Selasa, 05 Desember 2017

Menjaga

When you start to look at peoples heart instead of their face, life become so clear.
-anonim-
Ada hal-hal yang harus kau jaga dalam dirimu. Salah satunya lidahmu. Terlebih sebagai kaum perempuan, gatal sekali untuk mengomentari orang lain. Saya pernah membaca bahwa, apa yang harus didengar oleh kita adalah Tuhan, orang tua, dan orang yang benar-benar dekat dengan kita. Sisanya, biarlah seperti angin lalu. Jika tidak seperti itu, mungkin hatimu akan sering sekali sakit.
Bagi sebagian orang kata-kata mungkin seperti angin lalu. Ia hanya perlu memuntahkannya dari bibirnya. Sisanya ia tak peduli. Apakah orang lain sakit hati mendengarnya, apakah orang lain memasukkannya ke dalam hati dan menyimpannya rapat-rapat, lalu kata-kata itu kan mengendap di dasarnya. Dan kata-kata menjadi duri, siap menyakiti kapan saja.
Kau tahu, ketika kau berkata-kata yang menyakitkan, menurut saya, kau sedang menghancurkan dirimu sendiri. Di mata orang lain, ada tanda minus yang akan melekat pada dirimu. Orang itu akan ingat terus, bahkan saat kau telah melupakannya. Ke depannya, dia akan menghindar dari berhubungan denganmu. Jangan salahkan dia, karena jika kau tahu, kau sendirilah yang membuatnya seperti itu.
Lebih dari alasan karena dia tidak mau disakitimu untuk ke sekian kalinya, tapi dia sudah kehilangan respect terhadapmu. Ada yang pernah menulis, suatu hal yang tidak bisa didapatkan seseorang lagi setelah ia kehilangan keperawanan adalah respect. Jika ia telah kau nodai sekali, ia tak akan lagi sama. Kau yang membuat orang lain respect padamu, pada akhirnya kau lah juga yang menghancurkannya.
Saya bukan orang baik seperti yang kau pikirkan, tapi saya juga tak seburuk yang terlintas di hatimu (Ali Bin Abu Thalib).
Saya masih belajar mengendalikan nafsu dalam diri saya. Nafsu untuk berbicara asal, nafsu untuk berbuat jahat, nafsu untuk berpikiran yang tidak-tidak, terlbehih nafsu untuk menang sendiri. Maafkan, jika saya belum selesai dengan diri saya sendiri.Ya, saya butuh belajar seumur hidup saya menjadi manusia, sebaik-baik manusia.
Soal berkata-kata, pikirkan dulu apa yang akan keluar dari bibirmu. Karena sekalipun kau meminta maaf, kau tak akan tahu apakah kata-kata itu sudah menancap dalam hati seseorang. Terkadang, ah bahkan sering sekali memaafkan jauh lebih mudah dari pada melupakan. Karena kenangan mudah sekali menempel sesuatu. Kau mungkin biasa berkata keras atau dikerasi orang lain, tapi tak semua orang sama denganmu. Orang lain tak akan selau bisa memahamimu. Buang saja alasan, “aku memang begini orangnya”, karena menurut saya itu hanya sebuah pembelaan saat kau tak mau mengerti orang lain.
Jika ingin marah, telusuri dulu. Apakah benar apa yang kau marah kan? Jangan-jangan kau marah karena tak sabar meruntut suatu perkara? Kau butuh sekali menuntaskan kejengkelanmu pada orang lain. Sering sekali aku menjumpai hal seperti ini. Padahal lingkunganku sebenarnya adalah orang-orang yang harusnya lebih jeli akan suatu keadaan. Ah, sudahlah. Jika pun ingin marah, ingatlah untuk diam. Jika kau masih merasa gelisah saat diam maka duduklah.

Allah mengajari hal-hal yang baik, oleh karenanya Dia menyuruh kita menegur seseorang dengan cara yang baik.

.

Kenapa kamu takut,
padahal Allah sangat dekat dengan hambaNya

Kamis, 23 November 2017

Pesan

Jangan berbuat buruk. Jangan menyakiti orang lain. Jangan berbohong. Jangan mencurangi orang lain. Jangan menyakiti diri sendiri. Jangan iri pada orang lain. Jangan membebani orang lain. Jangan menyusahkan orang lain. Jangan mudah menyerah. Jangan berhenti di tengah jalan. Jangan bersedih terlalu lama. Jangan menusuk orang lain. Jangan tak acuh pada orang lain. Jangan tak sabar. Jangan bergantung pada manusia.


Berbuat baiklah walau itu berat. Bersabarlah walau terasa menyakitkan. Jujurlah walau menyakitimu. Berwelas kasihlah pada orang lain. Beropinilah tanpa memojokkan orang lain. Berusahalah menggapai mimpimu walau berat. Bantulah orang lain. Bersyukurlah atas hidup. Jadilah manusia, sebaik-baik manusia.

Selasa, 24 Oktober 2017

Senin, 09 Oktober 2017

Karakter


Good attitude is really important. Dalam sebuah kelas yang saya ikuti, Bapak itu membicarakan soal bekerja sama dengan orang-orang di sekitarnya. Ada orang-orang yang bagus hasil kerjanya tapi sikapnya kurang bagus dengan orang yang hasil kerjanya tidak terlalu menonjol tapi memiliki sikap yang bagus. Pilih yang mana? Tentu saja pilih yang kedua? Merubah sikap seseorang sangat susah, terlebih ketika orang tersebut tak paham dengan sikapnya yang buruk.
Suatu kali, dalam hidup, sulit sekali rasaya untuk menghormati seseorang. Banyak orang terpandang karena karirnya yang ketika kita lebih mengenalnya, ternyata tak seperti kita harapkan. Menghormati seseorang mungkin ada jenisnya.
Hormat karena dia atasan, hormat karena dia lebih tua, hormat karena karakter baik orang tersebut. Yang terakhirlah yang paling menyenangkan. Menghormati dan menghargai seseoran karena karakternya sangat “enak” untuk dilakukan. Tak ada kepura-puraan, karena kita senang melakukannya. Tentunya, tidak melelahkan.
Karir, jenjang, prestasi, kadang tak selalu membuat seseorang menjadi lebih bijak.
Lebih senior maka lebih bijak? Belum tentu.
Lebih dewasa maka lebih bijak? Belum tentu.
Apalagi kalau hanya lebih tua. Lebihnya, dia sudah lebih lama hidup di dunia ini.
Orang yang lebih tua kadang sering beralasan bahwa dia telah lebih banyak memiliki pengalaman. Tapi, apakah lantas hal itu menjadikannya lebih bijak? Belum tentu. Kalau selama hidupnya dia lewati dalam sebuah botol, terlebih hal yang dilakukannya hanya melewati pagi dan mengakhiri sore, tanpa belajar sesuatu di luar botol hidupnya,  mana bisa dia  memamerkan pengetahuan di luar botol dia hidup.
Karakter baik seseorang terbentuk dari banyak hal. Butuh banyak waktu untuk membentuknya. Bagaimana sebuah prinsip-prinsip hidup dia pegang dan begitu menyatu dalam dirinya.

Pagi ini saya mencari, apakah prinsip-prinsip itu ada dalam diri saya?

-Cara seseorang memperlakukan kita, itu karakter mereka. Tapi, cara kita membalasnya, itu karakter kita- anonim

Jumat, 06 Oktober 2017

Lets Take A Rest


Bahkan secangkir kopi dan sebuah film bisa membuatmu lega. Terlebih jika ada hujan dan kita menari di bawahnya. Jika punya uang lebih, mungkin jalan-jalan adalah pilihannya. Bawa ransel, temui orang-orang baru, suasana baru.

Cobalah untuk tertawa. Tertawakan hal penting maupun tak penting.
Saya rasa, ketika  kelelahan datang, hal pertama yang terlintas adalah ingatan masa kecil saya. Memang, kenangan menempel di mana saja. Begitu juga kenangan masa kecil saya. Sepertinya, saya merasa bahagia setiap hari.

Menjadi dewasa tidak berarti menjadi bijak. Tua berbeda dengan dewasa. Dan dewasa beda juga dengan bijak, saya rasa begitu. Sialnya, saya masih sering menjumpai orang-orang yang tua dan dewasa, tapi tidak bijak. Bijak menjadi hal yang paling langka untuk ditemui. Bahkan dalam diri saya sendiri, saya masih jauh untuk menemuinya.

Hidup tak melulu soal diri sendiri, tapi juga tak melulu soal orang lain. 

Pilihlah untuk bahagia. Karena orang lain tak akan bertanggung jawab atas kebahagiaan kita. Beristirahatlah ketika lelah. Karena kita sendiri yang tahu batas kewarasan kita.

Mixing humour and harsh reality is a very human behaviour, it’s the way people stay sane in the daily lives- Jorge Garcia-

Selasa, 19 September 2017

Ocehan

Pagi ini saya memutuskan untuk berjalan kaki. Menapaki jalan setapak, menyapa siapa pun yang saya temui. Bunga pukul sembilan yang ada di tepi jalan sudah bersiap mekar. Padahal ini masih jam tujuh pagi. Andai saya bisa seperti bunga pukul sembilan, selalu bersiap sebelum masanya tiba. Saya harus belajar.
Di belakang saya ada anjing yang menggonggong. Saya ingin berlari. Eh, tapi kenapa saya harus lari? Bukankah saya tak ada salah padanya? Tunggu, kalaupun saya ada salah, saya harus meminta maaf. Kenapa saya harus lari? Mungkin tadi saya tak sengaja menginjak ekornya. Atau saya melewati daerah kekuasaannya yang sudah ditandainya dengan air kencing tanpa permisi. Rasanya tidak. Katanya, jika ada anjing yang menggonggongi, kita harus berbalik menggertak. Ini masalah mental. Siapa yang lebih kuat dalam melawan. Apakah kita? Atau si anjing? Tapi, masa iya saya juga harus menggonggonginya balik. Akhirnya saya berdiam, menatapnya, dan memutuskan kembali berjalan. Jika saya meladeninya, rasanya percuma, hanya akan buang-buang waktu.
Anjing itu tertinggal di belakang, masih terdengar sayup-sayup suara gonggongannya. Ada sesuatu yang memang harus ditinggal seperti itu. Abaikan saja. Perihal anjing, tak semuanya menggonggong galak. Di dekat rumas saya tinggal, ada anjing dengan kaki pendek yang sering mendekat. Ekornya yang juga pendek mengibas-ibas. Saya tahu dia mengajak bermain.
Saya melanjutkan jalan. Matahari semakin tinggi. Panasnya semakin terasa hangat. Aku menikmatinya. Saya bukan tipe orang yang bisa menikmati cuaca panas sebenarnya. Panas cepat sekali membuat saya mendidih. Pusing. Tapi hujan, sering membuat saya bahagia. Saya ingat benar, sewaktu SMP saya sering pulang kehujanan saat musim hujan. Setengah jam saya naik sepeda tanpa payung. Terkadang, bukan karena saya tak membawa payung. Tapi karena teman pulang saya tak membawa. Begitu juga sebaliknya. Saya tak tahu mengapa saya begitu, tapi saya senang kami kehujanan bersama. Sekarang, jika dipikir, jarang sekali saya bersikap seperti itu. Tak terlalu bayak orang di sekitar saya yang mampu membuat saya bertindak bodoh. Entah saya terlalu berlogika atau memikirkan perasaan, banyak perlakuan mereka yang menghentikan saya. Dan saya tak ingin pura-pura bersikap peduli. Pura-pura membuatmu lelah.

Ketika saya tersadar, ternyata langkah saya tak kemana-mana. Ini malam. Dan saya menikmati sebuah lagu jepang dan cuaca yang biasa, membunuh kebosanan. Oh iya, saya sedang belajar membunuh kebosanan yang sering singgah tanpa permisi. Semoga besok atau lusa, saya bisa benar-benar berjalan kaki. Berharap, seseorang kawan yang klik dengan saya bisa menemani. Ah, bicara tentang apa saya sebenarnya.

Selasa, 12 September 2017

Jeda

Hei, Nung, biarlah kali ini aku memanggilmu dengan nama kecilmu.
Jedalah sebentar jika kau merasa waktu yang berputar tak memberimu kesempatan beristirahat. Karena sang waktu, dia memang akan terus berputar. Kesempatan itu, jika orang-orang di sekitarmu tak memberikannya padamu, kenapa kau bersedih? Bukannya kau tahu kepada siapa kau harus meminta? Buatlah jeda setiap hari, berbicaralah kepadaNya. Kau tahu persis yang harus kau lakukan. Buatlah kesempatan itu ada.
Aku tahu, yang paling kau benci adalah ketika kau mengatakan sesuatu ke orang lain, tapi kau sendiri tak melakukannya, menuliskannya untuk orang lain tapi kau sendiri tak menggenapinya. Bukannya itu alasan kau menulis judul blog ini, menulis, menegur diri-sendiri, karena kau ingin dengan tulisanmu kau lebih bisa menghandle dirimu sendiri. Syukur-syukur kalau ada orang lain yang membaca dan bisa menjadi lebih baik.
Kau percaya bahwa musuh terbesar dalam hidup adalah egomu sendiri. Seperti berpuasa yang akhirnya kau mulai menyadari betul maknanya. Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tapi lebih pada bagaimana kau menahan nafsu yang ada pada dirimu. Hidup memang tentang mengalahkan diri sendiri. Aku tahu, sesekali kau ingin sekali membalas orang-orang yang mengganggumu. Tapi, jika melepas emosi hanya akan membuatmu menyesal kemudian, maka diamlah. Bahkan diam adalah salah satu cara membalas yang paling menyakitkan. Kumohon, belajarlah menahan emosi.
Hei, aku tahu persis kau mulai merasa kehilangan orang di sekelilingmu. Kadang, suatu kali kau ingin tinggal di satu waktu dengan orang-orang terdekatmu. Hei bro, pesta saja ada usainya lho. Hidup ini, memang bukanlah pesta yang penuh semarak setiap saatnya. Oh iya bro, kebahagiaanmu itu tanggung jawabmu lho. Maka pilihlah bahagia dengan apa yang ada di sekelilingmu. Mulailah merasa bahagia atas kebahagiaan orang lain. Aku tahu persis, dalam hati dasarmu kau selalu merasa bahagia untuk orang lain.
Hei, jedalah sebentar jika kau merasa mulai lelah. Dalam hidup, kadang kau merasa kehilangan arah dan ingin menangis. Jedalah sebentar. Dengarkan suaramu, apa sebenarnya yang terlewat. Dan mulailah berjalan lagi. Buatlah hatimu senang melakukan banyak hal. Hidup adalah anugerah. Maka, kau harus banyak bersyukur.
Akan ada waktu yang tepat untuk sesuatu yang istimewa. Kau tahu itu. Jangan pernah lelah untuk berdoa dan berikhtiar. Semoga, kau tak pernah lelah belajar menjadi manusia, sebaik-baik manusia.
Dan padamu, dirimu yang berumur dua belas tahun, terima kasih telah merasa kehilangan, terima kasih karena beberapa waktu lalu kau bisa mengucapkan selamat tinggal pada ketakutan akan kehilangan. Tidak apa kau telah menghabiskan waktu yang lama, setidaknya, akhirnya kau mulai tahu bagaimana cara untuk mencintai. Dan, teruslah belajar mencintaiNya.
Selamat mengulang tahun, semoga umurmu semakin berkah. Semoga tak ada kebosanan yang menggerogotimu lagi.  Ya Allah, tolong atur hidupnya. Rabbi laa tadzarni fardan. Ya Allah, jangan biarkan aku sendiri.
Gunung Mas, 12 September 2017

Kamis, 01 Juni 2017

Saya suka gitu

Pernah dengar kalimat ini, “saya suka begitu”.  Suka di sini bukan berarti menyukai, tapi lebih karena sebuah kebiasaan. Misal ni, kita punya sifat suka keras kepala, terus kita bilang ke orang lain yang kita keras kepala-in, “sorry, saya suka begitu”. Nah ini nih, yang menurut saya kadang salah. Kita tahu sifat dalam diri kita jelek, tapi kita membela diri dengan kata-kata itu. Seolah olah orang lain harus selalu maklum dan paham pada sifat kita. Kalau lagi khilaf, jika ad orang yang berbuat seperti itu pada saya mungkin akan saya balas dengan sifat keras kepala juga. Endingnya, tinggal bilang aja, “sorry, saya suka gitu orangnya”.
Maka, mengenali sifat diri sendiri itu penting. Tak usahlah mempertahankan sifat sifat yang buruk. Susah memang. Sangat susah malah. Saya rasa, saya sendiri sekarang tingkat cuek pada orang yang sifatnya tidak saya sukai atau sering menyakiti hati cenderung tinggi. Dengan cuek, saya pikir apapun yang dilakukannya tak akan membuat saya resah. Maafkan sifat saya yang satu ini. Padahal jika boleh jujur, saya sendiri tetap resah dengan bersikap seperti itu. Tapi…. Tuh kan, belum-belum sudah pembelaan lagi.
Padahal kan kalau mengutip lagunya Tulus, ada tuh yang “jangan cintai aku, apa adanya, jangaaann, tuntutlah sesuatu, biar kita maju ke depan..”
Iya, kalau kita sayang pada orang kan pasti pengennya baik orang itu maupun kita bisa menjadi lebih baik. Faktor lingkungan memang punya peran yang penting dalam membentuk karakter. Misal nih, kitanya sudah baik, tapi teman teman kita kurang, itu jadi  beban tersendiri. Karena kita tak berada dalam satu anak tangga yang sama. Membantu mereka sampai pada anak tangga yang kita pijak  juga bukan hal yang mudah jika mereka alas untuk beranjak. Mungkin pada saat itu kita harus pergi dari mereka, jika memang kita sudah tak sanggup. Tapi jika kita punya teman yang mengajak untuk memperbaiki sifat kita, pegang mereka erat erat. Menjadi diri sendiri itu penting, tapi menjadi diri sendiri dengan “sifat yang lebih baik” itu lebih penting.

Sabtu, 06 Mei 2017

Berpikiran sempit


Dulu, sewaktu saya baru lulus SMA, saya pernah bertanya kepada seorang teman.
“Kenapa kamu mengambil jurusan itu, bukankah nantinya akan sulit mencari pekerjaan?” tanya saya.
“Karena saya menyukainya,” jawabnya sambil tersenyum.
Seiring waktu, kami sudah lulus kuliah.  Bertemu banyak orang membuat saya sadar, betapa sempitnya pemikiran saya dulu. Seseorang pernah bercerita pada saya, bahwa dia membebaskan anaknya untuk mengambil jurusan kuliah apapun. Bukankah semua jurusan itu  ada ilmunya. Jika semua orang memilih menjadi dokter, lalu siapa yang akan mengurus perekonomian negara ini, jika semua orang menjadi ekonom, lalu siapa yang akan menjadi pendidik di negara ini. Semua ada porsinya masing-masing.
Ya, yang paling sulit bukan tentang mengalahkan orang lain, tapi mengalahkan rasa lebih tahu, padahal kita tak tahu apapun. Teman saya itu juga sekarang sudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai bidangnya.

Kopi pagi ini terasa lebih manis. Jika ditelisik, bukankah kopi yang saya minum juga bukan hanya dari kopi saja, ada gula, krim, yang menjadikan rasanya lebih seimbang, lebih pas di lidah saya. Semua ada perannya masing-masing.

Rabu, 26 April 2017

hujan

kau tahu apa yang kusukai dari hujan?
aromanya
bunyinya
perasaan yang timbul karenanya


Senin, 24 April 2017

rasa sakit

hal yang paling menyakitkan dibanding disakiti orang lain adalah
melihat orang yang disayangi disakiti orang lain


Jumat, 21 April 2017

Hadiah

bahwa Allah menempatkanmu di tempat sekarang
bukanlah sebuah kebetulan

Minggu, 16 April 2017

Kenapa Harus Membaca?

-dokumentasi pribadi-

Dalam sebulan terakhir, berapa buku yang sudah kau baca? Jika sebulan terlalu singkat, berapa banyak buku yang kau baca dalam setahun? Apakah kau bisa menghitung jumlahnya atau tidak?
Sejak kecil, saya suka membaca. Maka, buku menjadi sebuah harta karun bagi saya, menjadi barang berharga. Karena orang tua saya tidak selalu sanggup membelikan buku-buku yang saya inginkan, perpustakaan menjadi salah satu tempat yang saya syukuri keberadaannya. Terlebih ketika buku-buku baru masuk dan dipajang di rak. Saat istirahat, sering kali saya memilih untuk pergi ke perpustakaan bersama teman yang juga suka membaca daripada mengobrol di kelas.
Dulu, menurut saya, banyak anak-anak sekolah yang menganggap perpustakaan adalah tempat bagi mereka yang kuper. Padahal sebenarnya tidak. Membaca sungguh membuka wawasan dan pola pikir seseorang. Ada sebuah perkataan yang sangat saya sukai.
“Semakin muda manusia membaca karya sastra, semakin lenturlah hatinya dan semakin kayalah pikirannya, semoga kebijaksanaan pun mengikutinya.” (Marliana Kuswanti)
Saya sangat setuju. Membaca membuat seseorang menjadi lebih bijak. Terlebih jaman sekarang, dimana berita hoax sering kali tersebar, tak jarang orang memilih langsung percaya tanpa mau mencari lebih lanjut.
Jika saya pikir-pikir, kenapa saya suka mengobrol dengan orang yang jauh lebih tua dari saya, katakanlah, seperti seorang bapak-bapak yang saya temui dalam perjalanan saya kembali ke tempat rantau (kau bisa membacanya dipostingan saya sebelumnya) adalah karena orang-orang seperti itu sangat bijak. Pengalaman hidupnya di berbagai tempat yang tentunya jauh lebih banyak dari saya, membuatnya menatap hidup lebih luas.
Lalu, bagaimana caranya jika kita tak mempunyai kesempatan untuk merantau ke berbagai tempat seperti mereka? Maka, jika kau berada di posisi seperti itu, jawabannya adalah kau harus membaca. Bacalah. Apapun itu. Novel, buku-buku agama, buku-buku pengetahuan, majalah, dan lain-lain. Jangan beralasan kau berada di tempat yang tak tersedia toko buku. Apa kau tak mengenal bahwa sekarang adalah era digital. Buku-buku banyak sekali tersedia dalam aplikasi membaca. Walaupun terkadang, membaca dari sebuah buku langsung lebih enak daripada membaca di e-book.
Membaca membawamu ke berbagai tempat, ke berbagai peristiwa, megaduk perasaanmu berbagai rupa. Itulah salah satu pengganti karena kadang kala kita tak bisa berkelana jauh. Membuatmu mempelajari banyak hal tanpa harus beranjak.
Hal yang paling saya sukai dari membaca adalah membuat kita menjadi lebih kalem dalam menanggapi keadaan. Tak jarang, ada beberapa orang yang saya temui, kalo sudah berpendapat, keukeuh (nulisnya gini bener nggak sih) banget. Merasa bahwa apa yang dia kemukakan adalah yang paling benar. Dialah yang paling tahu. Dan kadang, esoknya, dia mengklarifikasi pendapatnya ternyata salah.

Yuk, yuk, budayakan membaca. Karena saya yakin, membaca membuatmu menjadi lebih baik.

Selasa, 04 April 2017

DL

-Pantai Jetis, dokumentasi pribadi-

Beberapa waktu terakhir, terlintas dalam pikiran, kenapa aku tak membuat DL untuk apa yang harus kulakukan. Selama ini, yang paling sering terjadi hanyalah adanya “list to do” tapi jarang terlaksana. Di tengah banyaknya kerjaan kantor yang selalu ber-DL, kenapa aku tak membuat DL untuk diriku sendiri. Memenuhi DL orang yang ditujukan pada kita aja bisa, masa memenuhi DL yang kita tentuin sendiri tidak bisa. Dan aku harus membuat DL tentang usaha-usaha yang harus kulakukan untuk meraih apa yang kuinginkan (read;mimpi), apa-apa yang harus kuperbaiki dari dalam diriku (this is the most important thing). Seseorang pernah berkata padaku, “dalam bekerja aja kita ada jenjang karirnya, masa dalam ilmu agama tidak”. Yuk, bergerak maju. Yuk, membuat DL. Karena kita tak tahu kapan DL umur kita tiba.  

Senin, 03 April 2017

jarak

-dokumentasi pribadi-

Ada yang datang, ada yang pergi. Pun ada yang tetap tinggal, walau hanya sedikit. Melepasnya menyambut episode baru, rasanya seperti melepasnya ke tempat yang tak bisa dijangkau. Berjarak.
Sepi. Aku menanti.
Dia, yang bersamanya aku bisa menjadi versi terbaik diriku.

Semoga, jarak itu semakin dekat.

Rabu, 22 Maret 2017

Cerita-cerita tentang Borneo

depan kantor -dokumen pribadi-
Tulisan ini sebenarnya ingin saya buat sejak lama. Lalu akan saya publish tepat satu tahun saya berada di kota ini, tempat saya tinggal sekarang. Tapi, apalah daya, ternyata saat itu saya belum bisa menuliskannya. Penyebabnya, saya lupa.
Datangnya saya ke kota ini berawal dari tempat saya menimba ilmu. Namanya juga sekolah gratis, ya kalau disuruh kerja di mana ya nurut tho? Hal ini pun sudah saya tahu sejak awal, karena pada saat pertama kali masuk, saya sudah menandatangani surat perjanjian ikatan dinas yang salah satu isinya bersedia ditempatkan di mana saja di wilayah NKRI.
Bulan April tahun 2015, menjadi kali pertama saya naik pesawat. Yang pertama memang selalu mengesankan. Kalau tidak mau dibilang ndeso. Saya ingin sekali duduk di bagian dekat jendela agar bisa melihat awan. Melihat bangunan-bangunan di sekitar bandara Soekarno Hatta yang makin lama semakin kecil saat pesawat yang mulai meninggi. Ternyata, bangku yang saya duduki tidak sejajar dengan jendela. Ya, masih bisa mengintip di jendela bangku depan. Itupun hanya sebentar, karena selanjutnya jendela itu ditutup oleh penumpang yang duduk di samping jendela itu. Hahaha. Padahal sekarang, ketika tak menemukan seseorang untuk mengobrol saat di perjalanan, saya lebih memilih tidur.
Kota, sebenarnya kabupaten sih, saya memang memilihnya menjadi salah satu pilihan saya. Setelah dua kota lainnya yang saya pilih tidak diterima. Jika saya ingat, kelemahan saya dari sejak SD di pelajaran IPS ternyata membawa dampak. Saya menginginkan daerah yang memiliki pantai. Dan parahnya, pada saat membuka peta, saya hanya membuka provinsi tertentu, saya pikir kabupaten bagian pinggir adalah wilayah yang ada pantainya. Padahal kabupaten itu masih berbatasan dengan wilayah lain. Borneo banyak daratannya bro.
Setelah tiba di kabupaten, saya merasa ada yang salah dalam diri saya. Walaupun saya bertemu dengan orang-orang yang baik, saya merasa diri saya ingin pulang. Saya belum menemukan rumah di sini. Saya rindu rumah. Galau. Saya ingat perkataan saya ke Ibu, yang beberapa kali diulang Ibu ketika saya sedang mengeluh ingin pulang. Dulu sekali, saat masih kuliah, saya berkata bahwa saat saya bekerja nanti, saya ingin di luar Jakarta. Jakarta sudah terlau sesak. Walaupun nyatanya saya merindukannya kadang-kadang. Karena pulau jawa sudah tak menampung, berarti saya akan ke luar pulau. Ketika Ibu mengembalikan kalimat itu ke saya, saya hanya bisa menjawab bahwa bukan ini yang saya maksud. Pada akhirnya, saya butuh beberapa waktu untuk membuat diri saya nyaman.
Ternyata, kota tempat saya tinggal, walaupun di ibukota kabupaten tapi tingkat keramaiannya hampir sama dengan tingkat kecamatan di kabupaten asal saya. Jalanan terasa lengang. Bahkan saya pernah kaget mendapati tiba-tiba jalanan menjadi ramai. Ternyata ada iring-iringan kematian. Di sini, anak-anak sekolah banyak yang berjalan kaki. Tak ada angkutan umum. Bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan bermotor, atau tidak di antar jemput orang tuanya, mereka berjalan kaki dari rumah ke sekolah dari anak-anak tingkat SD sampai SMA. Jangan bayangkan jalanan yang lurus. Sepengamatan saya, jalanan di kota ini naik turun. Dan panasnya jangan tanyakan, jika di pulau jawa daerah pegunungan adalah daerah yang dingin, daerah yang banyak bukitnya di sini tidak ada hawa dinginnya. Di sini saya merasa langit terasa lebih dekat. Mungkin karena mendekati garis khatulistiwa, kota ini memiliki cuaca yag cenderung panas.
Tapi, ada hal yang saya sukai. Di kota ini, saya melihat banyak pelangi. Cuaca yang seringkali berubah, dari panas terus turun hujan, membuat pelangi sering muncul. Pelangi setengah lingkaran. Pemandangan yang selalu membuat saya bersyukur.
Soal makanan, masyarakat di sini sangat plural, ada jawa, dayak, banjar. Tapi, bicara soal lidah, memang sangat dipengaruhi lingkungan di mana kita tumbuh. So, masakan jawa is the best for me. Di sini saya pertama kali mencoba masakan dayak dan banjar. Ada sayur kuning yang isinya berasal dari pelepah pisang. Ada pula sayur yang terbuat dari pisang muda yang dimasak sekulit-kulitnya. Rasanya lumayan enak. Kalau untuk ikan, di sini banyak ikan-ikan sungai, enak rasanya. Tapi ya itu harganya mahal. Berbicara tentang mahal, barang-barang di sini cenderung mahal. Yang pertama membuat saya kaget adalah harga sayuran. Bisa dua kali lipat dibanding di jawa.
Sekian dulu, nantikan tentang Borneo selanjutnya.

Jumat, 10 Maret 2017

Film : Nil Battey Sannata

Sumber: google


Judul                     : Nil Battey Sannata
Kategori                : Drama, Keluarga
Rilis                       : 22 April 2016
Pemain                   : Pankaj Tripathy, Ratna Pathak, Riya Shukla, Swara Bhaskar
Negara                   : India
Durasi                    : 1 jam 36 menit               

Haii, kali ini saya ingin mengulas sebuah film. Film ini menjadi pilihan untuk ditonton saat melihat rating nya lumayan tinggi. Dan, this movie is really worth to watch! Selain film yang bergenre komedi, petualangan, salah satu film yang saya sukai adalah yang bergenre keluarga. So, ayo kita mulai.
Film india biasanya memiliki durasi yang cukup panjang, bisa sampai dua, tiga, atau bahkan empat jam. Tapi film ini memiliki durasi 1 jam 36 menit, sama seperti film-film lainnya.
Film ini mengisahkan tentang seorang anak perempuan yang tinggal hanya bersama ibunya. Untuk menghidupi keluarga, sang Ibu bekerja sebagai pembantu di sebuah keluarga yang berprofesi sebagai dokter, Dr Deewan. Selain itu dia juga bekerja di tempat lain sebagai buruh untuk menambah penghasilan. Sang anak, yang bernama Appu, terkenal sebagai murid yang sering terlambat dan memiliki peringkat yang buruk di kelasnya. Suatu malam, saat menjelang tidur, Appu menceritakan bahwa temannya sangat beruntung. Dia akan menjadi supir, sama seperti ayahnya. Lalu Ibu Appu bertanya, apa cita-cita Appu, apakah dia pernah memikirkannya.
Keesokan harinya Ibu Appu terus memikirkan akan menjadi apa Appu kelak. Apakah cita-cita Appu? Saat ditanyai lagi, Appu menjawab dengan malas. Seorang anak dokter akan menjadi dokter, seorang anak insinyur akan menjadi insinyur, dan ia yang hanya anak pembantu tentu saja akan menjadi pembantu. Ibu Appu marah, apakah pemikiran seperti itu yang membuat Appu hanya bermalas-malasan setiap harinya. Ibu Appu bercerita pada Dr Deewan, bagaimana ia bisa mengubah anaknya. Untuk mengajari anaknya langsung, ia tidak terlalu pintar. Lalu, muncullah ide agar Ibu Apu ikut bersekolah di tempat Appu dan di kelas yang sama. Pagi ia akan berberes di rumah Dr Deewan, kemudian ke sekolah, dan bekerja di beberapa tempat samai larut malam. Ia juga mendatangi seorang rumah kolektor, menanykan jurusan kuliah apa yang harus diambil agar anaknya bisa menjadi seorang kolektor.
Appu pun sangat terkejut melihat ibunya. Ia memohon agar ibunya tak kembali ke sekolah dan ia berjanji akan rajin belajar. Ibu Appu hanya mau berhenti jika pada ujian yang akan datang Appu bisa mengalahkan nilainya. Dan, tara, Appu berhasil. Ibu Appu sangat senang. Ia berpikir Appu akan mau melanjutkan kuliah, mengambil ujian UPSC dan menjadi seorang kolektor. Tapi pemikiran Appu tak berubah. Appu belajar hanya untuk menghentikan ibunya ke sekolah. Ia menyangka ibunya menyuruhya menjadi seorang kolektor karena ibunya tak bisa mencapainya sendiri. Juga untuk apa dia melanjutkan sekolah kalau ibunya tak bisa membiayainya. Ibu Appu sangat marah. Esoknya Ibu Appu kembali bersekolah. Appu yang sangat sebal menghabiskan semua tabungan ibunya untuk hura-hura. Terlebih ketika ia mendapati ibunya diantar oleh seorang laki-laki. Kelakukan Appu sangat membuat marah ibunya. Bahkan Ibu Appu esoknya tak lagi pergi ke sekolah.
Esoknya di sekolah, semua murid disuruh untuk menuliskan esai tentang cita-cita mereka. Appu hanya menjawab, bahwa orang miskin tak punya hak untuk bermimpi, ketika temannya menanyai apa cita-citanya. Bahkan guru Appu mengatakan, mungkin hanya Appu satu-satunya wanita yang tidak memiliki impian, ketika esoknya hanya Appu yang tidak menulis esai. Dalam hati, Appu sebenarnya merasa tak nyaman. Lalu, malamnya, ia ditunjukkan salah seorang temannya, seorang anak laki-laki pintar yang sering membantu Ibu Appu belajar, di mana Ibu Appu bekerja dan siapa laki-laki yang mengantarnya pulang.
Film ini ditutup dengan adegan Appu mengikuti tes UPSC. Setelah Apu tahu bagaimana ibunya bekerja keras untuknya selama ini, Appu berusaha keras meraih sebuah mimpi. Ketika ditanya, kenapa dia mengikuti ujian itu oleh salah seorang juri, Appu menjawab, karena ia tak mau menjadi pembantu.
Film ini memberikan banyak sekali pelajaran. Terutama tentang mimpi, harapan, dan cita-cita. Ingat perkataan Appu, “Orang miskin tak punya hak untuk memiliki mimpi.” Big NO. Semua orang berhak untuk memiliki mimpi dan mengusahakannya. Bukan karena, orang tuaku bukan seorang yang berprofesi sebagai ‘ini’ bagaimana mungkin aku bisa berprofesi ‘ini’. Mungkin suatu kali kita terpikir, “ah, dia mudah saja meraih hal itu, kan orang tuanya begini begitu.” Percayalah, memiliki orang tua yang bisa mendukung secara materi dalam meraih sebuah impian, hanyalah salah satu bonus. Jika seseorang tak mau berusaha, sia-sialah bonus itu. Dan jika kita jeli melihat, masih banyak jalan yang bisa memberimu bonus-bonus yang lainnya. Asal kita mau berusaha. Orang-orang sukses di luar sana pasti punya perjuangannya masing-masing. Rasa pahit dalam berjuang? Menurut saya pasti ada, hanya saja kadang kala mereka tak bercerita dan kita tak mengetahuinya.
Film ini juga memberikan pesan, bagaimana besarnya rasa sayang orang tua terhadap anaknya. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Ketika kau ingin berbuat ‘nakal’ ingatlah kata-kata ini.
“Mungkin kamu tidak mengharapkan apa-apa pada dirimu, tapi dia (Ibumu) berharap banyak padamu. Dia tidak memaksakan impiannya padamu, karena kamulah impiannya. “ (Teman Appu)
Dan kata-kata yang paling saya sukai dalam film ini,
“Sebenarnya, mereka yang tidak punya impian, adalah yang sangat miskin.” (Chanda Sahay, Ibu Appu)

Yess, mimpi adalah sesuatu yang menjadikan kita lebih hidup.

Minggu, 26 Februari 2017

Its okay, sepanjang itu bukan saya

Menjadi semakin dewasa, yeah, I am an adult now, ternyata membuat saya semakin banyak berpikir tentang diri saya. Sudah pernah kubilang kan kalau saya suka berpikir, actually, there are so much thing that’s just come to my mind, tapi pemikiran itu menjalar, dari satu hal ke hal yang lainnya. Saya pernah berpikir bahwa setiap orang sebenarnya memiliki sisi egois, entah dia terendap menjadi sifat yang berada di lapisan paling bawah, di bagian tengah, atau bagian atas sehingga sangat terlihat. Mungkin, sifat-sifat dalam diri manusia tumpang tindih
Apa kalian pernah berpikir, ketika sesuatu yang—yaahh katakan saja tidak terlalu baik, its okay, sepanjang itu bukan saya. Ya, tak apa-apa hal itu terjadi, sepanjang hal itu tidak terjadi pada saya. Egois? Tak punya hati? Kejam memang kedengarannya? Tapi, sialnya hal ini sering menghampiri saya akhir-akhir ini.
Terkadang, pada saat menonton drama, seorang pemeran utama yang memiliki sifat penolong dan sifat-sifat terpuji lainnya, dan melihat orang lain kesusahan, mereka berkata pada diri-sendiri “itu bukan urusan saya, saya tak harus menolongnya.” Lalu, beberapa saat kemudian, dia pasti akan menghentikan apapun yang dia lakukan untuk menolong. Pada saat itu, apa yang sebenarnya mereka lakukan?
Berbuat baik pada diri sendiri. Saya pikir itu jawabannya. Dari pertolongannya itu, menolong orang lain bukanlah hal pertama yang dia lakukan. Tapi dia sedang berbuat baik pada dirinya sendiri. Membuat hatinya yang resah melihat orang lain kesusahan menjadi tenang. Membuat penyesalan yang mungkin akan dia rasakan nantinya karena dia tidak menolong orang tersebut menjadi tak ada. Kau pernah merasa gelisah atas suatu hal karena tak menolong saat melihat orang lain kesusahan?
Sama seperti pemikiran saya bahwa setiap orang memiliki sifat egois, saya meyakini bahwa pada dasarnya setiap orang adalah orang yang baik. Ketika kau meyakini bahwa kau adalah orang yang baik, jangan pernah mengecewakan dirimu dengan hal-hal yang tidak baik. Nah, soal baik ini, akhir-akhir ini saya sedang menerapkan pada diri saya, jangan khawatir menjadi terlalu baik. Jadilah orang baik yang cerdas, baik pada orang tapi jangan mau ditipu. Kebaikan yang kita lakukan pada orang lain, mungkin kita tak mendapatkannya kembali dari mereka.
Terkadang saya mendengar perkataan, kenapa saya harus baik pada dia, padahal dia seperti itu pada saya. Ya, saya juga merasakannya. Saya seperti ini padanya, tapi dia setega ini pada saya. Saya pernah merasa kekecewaan yang sangat pada seorang teman. Tak pernah ada dalam persangkaan saya bahwa ia akan berkata seperti itu. Bahwa pada akhirnya ketika hal yang membuatnya susah bukan berasal dari saya, tak ada ucapan maaf sama sekali. Saya mengingatnya jelas hingga sekarang. Saya mungkin sudah memaafkannya, tapi saya tak bisa melupakannya. Hal inilah yang membuat saya belajar, bahwa ketika kita membuat luka pada orang lain, hal itu sulit sekali untuk dilupakan. Maka sebisa mungkin, saya akan hati-hati untuk tidak melukai orang lain.
Tak peduli. Ternyata, saya menggunakan sikap tak peduli saya untuk melindungi diri. Saya tak ingin kecewa olehnya lagi, maka saya memutus sikap peduli saya padanya. Saya tahu, harusnya saya tak seperti itu. Tapi saya belum bisa. Ketika saya merasa terlalu tak nyaman dengan seseorang karena apa yang dia lakukan pada saya, saya hanya akan mengangganya orang asing. Benar, rasa kecewa yag sangat tidak datang dari orang asing, tapi orang yang kita anggap dekat. Jika dia adalah orang lain, saya tak akan merasa terganggu dengan sikapnya. Itulah yang saya lakukan. Untuk yang satu ini, saya masih belum mendapatkan solusi lain untuk diri saya.
Mungkin hidup memang tentang belajar. Tak peduli berapapun usia, saya masih harus banyak belajar. Belajar menimbulkan sifat-sifat baik dan membuatnya superior, menenggelamkan sifat-sifat buruk agar ia tak timbul. Tak usah pedulikan apakah seseorang akan membalas hal-hal baik yang kau lakukan pada mereka, sepanjang hal itu tidak menyakiti hati sendiri, maka lakukanlah.  Its okay, sepanjang itu bukan saya? No. Tidak seperti itu. Its okay, sepanjang saya bisa membantu dan saya merasa nyaman melakukannya.

Selasa, 14 Februari 2017

Pare, Kopi, dan Segala Rasa Pahit


Aku belajar rasa pahit dari Ibu. Dari rasa pahit sayur pare yang sesekali ia sajikan di atas meja. Yang kemudian bertambah sering karena aku menyukainya. Pahitnya ternyata tak seburuk yang aku pikirkan.

Aku juga belajar rasa pahit dari Bapak. Dari kopi hitam yang selalu ia santap setiap jam lima pagi. Lalu, aku tertular menyukainya. Pahit memang, tapi membuatku cerlang. Bahkan akan sangat menyenangkan menikmatinya bersama hujan.

Pare dan kopi. Aku menyukai keduanya. Juga rasa pahit yang ada di dalamnya.
Lantas, kenapa aku harus benci saat perjalanan hidupku ada yang terasa pahit. Dibalik rasa pahit bukankah manis yang kita rasa selanjutnya akan terasa lebih manis. Itulah award yang kita terima. Menaikkan level suatu “bagian” dalam diri kita. Setelah “pahit” yang kita rasa, kita bisa menjadi diri yang lebih bijak, lebih dewasa, dan menyukuri apa yang kita miliki.

Dan, jika ada segala rasa pahit dalam hidup ini, telan dan habiskan saja, seperti saat kau menikmati secangkir kopi hingga tuntas.