Sudah
lebih dari sepuluh tahun aku tak datang ke tempat ini. Sejak pemakamam Mbah
Kakung, tak ada lagi alasan bagiku untuk datang. Tempat ini tak berbeda jauh
dengan yang terakhir kali kuingat. Ilalang tumbuh di sana-sini. Letaknya yang
berada di tepi hutan masih menimbulkan rasa aneh dalam diriku, sedikit takut
mungkin.
“Ayo..” Bayu yang sudah beberapa langkah di depanku memanggil. Kuikuti langkahnya memasuki area pemakaman. Tangannya sibuk menyibak ilalang dengan parang, membuat jalan.
“Sepi.” lirihku. Tak ada orang lain selain kami.
“Ayo..” Bayu yang sudah beberapa langkah di depanku memanggil. Kuikuti langkahnya memasuki area pemakaman. Tangannya sibuk menyibak ilalang dengan parang, membuat jalan.
“Sepi.” lirihku. Tak ada orang lain selain kami.
“Tentu saja. Kau tahu kan,
orang-orang bisanya datang malam jumat kliwon.”
Bayu masih sibuk menyibak ilalang. Area
pemakaman ini tak sebersih pemakaman kota, tak ada perawat makam. Orang-orang
kampung biasanya hanya membersihkan area makam keluarga saja.
“Itu.” Aku mengikuti arah yang ditunjuk
Bayu. Makam berkeramik hijau itu tertangkap mataku. Di sampingnya pohon kamboja
berdiri. Musim kemarau seperti ini, hanya menyisakan rimbunan bunga kamboja
yang sedang mekar di dahannya, terlepas satu-satu. Kuikuti langkah Bayu. Jarakku
kian dekat, nyeri hebat menusuk dadaku. Ingatan sore itu menguak di kepalaku.
●●●
Hujan deras sejak sejam lalu sudah
mulai merintik. Bagi anak-anak sepertiku, hujan selalu membawa kebahagiaan
tersendiri. Kuambil buku yang ada di rak, buku tulis semester lalu. Kusobek
beberapa lembar. Cepat, kuubah kertas-kertas itu menjadi kapal.
Kapal-kapal yang telah kubuat kumasukkan ke dalam kaos, tanganku menahannya agar tak jatuh. Sementara tanganku yang lain memegang payung.
“Ibu, aku pergi dulu.”pamitku dengan mengeraskan suara. Berharap bahwa ibu yang berada di ruang tengah mendengar suaraku.
Kapal-kapal yang telah kubuat kumasukkan ke dalam kaos, tanganku menahannya agar tak jatuh. Sementara tanganku yang lain memegang payung.
“Ibu, aku pergi dulu.”pamitku dengan mengeraskan suara. Berharap bahwa ibu yang berada di ruang tengah mendengar suaraku.
“Arjuna, mau kemana kau? Ini sudah
sore. Hujan juga belum reda, nanti sakit. Besok kita harus pindahan.” Ibu
tergopoh datang.
“Hanya sebentar.” Aku langsung melesat
pergi. Kulangkahkan kakiku pelan, memilih jalan agar tak terpeleset. Hujan
deras selalu membuat genangan. Becek. Butuh beberapa waktu untuk surut.
“Bayu, ayo..” panggilku.
“Tunggu, aku ambil payung dulu.” Bayu
melongokkan kepalanya lewat jendela.
“Tak usah, tinggal gerimis. Bareng
aku aja.” Bayu keluar membawa beberapa
kapalnya. Kami berjalan beriringan. Masih ada satu teman lagi.
“Andi, Andi, ayo.” panggilku dan Bayu
berbarengan. Andi keluar.
“Aku tak boleh pergi sama Ibu.” ucap
Andi. Wajahnya terlihat sedikit lemah.
“Kau sakit?” tanyaku. Andi hanya
mengangguk.
“Sebentar saja, hanya melayarkan
kapal-kapal ini. Hujan siang ini sangat deras, pasti parit penuh dan alirannya
cepat.” rayuku. Berharap Andi mau ikut. Kami bertiga adalah teman dekat. Tak
enak rasanya jika hanya bermain berdua.
“Emmm...baiklah.” Andi kembali masuk
rumahnya dan keluar dengan membawa payung. Kami berjalan bersama ke area
persawahan yang letaknya tak jauh dari rumah Andi. Sesekali kami bersenandung.
“Nah lihat, benarkan kataku,
paritnya penuh.” seruku riang. Kami berlarian menuju parit.
“Ayo, kita layarkan kapalnya.” ucap
Bayu bersemangat. Satu persatu kapal mulai kami taruh di parit. Kami bersorak
memberi semangat. Berteriak girang ketika kapal yang dipertaruhkan melaju
paling cepat.
Kuedarkan pandangan. Langit sore
mulai berwarna jingga. Mendung sudah benar-benar pergi. Kulangkahkan kakiku
melewati galengan.
“Kau mau kemana?” tanya Andi.
“Melihat sumur, sepertinya semua
sumur penuh.” Sawah-sawah masih banyak yang kosong. Mungkin disiapkan ditanami
padi. Suara katak ramai terdengar. Aku mendekat ke sumur yang letaknya di
tengah sawah. Benar tebakanku. Airnya hampir penuh, mungkin hanya setengah
meter dari bibir sumur, berwarna kecoklatan. Bayu dan Andi ikut mendekat.
“Aku ingin cuci kaki.” Kulepaskan
sandal. Bersiap duduk di bibir sumur yang ditumbuhi rumput. Tak kupedulikan
celanaku yang kotor, terkena tanah.
“Jangan, bahaya.” Andi
memperingatkan. Tak kuacuhkan.
“Dingin.” Kakiku telah menyentuh air
sumur.
“Sudah, ayo pulang.” ajak Andi. Dia
berbalik dan berjalan pergi, Bayu mengikutinya. Aku mengangkat kaki. Bersiap.
Tak kusangka rumput yang telah bercampur dengan tanah menjadi sangat licin.
Untuk sesaat semuanya terlihat gelap, air
disekelilingku. Suara-suara memanggil, samar. Tanganku menggapai-gapai,
seseorang menangkap. Panik, aku menariknya. Kini, di sumur yang diameternya tak
lebih dari hulahoop besar, gerakku
semakin terbatas. Panggilan-panggilan itu tak hanya menyebut namaku.
●●●
Langit sore kian menggelap. Kicauan
burung kedasih dari arah hutan menambah lara. Di bawah kamboja, aku mengelus
makam berkeramik hijau, makam Andi. Tak pernah kusangka sore itu terkahir kali
aku melihatnya.
“Harusnya aku menemuinya...”
lirihku, “setidaknya aku meminta maaf.”
“Sudahlah Juna, tak ada yang tahu
dia akan pergi secepat itu.”
“Aku salah, aku tak pernah berani menemuinya.
Aku..”tenggorokanku tercekat. Air hangat mulai mengambang di pelupuk mata.
Beribu kata yang ingin kuungkapkan pada Andi, tak ada yang muncul dari bibirku.
Sesal itu menyongsong dadaku. Sakit.
Andi, kenapa kau pergi? Bahkan aku belum sempat mengucap maaf padamu. Maafkan
aku Andi, terlalu pengecut untuk menemuimu setelah sore itu. Harusnya aku
menemuimu, sebelum kecelakaan setahun lalu merenggut nyawamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar