Senin, 24 Juni 2013

Semua Tentang Mimpi



Waktu kecil, aku memiliki banyak sekali mimpi. Menjadi seorang detektif adalah mimpiku yang pertama. Karena rasanya sangat keren bila aku bisa mempunyai perkumpulan seperti lima sekawan atau menjadi seperti Conan Edogawa. Buku yang berbau misteri memang kesukaanku sejak dulu. Selain menjadi seorang detektif, aku juga ingin menjadi seorang penulis. Alasannya sama, sangat keren kan bila buku yang kita tulis dibaca banyak orang dan kita menjadi terkenal. Hehe.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai memunculkan mimpi-mimpi yang lain. Mimpi itu sesuatu yang kau inginkan bukan? Maka aku menjadi seorang gadis yang mempunyai banyak mimpi. Pernah, ibuku memintaku untuk bisa naik ke panggung saat upacara kelulusan SMP. Naik ke panggung? Itu berarti aku harus masuk dalam sepuluh besar. Sejak ibuku berkata seperti itu, menjadi salah satu dari sepuluh besar adalah impianku. Aku mulai giat belajar, mengerjakan banyak latihan dan tarrraaaa....pada akhirnya aku tidak masuk sepuluh besar. Tapi tunggu dulu, itu bukan akhir ceritaku. Aku memang tidak masuk dalam sepuluh besar, tapi aku memiliki nilai tertinggi ke dua di sekolahku. Saat itu ada perubahan tentang kategori sepuluh besar, biasanya sepuluh besar hanya dilihat dari ujian akhir tapi waktu itu diakumulasikan dengan nilai rapor. Sejak saat itu kepercayaanku akan sebuah mimpi menjadi lebih besar. Bahwa kita bisa mewujudkan mimpi kita asalkan kita mau berusaha.
Di waktu SMP, aku juga mulai aktif menulis, mengirimkan tulisan di salah satu majalah. Dan tanpa kuduga tulisan itu dimuat. Itulah tulisan pertamaku yang dimuat di media.
Aku mulai mempunyai mimpi yang lebih besar. Aku sadar bahwa jika kita mempunyai mimpi besar maka kerja keras yang kau lakukan juga harus lebih besar. Karena bagiku mimpi tanpa sebuah kerja keras adalah sebuah omong kosong.
Detektif? Jangan ditanya. Aku ini seorang ceroboh yang jarang hati-hati. Jadi menjadi detektif spertinya tak cocok untukku. Untuk mimpi yang satu ini aku urungkan menjelang ujian akhir SMA. Ya, mimpi itu harus dipikirkan matang-matang. Mungkin untuk saat ini, menjadi detektif bukan pilihan yang tepat. Well, suatu saat nanti siapa tahu aku bisa menjadi salah satu detektif yang mampu bersaing dengan Sherlock Holmes. Bagiku, menjadi detektif masih menjadi sesuatu yang keren.
Menjelang kelulusan SMA, aku mempunyai mimpi menjadi seorang ekonom. Membicarakan masalah ekonomi, memegang buku akuntan yang tebal, melakukan perhitungan-perhitungan yang “njelimet” sepertinya sesuatu yang keren. Tapi apa daya, modal nekat melintas ke jalur IPC waktu ujian masuk perguruan tinggi ternyata tidak membuahkan hasil. Tapi, pada akhirnya aku diterima di sebuah sekolah tinggi kedinasan yang menyediakan bidang ekonomi. Jadi aku merasa mimpiku telah menjadi nyata. Segalanya perlu disyukuri bukan.
Menjadi mahasiswa bukan berarti mimpi-mimpiku menjadi padam, malah dia berkembang pesat menjadi sayap-sayap mimpi. Sudah kubilang kan bahwa aku ini seorang penggila mimpi. Dosen-dosen selalu menginspirasiku bahwa ada banyak hal di dunia ini yang perlau kau tahu dan kau pelajari. Bahwa dunia ini tidak hanya tempat di mana sekarang kita berpijak. Bahwa dunia ini terlalu sayang jika hanya kau habiskan ditempat kau berdiri sekarang. Maka munculah satu mimpiku, aku ingin keliling dunia. Maka seiring hal itu muncul juga sayap mimpi yang lain, aku ingin melanjutkan S2 ku di luar negeri.
Oleh karena itu, sekarang aku sedang berlari menuju mimpi-mimpiku. Selalu berusaha menulis di sela-sela tugas kuliah yang menumpuk (ssstttt...aku sedang menulis novel sekarang). Ya, aku tak main-main dengan impianku menjadi seorang penulis, dan beberapa bulan lalu tulisanku tergabung dalam dua buku antologi (Kisah Klasik Handpone Jadul dan Melupakanmu). Itu dua buku pertamaku. Dan dengan begitu mimpiku sudah menjadi nyata bukan.
Jika aku harus menulis mimpiku mungkin satu lembar kertas saja tak akan cukup. Lulus tahun depan dengan predikat cum laude, melanjutkan S2  di luar negeri (Jepang, Kanada), menerbitkan novel tahun ini, berangkat haji dan umroh bareng keluarga, itulah sebagian mimpiku. Dan selalu menjadi manusia yang lebih baik setiap saatnya itu menjadi mimpiku sepanjang masa. Ada lagi satu mimpi kecilku yang sampai sekarang belum aku wujudkan. Dulu, aku selalu bermimpi untuk bisa makan sebuah semangka, dengan setengah bulat potongan untuk diriku sendiri dan aku memakannya dengan menggunakan sendok sambil duduk di tepi pantai, mendengar debur ombak, langit senja yang menawan, dan ada seorang pangeran di sebelahku. Mimpi kecil itu masih ada sampai sekarang dan suatu saat nanti aku ingin membuatnya menjadi nyata. Yosh. Hehe
Kadang ada yang bilang, bahwa tak mungkin aku mampu menjadikan mimpiku menjadi nyata. Maka aku akan menganggapnya sebagai pemicu semangat. Dan dalam perjalanannya sangat mungkin kau akan menemui kegagalan. Sakit memang kalau mimpi yang kita inginkan gagal kita raih, tapi bukankah kegagalan itu suatu langkah yang mengantarkan kita pada keberhasilan. Dengan kegagalan, kita bisa mengintropeksi diri apa yang kurang dalam diri kita, sehingga langkah selanjutnya bisa lebih baik. Maka selama mimpi itu positif, aku akan berusaha untuk mewujudkannya.


“Aku tidak peduli apa itu mungkin atau tidak. Aku sudah memutuskannya. Aku sudah memutuskan menjadi Raja Bajak Laut. Jika aku sampai mati dalam pertarungan, aku tidak menyesal.” Monkey D. Luffy_Do you get it?

Terbanglah bersama mimpimu..
 

Diikutsertakan dalam Giveaway Tuppy, Buku, dan Bipang di www.argalitha.blogspot.com