Waktu kecil, aku
memiliki banyak sekali mimpi. Menjadi seorang detektif adalah mimpiku yang
pertama. Karena rasanya sangat keren bila aku bisa mempunyai perkumpulan
seperti lima sekawan atau menjadi seperti Conan Edogawa. Buku yang berbau
misteri memang kesukaanku sejak dulu. Selain menjadi seorang detektif, aku juga
ingin menjadi seorang penulis. Alasannya sama, sangat keren kan bila buku yang
kita tulis dibaca banyak orang dan kita menjadi terkenal. Hehe.
Seiring berjalannya
waktu, aku mulai memunculkan mimpi-mimpi yang lain. Mimpi itu sesuatu yang kau
inginkan bukan? Maka aku menjadi seorang gadis yang mempunyai banyak mimpi.
Pernah, ibuku memintaku untuk bisa naik ke panggung saat upacara kelulusan SMP.
Naik ke panggung? Itu berarti aku harus masuk dalam sepuluh besar. Sejak ibuku
berkata seperti itu, menjadi salah satu dari sepuluh besar adalah impianku. Aku
mulai giat belajar, mengerjakan banyak latihan dan tarrraaaa....pada akhirnya
aku tidak masuk sepuluh besar. Tapi tunggu dulu, itu bukan akhir ceritaku. Aku
memang tidak masuk dalam sepuluh besar, tapi aku memiliki nilai tertinggi ke
dua di sekolahku. Saat itu ada perubahan tentang kategori sepuluh besar,
biasanya sepuluh besar hanya dilihat dari ujian akhir tapi waktu itu
diakumulasikan dengan nilai rapor. Sejak saat itu kepercayaanku akan sebuah
mimpi menjadi lebih besar. Bahwa kita bisa mewujudkan mimpi kita asalkan kita
mau berusaha.
Di waktu SMP, aku juga
mulai aktif menulis, mengirimkan tulisan di salah satu majalah. Dan tanpa
kuduga tulisan itu dimuat. Itulah tulisan pertamaku yang dimuat di media.
Aku mulai mempunyai
mimpi yang lebih besar. Aku sadar bahwa jika kita mempunyai mimpi besar maka
kerja keras yang kau lakukan juga harus lebih besar. Karena bagiku mimpi tanpa
sebuah kerja keras adalah sebuah omong kosong.
Detektif? Jangan
ditanya. Aku ini seorang ceroboh yang jarang hati-hati. Jadi menjadi detektif
spertinya tak cocok untukku. Untuk mimpi yang satu ini aku urungkan menjelang
ujian akhir SMA. Ya, mimpi itu harus dipikirkan matang-matang. Mungkin untuk
saat ini, menjadi detektif bukan pilihan yang tepat. Well, suatu saat nanti
siapa tahu aku bisa menjadi salah satu detektif yang mampu bersaing dengan
Sherlock Holmes. Bagiku, menjadi detektif masih menjadi sesuatu yang keren.
Menjelang kelulusan
SMA, aku mempunyai mimpi menjadi seorang ekonom. Membicarakan masalah ekonomi,
memegang buku akuntan yang tebal, melakukan perhitungan-perhitungan yang
“njelimet” sepertinya sesuatu yang keren. Tapi apa daya, modal nekat melintas
ke jalur IPC waktu ujian masuk perguruan tinggi ternyata tidak membuahkan
hasil. Tapi, pada akhirnya aku diterima di sebuah sekolah tinggi kedinasan yang
menyediakan bidang ekonomi. Jadi aku merasa mimpiku telah menjadi nyata.
Segalanya perlu disyukuri bukan.
Menjadi mahasiswa bukan
berarti mimpi-mimpiku menjadi padam, malah dia berkembang pesat menjadi
sayap-sayap mimpi. Sudah kubilang kan bahwa aku ini seorang penggila mimpi.
Dosen-dosen selalu menginspirasiku bahwa ada banyak hal di dunia ini yang
perlau kau tahu dan kau pelajari. Bahwa dunia ini tidak hanya tempat di mana
sekarang kita berpijak. Bahwa dunia ini terlalu sayang jika hanya kau habiskan
ditempat kau berdiri sekarang. Maka munculah satu mimpiku, aku ingin keliling
dunia. Maka seiring hal itu muncul juga sayap mimpi yang lain, aku ingin
melanjutkan S2 ku di luar negeri.
Oleh karena itu,
sekarang aku sedang berlari menuju mimpi-mimpiku. Selalu berusaha menulis di
sela-sela tugas kuliah yang menumpuk (ssstttt...aku sedang menulis novel sekarang).
Ya, aku tak main-main dengan impianku menjadi seorang penulis, dan beberapa
bulan lalu tulisanku tergabung dalam dua buku antologi (Kisah Klasik Handpone
Jadul dan Melupakanmu). Itu dua buku pertamaku. Dan dengan begitu mimpiku sudah
menjadi nyata bukan.
Jika aku harus menulis
mimpiku mungkin satu lembar kertas saja tak akan cukup. Lulus tahun depan
dengan predikat cum laude, melanjutkan S2
di luar negeri (Jepang, Kanada), menerbitkan novel tahun ini, berangkat
haji dan umroh bareng keluarga, itulah sebagian mimpiku. Dan selalu menjadi
manusia yang lebih baik setiap saatnya itu menjadi mimpiku sepanjang masa. Ada
lagi satu mimpi kecilku yang sampai sekarang belum aku wujudkan. Dulu, aku
selalu bermimpi untuk bisa makan sebuah semangka, dengan setengah bulat
potongan untuk diriku sendiri dan aku memakannya dengan menggunakan sendok
sambil duduk di tepi pantai, mendengar debur ombak, langit senja yang menawan,
dan ada seorang pangeran di sebelahku. Mimpi kecil itu masih ada sampai
sekarang dan suatu saat nanti aku ingin membuatnya menjadi nyata. Yosh. Hehe
Kadang ada yang bilang,
bahwa tak mungkin aku mampu menjadikan mimpiku menjadi nyata. Maka aku akan
menganggapnya sebagai pemicu semangat. Dan dalam perjalanannya sangat mungkin
kau akan menemui kegagalan. Sakit memang kalau mimpi yang kita inginkan gagal
kita raih, tapi bukankah kegagalan itu suatu langkah yang mengantarkan kita
pada keberhasilan. Dengan kegagalan, kita bisa mengintropeksi diri apa yang
kurang dalam diri kita, sehingga langkah selanjutnya bisa lebih baik. Maka
selama mimpi itu positif, aku akan berusaha untuk mewujudkannya.
“Aku tidak peduli apa itu mungkin atau tidak. Aku sudah memutuskannya. Aku sudah memutuskan menjadi Raja Bajak Laut. Jika aku sampai mati dalam pertarungan, aku tidak menyesal.” Monkey D. Luffy_Do you get it?
Terbanglah bersama mimpimu..
Diikutsertakan dalam Giveaway Tuppy, Buku, dan Bipang di www.argalitha.blogspot.com