Selasa, 06 Mei 2014

[Cerpen] Di Bawah Kamboja



Sudah lebih dari sepuluh tahun aku tak datang ke tempat ini. Sejak pemakamam Mbah Kakung, tak ada lagi alasan bagiku untuk datang. Tempat ini tak berbeda jauh dengan yang terakhir kali kuingat. Ilalang tumbuh di sana-sini. Letaknya yang berada di tepi hutan masih menimbulkan rasa aneh dalam diriku, sedikit takut mungkin.
 “Ayo..” Bayu yang sudah beberapa langkah di depanku memanggil. Kuikuti langkahnya memasuki area pemakaman. Tangannya sibuk menyibak ilalang dengan parang, membuat jalan.
“Sepi.” lirihku. Tak ada orang lain selain kami.
 “Tentu saja. Kau tahu kan, orang-orang bisanya datang malam jumat kliwon.” Bayu masih sibuk  menyibak ilalang. Area pemakaman ini tak sebersih pemakaman kota, tak ada perawat makam. Orang-orang kampung biasanya hanya membersihkan area makam keluarga saja.
“Itu.” Aku mengikuti arah yang ditunjuk Bayu. Makam berkeramik hijau itu tertangkap mataku. Di sampingnya pohon kamboja berdiri. Musim kemarau seperti ini, hanya menyisakan rimbunan bunga kamboja yang sedang mekar di dahannya, terlepas satu-satu. Kuikuti langkah Bayu. Jarakku kian dekat, nyeri hebat menusuk dadaku. Ingatan sore itu menguak di kepalaku.
●●●
Hujan deras sejak sejam lalu sudah mulai merintik. Bagi anak-anak sepertiku, hujan selalu membawa kebahagiaan tersendiri. Kuambil buku yang ada di rak, buku tulis semester lalu. Kusobek beberapa lembar. Cepat, kuubah kertas-kertas itu menjadi kapal.
Kapal-kapal yang telah kubuat kumasukkan ke dalam kaos, tanganku menahannya agar tak jatuh. Sementara tanganku yang lain memegang payung.
“Ibu, aku pergi dulu.”pamitku dengan mengeraskan suara. Berharap bahwa ibu yang berada di ruang tengah mendengar suaraku.
 “Arjuna, mau kemana kau? Ini sudah sore. Hujan juga belum reda, nanti sakit. Besok kita harus pindahan.” Ibu tergopoh datang.
 “Hanya sebentar.” Aku langsung melesat pergi. Kulangkahkan kakiku pelan, memilih jalan agar tak terpeleset. Hujan deras selalu membuat genangan. Becek.  Butuh beberapa waktu untuk surut.
“Bayu, ayo..” panggilku.
“Tunggu, aku ambil payung dulu.” Bayu melongokkan kepalanya lewat jendela.
“Tak usah, tinggal gerimis. Bareng aku aja.” Bayu keluar membawa beberapa  kapalnya. Kami berjalan beriringan. Masih ada satu teman lagi.
 “Andi, Andi, ayo.” panggilku dan Bayu berbarengan. Andi keluar.
  “Aku tak boleh pergi sama Ibu.” ucap Andi. Wajahnya terlihat sedikit lemah.
“Kau sakit?” tanyaku. Andi hanya mengangguk.
 “Sebentar saja, hanya melayarkan kapal-kapal ini. Hujan siang ini sangat deras, pasti parit penuh dan alirannya cepat.” rayuku. Berharap Andi mau ikut. Kami bertiga adalah teman dekat. Tak enak rasanya jika hanya bermain berdua.
“Emmm...baiklah.” Andi kembali masuk rumahnya dan keluar dengan membawa payung. Kami berjalan bersama ke area persawahan yang letaknya tak jauh dari rumah Andi. Sesekali kami bersenandung.
“Nah lihat, benarkan kataku, paritnya penuh.” seruku riang. Kami berlarian menuju parit.
“Ayo, kita layarkan kapalnya.” ucap Bayu bersemangat. Satu persatu kapal mulai kami taruh di parit. Kami bersorak memberi semangat. Berteriak girang ketika kapal yang dipertaruhkan melaju paling cepat.
 Kuedarkan pandangan. Langit sore mulai berwarna jingga. Mendung sudah benar-benar pergi. Kulangkahkan kakiku melewati galengan.
   “Kau mau kemana?” tanya Andi.
“Melihat sumur, sepertinya semua sumur penuh.” Sawah-sawah masih banyak yang kosong. Mungkin disiapkan ditanami padi. Suara katak ramai terdengar. Aku mendekat ke sumur yang letaknya di tengah sawah. Benar tebakanku. Airnya hampir penuh, mungkin hanya setengah meter dari bibir sumur, berwarna kecoklatan. Bayu dan Andi ikut mendekat.
“Aku ingin cuci kaki.” Kulepaskan sandal. Bersiap duduk di bibir sumur yang ditumbuhi rumput. Tak kupedulikan celanaku yang kotor, terkena tanah.
“Jangan, bahaya.” Andi memperingatkan. Tak kuacuhkan.
“Dingin.” Kakiku telah menyentuh air sumur.
“Sudah, ayo pulang.” ajak Andi. Dia berbalik dan berjalan pergi, Bayu mengikutinya. Aku mengangkat kaki. Bersiap. Tak kusangka rumput yang telah bercampur dengan tanah menjadi sangat licin.
Untuk sesaat semuanya terlihat gelap, air disekelilingku. Suara-suara memanggil, samar. Tanganku menggapai-gapai, seseorang menangkap. Panik, aku menariknya. Kini, di sumur yang diameternya tak lebih dari hulahoop besar, gerakku semakin terbatas. Panggilan-panggilan itu tak hanya menyebut namaku.
●●●
Langit sore kian menggelap. Kicauan burung kedasih dari arah hutan menambah lara. Di bawah kamboja, aku mengelus makam berkeramik hijau, makam Andi. Tak pernah kusangka sore itu terkahir kali aku melihatnya.
 “Harusnya aku menemuinya...” lirihku, “setidaknya aku meminta maaf.”
“Sudahlah Juna, tak ada yang tahu dia akan pergi secepat itu.”
“Aku salah, aku tak pernah berani menemuinya. Aku..”tenggorokanku tercekat. Air hangat mulai mengambang di pelupuk mata. Beribu kata yang ingin kuungkapkan pada Andi, tak ada yang muncul dari bibirku.
Sesal itu menyongsong dadaku. Sakit. Andi, kenapa kau pergi? Bahkan aku belum sempat mengucap maaf padamu. Maafkan aku Andi, terlalu pengecut untuk menemuimu setelah sore itu. Harusnya aku menemuimu, sebelum kecelakaan setahun lalu merenggut nyawamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar