Selasa, 24 Oktober 2017

Senin, 09 Oktober 2017

Karakter


Good attitude is really important. Dalam sebuah kelas yang saya ikuti, Bapak itu membicarakan soal bekerja sama dengan orang-orang di sekitarnya. Ada orang-orang yang bagus hasil kerjanya tapi sikapnya kurang bagus dengan orang yang hasil kerjanya tidak terlalu menonjol tapi memiliki sikap yang bagus. Pilih yang mana? Tentu saja pilih yang kedua? Merubah sikap seseorang sangat susah, terlebih ketika orang tersebut tak paham dengan sikapnya yang buruk.
Suatu kali, dalam hidup, sulit sekali rasaya untuk menghormati seseorang. Banyak orang terpandang karena karirnya yang ketika kita lebih mengenalnya, ternyata tak seperti kita harapkan. Menghormati seseorang mungkin ada jenisnya.
Hormat karena dia atasan, hormat karena dia lebih tua, hormat karena karakter baik orang tersebut. Yang terakhirlah yang paling menyenangkan. Menghormati dan menghargai seseoran karena karakternya sangat “enak” untuk dilakukan. Tak ada kepura-puraan, karena kita senang melakukannya. Tentunya, tidak melelahkan.
Karir, jenjang, prestasi, kadang tak selalu membuat seseorang menjadi lebih bijak.
Lebih senior maka lebih bijak? Belum tentu.
Lebih dewasa maka lebih bijak? Belum tentu.
Apalagi kalau hanya lebih tua. Lebihnya, dia sudah lebih lama hidup di dunia ini.
Orang yang lebih tua kadang sering beralasan bahwa dia telah lebih banyak memiliki pengalaman. Tapi, apakah lantas hal itu menjadikannya lebih bijak? Belum tentu. Kalau selama hidupnya dia lewati dalam sebuah botol, terlebih hal yang dilakukannya hanya melewati pagi dan mengakhiri sore, tanpa belajar sesuatu di luar botol hidupnya,  mana bisa dia  memamerkan pengetahuan di luar botol dia hidup.
Karakter baik seseorang terbentuk dari banyak hal. Butuh banyak waktu untuk membentuknya. Bagaimana sebuah prinsip-prinsip hidup dia pegang dan begitu menyatu dalam dirinya.

Pagi ini saya mencari, apakah prinsip-prinsip itu ada dalam diri saya?

-Cara seseorang memperlakukan kita, itu karakter mereka. Tapi, cara kita membalasnya, itu karakter kita- anonim

Jumat, 06 Oktober 2017

Lets Take A Rest


Bahkan secangkir kopi dan sebuah film bisa membuatmu lega. Terlebih jika ada hujan dan kita menari di bawahnya. Jika punya uang lebih, mungkin jalan-jalan adalah pilihannya. Bawa ransel, temui orang-orang baru, suasana baru.

Cobalah untuk tertawa. Tertawakan hal penting maupun tak penting.
Saya rasa, ketika  kelelahan datang, hal pertama yang terlintas adalah ingatan masa kecil saya. Memang, kenangan menempel di mana saja. Begitu juga kenangan masa kecil saya. Sepertinya, saya merasa bahagia setiap hari.

Menjadi dewasa tidak berarti menjadi bijak. Tua berbeda dengan dewasa. Dan dewasa beda juga dengan bijak, saya rasa begitu. Sialnya, saya masih sering menjumpai orang-orang yang tua dan dewasa, tapi tidak bijak. Bijak menjadi hal yang paling langka untuk ditemui. Bahkan dalam diri saya sendiri, saya masih jauh untuk menemuinya.

Hidup tak melulu soal diri sendiri, tapi juga tak melulu soal orang lain. 

Pilihlah untuk bahagia. Karena orang lain tak akan bertanggung jawab atas kebahagiaan kita. Beristirahatlah ketika lelah. Karena kita sendiri yang tahu batas kewarasan kita.

Mixing humour and harsh reality is a very human behaviour, it’s the way people stay sane in the daily lives- Jorge Garcia-