Sabtu, 30 Januari 2016

Gadis Dalam Sepatu


Dia berjalan ke arahku. Walaupun hanya diterangi pendar lampu jalanan, aku yakin itu sosoknya. Dia hanya menatap ketika sampai di depanku. Kuamati dia. Matanya jauh lebih hidup dari pertemuan terakhir kami. Tak ada lagi poni yang menyentuh alis matanya, berganti dengan topi rajut berwarna merah, warna kesukaannya.
Aku menatapnya lama. Menguarkan rindu yang beberapa tahun terakhir mengendap. Dia mendekat dan mengusap wajahku. Tak ada yang berbicara di antara kami. Tapi dari tatapannya aku mengerti. Aku pulang, begitu katanya.
Kokok ayam jantan mengusik pertemuan kami. Membuatnya sedikit berjengkit. Mungkin telah lama dia tak mendengarnya. Mungkin di negara empat musim yang tiga tahun ia tinggali tak ada kokok ayam.
Dia berlalu dari hadapanku. Memasuki bangunan yang berada tak jauh dari kami. Kutatap punggungnya sampai menghilang. Selamat datang.
●●●
“Kenapa kalau aku perempuan, Bu?” Aku mendengar suaranya sedikit bergetar. Tak bermaksud menguping, tapi percakapan mereka cukup keras sehingga terdengar olehku.
“Anak perempuan itu nanti ujung-ujungnya juga di rumah, membereskan rumah, memasak, mengurusi anak. Kenapa harus belajar tinggi-tinggi?”
“Bukankah semua itu juga butuh ilmu. Jika nantinya aku mengurus anak, bukankah ilmu yang kudapatkan bisa untuk mendidiknya dengan lebih baik.”
“Tapi..”
“Bukankah Ibu yang bilang, dunia itu luas bukan hanya tempat kita berpijak sekarang.”
Hening. Tak ada yang bicara.
“Ibu hanya..” Wanita yang dipanggilnya Ibu itu tak menyelesaikan kalimatnya.
“Aku bisa menjaga diri, Bu.” Kali ini suaranya terdengar meyakinkan.
Jujur, aku tak pernah mengira dia akan melakukannya. Aku ingat saat pertama kali dia mengatakan padaku keinginannya, mimpinya. Mungkin terdengar sedikit gila. Di kampung ini, tempat dia dan aku tinggal, tak ada yang mau melangkahkan kakinya jauh. Selepas SMP, banyak gadis yang memilih tak melanjutkan sekolahnya. Mereka menikah ketika ada lelaki; yang dirasa mampu memenuhi kebutuhannya, melamarnya. Tak ada orang tua yang mempermasalahkan hal itu. Terkadang, semakin cepat anak gadisnya menikah mereka semakin bangga, apalagi bila lelaki yang menikahinya tergolong cukup kaya.
Setelah diskusi panjang dengan ibunya, dia menemuiku. Bersandar di sampingku. Menceritakan mimpinya, lagi.
“Baiklah, aku harus membuktikannya pada Ibu,” ucapnya dan melangkah pergi.
Aku tak bisa melihat ekspresinya. Tapi kupastikan wajahnya sedang tersenyum bahagia.
●●●
Pagi ini dia kembali menemuiku, wajahnya berhias senyum, memperlihatkan dempil di pipinya. Ah, ternyata aku benar-benar merindukannya. Rasanya baru kemarin aku mendengar mimpinya. Nyatanya sudah sepuluh tahun hal itu berlalu.
“Aku benar-benar melakukannya,” ucapnya, masih dengan senyum yang seolah tak mau pergi. Aku melihat ke dalam matanya. Bohong jika hanya kesenangan yang kulihat. Aku bisa melihat ada bekas marah, kecewa, lelah. Setiap orang pasti merasakannya bukan? Tapi, satu hal yang tak pernah hilang dari matanya, api semangat—yang rasanya jauh lebih membara dari terakhir kali kuingat.
Aku menyelamatinya.
Dia duduk di sampingku. Angin berhembus semilir. Memainkan anak rambut ke wajahnya, dibiarkannya. Matahari baru sepenggalan naik. Langit berwarna biru, bersih tanpa arak-arak awan. Cerah sekali pagi itu.
“Umurku sudah lebih sepertiga abad. Banyak hal yang aku lihat di kampung ini. Orang-orang terkadang seperti robot. Memegang prinsip yang mereka percaya dari dulu, menganggapnya yang terbaik. Ah, bukankah jaman berubah. Prinsip yang baik memang harus dipegang tapi kalau ada yang lebih baik kenapa tidak? Awalnya aku percaya, selamanya kampung ini akan seperti ini. Ternyata salah, kau datang padaku hari itu. Mengatakan padaku dengan lantang tentang mimpimu. Dan kau membuktikannya. Hei, aku ingin mendengar ceritamu kali ini” bisikku padanya. Entah dia mendengarku atau tidak. Dipejamkannya matanya.
“Salju itu sangat lembut. Rasanya tak terlalu dingin ketika dia menyentuh telapak tangan. Kau ingat bukan ketika kubilang akan menyentuh salju suatu saat nanti. Bahkan aku bisa bermain sky di akhir pekan,” ucapnya.
“Ya, kau telah berhasil.”
“Aku akan berusaha semampuku, memberikan apa yang bisa kulakukan untuk negeri ini. Itu mimpiku selanjutnya. Kau harus mencatatnya.” Dia menepukku.
Aku tersenyum. Tentu saja aku akan mengingatnya.
Dia beranjak pergi. Mengencangkan ikatan tali sepatunya yang sedikit longgar. Tersenyum padaku. Berjanji padaku akan berusaha sering mengunjungiku sebelum mengucapkan selamat tinggal.
Aku mengangguk.
Aku akan menantimu, mendengarmu lagi bercerita tentang mimpimu yang menjadi nyata. Aku masih akan di sini, berdiri di depan rumahmu, gadis dalam sepatu.”
           
            

Jumat, 29 Januari 2016

Happy Wedding



Ya Allah sempurnakan kebahagiaan kedua saudara ku ini, Dengan menjadikannya, pernikahan mereka sebagai wujud ibadah kepada-Mu, Dan sebagai bukti pengikat cinta kepada Rasulullah SAW

Happy wedding my dearest firend. Maaf nggak bisa datang. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Jangan centil lagi ya nduk ;P. Rajin-rajin masak (udah makin lengkap kan peralatannya!). Semoga Allah SWT selalu bersama kalian dan bisa menjadi keluarga yang dirindukan surga :).

NB: Oya...ayo cepetan kasih aku ponakan :D. 

Rabu, 13 Januari 2016

Pulang-Tere Liye

Menurut saya sendiri, pulang berarti banyak hal. Pulang yang paling hakiki sendiri adalah pulang ke Sang Pencipta. Dalam novel ini, Tere Liye, menggambarkan bagaimana Bujang—tokoh utama dalam novel—memaknai Pulang melalui pertarungan-pertarungan dan hal-hal yang terjadi pada orang yang disayanginya.

Banyak sekali hal yang saya dapatkan dari novel ini. Seolah pertanyaan-pertanyaan yang membenak terjawab.

Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain. (Salonga-187)

Terlepas dari bagaimana cara Bujang hidup, dia selalu memegang teguh pesan mamaknya. Tak boleh setetes pun dia meminum tuak dan tak boleh secuil pun dia memakan babi. Sebuah kesetiaan. Sebuah prinsip yang ia terapkan. Dan itulah yang menjaga Bujang.

Prinsip. Ya pada akhirnya prinsip-prinsip hidup yang kita peganglah yang membuat kita setia.
Ketahuilah Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran. (Tuanku Imam-340)

Aku tahu kau tetap penasaran dengan banyak hal, karena kau dibesarkan pada rasionalitas. Tapi saat kau tiba pada titik itu, maka kau akan mengerti dengan sendirinya. Itu perjalanan yang tidak mudah, Bujang. Kau harus mengalahkan banyak hal. Bukan musuh-musuhmu, tapi diri-sendiri, menaklukan monster yang ada pada dirimu. Sejatinya, dalam hidup ini kita tidak perna berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kta cukup mengalahkan diri-sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja. (Guru Bushi- 387)

Kalimat inilah yang juga menancap dalam hatiku. Berdamai dengan hati sungguhlah membutuhkan suatu proses. Aku perlu membujuknya, mendiamkannya, hingga melakukan sesuatu yang membuat hatiku bosan. Keegoisan, ambisi, bahkan aku pernah pada tahap menutup diri. Aku tak ingin mendengar bagaimana kabar orang lain entah lewat orangya langsung atau media social. Salah satu cara membujuk hatiku. Untuk apa selalu melihat orang lain, tapi kita lupa melihat diri-sendiri. Melihat apa yang dimiliki orang lain, tapi lupa bersyukur dengan apa yang ada dalam diri kita. Terkadang, aku lupa berbicara dengan diri sendiri dan aku lupa mengobrolkan diriku dengan Tuhan.
Semua hal memang butuh proses. Hidup bukan tentang mengalahkan orang lain. Pada akhirnya, hidup tentang kedamaian dalam hati kita. Dan aku masih berusaha.


Secara keseluruhan, walaupun aku lebih menyukai seri anak-anak Mamak (Burlian, Eliana, Pukat, Amelia) milik Tere Liye, tapi novel ini seperti sebuah jawaban dari apa yang aku cari. Tentang sebuah prinsip dan kedamaian hati.

Minggu, 10 Januari 2016

Pertanda

dalam  sebuah perjalanan, seringkali kau menemukan pertanda
kau hanya perlu melihatnya lebih jeli
menatapnya lebih dekat

kelak, esok atau lusa, jika kau sudah berhenti di titik ini
perhatikanlah baik-baik,
aku harap kau telah bertemu
seseorang yang ingin kau temui
yang dengannya, kau ingin menjadi lebih baik

kelak, esok atau lusa, jika kau sudah berhenti di titik ini
berilah ia keping puzzle terakhir dari puzzle yang ia susun
berilah jawaban atas pertanda yang ia buat

karena, ia pun ingin tahu, apakah kau orangnya?

Jumat, 08 Januari 2016

Titik


Jejak setiap langkah memang tak pernah terhapal betul
Pada suatu masa ia amat teringat
Lainnya tercecer seperti hembus udara yang terkadang lupa disyukuri
Pada sebuah titik, terhenti, teringat
Lupa berapa jauh jarak yang telah terlampaui
Bahwa bulan telah berlalu

Hakikatnya
Kau ini mau kemana? Tanya dalam diriku yang tak pernah lantang kujawab
Ya, kau, yang dulu sering menggurat pena tentang asa
Apalagi sekarang? Kau bukan hanya seonggok daging
Nyatanya kau memiliki sesuatu, ya, ya, otak mereka menyebutnya

Mereka mencacimu, mimpimu itu seperti pungguk merindukan bulan
Maka, ibumu bersepakat denganmu untuk menutup telinga
Biarlah semua berbicara sekehendak mulut mereka
Maka, hanya sekehendak kitalah apa yang akan kita dengar

Duhai, bagaimana bisa kau meninggalkan bunga itu
Ia, bunga yang teramat cantik
Yang dengannya engkau tumbuh
Dan dalam wanginya kau menghirup

Biarlah,
Sejatinya mendapatkan sesuatu adalah melepaskan

Bahwa Tuhan selalu menepati janjiNya