Dia berjalan ke arahku. Walaupun hanya diterangi pendar
lampu jalanan, aku yakin itu sosoknya. Dia hanya menatap ketika sampai di
depanku. Kuamati dia. Matanya jauh lebih hidup dari pertemuan terakhir kami.
Tak ada lagi poni yang menyentuh alis matanya, berganti dengan topi rajut
berwarna merah, warna kesukaannya.
Aku menatapnya lama. Menguarkan rindu yang beberapa tahun
terakhir mengendap. Dia mendekat dan mengusap wajahku. Tak ada yang berbicara
di antara kami. Tapi dari tatapannya aku mengerti. Aku pulang, begitu katanya.
Kokok ayam jantan mengusik pertemuan kami. Membuatnya
sedikit berjengkit. Mungkin telah lama dia tak mendengarnya. Mungkin di negara
empat musim yang tiga tahun ia tinggali tak ada kokok ayam.
Dia berlalu dari hadapanku. Memasuki bangunan yang berada
tak jauh dari kami. Kutatap punggungnya sampai menghilang. Selamat datang.
●●●
“Kenapa kalau aku perempuan, Bu?” Aku mendengar suaranya
sedikit bergetar. Tak bermaksud menguping, tapi percakapan mereka cukup keras
sehingga terdengar olehku.
“Anak perempuan itu nanti ujung-ujungnya juga di rumah,
membereskan rumah, memasak, mengurusi anak. Kenapa harus belajar
tinggi-tinggi?”
“Bukankah semua itu juga butuh ilmu. Jika nantinya aku
mengurus anak, bukankah ilmu yang kudapatkan bisa untuk mendidiknya dengan
lebih baik.”
“Tapi..”
“Bukankah Ibu yang bilang, dunia itu luas bukan hanya tempat
kita berpijak sekarang.”
Hening. Tak ada yang bicara.
“Ibu hanya..” Wanita yang dipanggilnya Ibu itu tak
menyelesaikan kalimatnya.
“Aku bisa menjaga diri, Bu.” Kali ini suaranya terdengar
meyakinkan.
Jujur, aku tak pernah mengira dia akan melakukannya. Aku ingat
saat pertama kali dia mengatakan padaku keinginannya, mimpinya. Mungkin
terdengar sedikit gila. Di kampung ini, tempat dia dan aku tinggal, tak ada
yang mau melangkahkan kakinya jauh. Selepas SMP, banyak gadis yang memilih tak
melanjutkan sekolahnya. Mereka menikah ketika ada lelaki; yang dirasa mampu
memenuhi kebutuhannya, melamarnya. Tak ada orang tua yang mempermasalahkan hal
itu. Terkadang, semakin cepat anak gadisnya menikah mereka semakin bangga,
apalagi bila lelaki yang menikahinya tergolong cukup kaya.
Setelah diskusi panjang dengan ibunya, dia menemuiku.
Bersandar di sampingku. Menceritakan mimpinya, lagi.
“Baiklah, aku harus membuktikannya pada Ibu,” ucapnya dan
melangkah pergi.
Aku tak bisa melihat ekspresinya. Tapi kupastikan wajahnya
sedang tersenyum bahagia.
●●●
Pagi ini dia kembali menemuiku, wajahnya berhias senyum,
memperlihatkan dempil di pipinya. Ah, ternyata aku benar-benar merindukannya.
Rasanya baru kemarin aku mendengar mimpinya. Nyatanya sudah sepuluh tahun hal
itu berlalu.
“Aku benar-benar melakukannya,” ucapnya, masih dengan senyum
yang seolah tak mau pergi. Aku melihat ke dalam matanya. Bohong jika hanya
kesenangan yang kulihat. Aku bisa melihat ada bekas marah, kecewa, lelah. Setiap
orang pasti merasakannya bukan? Tapi, satu hal yang tak pernah hilang dari
matanya, api semangat—yang rasanya jauh lebih membara dari terakhir kali
kuingat.
Aku menyelamatinya.
Dia duduk di sampingku. Angin berhembus semilir. Memainkan
anak rambut ke wajahnya, dibiarkannya. Matahari baru sepenggalan naik. Langit
berwarna biru, bersih tanpa arak-arak awan. Cerah sekali pagi itu.
“Umurku sudah
lebih sepertiga abad. Banyak hal yang aku lihat di kampung ini. Orang-orang
terkadang seperti robot. Memegang prinsip yang mereka percaya dari dulu,
menganggapnya yang terbaik. Ah, bukankah jaman berubah. Prinsip yang baik
memang harus dipegang tapi kalau ada yang lebih baik kenapa tidak? Awalnya aku
percaya, selamanya kampung ini akan seperti ini. Ternyata salah, kau datang
padaku hari itu. Mengatakan padaku dengan lantang tentang mimpimu. Dan kau
membuktikannya. Hei, aku ingin mendengar ceritamu kali ini” bisikku
padanya. Entah dia mendengarku atau tidak. Dipejamkannya matanya.
“Salju itu sangat lembut. Rasanya tak terlalu dingin ketika
dia menyentuh telapak tangan. Kau ingat bukan ketika kubilang akan menyentuh
salju suatu saat nanti. Bahkan aku bisa bermain sky di akhir pekan,” ucapnya.
“Ya, kau telah
berhasil.”
“Aku akan berusaha semampuku, memberikan apa yang bisa
kulakukan untuk negeri ini. Itu mimpiku selanjutnya. Kau harus mencatatnya.”
Dia menepukku.
Aku tersenyum. Tentu saja aku akan mengingatnya.
Dia beranjak pergi. Mengencangkan ikatan tali sepatunya yang
sedikit longgar. Tersenyum padaku. Berjanji padaku akan berusaha sering
mengunjungiku sebelum mengucapkan selamat tinggal.
Aku mengangguk.
“Aku akan menantimu,
mendengarmu lagi bercerita tentang mimpimu yang menjadi nyata. Aku masih akan
di sini, berdiri di depan rumahmu, gadis dalam sepatu.”
