Senin, 26 Mei 2014

[Cerpen] Terimakasih, Untuk Menjadi Ibuku

         
Kereta mulai berjalan. Telat 10 menit dari jadwal seharusnya. Malam ini, walaupun bukan akhir pekan, kereta ekonomi jurusan Pasar Senen-Jogjakarta cukup penuh. Semua penumpang saling tak acuh, sibuk dengan kepentingan masing-masing. Lorong kereta ekonomi yang sempit menambah gaduh penumpang yang belum menemukan kursinya. Ada juga yang mengomel ketika kursinya sudah diduduki orang lain. Menuduh. Begitu dicek tiket, salah gerbong. Membuat beberapa orang bersorak.
            “Permisi ya mbak,” sapa seseorang. Aku baru saja duduk setelah menyempilkan ranselku di tempat barang yang sesak, entah bawa apa semua penumpang ini.
            Aku menoleh, seorang ibu dengan anak kecil di gendoangannya, mungkin berusia tiga tahun, berdiri di sampingku.
            “Iya, Bu. Silahkan!” Aku mempersilahkan ibu itu duduk. Bawaannya tak terlalu banyak sebenarnya. Hanya satu tas yang ditentengnya. Diletakkan di bawah kursi.
            “Turun mana?” ibu itu menanyaiku.
            “Kutoarjo. Ibu turun mana?” tanyaku basa-basi. Tak ada minat mengobrol.
            “Oh, Ibu turun di Stasiun Lempuyangan.”
            Aku mengangguk-angguk dan tersenyum, tak ingin mengobrol lebih panjang lagi.
            “Mbak nya sendirian?” tanya Ibu itu lagi. Sedikit mengusikku yang mulai membaca novel. Kuanggukkan kepala.
            “Ibu sendirian? Nggak sama suami?” tanyaku. Basa-basi lagi.
            “Suami Ibu sudah meninggal,” ucapnya. Membuatku teringat pada Ibu.
            “Maaf,” ucapku. Kali ini tidak lagi basa-basi.
            “Permisi.” Seorang wanita muda muncul. Perutnya membuncit. Hamil. Di sampingnya, seorang laki-laki membawa tas. Suaminya. Mereka duduk di depanku. Kursi kereta ekonomi memang berhadapan.
            “Anaknya berapa tahun, Bu?” tanya wanita muda itu.
            “Tiga tahun.” Tepat tebakanku tadi.
            “Udah berapa bulan Mba hamilnya?” tanya Ibu-ibu di sampingku. Pembicaraan ibu-ibu pun dimulai. Setidaknya bukan menggosip. Aku sebenarnya tak berniat mendengarkan. Tapi mau bagaimana, jarak yang rapat membuat pembicaraan itu terdengar. Dan lagi, aku sedang malas mendengarkan musik.
            “Delapan bulan, Bu. Ini mau melahirkan di kampung rencananya. Sakit ya Bu, melahirkan itu?” tanya wanita muda itu. Mataku masih menatap baris-baris tulisan dari novel yang kupegang. Tapi sebenarnya, tak ada kata-kata yang mampu kuserap.
            “Sakit sih iya. Sakitnya juga tak bisa dibagi. Tapi karena sakit itu seorang anak bisa lahir.” Teringat pelajaran SMA dulu bahwa sebelum melahirkan ada ‘pembukaan’ sebagai jalan sang bayi lahir. Sesakit apa sebenarnya?
            “Tapi rasa sakit itu lenyap ketika bayi itu lahir. Rasanya itu...bahagia sekali.” sambung Ibu-ibu di sampingku. Kulirik sebentar. Tangannya sedang mengelus-elus kepala anaknya yang mulai terlelap di pangkuannya.
            “Ibu kayaknya sayang banget sama anaknya,” ucap wanita  muda di depanku.
            “Iya. Setiap ibu pasti sayang sama. Membuatnya senang juga membuat kami senang.”
            Aku teringat Ibu. Seperti itukah Bu? Ya, Bu. Aku akan membuatmu senang seperti kau selalu membuatku senang. Aku semakin mantap dengan rencana yang telah kususun beberapa hari ini.
            Kuputuskan memakai headset. Tak ingin lebih jauh mendengar obrolan ibu-ibu.
●●●
            Udara pagi di kampung memang terasa berbeda dengan ibukota. Lebih segar. Aku baru saja turun dari angkot. Sebuah keramaian tertangkap di depanku.
            Pasar Kemiri tak berbeda dari terakhir kali kuingat. Ramai sekali hari ini. Pantas. Hari ini hari Sabtu, hari pasaran. Kulangkahkan kakiku masuk. Sedikit sesak. Kanan kiri jalan dipakai untuk berjualan sayur. Lesehan. Begitu memasuki pasar, aroma Soto menggoda hidungku. Membuat perutku yang memang belum terisi menggeliat. Kuedarkan pandangan. Tak jauh dari pintu masuk ada penjual Soto.
            Aku lebih dalam memasuki pasar. Berjalan pelan agar tak menabrak orang. Ibu-ibu sibuk membawa belanjaannya. Kutangkap bayangan  Ibu. Tangannya sedang sibuk menata dagangan. Kuhampiri lapaknya.
            Aku tak langsung memanggilnya. Sudah lama sekali aku tak melihat Ibu berjualan di pasar. Beberapa orang mengerumuni barang dagangan. Memilah. Masih kuamati gerak-gerik Ibu.
            Teringat perkataan Ibu-ibu di kereta tadi malam. Seorang Ibu pasti akan selalu menyayangi anaknya. Seberapa keras pun itu. Bukannya saat melahirkan itu juga seorang Ibu merasakan sakit yang tidak bisa dibagi dengan siapa pun. Tapi karena sakit itulah seorang anak bisa lahir.
            “Bu..” panggilku. Benarkah benar-benar akan kukatakan rencana itu padanya. Sisi diriku masih tak setuju. Masih jelas dalam ingatanku wajah berseri Ibu ketika aku diterima di Perguruan Tinggi tempatku menuntut ilmu sekarang. Waktu itu aku ragu, untuk mengambilnya atau tidak. Walaupun aku bisa mencari besiswa nantinya, tapi uang masuk tetap ada sementara beasiswa belum turun. Tapi Ibu menganggup dengan mantap, menyuruhku tetap maju. Selang beberapa hari dijualnya dua cincin peninggalan Bapak, hanya disisakan cincin nikah. Sisanya, aku tak tahu darimana Ibu mendapatkan biaya. Sisi diriku yang lain mempertahankan rencana itu. Bukankah dengan begitu aku akan meringankan beban Ibu?
            Ibu menoleh. Wajahnya sedikit terkejut melihatku. Aku memang tak memberitahunya kepulanganku kali ini. Perlahan wajah itu tersenyum.
            “Ningrum!” ucapnya.
            Kulangkahkan kakiku mendekat. Mencium tangannya. Telapaknya terasa lebih kasar dari terakhir kali kuingat.
            “Kenapa ndak memberitahu Ibu?” tanyanya. Beberapa orang memandangi kami.
            “Pengen bikin kejutan buat Ibu.” Tak mungkin kukatan rencanaku sekarang. Di tempat ini.
            “Anaknya Bu? Kerja atau sekolah?” tanya seorang pedagang buah di di samping lapak Ibu.
            “Masih kuliah di Jakarta.” Kutangkap ada rasa bangga di suara Ibu.
            Kusalami beberapa penjual di sekitar lapak Ibu.
            “Ibu anter pulang ya?”
            Ndak usah. Ningrum jalan kaki aja. Deket juga kok,” tolakku. Selain rumahku yang memang dekat dengan pasar, aku juga butuh beberapa waktu untuk menyiapkan diri.
            “Ya udah, Ningrum mau jajan apa?” Ibu menanyaiku seperti aku masih anak kecil. Kugelengkan kepala. Tak terlalu berminat dengan jajaran pasar.
            “Lupis ya, ibu beliin..” Tanpa persetujuanku ibu langsung melangkah pergi. Menuju lapak jajanan pasar yang memang tak jauh dari lapaknya. Kuamati Ibu. Sering sekali Ibu memperlakukanku seperti anak kecil. Kadang ketika aku pulang, ibu membelikanku berbagai macam jajanan pasar tanpa kuminta. Kadang pula Ibu memaksa menyuapiku makan ketika aku sedang malas.
            Ibu terlihat mengobrol dengan ibu-ibu penjual jajanan pasar itu. Sesekali mereka melihat ke arahku. Aku tersenyum. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Mungkin sedang membicarakanku. Wajah ibu terlihat bahagia.
            Kuteringat perkataan dosen waktu itu.
            “Kalian harus tahu, yang menjadi kebanggaan orang tua itu anaknya?” ucapnya di sela-sela mengajar tentang Kurva Philip. Kami, mahasiswanya, hanya mengangguk-angguk. Ada hubungan apa antara kurva yang menjelaskan mengenai inflasi itu dengan kebanggaan orang tua.
            “Kalian harus tahu ini. Di mana-mana itu, kalau orang tua ketemu temannya yang akan ditanyakan itu anaknya. Anaknya sekarang di mana? Kuliah atau kerja? Kalau kerja di mana? Kalau kuliah di mana? Tak ada yang akan menanyakan, emasmu sekarang udah berapa kilo? Jumlah mobilmu berapa? Apalagi nanya jumlah digit di rekening.” Kami terkekeh mendengarnya. Betul juga.
            “Makanya kalian harus belajar yang serius,” pungkasnya. Dan Kurva Philip pun lanjut dibahas.
            Kuhembuskan napas panjang. Benarkah seperti itu? Sudah berhari-hari kupikirkan rencana untuk berhenti kuliah. Mending bekerja. Bisa menghasilkan uang. Bisa memebeli ini-itu. Ah, ya. Membeli apapun yang aku inginkan tanpa harus merengek pada Ibu, bukankah dengan begitu Ibu juga akan bangga. Sepertinya ajakan Nina memang benar.
            “Ningrum, aku mau berhenti kuliah,” ucapnya saat kami sedang asyik menikmati siomay di kantin. Keningku berkerut
            “Aku mau kerja saja,” lanjutnya.
            “Kenapa? Kita kan tinggal dua tahun lagi, nggak sayang tuh. Lagian orang tuamu memang nggak bakal kecewa?” tanyaku.
            Nina menggeleng, “Menurutku nggak. Coba bayangin, kalau aku kerja, aku nggak perlu ngerepotin orang tuaku lagi. Aku juga bisa membeli apa saja yang  kuinginkan. Jalan-jalan. Kebetulan aku juga ditawari kerja sama temenku di Semarang. Kerja di bagian marketing  gitu katanya. Minggu depan udah harus ngajuin lamaran. Oh, ya katanya bisa buat dua orang. Ayo kamu kerja aja,” ajaknya.
            Aku menatapnya. Selama ini memang kadang terbesit dalam pikiranku untuk bekerja. Hidup di ibu kota bukan hal yang murah. Apalagi di tambah teman-teman kuliah yang sering mengajak jalan. Juga gadget yang selalu baru. Membuatku minder kala di dekat mereka.
            “Kamu pengen beli note kan?” tanya Nina seakan mengerti pikiranku.
            “Nanti kupikirkan.”
            “Jangan lama-lama. Dua minggu lagi lho, inget.”
            Aku hanya tersenyum waktu itu. Tak terlalu berminat sebenarnya. Tapi semakin kupikir perkataan Nina ada benarnya. Kulihat HP-ku dengan model yang kutahu betul sudah tidak diproduksi lagi. Sering terpikir andaikan aku bisa membeli HP baru, tak usah model terbaru, cukup HP pintar saja. Atau bisa jalan-jalan kapan saja ketika aku ingin. Keputusanku semakin mantap. Aku harus mengatakannya pada Ibu malam ini.
            “Ningrum,” panggil Ibu.
            “Hmm?” jawabku sedikit tergeragap. Tak kusadari Ibu sudah berdiri di sampingku.
            “Ini. Pulang dan istirahat. Jangan lupa makan. Nanti Ibu pulang lebih cepat.” Ibu mengulurkan kantong plastik.  Aku mengangguk.
●●●
            Kuusap mataku. Masih jam sepuluh malam. Tadi sehabis magrib aku ketiduran.
            Terdengar suara mesin jahit. Kulangkahkan kakiku ke ruang tengah. Ibu sedang menjahit. Punggungnya terlihat lebih bungkuk. Tangannya cekatan menarik kain yang sedang dijahit. Mesin jahit model lama dengan putaran tangan ada di depannya.
            Mataku masih menatap Ibu. Sebegitu keraskah Ibu bekerja untuk menghidupi kami berdua? Sejak Ayah meninggal, Ibu bekerja keras. Kita harus mandiri, begitu katanya. Tak mau merepotkan saudara yang lain.
            Tersadar. Aku tak pernah tahu kapan Ibu tidur. Ketika aku membuka mata, Ibu selalu ada. Ibu selalu bangun lebih awal dan tidur lebih malam dariku. Sejak dulu. Tanpa kusadari, aku selalu merasa tenang ketika Ibu ada di sekitarku.
            Kumantapkan hatiku. Dengan bekerja aku bisa membantu Ibu dan bisa membeli apapun yang  kuinginkan.
            “Bu..”panggilku.
            Ibu menoleh. Tangannya berhenti memutar roda mesin jahit.
            “Kamu bangun Nduk. Ayo makan dulu, tadi sore kan belum makan.” Ibu melepas kaca matanya, beranjak. Menuju lemari makan. Kuikuti langkahnya.
            “Ada yang ingin Ningrum bilang ke Ibu,”ucapku serius.
            Ibu berhenti mengambil lauk. Diletakannya piring yang sudah terisi nasi dan sayur kangkung di meja. Menatapku. Kurasakan kakiku sedikit gemetar. Aku tak pernah merasa segrogi ini ketika berbicara dengan Ibu.
            “Ningrum mau berhenti kuliah. Ningrum mau kerja saja. Ningrum mau bantu Ibu, jadi Ibu ndak menderita lagi,” ucapku cepat. Akhirnya kata itu keluar juga. Lega.
            Wajah Ibu berubah. Kaget mendengar perkataanku mungkin.
            “Biar Ibu ndak  menderita lagi?” tanyanya.
            “Iya. Biar Ibu ndak menderita lagi. Ibu nggak perlu susah-susah nyari biaya kuliah dan biaya hidup Ningrum di Jakarta..”
Plak.
            Pipiku terasa panas. Tak terlalu keras tamparan Ibu. Tapi cukup membuatku tercekat. Tak kumengerti kenapa Ibu menamparku. Seumur-umur Ibu tak pernah memukulku, berkata kasar pun tidak.
            “Jangan pernah mengatakan Ibu menderita karena kamu.”ucap Ibu. Matanya terlihat basah.
            “Tapi..”
            “Ibu ndak pernah menderita membesarkanmu. Ibu ikhlas bekerja buat Ningrum. Jangan pernah berpikir seperti itu lagi.”
            “Tapi, kalau Ningrum kerja, Ningrum bisa bantu Ibu, Ningrum juga bisa beli apapun yang Ningrum inginkan sendiri, jadi Ningrum ndak ngerepotin Ibu,” belaku. Mataku mulai terasa panas.
            “Ningrum, maafkan Ibu, kalau selama ini Ibu ndak bisa menuhin apa yang Ningrum inginkan. Ibu mungkin berbeda dengan orang tua yag lain yang bisa ngasih apapun. Maaf, Ibu memang tak bisa memberimu harta, tapi Ibu ingin memberimu ilmu. Jadilah orang yang pintar, jadilah orang yang lebih baik dari Ibu.”
            Perkataan Ibu menampar hatiku. Jauh lebih sakit dengan tamparan pipi tadi. Selama ini aku sering sekali main-main tanpa serius belajar. Menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tak jelas manfaatnya.
            Aku jahat. Bahkan sebenarnya pemikiran asliku bukan untuk membantu. Tapi memenuhi sisi egoisku.
            “Maafkan Ningrum Bu.” Kupeluk tubuh Ibu. Menyrurukkan kepalaku di dadanya yang hangat. Terisak.
            “Jangan pernah berkata seperti itu lagi. Kamu harus kuliah yang benar nduk. Untuk saat ini, yang membuat Ibu senang, kalau kamu serius belajarnya.” ucap Ibu sambil mengusap-usap kepalaku. Aku mengangguk.
            ”Maafkan Ningrum yang berpikir seperti itu. Maafkan Ningrum juga Bu, selama ini, Ningrum tak serius belajar. Maafkan Ningrum, Bu,” ucapku lagi. Kueratkan pelukanku ke Ibu.
            “Sudahlah, ayo kamu makan. Ibu suapin. ”
            Aku mengangguk.
            Ibu melepaskan pelukan, menghapus air mataku, tersenyum. Kemudian mengambil lauk ikan pindang yang disambal dan menaruhnya di piring yang sudah terisi nasi dan sayur kangkung tadi. Bahkan setelah aku menyebalkan dan membuatnya terluka, Ibu masih mau memanjakanku.
            Ibu menyuapiku dengan tangan. Kurasakan guratan tangan ibu yang sedikit kasar ketika menyentuh bibirku. Membuatku berjanji ketika aku malas akan kuingat tangan Ibu yang telah bekerja untukku hingga tak lagi halus.
            “Terima kasih Bu, untuk menjadi Ibu Ningrum.”
Catatan:
Ndak = tidak, nggak
Nduk = panggilan untuk anak perempuan

Kamis, 15 Mei 2014

TEMAN



Kupandangi wajahmu yang tak lagi sendu. Matamu nyata riang. Bahkan, bunga matahari yang sedang kau mainkan kelopak-kelopaknya kalah cemerlang dari matamu. Sebegitu bahagiakah kau saat ini?
Masih teringat jelas saat semalam kau mengetuk pintu rumahku. Menghambur ke dalam pelukanku begitu pintu kubuka.
Kuusap kepalamu. Tak sepatah kata pun kuucap. Ya, memang tak ada yang perlu kuucap. Kubiarkan kau mengisak di dadaku, membuat kaosku basah. Tak apa, sungguh tak apa. Dan kau langsung pergi begitu tangismu tuntas. Begitu saja.
Tapi, pagi ini kau ketuk pintu rumahku lagi. Dengan senyum mengembang. Mengajakku ke taman bunga matahari. Entah lenyap kemana kesenduanmu semalam. Kau berceloteh, tertawa, seakan tak ada yang terjadi apa-apa semalam.
Aku tak apa-apa, begitu jawabmu saat aku bertanya keadaanmu. Benarkah, kau tak apa-apa?
Jangan katakan itu lagi, katakan aku menderita ketika kau memang menderita, ucapku sedikit keras. Membuatmu menoleh, berhenti memetik kelopak-kelopak bunga matahari.
Kau bisa kan mengatakannya. Aku tak butuh kata ‘Aku tak apa-apa’ darimu. Kau pikir, mata riangmu itu bisa membohongiku. Aku tahu kau aktris hebat. Tapi kau tak bisa berbohong padaku, sepertinya suaraku sedikit meninggi.
Kuselami wajahmu. Meyakinkanmu bahwa kau bisa berbagi apa saja padaku. Binar matamu melayu. Segera kupeluk dirimu
Ya, kau bisa menceritakan apa saja padaku. Jangan lagi kau tanggung sendiri bebanmu. Bukankah kita teman? Ucapku. Kurasakan anggukan kepalamu. Ya, bukankah kita seorang teman.

Rabu, 07 Mei 2014

Kita



Dia sedang menopang dagunya. Beberapa helai rambutnya tersemat di belakang kuping. Kulangkahkan kakiku mendekat. Duduk di ayunan sampingnya. Beberapa hari lagi aku akan berangkat ke Jepang, melanjutkan studiku.
                “Kau ingat pertama kali kita bertemu?” ucapku pelan. Kutatap perempuan yang ada di sebelahku. Matanya menatap ke depan. Tapi kutahu, tak ada pemandangan yang di tatapnya. Dia masih terdiam.
                “Waktu itu, hanya dalam beberapa waktu mengenalmu, aku tahu hatiku telah tercuri. Lewat manik mata hitammu, lewat senyummu, lewat ramahmu, hatiku tercuri dari diriku.” Kuarahkan pandanganku ke depan. Menatap mentari sore yang menawan, tapi tidak saat ini.
                “Kau akan pergi.” Ucapnya. Tak sedikit pun menoleh ke arahku.
                “Ya, tapi cinta tak mungkin berhenti secepat aku jatuh hati. Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti. Kau tahu aku mencintaimu.”
                “Aku tahu.”
                “Kau tak ingin menanyakan apakah aku akan setia padamu?” tanyaku.
                “Perlukah aku menanyakannya.” Dia menatapku.
                Aku menggeleng. Tersenyum menatapnya.
                “Lalu apa yang kau khawatirkan?” tanyaku penasaran.
                “Aku hanya takut, kau akan sangat merindukanku.” ucapnya sambil tersenyum lebar, memamerkan gigi kelincinya. Dia beranjak dari ayunan. Berlari menjauh.
                “Kau mengerjaiku.” ucapku ikut beranjak. Berlari mengejarnya. Ya, aku benar-benar akan merindukanmu.