Rabu, 22 Maret 2017

Cerita-cerita tentang Borneo

depan kantor -dokumen pribadi-
Tulisan ini sebenarnya ingin saya buat sejak lama. Lalu akan saya publish tepat satu tahun saya berada di kota ini, tempat saya tinggal sekarang. Tapi, apalah daya, ternyata saat itu saya belum bisa menuliskannya. Penyebabnya, saya lupa.
Datangnya saya ke kota ini berawal dari tempat saya menimba ilmu. Namanya juga sekolah gratis, ya kalau disuruh kerja di mana ya nurut tho? Hal ini pun sudah saya tahu sejak awal, karena pada saat pertama kali masuk, saya sudah menandatangani surat perjanjian ikatan dinas yang salah satu isinya bersedia ditempatkan di mana saja di wilayah NKRI.
Bulan April tahun 2015, menjadi kali pertama saya naik pesawat. Yang pertama memang selalu mengesankan. Kalau tidak mau dibilang ndeso. Saya ingin sekali duduk di bagian dekat jendela agar bisa melihat awan. Melihat bangunan-bangunan di sekitar bandara Soekarno Hatta yang makin lama semakin kecil saat pesawat yang mulai meninggi. Ternyata, bangku yang saya duduki tidak sejajar dengan jendela. Ya, masih bisa mengintip di jendela bangku depan. Itupun hanya sebentar, karena selanjutnya jendela itu ditutup oleh penumpang yang duduk di samping jendela itu. Hahaha. Padahal sekarang, ketika tak menemukan seseorang untuk mengobrol saat di perjalanan, saya lebih memilih tidur.
Kota, sebenarnya kabupaten sih, saya memang memilihnya menjadi salah satu pilihan saya. Setelah dua kota lainnya yang saya pilih tidak diterima. Jika saya ingat, kelemahan saya dari sejak SD di pelajaran IPS ternyata membawa dampak. Saya menginginkan daerah yang memiliki pantai. Dan parahnya, pada saat membuka peta, saya hanya membuka provinsi tertentu, saya pikir kabupaten bagian pinggir adalah wilayah yang ada pantainya. Padahal kabupaten itu masih berbatasan dengan wilayah lain. Borneo banyak daratannya bro.
Setelah tiba di kabupaten, saya merasa ada yang salah dalam diri saya. Walaupun saya bertemu dengan orang-orang yang baik, saya merasa diri saya ingin pulang. Saya belum menemukan rumah di sini. Saya rindu rumah. Galau. Saya ingat perkataan saya ke Ibu, yang beberapa kali diulang Ibu ketika saya sedang mengeluh ingin pulang. Dulu sekali, saat masih kuliah, saya berkata bahwa saat saya bekerja nanti, saya ingin di luar Jakarta. Jakarta sudah terlau sesak. Walaupun nyatanya saya merindukannya kadang-kadang. Karena pulau jawa sudah tak menampung, berarti saya akan ke luar pulau. Ketika Ibu mengembalikan kalimat itu ke saya, saya hanya bisa menjawab bahwa bukan ini yang saya maksud. Pada akhirnya, saya butuh beberapa waktu untuk membuat diri saya nyaman.
Ternyata, kota tempat saya tinggal, walaupun di ibukota kabupaten tapi tingkat keramaiannya hampir sama dengan tingkat kecamatan di kabupaten asal saya. Jalanan terasa lengang. Bahkan saya pernah kaget mendapati tiba-tiba jalanan menjadi ramai. Ternyata ada iring-iringan kematian. Di sini, anak-anak sekolah banyak yang berjalan kaki. Tak ada angkutan umum. Bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan bermotor, atau tidak di antar jemput orang tuanya, mereka berjalan kaki dari rumah ke sekolah dari anak-anak tingkat SD sampai SMA. Jangan bayangkan jalanan yang lurus. Sepengamatan saya, jalanan di kota ini naik turun. Dan panasnya jangan tanyakan, jika di pulau jawa daerah pegunungan adalah daerah yang dingin, daerah yang banyak bukitnya di sini tidak ada hawa dinginnya. Di sini saya merasa langit terasa lebih dekat. Mungkin karena mendekati garis khatulistiwa, kota ini memiliki cuaca yag cenderung panas.
Tapi, ada hal yang saya sukai. Di kota ini, saya melihat banyak pelangi. Cuaca yang seringkali berubah, dari panas terus turun hujan, membuat pelangi sering muncul. Pelangi setengah lingkaran. Pemandangan yang selalu membuat saya bersyukur.
Soal makanan, masyarakat di sini sangat plural, ada jawa, dayak, banjar. Tapi, bicara soal lidah, memang sangat dipengaruhi lingkungan di mana kita tumbuh. So, masakan jawa is the best for me. Di sini saya pertama kali mencoba masakan dayak dan banjar. Ada sayur kuning yang isinya berasal dari pelepah pisang. Ada pula sayur yang terbuat dari pisang muda yang dimasak sekulit-kulitnya. Rasanya lumayan enak. Kalau untuk ikan, di sini banyak ikan-ikan sungai, enak rasanya. Tapi ya itu harganya mahal. Berbicara tentang mahal, barang-barang di sini cenderung mahal. Yang pertama membuat saya kaget adalah harga sayuran. Bisa dua kali lipat dibanding di jawa.
Sekian dulu, nantikan tentang Borneo selanjutnya.

Jumat, 10 Maret 2017

Film : Nil Battey Sannata

Sumber: google


Judul                     : Nil Battey Sannata
Kategori                : Drama, Keluarga
Rilis                       : 22 April 2016
Pemain                   : Pankaj Tripathy, Ratna Pathak, Riya Shukla, Swara Bhaskar
Negara                   : India
Durasi                    : 1 jam 36 menit               

Haii, kali ini saya ingin mengulas sebuah film. Film ini menjadi pilihan untuk ditonton saat melihat rating nya lumayan tinggi. Dan, this movie is really worth to watch! Selain film yang bergenre komedi, petualangan, salah satu film yang saya sukai adalah yang bergenre keluarga. So, ayo kita mulai.
Film india biasanya memiliki durasi yang cukup panjang, bisa sampai dua, tiga, atau bahkan empat jam. Tapi film ini memiliki durasi 1 jam 36 menit, sama seperti film-film lainnya.
Film ini mengisahkan tentang seorang anak perempuan yang tinggal hanya bersama ibunya. Untuk menghidupi keluarga, sang Ibu bekerja sebagai pembantu di sebuah keluarga yang berprofesi sebagai dokter, Dr Deewan. Selain itu dia juga bekerja di tempat lain sebagai buruh untuk menambah penghasilan. Sang anak, yang bernama Appu, terkenal sebagai murid yang sering terlambat dan memiliki peringkat yang buruk di kelasnya. Suatu malam, saat menjelang tidur, Appu menceritakan bahwa temannya sangat beruntung. Dia akan menjadi supir, sama seperti ayahnya. Lalu Ibu Appu bertanya, apa cita-cita Appu, apakah dia pernah memikirkannya.
Keesokan harinya Ibu Appu terus memikirkan akan menjadi apa Appu kelak. Apakah cita-cita Appu? Saat ditanyai lagi, Appu menjawab dengan malas. Seorang anak dokter akan menjadi dokter, seorang anak insinyur akan menjadi insinyur, dan ia yang hanya anak pembantu tentu saja akan menjadi pembantu. Ibu Appu marah, apakah pemikiran seperti itu yang membuat Appu hanya bermalas-malasan setiap harinya. Ibu Appu bercerita pada Dr Deewan, bagaimana ia bisa mengubah anaknya. Untuk mengajari anaknya langsung, ia tidak terlalu pintar. Lalu, muncullah ide agar Ibu Apu ikut bersekolah di tempat Appu dan di kelas yang sama. Pagi ia akan berberes di rumah Dr Deewan, kemudian ke sekolah, dan bekerja di beberapa tempat samai larut malam. Ia juga mendatangi seorang rumah kolektor, menanykan jurusan kuliah apa yang harus diambil agar anaknya bisa menjadi seorang kolektor.
Appu pun sangat terkejut melihat ibunya. Ia memohon agar ibunya tak kembali ke sekolah dan ia berjanji akan rajin belajar. Ibu Appu hanya mau berhenti jika pada ujian yang akan datang Appu bisa mengalahkan nilainya. Dan, tara, Appu berhasil. Ibu Appu sangat senang. Ia berpikir Appu akan mau melanjutkan kuliah, mengambil ujian UPSC dan menjadi seorang kolektor. Tapi pemikiran Appu tak berubah. Appu belajar hanya untuk menghentikan ibunya ke sekolah. Ia menyangka ibunya menyuruhya menjadi seorang kolektor karena ibunya tak bisa mencapainya sendiri. Juga untuk apa dia melanjutkan sekolah kalau ibunya tak bisa membiayainya. Ibu Appu sangat marah. Esoknya Ibu Appu kembali bersekolah. Appu yang sangat sebal menghabiskan semua tabungan ibunya untuk hura-hura. Terlebih ketika ia mendapati ibunya diantar oleh seorang laki-laki. Kelakukan Appu sangat membuat marah ibunya. Bahkan Ibu Appu esoknya tak lagi pergi ke sekolah.
Esoknya di sekolah, semua murid disuruh untuk menuliskan esai tentang cita-cita mereka. Appu hanya menjawab, bahwa orang miskin tak punya hak untuk bermimpi, ketika temannya menanyai apa cita-citanya. Bahkan guru Appu mengatakan, mungkin hanya Appu satu-satunya wanita yang tidak memiliki impian, ketika esoknya hanya Appu yang tidak menulis esai. Dalam hati, Appu sebenarnya merasa tak nyaman. Lalu, malamnya, ia ditunjukkan salah seorang temannya, seorang anak laki-laki pintar yang sering membantu Ibu Appu belajar, di mana Ibu Appu bekerja dan siapa laki-laki yang mengantarnya pulang.
Film ini ditutup dengan adegan Appu mengikuti tes UPSC. Setelah Apu tahu bagaimana ibunya bekerja keras untuknya selama ini, Appu berusaha keras meraih sebuah mimpi. Ketika ditanya, kenapa dia mengikuti ujian itu oleh salah seorang juri, Appu menjawab, karena ia tak mau menjadi pembantu.
Film ini memberikan banyak sekali pelajaran. Terutama tentang mimpi, harapan, dan cita-cita. Ingat perkataan Appu, “Orang miskin tak punya hak untuk memiliki mimpi.” Big NO. Semua orang berhak untuk memiliki mimpi dan mengusahakannya. Bukan karena, orang tuaku bukan seorang yang berprofesi sebagai ‘ini’ bagaimana mungkin aku bisa berprofesi ‘ini’. Mungkin suatu kali kita terpikir, “ah, dia mudah saja meraih hal itu, kan orang tuanya begini begitu.” Percayalah, memiliki orang tua yang bisa mendukung secara materi dalam meraih sebuah impian, hanyalah salah satu bonus. Jika seseorang tak mau berusaha, sia-sialah bonus itu. Dan jika kita jeli melihat, masih banyak jalan yang bisa memberimu bonus-bonus yang lainnya. Asal kita mau berusaha. Orang-orang sukses di luar sana pasti punya perjuangannya masing-masing. Rasa pahit dalam berjuang? Menurut saya pasti ada, hanya saja kadang kala mereka tak bercerita dan kita tak mengetahuinya.
Film ini juga memberikan pesan, bagaimana besarnya rasa sayang orang tua terhadap anaknya. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Ketika kau ingin berbuat ‘nakal’ ingatlah kata-kata ini.
“Mungkin kamu tidak mengharapkan apa-apa pada dirimu, tapi dia (Ibumu) berharap banyak padamu. Dia tidak memaksakan impiannya padamu, karena kamulah impiannya. “ (Teman Appu)
Dan kata-kata yang paling saya sukai dalam film ini,
“Sebenarnya, mereka yang tidak punya impian, adalah yang sangat miskin.” (Chanda Sahay, Ibu Appu)

Yess, mimpi adalah sesuatu yang menjadikan kita lebih hidup.