. Tapi, aku lega. Aku tak menjadi satu-satunya orang yang jahat karena tak bisa merasa benar-benar nyaman di dekatnya. Mungkin seperti ini akan menjadi lebih baik. Dari awal, tanpa kusadari aku selalu mencari alasan. Aku selalu membandingkannya dengan Bapak. Bahkan ketika aku tahu Bapak lah yang memisahkan kami.”
Aku menghirup napas panjang. Memasukkan banyak udara ke rongga dada yang rasanya sangat sesak sejak satu jam lalu.
“Bagi seorang anak perempuan, Bapak adalah cinta pertama. Dan aku tahu, aku sudah kehilangan cinta pertamaku sejak lama. Bahkan kehilangan itu kadang membuatku takut untuk mencintai seseorang. Jika kehilangan sesakit ini, bukankah leih baik aku tak mencintai agar tak ada rasa kehilangan saat ia pergi. Aku tak seperti kebanyakan orang mungkin. Aku mencintai orang yang memisahkanku dengan orang tua kandungku dan sampai saat ini bahkan aku belum terlalu bisa mencintai orang tua kandungku. Bagiku, orang tua itu adalah Bapak, orang yang mungkin harusnya kubenci.”
“Kau akan tetap mencintaiku?” Kutatap mata Hanan.
Lama dia hanya menatapku sebelum akhirnya mengangguk. Mengambil secangkir kopi yang telah dingin karena terlalu lama dibiarkan dan menyesapnya.
“Bagaimana jika aku seperti Mama? Meninggalkanmu saat aku menemukan yang lain?”
“Aku akan membuatmu jatuh cinta setiap hari, hingga tak ada celah bagi orang lain.”
Lantas Hanan menatapku serius.
“Lili, aku menerimamu apa adanya. Tak ada kehidupan yang sempurna di dunia ini. Dan ingat, semua orang berhak untuk mencintai. Kau tak harus memikirkan tentang kehilangan. Jika pun kehilangan itu pahit, bukankah orang yang meminum kopi akan meminumnya lagi dan lagi. Setelah rasa pahit, kau bisa lebih menikmati rasa manis. Setelah kehilangan, kau bisa belajar untuk memperlakukan orang-orang di sekitarmu dengan lebih baik saat mereka ada.”
Aku tersenyum. Kenapa aku merasa seperti mengobrol dengan Bapak.
“Aku tak bisa menjanjikanmu bahwa nanti kehidupan kita selalu penuh dengan hal manis. Jika ada hal pahit dalam kehidupan kita nantinya, mari kita menikmatinya seperti secangkir kopi hangat yang akan kita nikmati setiap jam lima pagi.”
Aku mengangguk.

Catatan:
Petricor: salah satu bau alami yang tercium saat hujan turun membasahi tanah yang kering

Nduk: panggilan untuk anak perempuan dalam Bahasa Jawa

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Sabtu, 13 Agustus 2016

Berhentilah Omong Kosong

Berhentilah Omong kosong,
Kau bilang, kau benci menunggu, tapi sering sekali kau melambat-lambatkan waktu bertemu dengan-Nya
Kau bilang, kau akan menjadi lebih baik, tapi aku tak pernah melihatmu mengupayakannya
Kau bilang, kau suka membaca, tapi sebentar sekali kau membaca kitab-Nya
Kau bilang, kau suka orang yang peka, tapi sering kudapati kau menyakiti hati orang lain
Kau bilang, kau peduli pada semua orang, tapi lingkunganmu saja ta kau pedulikan
Kau bilang, kau tak punya waktu, salah, kau hanya suka mencari-cari alasan dan tak pernah menyempatkan waktu itu ada
Kau bilang, kau punya sebuah impian, tapi sering sekali kudapati dirimu hanya berdiam
Berhentilah omong kosong
Jika kau belum bisa memberikan keteduhan bagi orang lain, setidaknya kau bisa membuat dirimu sendiri merasa teduh. Kau tahu benar, keteduhan itu bukan berasal dari wajahmu, tapi dia berasal dari dalam hatimu.
Jika kau belum bisa bermanfaat bagi orang luar, setidaknya kau bisa bermanfaat untuk keluargamu, saudaramu, dan orang-orang yang ada di dekatmu.
Jika kau sibuk, kau harus menyempatkan waktu itu ada. Kau sendiri yang tahu jadwal kegiatanmu. Aku tahu persis, kau bisa melakukannya.
Jika kau punya mimpi, wujudkan ia sampai akhir. Mengawali tanpa mengakhirinya sama saja bohong.
Jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain. Hal itu tak akan pernah membawamu kemana-mana. Aku tak ingin penyakit hati bersarang di dalam hatimu.
Berhentilah omong kosong

Karena aku benci orang yang suka omong kosong

Minggu, 31 Juli 2016

Lili Mencuri Hujan (3)

Hujan ini milik siapa katamu?

Aku tak bisa menjawab. Karena ia bisa milik siapa saja. Pun ketika kau bertanya tentang hujan yang turun di sudut mataku. Apakah kau berharap itu milikmu?

Tidak. Tidak. Tidak. Hujan itu bukan milik siapapun. Hujan itu tetap milikku. Karena aku telah membiarkan bagian diriku terluka. Aku telah mengecewakan diriku sendiri karena berharap padamu. Bahkan ketika aku tahu harapan itu harusnya kutujukan pada siapa.
Aku suka hujan. Tapi aku benci hujan yang ada pada mataku. Dan sore ini, hujan-hujan itu turun bersamaan. Aku lega sekaligus lelah. Lega karena hujan itu menghiburku. Dan lelah karena hujan itu datang padaku.

Ada pelangi. Bukan mejikuhibiniu. Hanya merah, kuning, hijau. Dia datang setelah hujan. Aku suka. Tapi aku juga benci karena ia tak selalu datang setelah hujan turun.

Cepatlah datang. Mari menari di bawah hujan bersama. Jangan jadi hujan. Jangan jadi pelangi. Jadilah orang yang ada di sampingku.

Rabu, 20 Juli 2016

Orang Asing Dalam Sebuah Perjalanan

Menikmati sebuah perjalanan dengan ditemani orang asing kadang menjadi hal yang menyenangkan. Aku tak tahu bagaimana dia dan dia tak tahu bagaimana aku. Kita bisa mengobrol tentang apapun. Bahkan tentang hal-hal yang tak bisa kita bicarakan dengan orang yang kita kenal. Dalam sebuah film (lupa judulnya), film ini tentang sebuah keluarga dan salah satu pemainnya sering mengobrol dengan orang asing yang ditemuinya di perpustakaan, ada salah satu ucapan yang aku sukai.

Karena ada hal-hal yang tak bisa selalu kita katakan dengan keluarga. Begitulah sebuah keluarga bisa bertahan. Dengan tidak menyakiti satu dengan yang lainnya. Dan mungkin membicarakan hal tersebut dengan orang asing adalah hal yang menyenangkan. Orang yang tak memiliki ekspektasi tentang apa yang akan kita katakan dan apa yang kita lakukan. Orang yang mungkin tak bisa kita temui lagi.

Dalam perjalanan kembali ke tempat rantau kemarin, sebenarnya aku sedikit was-was karena pesawat yang akan kunaiki telat dari jadwal yang seharusnya. Dari yogya aku akan terbang ke Surabaya dan transit untuk melanjutkan perjalanan ke palangkaraya. Bagaimana jadinya bila pesawat yang kunaiki telat sampai satu jam padahal jadwal transit di Surabaya hanya satu jam setengah. Untunglah setengah jam setelah menunggu peswat itu datang dan kami langsung dipersilahkan naik.

Aku disambut oleh senyum ramah seorang bapak-bapak yang usianya kutebak lebih dari lima puluh tahun. Dia bangkit dan mempersilahkanku duduk (tempat dudukku dekat jendela). Lalu obrolan khas dua orang asing yang bertemu pun dimulai. Awalnya bapak itu mengira aku kuliah di jogja dan akan pulang kampung ke Surabaya (mungkin mukaku masih kelihatan muda, yesss). Kujelaskan aku sudah bekerja di salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah. Bapak itu ternyata juga akan ke Palangkaraya dan menaiki pesawat yang sama denganku.

Dan sebuah obrolan pun dimulai. Awalnya aku menahan rasa kantuk karena lelah setelah beberapa jam menempuh perjalanan dari Purworejo ke Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta dengan dibonceng sepeda motor oleh sepupu (akibat kurang grecep nyari tiket Damri bandara purworejo-yogya). Sungguh, Bapak itu memiliki wawasan yang luas dan pemikiran yang terbuka. Dia menanyaiku apakah aku akan menetap di Kalimantan Tengah. Dan kujawab jujur tidak. Aku ingin kembali ke pulau Jawa. Kenapa? Tanyanya lagi. Semua keluargaku di sana. Loh, kau kan masih bisa pulang? Aku hanya menjawabnya sambil tersenyum (Kupikir, senyum adaalah jawaban terbaik ketika apa yang kita pikirkan tidak sejalan dengan lawan bicara kita. Dan orang asing tak pernah memaksakan pendapatnya. Ada sebuah toleransi yang terwujud. Itulah yang membuatku senang mengobrol dengan orang asing yang menyenangkan). Lalu, dia bercerita bahwa dia membebaskan anak-anaknya untuk menetap dimana saja.

Bapak tersebut ternyata dulu juga bersekolah di salah satu perguruan tinggi kedinasan (sama denganku). Aku tak mau jadi pengangguran, begitu pikirnya. Dan katanya dia bejo karena terpilih menjadi salah satu dari tujuh orang yang diterima. Padahal pendaftarnya puluhan. Orang pinter kadang dikalahkan sama orang bejo, begitu tuturnya sambil tertawa. Right, Sir. Dengan sekolah di kedinasan dia akan meringankan beban oran tuanya. Dan yang membuatku sedikit berkaca-kaca teringat ibuku karena perkataannya, “Yang cerdas sebenarnya bukan kita, tapi orang tua kita. Orang tua saya adalah orang desa, yang bahkan tak pernah kemana-mana, tapi dia bisa mendidik saya menjadi orang yang baik. Dia tahu cara membedakan mana uang yang menjadi haknya dan mana yang bukan. Orang-orang di luar sana yang punya pendidikan tinggi bahkan belum tentu bisa.” Ibuku sendiri pernah berkata bahwa ia tak bisa memberiku harta yang banyak, tapi dia akan mengusahakan agar aku memiliki banyak ilmu, dan yang selalu ia ingatkan padaku adalah jangan pernah meninggalkan yang lima waktu.

 Pekerjaannya di bidang penerbangan mengantarkannya ke banyak tempat. Bapak tersebut bekerja di sebuah perusahaan penyewaan helikopter. Dia pernah menjelajah Papua. Lantas, pernah mengusahakan pembangunan jalan raya dari salah satu kabupaten ke kabupaten lain (aku lupa namanya). Tapi proyek pembangunan jalan itu harus terhenti karena masalah pembebasan lahan yang membutuhkan biaya sangat besar. Ada warga setempat yang meminta biaya pembebasan lahan bukan hanya ke nama pemilik lahan namun juga ke anak, orang tua, kakek nenek, dan saudara-saudara pemilik lahan.

Bapak itu juga menceritakan bahwa dia membebaskan anak-anaknya untuk kuliah dijurusan apa. Salah satu anaknya memilih jurusan tentang kelautan karena ia menyukai laut. Bapak itu tak memaksakan anak-anaknya untuk memilih jurusan beken yang ratusan bahkan ribuan peminatnya. Bahkan kalau bisa, anaknya kuliah di jurusan yang sedikit sekali peminatnya. “Anaknya bisa jadi “emas” di jurusan tersebut dan persaingannya masih sedikit.” Katanya sambil terkekeh. Betul sekali, Pak. Dia hanya berharap bahwa anaknya menikmati apapun yang dipilihnya.

Bapak itu juga menceritakan bahwa salah satu anak didiknya yang bekerja di perusahaan yang sama dengannya “dilamar” oleh perusahaan lain. Ketika atasannya sedikit cemas dia hanya menjawab dengan santai “Biarkan saja. Berarti mereka mengakui hasil didik bagus kan? Kalau yang ditawarin mau ya sudah, tinggal ngedidik lagi kan?” Ilmu memang harus diwariskan, jangan pernah pelit sama ilmu.

Dalam obrolan sore itu, aku lebih menjadi pendengar. Banyak sekali tema yang ia angkat. Tentang islam saat ini. Tentang anak-anak kecil yang mampu menghapal Al-Quran bahkan ketika mereka belum terlalu memahaminya, sebagai cara Allah SWT menjaga kalam-Nya di dunia ini. Malu sekali rasanya ketika mendengarnya berusaha menghapal Al-Quran dan maknanya. Dibanding bapak itu aku tidak ada apa-apanya. Tentang seorang muslim yang mempelajari alkitab dan hapal isinya.

Dan di akhir obrolan kami di dalam pesawat, dia memberiku pesan, “Di manapun kamu tinggal, dengan siapapun nanti kamu menikah, apakah dia muslim atau mualaf, selalu pegang teguh akidah islam. Buatlah misi dan tunjukkan dengan sikapmu bahwa Islam itu lembut. Dan berdoa, semoga kita memiliki anak yang sholeh dan sholehah. Kalau anak-anaknya nanti sholeh sholehah berarti orang tuanya juga kan? Petani mangga saja kalau berdoa semoga mangganya manis. Kalau mangganya manis, bibitnya juga bagus kan?” Aku tersenyum.

Sisa perjalanan hari itu, setelah sampai di bandara Juanda Surabaya, aku terus membuntut sang Bapak. Bahkan setelah seseorang menyapa sang bapak, kami berjalan bersama ke peawat yang akan mengantar kami ke Palangkaraya. Dia bercerita bahwa wanita tadi pernah bekerja sama dengannya sekali sebagai penyedia katering dan sebenarnya dia tak akan ingat andai wanita itu tak menyapanya. Sungguhlah bapak itu orang yang menyenangkan hingga orang yang sekali bekerja dengannya mau menyapanya lagi di tengah hiruk pikuk bandara.

Dan kami pun berpisah karena bangku pesawat yang berbeda. Satu yang kulupakan untuk kukatakan padanya, “Adakah salah satu anak didiknya yang bisa menjadi imamku?” (Hehe, tak ada salahnya bukan berusaha ;D). Semoga suatu saat kita bertemu lagi, Pak.