Jejak setiap langkah memang tak pernah terhapal betul
Pada suatu masa ia amat teringat
Lainnya tercecer seperti hembus udara yang terkadang lupa
disyukuri
Pada sebuah titik, terhenti, teringat
Lupa berapa jauh jarak yang telah terlampaui
Bahwa bulan telah berlalu
Hakikatnya
Kau ini mau kemana? Tanya dalam diriku yang tak pernah
lantang kujawab
Ya, kau, yang dulu sering menggurat pena tentang asa
Apalagi sekarang? Kau bukan hanya seonggok daging
Nyatanya kau memiliki sesuatu, ya, ya, otak mereka
menyebutnya
Mereka mencacimu, mimpimu itu seperti pungguk merindukan
bulan
Maka, ibumu bersepakat denganmu untuk menutup telinga
Biarlah semua berbicara sekehendak mulut mereka
Maka, hanya sekehendak kitalah apa yang akan kita dengar
Duhai, bagaimana bisa kau meninggalkan bunga itu
Ia, bunga yang teramat cantik
Yang dengannya engkau tumbuh
Dan dalam wanginya kau menghirup
Biarlah,
Sejatinya mendapatkan sesuatu adalah melepaskan
Bahwa Tuhan selalu menepati janjiNya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar