Sabtu, 26 April 2014

Diam



Aku menyukaimu dalam diam. Dalam kebisuan malam, sering kusampaikan pada angin, “aku menyukaimu” kataku. Berharap derunya akan menyampaikannya padamu. Sering aku menitipkannya, sesering itu pula dia hanya melenggang pergi.
Sekali? Dua kali? Lebih dari itu kupangkas kuncup hatiku. Tak ingin aku melihatnya mekar ketika pada akhirnya hanya akan menjadi layu. Biarlah dia pupus selagi kuncup. Karena aku tahu, mekar pun singgahmu tak akan tiba.
Salah! Kuncup itu hanya kupangkas. Senyummu membuat kuncup itu muncul lagi. Tanpa kusadari, bayangmu telah mencuriku telalu jauh. Padahal kutahu, hanya bayangmulah yang ada di sekelilingku.
Lepaskan aku! Tak sanggup lagi jika aku harus memangkas kuncup itu. Pergilah menjauh. Jangan lagi tersenyum padaku. Jangan lagi kausapa aku, sebelum bayangmu melepaskanku.
Akhirnya, bukan kau yang salah, bukan pula bayangmu yang telah mencuriku,hanya...aku yang memilih menyukaimu dalam diam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar