![]() |
| depan kantor -dokumen pribadi- |
Tulisan
ini sebenarnya ingin saya buat sejak lama. Lalu akan saya publish tepat satu tahun saya berada di kota ini, tempat saya
tinggal sekarang. Tapi, apalah daya, ternyata saat itu saya belum bisa
menuliskannya. Penyebabnya, saya lupa.
Datangnya
saya ke kota ini berawal dari tempat saya menimba ilmu. Namanya juga sekolah
gratis, ya kalau disuruh kerja di mana ya nurut tho? Hal ini pun sudah saya tahu sejak awal, karena pada saat
pertama kali masuk, saya sudah menandatangani surat perjanjian ikatan dinas
yang salah satu isinya bersedia ditempatkan di mana saja di wilayah NKRI.
Bulan
April tahun 2015, menjadi kali pertama saya naik pesawat. Yang pertama memang
selalu mengesankan. Kalau tidak mau dibilang ndeso. Saya ingin sekali duduk di bagian dekat jendela agar bisa
melihat awan. Melihat bangunan-bangunan di sekitar bandara Soekarno Hatta yang
makin lama semakin kecil saat pesawat yang mulai meninggi. Ternyata, bangku
yang saya duduki tidak sejajar dengan jendela. Ya, masih bisa mengintip di
jendela bangku depan. Itupun hanya sebentar, karena selanjutnya jendela itu
ditutup oleh penumpang yang duduk di samping jendela itu. Hahaha. Padahal
sekarang, ketika tak menemukan seseorang untuk mengobrol saat di perjalanan,
saya lebih memilih tidur.
Kota,
sebenarnya kabupaten sih, saya memang memilihnya menjadi salah satu pilihan
saya. Setelah dua kota lainnya yang saya pilih tidak diterima. Jika saya ingat,
kelemahan saya dari sejak SD di pelajaran IPS ternyata membawa dampak. Saya
menginginkan daerah yang memiliki pantai. Dan parahnya, pada saat membuka peta,
saya hanya membuka provinsi tertentu, saya pikir kabupaten bagian pinggir
adalah wilayah yang ada pantainya. Padahal kabupaten itu masih berbatasan
dengan wilayah lain. Borneo banyak daratannya bro.
Setelah
tiba di kabupaten, saya merasa ada yang salah dalam diri saya. Walaupun saya
bertemu dengan orang-orang yang baik, saya merasa diri saya ingin pulang. Saya
belum menemukan rumah di sini. Saya rindu rumah. Galau. Saya ingat perkataan
saya ke Ibu, yang beberapa kali diulang Ibu ketika saya sedang mengeluh ingin
pulang. Dulu sekali, saat masih kuliah, saya berkata bahwa saat saya bekerja
nanti, saya ingin di luar Jakarta. Jakarta sudah terlau sesak. Walaupun
nyatanya saya merindukannya kadang-kadang. Karena pulau jawa sudah tak
menampung, berarti saya akan ke luar pulau. Ketika Ibu mengembalikan kalimat
itu ke saya, saya hanya bisa menjawab bahwa bukan ini yang saya maksud. Pada
akhirnya, saya butuh beberapa waktu untuk membuat diri saya nyaman.
Ternyata,
kota tempat saya tinggal, walaupun di ibukota kabupaten tapi tingkat
keramaiannya hampir sama dengan tingkat kecamatan di kabupaten asal saya.
Jalanan terasa lengang. Bahkan saya pernah kaget mendapati tiba-tiba jalanan
menjadi ramai. Ternyata ada iring-iringan kematian. Di sini, anak-anak sekolah
banyak yang berjalan kaki. Tak ada angkutan umum. Bagi mereka yang tidak
memiliki kendaraan bermotor, atau tidak di antar jemput orang tuanya, mereka
berjalan kaki dari rumah ke sekolah dari anak-anak tingkat SD sampai SMA.
Jangan bayangkan jalanan yang lurus. Sepengamatan saya, jalanan di kota ini
naik turun. Dan panasnya jangan tanyakan, jika di pulau jawa daerah pegunungan
adalah daerah yang dingin, daerah yang banyak bukitnya di sini tidak ada hawa dinginnya.
Di sini saya merasa langit terasa lebih dekat. Mungkin karena mendekati garis
khatulistiwa, kota ini memiliki cuaca yag cenderung panas.
Tapi,
ada hal yang saya sukai. Di kota ini, saya melihat banyak pelangi. Cuaca yang
seringkali berubah, dari panas terus turun hujan, membuat pelangi sering muncul.
Pelangi setengah lingkaran. Pemandangan yang selalu membuat saya bersyukur.
Soal
makanan, masyarakat di sini sangat plural, ada jawa, dayak, banjar. Tapi,
bicara soal lidah, memang sangat dipengaruhi lingkungan di mana kita tumbuh.
So, masakan jawa is the best for me.
Di sini saya pertama kali mencoba masakan dayak dan banjar. Ada sayur kuning
yang isinya berasal dari pelepah pisang. Ada pula sayur yang terbuat dari
pisang muda yang dimasak sekulit-kulitnya. Rasanya lumayan enak. Kalau untuk
ikan, di sini banyak ikan-ikan sungai, enak rasanya. Tapi ya itu harganya
mahal. Berbicara tentang mahal, barang-barang di sini cenderung mahal. Yang
pertama membuat saya kaget adalah harga sayuran. Bisa dua kali lipat dibanding
di jawa.
Sekian
dulu, nantikan tentang Borneo selanjutnya.

