Aku menyukaimu dalam diam. Dalam
kebisuan malam, sering kusampaikan pada angin, “aku menyukaimu” kataku.
Berharap derunya akan menyampaikannya padamu. Sering aku menitipkannya,
sesering itu pula dia hanya melenggang pergi.
Sekali? Dua kali? Lebih dari itu
kupangkas kuncup hatiku. Tak ingin aku melihatnya mekar ketika pada akhirnya
hanya akan menjadi layu. Biarlah dia pupus selagi kuncup. Karena aku tahu,
mekar pun singgahmu tak akan tiba.
Salah! Kuncup itu hanya
kupangkas. Senyummu membuat kuncup itu muncul lagi. Tanpa kusadari, bayangmu
telah mencuriku telalu jauh. Padahal kutahu, hanya bayangmulah yang ada di
sekelilingku.
Lepaskan aku! Tak sanggup lagi
jika aku harus memangkas kuncup itu. Pergilah menjauh. Jangan lagi tersenyum
padaku. Jangan lagi kausapa aku, sebelum bayangmu melepaskanku.
Akhirnya, bukan kau yang salah,
bukan pula bayangmu yang telah mencuriku,hanya...aku yang memilih menyukaimu dalam
diam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar