Haloooo....Alhamdulillah.
Cerpen ini dimuat di majalah gogirl. Ada di link http://www.gogirl.id/news/buzz/gogirl-weekend-web-story-peran-g28065.html
@@@
PERAN
Lila
terbangun dengan rasa asing yang sangat. Sebuah dinding kamar yang berwarna
putih. Sangat berbeda dengan corak bunga mawar yang biasa menyambutnya di
pagi-pagi sebelumnya. Juga lemari kayu yang menjulang tinggi hampir berbenturan
dengan langit-langit kamar. Jika dia masih berusia enam tahun, dia sangat yakin
akan merasa takut. Mungkin saat malam, lemari itu akan mengeluarkan monster
seperti film yang pernah ditontonnya. Atau jangan-jangan lemari itu sekarang
berganti isi, hantu dalam lemari misalnya, pemikiran itu membuatnya bergidik
ngeri. Sepertinya ia terlalu banyak menonton film horor.
Pintu
kamarnya berderit terbuka disusul sebuah suara yang sangat asing. “Kamu sudah
bangun?”
Lila
mencari-cari dalam ingatannya siapa laki-laki separuh baya yang masuk ke dalam
kamarnya dan beberapa menit kemudian dia berseru tak percaya.
“Oh…ya.”
Angguknya pelan.
“Kamu
bisa turun sebentar lagi untuk sarapan, kami punya kebiasaan sarapan bersama
setiap pagi.”
Laki-laki
itu menutup pintu setelah yakin Lila mengangguk.
“Ya
ampuuunn…apa sebenarnya yang aku lakukan, kenapa aku harus setuju sama usul
Bunda.” Lila mengacak-acak rambutnya.
Ingatannya
kembali ke seminggu yang lalu ketika Bundanya bicara serius dan menjanjikan
mengabulkan keinginan Lila dengan syarat dia mau membantu. Florence. Itu
keinginan Lila. Dia sangat ingin berjalan-jalan ketempat itu sejak lama.
Bangunan-bangunan di Florence yang ia lihat di mesin pencari membuatnya ingin
mengunjungi tempat itu. Dan tanpa banyak berpikir ia langsung mengiyakan
keinginan Bundanya. Sebuah keinginan yang jika Lila pikir-pikir sangat aneh.
Ia
lantas berjalan malas ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Setidaknya ia harus
mencuci wajah dan sikat gigi.
Saat
sampai di meja makan, seorang wanita berwajah sendu menyambutnya.
“Naila,
sini sayang,” panggilnya lembut.
Lila
tersenyum kikuk, untuk beberapa hari ke depan dia harus terbiasa dengan nama
itu.
“Naila,
mau makan apa?” tanya wanita itu setelah gadis kesayangannya duduk di
sebelahnya.
“Emmm…roti
aja Tan..” Lila berhenti berkata ketika dilihatnya kening wanita di depannya
berkerut, “maksudnya Naila mau roti aja, Ma,” lanjutnya sambil tersenyum kikuk.
Tangan
wanita di depannya—Mama, mengambil sehelai roti tawar dan siap mengoleskan
selai kacang.
“Ayo
dimakan Nai,” Mama mengulurkan setangkup roti pada Lila. Pagi itu, sarapan
teraneh dalam hidup Lila. Ia sering mendapati Mama memandanginya dengan tatapan
aneh. Entah rindu atau sedih. Sedangkan Papa, hanya menekuri roti yang ada di
piringnya. Tak ada obrolan apapun. Lila yang biasanya cerewet tak berani
membuka suara.
Selepas
sarapan, Mama memiih ke kebun belakang rumah. Lila memilih mengikuti. Banyak
bunga-bunga yang sedang mekar.
“Ini
cantik,” komentar Lila jujur.
“Kamu
menyukainya?” Mama menanyainya sambil tersenyum.
Lila
mengangguk. Di rumahnya, hanya ada tanaman buah musiman. Bunda tak terlalu suka
merawat bunga.
“Kamu
mau menemani Mama membuat kue?” Ajakan Mama yang segera disambut anggukan Lila.
Mama
mengeluarkan alat-alat membuat kue dan menyiapkan bahan-bahan. Acara membuat
kue itu memecah kecanggungan. Lila mulai merasa nyaman. Ternyata permintaan
Bunda untuk berpura-pura menjadi anak Mama tak seaneh yang ada dipikirannya.
Mama, wanita yang menyenangkan. Kue yang dibuatnya terasa sangat enak. Berbeda
sekali dengan kue buatan Bunda yang memang tak jago memasak.
“Mama
harus cepat sembuh,” bisik Lila sambil memeluk Mama. Ia benar-benar tulus
mengatakannya. Jika Naila masih hidup, pasti ia akan melakukan hal yang sama.
Ah, seperti apa gadis itu sebenarnya. Seberapa mirip wajah mereka hingga Bunda
memintanya berperan sebagai Naila.
“Kamu
senang hari ini?” Pertanyaan yang tak diduga Lila.
“Tentu
saja.”
Saat
itu Lila sadar. Ada pendar bahagia di mata Mama. Setelah dari pagi yang
dilihatnya hanya kesedihan, kecemasan, dan ketakutan.
“Kalau
Mama sudah sehat, kita akan membuat kue lebih banyak lagi.” Kini bahkan Lila
terkejut dengan ucapannya sendiri.
@@@
Sudah
lima hari Lila tinggal bersama Mama. Papa beberapa kali bergabung dengan mereka
saat jam minum teh di sore hari. Waktu terasa berjalan cepat. Beberapa kali
Lila cemas jika minggu itu berakhir dan ia harus memberitahu Mama bahwa ia
bukanlah Naila. Kenyataan bahwa anak gadisnya sudah meninggal karena kecelakaan
pasti akan membuat Mama menjadi sedih lagi.
“Nai,
bisa ambilkan sweater di kamar Mama.
Ambil saja di lemari.”
Lila
dengan patuh beranjak. Ia tak pernah masuk ke kamar Mama sebelumnya. Kamar Mama
sama besarnya dengan kamar Bunda. Dengan sebuah tempat tidur king size dan lemari besar. Naila
membuka pintu lemari. Diambilnya sebuah sweater
berwarna biru langit yang biasa digunakan Mama. Ia sudah hampir keluar
kamar ketika matanya menangkap sebuah album foto di meja rias Mama.
Mungkin
ada foto Naila, batinnya. Selama ini, Lila tak pernah menemukan foto Naila. Tak
ada satupun foto baik di ruang tamu atau di kamar yang ditempatinya. Padahal di
rumahnya, banyak sekali foto-fotonya yang menghiasi dinding. Entah foto Ayah
dan Bunda, foto keluarga, atau fotonya sendiri dan adiknya. Karena penasaran
diraihnya album foto itu. Dibukanya halaman per halaman. Seorang anak bayi
mungil menggunakan topi rajut biru langit terlihat sangat lucu. Lila merasa
megenali foto itu. Tapi ia tak yakin di mana. Dibukanya lagi lembar berikutnya.
Kini ia yakin dimana ia melihatnya. Juga lembar-lembar foto selanjutnya.
“Nai,
kok lama?” Mama berhenti di pintu ketika melihat apa yang sedang dilihat Lila.
Lila
bergeming. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi satu yang pasti, kini ia tak
harus pusing menjelaskan ke Mama kalau Naila sudah meninggal.
“Aku
pulang.” Putus Lila sebelum air matanya tumpah.
@@@
Sudah
seminggu sejak Lila mengetahui fakta bahwa Bundanya bukanlah wanita yag
melahirkannya. Sudah seminggu pula ia selalu menghindar saat Ayah atau Bundanya
mencoba menjelaskan. Lila memilih mengunci diri di kamar. Ia tak tahu harus
melakukan apa? Bagaimana ia harus bersikap pada Bunda? Juga pada Ganis, adiknya
yang ia yakini adik tirinya sebenarnya. Juga pada Mama. Wanita yang
melahirkannya dan memilih meninggalkannya untuk menikah dengan laki-laki lain
saat usianya dua tahun. Ia juga merasa bersalah karena tanpa sadar ia membanding-bandingkan
Bunda dengan Mama.
Pantas
saja dulu saat ia melihat akta kelahirannya, ada yang berbeda dengan nama ibu
kandung. Bunda bernama Handayani, sedangkan di akta tertulis Handayani A, nama
Mama. Miripnya nama mereka tak membuatnya curiga.
Tapi,
kenapa mereka berbohong padanya? Harusnya Ayah sudah memberitahunya sejak dulu.
Walaupun jika harus jujur, ia juga tak tahu apa yang harus dilakukan saat tahu
Bunda bukan ibu kandungnya.
Sebuah
ketukan pelan terdengar.
“Lila,
Bunda masuk ya.”
Lila
tak menjawab. Dia membenamkan wajahnya diantara kedua kakinya yang ditekuk.
“Mama
sudah meninggal, Li.”
Lila
mengangkat wajahnya dan menatap Bunda.
“Baru
saja Bunda dikasih tahu Ayah.” Jawaban yang membuat Lila tahu bahwa apa yang
didengarnya tak salah. Ia menangis.
Bunda
memeluk Lila erat. Ia sangat menyayangi gadis itu seperti anaknya sendiri.
Sebenarnya ia juga tak ingin mengirim Lila ke rumah Mamanya. Tapi wanita itu
memohon dengan sangat. Bahwa umurnya tinggal sebentar lagi. Kanker kelenjar getah bening sudah menggerogoti
tubuhnya sejak lama. Pada akhir hidupnya, ia sangat ingin melihat satu-satunya
anak yang dilahirkannya ke dunia. Lila.
“Maaf,
Bunda sudah bohong.”
Lila
memeluk Bundanya erat. Ia sangat menyanyangi
Bundanya melebihi apapun. Tapi, kenapa dadanya juga sesesak ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar