Sabtu, 20 Agustus 2016

Secangkir Kopi Jam Lima Pagi


            Hujan pertama setelah kemarau panjang telah reda. Dua kopi hitam yang kuseduh satu jam lalu sudah mulai dingin. Uapnya yang tadi mengepul sudah lenyap. Bau harumnya terganti dengan petricor. Apakah dia akan tetap mencintaiku setelah kuceritakan diriku yang sebenarnya? Aku bisa merasakan bahwa banyak hal yang berkecamuk dalam kepalanya. Aku mungkin tak seperti yang ia bayangkan selama ini.
            Mencintai seseorang berarti menerima segala yang ada padanya. Berkomitmen untuk bersama. Menerima segala masa lalunya, sekarang, dan masa depannya. Mengijinkan seseorang mencintai kita berarti membiarkannya memasuki kehidupan kita, membiarkannya mengetahui masa lalu kita, menerima kita apa adanya. Tapi, apakah ia akan menerima masa laluku? Aku terlalu takut.
            “Kau bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku,”ucapku akhirnya. Dia pantas untuk mendapatkan seorang gadis yang tumbuh dengan lingkungan keluarga yang normal.
            “Aku mencintaimu,” tegas lelaki itu. Laki-laki itu, Hanan, teman satu pekerjaan yang enam bulan terakhir dekat denganku. Walaupun awalnya aku sering merasa terganggu, tapi ia selalu menjejaliku dengan humornya yang akhirnya membuatku tertawa juga. Hanan seperti buku yang terbuka, aku bisa mengenal semua sifatnya dengan mudah.
Tapi datang ke rumahku satu minggu yang lalu tanpa memberitahuku? Ralat, rumah orang tuaku maksudku. Harusnya aku senang karena hal itu menunjukkan bahwa dia serius.
            “Dengan cara seperti ini, tanpa bilang padaku lebih dulu,” kataku cukup keras ketika bertemu dengannya dua hari lalu. Aku sungguh tak siap memberitahunya tentang masa laluku. 
            “Maaf, apakah aku terlalu terburu-buru? Aku hanya…” Hanan tak meneruskan kata-katanya. Mungkin dia terkejut dengan reaksiku. Kutatap matanya.
            “Jangan terlalu baik padaku.” Ya, lebih baik begitu.
            “Tak ada yang bisa melarangku Lili.”
            “Sekalipun itu aku?”
            “Ya, sekali pun itu kau,” tegasnya.
            “Walaupun kubilang kau tak akan pernah bisa menjadi cinta pertamaku.”
            Ia terdiam. Mungkin terkejut dengan apa yang kuucapkan.
            “Ya, sekalipun seperti itu. Tapi, aku yakin akan menjadi cinta terakhirmu.”
            Aku tahu persis, Hanan bukanlah orang yang mudah menyerah. Dia akan selalu mengupayakan apa yag diinginkannya. Jika boleh jujur, aku bahagia saat bersama dengannya. Tapi, ada rasa kesal yang sangat dalam hatiku. Dari dalam matanya aku tahu ia mencintaiku, tapi yang kuragukan, apa benar aku pantas untuk bisa mencintainya. Aku terlalu takut.
            “Datanglah sabtu sore nanti ke tempat kosku, aku akan memberitahumu tentang diriku yang tak kau ketahui.”
###
            Satu-satunya orang yang paling dekat denganku hingga usiaku empat belas tahun adalah Bapak. Bapak mengajariku dalam semua hal. Kecuali ketika aku datang bulan pertama kali, Bulek Dar, tetangga rumah, ia mintai tolong untuk menjelaskan apa yang harus kuperhatikan.
Aku tak pernah melihat ibu, bahkan hanya dalam sebuah potret. Hanya dalam sebuah imajinasi saja ibu ada. Imajinasi yang tumbuh dari cerita-cerita bapak.
            “Ibumu, wanita yang sangat cerdas.” Begitu cerita Bapak. Saat itu senja ketika aku masih kelas tiga SD. Aku tak pernah menanyai Bapak soal ibu.
            “Lalu, di mana ibu sekarang Pak?” kuberanikan bertanya.
            “Ibumu sudah bahagia sekarang.” Aku bisa menangkap wajah sendu bapak. Kuputuskan tak bertanya lagi. Buat apa? Toh Bapak ada di sampingku.
            Bapak selalu menyisir rambutku setiap pagi saat aku akan berangkat sekolah. Mengucir kuda atau mengepang. Aku mengaduh beberapa kali ketika ada rambut ikalku yang kusut tertarik jari-jari sisir. Pun ketika ikatannya terlalu kencang.
            Lalu Bapak akan terbahak dan berucap, “Mungkin Bapak harus membeli buku cara menyisir dan mengikat rambut.”
            Aku ikut terbahak dan membiarkannya melakukan rutinitas sisir menyisir rambut tiap pagi walaupun sebenarnya ketika sampai sekolah aku sering membuka ikatan rambutku karena tak terlalu rapi.
            Menghabiskan waktu bersama Bapak adalah hal yang sangat menyenangkan. Kecuali untuk masakan. Makanan hasil olahan tangan Bapak rasanya hanya berkisar masih bisa diterima lidah dan tidak bisa diterima lidah. Kami akan tertawa sambil menghabiskan makanan. Bapak selalu berjanji akan membeli buku resep masakan. Tapi ketika kami sampai di toko buku, ia selalu lupa membelinya.
            Mengenai buku, Bapak selalu menghadiahiku buku. Kata Bapak dengan membaca buku aku bisa mengetahui banyak hal. Tidak semua buku yang dibelinya adalah buku baru. Lebih sering dari toko buku bekas yang ada di samping warung bakso di dekat alun-alun kabupaten. Oh ya, mengenai bakso, itu adalah makanan spesial. Jika semua orang bisa memakan bakso kapan saja, aku hanya memakan bakso di waktu-waktu spesial. Saat ulang tahunku, hari terima rapor, dan saat lebaran datang. Ketika kutanya kenapa, beberapa hal harus dinikmati saat-saat tertentu agar ia menjadi istimewa, begitu jawabannya. Aku mengangguk setuju. Padahal sebenarnya  aku tahu benar bahwa bakso yang Bapak sukai hanya yang ada di dekat alun-alun kabupaten, sementara rumah kami jauh dari alun-alun kabupaten.
            Bapak tak pernah memarahiku. Ia hanya akan diam ketika aku melakukan sesuatu yang tidak sesuai kehendaknya. Aku pernah sengaja menaruh permen karet yang telah kukunyah hampir setengah jam ke rambut temanku, Doni. Aku sebal, ia mengataiku anak pungut. Hanya karena aku tak memiliki ibu.
            Ibu Doni marah. Rambut anaknya harus dibotaki karena permen karet itu tak mau lepas. Dia datang pada bapak. Aku tak berani keluar kamar. Dan hanya mendengar beberapa kata bahwa bapak tak becus mendidik anak.
            Bapak mendiamkanku. Bahkan ketika aku terus bertanya tentang kunang-kunang saat makan malam.
            “Lili minta maaf,”kataku akhirnya. Aku tak berani menatap mata Bapak.
            “Apakah begitu lama hingga membuatmu sadar akan kesalahanmu?”
            Aku masih menunduk.
            “Nduk, dengarkan Bapak. Apakah Bapak pernah mengajarimu berbuat hal yang tidak baik pada temanmu?”
            Aku menggeleng.
            “Lalu, kenapa kau melakukannya. Jangan menunduk.”
            “Karena dia mengataiku anak pungut.” Kudapati wajah Bapak yang sedikit terkejut.
            “Kau anak Bapak,” tegasnya.
            “Iya, aku tahu.”
            Esoknya, semua berjalan seperti biasa. Bapak selalu menyeduh kopi hitam tiap jam lima pagi. Sering aku mencicipinya dan bergidik ketika panas kopi hitam menyentuh ujung lidahku.
            “Kenapa Bapak menyukai kopi, itu kan pahit.” Keluhku ketika rasa pahit masih menempel di pangkal lidahku. Bapak tertawa keras.
            “Loh, hidup ini juga kadang pahit, tapi kita tetap bisa menikmatinya.”
            Aku hanya manyun mendengar jawaban Bapak.
Setelah agak besar aku ikut menikmati kopi bersama Bapak. Kopi setiap jam lima pagi adalah waktu yang istimewa. Aku akan menggoreng camilan seperti pisang goreng, singkong, atau tempe sebagai teman ngopi.
“Kenapa kau sekarang jadi suka ngopi?” tanya Bapak.
“Karena hidup tak selalu manis,” jawabku sambil terkekeh.
Bapak tertawa, keras sekali.
“Sejak kapan anak Bapak jadi puitis begini,” ucap Bapak ketika tawanya reda.“Tapi benar, kalau ada hal-hal pahit dalam hidup ini, kita hanya harus menikmatinya seperti saat kita menikmati secangkir kopi.”
Kopi setiap jam lima pagi. Bapak tak pernah melewatkannya. Hingga bau tubuhnya seperti wangi kopi.
            Lalu tiba-tiba semuanya berubah. Tak ada lagi Bapak. Buku. Surat. Sisir. Bakso. Dan kopi. Kecelakaan telah merenggutnya. Bapak pergi. Walaupun aku terus menatap Bapak di rumah sakit, dada Bapak tidak naik turun. Walaupun aku menangis kencang sekali, Bapak tak juga membuka mata. Orang-orang menenangkanku, bilang bahwa bapak sudah bahagia sekarang. Lalu, kenapa Bapak tega meninggalkanku sendiri. Aku semakin tergugu.
            Seminggu setelah kepergian Bapak rasanya aku seperti orang gila. Dalam pandanganku Bapak masih ada di rumah. Di dapur, ruang tengah, teras, aku melihat Bapak. Saat aku mengusap mata untuk memastikan, bayangan Bapak hilang. Luntur bersama air mataku yang jatuh satu-satu.
            Lalu, wanita itu muncul. Dengan sebuah mobil yang kutahu platnya berbeda kota dengan tempatku tinggal.
            “Siapa?”
            “Dia, ibumu.” Bulek Dar yang menjawab. Entah sejak kapan Bulek Dar ada di sampingku. Ia yang selama ini selalu menemaniku di rumah setelah kepergian Bapak mengusap pundakku. Aku sendiri, tak tahu harus berekspresi seperti apa. Kupikir dulu ibu sudah meninggal, karena bapak selalu bilang bahwa ibu sudah bahagia sekarang. Waktu itu, Lyra, teman sekelasku, menjelaskan padaku bahwa ‘sudah bahagia sekarang’ berarti sudah meninggal karena ayahnya Lyra juga sudah bahagia sekarang. Mengingat itu membuatku menangis, lagi. Entah untuk kesekian kalinya minggu ini. Jika meninggal berarti sudah bahagia maka aku ingin meninggal juga. Bapak curang,  merasakan bahagia tanpa mengajakku. Bukankah katanya kita harus saling berbagi. Bahagia harus dibagi bukan?
###
Rumah baru. Orang-orang baru.  Segalanya terasa asing. Aku harus terbiasa tinggal dengan orang-orang asing yang harus kupanggil mama dan papa. Juga seorang adik laki-laki yang umurnya hanya berjarak dua tahun lebih muda dariku dan seorang adik kecil perempuan. Ya, kini aku tinggal dengan ibuku. Tiga hari lalu, walaupun aku menangis meminta untuk tak meninggalkan rumah Bapak, keluarga besarku dari Bapak sepakat untuk menyerahkanku pada Mama, ibu kandungku. Usiaku masih empat belas yang berarti aku masih di bawah umur. Aku tak bisa tinggal sendiri. Bahkan Bulek Dar, dia menggeleng saat aku merengek untuk tetap tinggal.
            “Ini kamarmu, Lili” ucap Mama. Kalau Bapak sering memanggilku dengan sebutan “nduk” maka wanita yang harus kupanggil mama memanggilku dengan nama. Sebuah ruangan yang cukup luas dengan dinding berwarna biru menyambutku.
            “Mama akan menyiapkan makan malam.” Wanita yang berparas cantik dan harum itu meninggalkan ruang. Wanita yang tiba-tiba harus kupanggil Mama sejak tiga hari lalu.
            Kuletakkan tas punggungku asal di atas tempat tidur. Lantas tanganku meraih jendela untuk membukanya. Angin sore menyambutku. Banyak hal yang mampir di kepala.
            Pukul tujuh malam, pintu kamar diketuk. Aku hendak membukanya ketika kenop pintu sudah diputar.
            “Lili, ayo, makan.” Mama mengenakan sebuah apron. Mungkin ia baru selesai masak. Mungkin—karena aku tak mencium bau masakan dalam tubuhnya seperti bau tubuh bapak yang bau asap dan masakan saat memanggilku makan. Mama tetap wangi.
            Aku mengikuti langkahnya menuju meja makan. Aku sering makan bersama bapak di depan TV. Di sebuah tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan. Tapi di sini kami harus makan di meja makan. Tak ada yang bersuara. Hanya bunyi sendok dan garpu yang berdenting dengan piring. Aku agak merasa aneh makan dengan garpu. Biasanya aku hanya akan memakai sendok, bahkan aku dan Bapak lebih sering makan langsung dengan tangan. Seringkali kami makan sambil menonton TV, lantas asyik mengomentari tayangan TV.
            Tapi di rumah Mama, semuanya diam. Beberapa kali aku mencuri lihat wajah Papa. Selama tiga hari terahir hanya Mama yang mengurusi kepindahanku. Malam ini baru perama kali aku melihatnya. Juga, Rio, adik laki-lakiku, dan Ain, adik perempuanku. Makan malam yang sangat canggung. Aku tak berniat memperkenalkan diri. Apa aku harus bilang ‘Halo, aku Lili, anak yang ditinggalkan Mama, untuk pergi bersama orang lain’. Ya, Mama pergi meninggalkanku dengan Bapak, begitu pikirku ketika menerima kenyataan bahwa ibu kandungku masih hidup. Harusnya aku senang, tapi kenapa aku merasa selalu sesak saat memikirkannya.
            Mama menangis malam itu. Aku mendengarnya waktu lewat kamar mama untuk ke kamar mandi. Aku hanya diam. Tak tahu harus berbuat apa ketika Mama menangis. Bapak pernah bilang, wanita itu mudah menangis. Tapi, aku tak tahu kenapa Mama menangis. Apakah Mama menyesal membawaku kemari? Begitu pikirku ketika aku telah berbaring di kasur baruku di kamar.
            Hari-hari selanjutnya, rasanya semua terasa berat. Tak ada bau kopi setiap jam lima pagi. Aku tak banyak mengobrol. Bahkan, rasanya pembicaraanku hanya dengan Mama dan berkisar dengan jawaban antara iya dan tidak. Semua orang memeperlakukanku dengan baik. Minggu kedua, Papa beberapa kali mengajakku ngobrol. Menanyai hal-hal biasa tentang bagaimana sekolah baruku, teman-temanku, dan  apa saja yang kuinginkan.
            Aku sendiri tak tahu harus memperlakukan mereka seperti apa. Rasanya sangat melelahkan. Bahkan ketika aku mendapati Mama, Papa, Rio, dan Ain sedang bercanda di teras belakang rumah, aku hanya bisa menatapnya dari jauh. Apakah, jika dulu Mama tak meninggalkanku dengan Bapak, aku akan merasakan hal seperti itu? Sepertinya di rumah ini aku hanya akan menjadi orang asing. Lebih baik, aku kembali ke rumah Bapak.
            Bahkan tanpa aku sadari, sikapku semakin lama menjadi ketus. Kadang sengaja aku pulang terlambat, padahal tak ada kegiatan sepulang sekolah. Aku tak mengacuhkan Ain saat ia mengajakku bermain. Aku membeli banyak hal yang sebenarnya tak kubutuhkan dengan uang yang Papa berikan padaku, lantas aku meminta uang lagi. Dia hanya akan menatapku tanpa berkata. Padahal uang saku yang diberikannya cukup untuk sebulan.
            “Lili, Mama mau bicara.” Mama datang ke kamarku suatu malam. Malam ke tiga ratus empat lima yang berarti aku hampir satu tahun tinggal di rumah itu. Aku menandai kalender sejak pertama datang.
Aku yang sedang asyik membaca komik hanya mengangguk tanpa berniat menatap wajahnya.
            “Lili, bisakah kita berbicara serius. Ada yang ingin Mama beritahukan padamu.”
            Kututup komik dan menatap Mama dengan ogah-ogahan.
            “Sebenarnya, Ayah kandungmu bukanlah Bapak, tapi Papa.” Ucap Mama pelan yang seperti bisikan. Lantas, Mama mulai menangis.
            Aku bergeming. Bagaimana bisa, Bapak bukan ayah kandungku. Orang yang sangat aku cintai. Aku ingin memprotes, tapi tak ada kata-kata yang keluar sedikitpun.
            “Dulu, Mama mengandungmu sebelum menikah. Karena Papa sedang belajar di luar kota, Mama tak berani memberitahunya. Itu kesalahan Mama. Orang tua Mama menjodohkan Mama dengan Bapak agar tak membuat keluarga malu. Mama tidak tahu kenapa Bapak mau menerima Mama.”
            “Jangan bercanda!” Tanpa kusadari suaraku sangat keras.
            “Maafkan Mama, Lili.”
            Air mataku sudah siap buncah. Aku menahannya hingga membuat dadaku sesak.
            “Kenapa aku sama Bapak, bukan dengan Mama?” tanyaku akhirnya.
            Mama menghirup napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Karena…agar Mama bisa pergi, Mama harus meninggalkanmu. Papa akhirnya tahu dan ingin Mama pergi dengannya.”
            Fakta lain yang sangat mengejutkan.
            “Mama, ini sungguh tak lucu, kalau aku memang harus mencintai kalian sebagai orang tuaku, tapi bukan dengan cara menjelekkan Bapak.”
            Mama hanya menangis. Aku baru menyadari ada seseorang lagi yang berdiri di pintu kamarku ketika kudengar ada isakan yang sangat pelan. Papa.
            “Lalu, kenapa Mama tak memilih untuk tinggal?” Walaupun dalam hatiku aku tak percaya Bapak setega itu memisahkanku dengan orang tua kandungku.
            Mama menatapku. Sebenarnya aku tahu jawabannya. Mama mencintai Papa. Walaupun Bapak memperlakukannya dengan sangat baik, ternyata hal itu tak cukup untuk membuat Mama mencintainya.
            Aku cukup dewasa untuk tahu hal itu tanpa harus mendengar jawaban Mama.
            “Padahal Bapak selalu mencintai Mama.”
            Mama semakin tersedu. Malam itu, Mama dan Papa meminta maaf padaku. Dulu, harusnya Mama memberitahu Papa. Harusnya Papa lebih peduli dengan Mama. Harusnya Bapak…Aku sungguh tak ingin membuat pemikiran tentang Bapak yang memisahkanku dengan orang tua kandungku.
###
“Kau tahu, saat akhirnya aku keluar dari rumah orang tuaku untuk melanjutkan kuliah di luar kota, empat tahun setelah aku tinggal di rumah orang tuaku, tiga tahun setelah pengakuan orang tuaku, aku melihat pendar yang berbeda di mata Mama. Mama terlihat sangat lega. Aku sedih sekaligus juga lega. Sedih karena ternyata mama seperti tak mengharap kehadiranku. Tapi sebenarnya Mama baik. Kurasa saat itu, kami butuh waktu. Empat tahun ternyata bukan waktu yang cukup. Tapi, aku lega. Aku tak menjadi satu-satunya orang yang jahat karena tak bisa merasa benar-benar nyaman di dekatnya. Mungkin seperti ini akan menjadi lebih baik. Dari awal, tanpa kusadari aku selalu mencari alasan. Aku selalu membandingkannya dengan Bapak. Bahkan ketika aku tahu Bapak lah yang memisahkan kami.”
Aku menghirup napas panjang. Memasukkan banyak udara ke rongga dada yang rasanya sangat sesak sejak satu jam lalu.
“Bagi seorang anak perempuan, Bapak adalah cinta pertama. Dan aku tahu, aku sudah kehilangan cinta pertamaku sejak lama. Bahkan kehilangan itu kadang membuatku takut untuk mencintai seseorang. Jika kehilangan sesakit ini, bukankah leih baik aku tak mencintai agar tak ada rasa kehilangan saat ia pergi. Aku tak seperti kebanyakan orang mungkin. Aku mencintai orang yang memisahkanku dengan orang tua kandungku dan sampai saat ini bahkan aku belum terlalu bisa mencintai orang tua kandungku. Bagiku, orang tua itu adalah Bapak, orang yang mungkin harusnya kubenci.”
“Kau akan tetap mencintaiku?” Kutatap mata Hanan.
Lama dia hanya menatapku sebelum akhirnya mengangguk. Mengambil secangkir kopi yang telah dingin karena terlalu lama dibiarkan dan menyesapnya.
“Bagaimana jika aku seperti Mama? Meninggalkanmu saat aku menemukan yang lain?”
“Aku akan membuatmu jatuh cinta setiap hari, hingga tak ada celah bagi orang lain.”
Lantas Hanan menatapku serius.
“Lili, aku menerimamu apa adanya. Tak ada kehidupan yang sempurna di dunia ini. Dan ingat, semua orang berhak untuk mencintai. Kau tak harus memikirkan tentang kehilangan. Jika pun kehilangan itu pahit, bukankah orang yang meminum kopi akan meminumnya lagi dan lagi. Setelah rasa pahit, kau bisa lebih menikmati rasa manis. Setelah kehilangan, kau bisa belajar untuk memperlakukan orang-orang di sekitarmu dengan lebih baik saat mereka ada.”
Aku tersenyum. Kenapa aku merasa seperti mengobrol dengan Bapak.
“Aku tak bisa menjanjikanmu bahwa nanti kehidupan kita selalu penuh dengan hal manis. Jika ada hal pahit dalam kehidupan kita nantinya, mari kita menikmatinya seperti secangkir kopi hangat yang akan kita nikmati setiap jam lima pagi.”
Aku mengangguk.

Catatan:
Petricor: salah satu bau alami yang tercium saat hujan turun membasahi tanah yang kering

Nduk: panggilan untuk anak perempuan dalam Bahasa Jawa

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Sabtu, 13 Agustus 2016

Berhentilah Omong Kosong

Berhentilah Omong kosong,
Kau bilang, kau benci menunggu, tapi sering sekali kau melambat-lambatkan waktu bertemu dengan-Nya
Kau bilang, kau akan menjadi lebih baik, tapi aku tak pernah melihatmu mengupayakannya
Kau bilang, kau suka membaca, tapi sebentar sekali kau membaca kitab-Nya
Kau bilang, kau suka orang yang peka, tapi sering kudapati kau menyakiti hati orang lain
Kau bilang, kau peduli pada semua orang, tapi lingkunganmu saja ta kau pedulikan
Kau bilang, kau tak punya waktu, salah, kau hanya suka mencari-cari alasan dan tak pernah menyempatkan waktu itu ada
Kau bilang, kau punya sebuah impian, tapi sering sekali kudapati dirimu hanya berdiam
Berhentilah omong kosong
Jika kau belum bisa memberikan keteduhan bagi orang lain, setidaknya kau bisa membuat dirimu sendiri merasa teduh. Kau tahu benar, keteduhan itu bukan berasal dari wajahmu, tapi dia berasal dari dalam hatimu.
Jika kau belum bisa bermanfaat bagi orang luar, setidaknya kau bisa bermanfaat untuk keluargamu, saudaramu, dan orang-orang yang ada di dekatmu.
Jika kau sibuk, kau harus menyempatkan waktu itu ada. Kau sendiri yang tahu jadwal kegiatanmu. Aku tahu persis, kau bisa melakukannya.
Jika kau punya mimpi, wujudkan ia sampai akhir. Mengawali tanpa mengakhirinya sama saja bohong.
Jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain. Hal itu tak akan pernah membawamu kemana-mana. Aku tak ingin penyakit hati bersarang di dalam hatimu.
Berhentilah omong kosong

Karena aku benci orang yang suka omong kosong