Menikmati sebuah
perjalanan dengan ditemani orang asing kadang menjadi hal yang menyenangkan.
Aku tak tahu bagaimana dia dan dia tak tahu bagaimana aku. Kita bisa mengobrol
tentang apapun. Bahkan tentang hal-hal yang tak bisa kita bicarakan dengan
orang yang kita kenal. Dalam sebuah film (lupa judulnya), film ini tentang
sebuah keluarga dan salah satu pemainnya sering mengobrol dengan orang asing yang
ditemuinya di perpustakaan, ada salah satu ucapan yang aku sukai.
Karena ada hal-hal yang tak bisa selalu kita
katakan dengan keluarga. Begitulah sebuah keluarga bisa bertahan. Dengan tidak
menyakiti satu dengan yang lainnya. Dan mungkin membicarakan hal tersebut
dengan orang asing adalah hal yang menyenangkan. Orang yang tak memiliki
ekspektasi tentang apa yang akan kita katakan dan apa yang kita lakukan. Orang
yang mungkin tak bisa kita temui lagi.
Dalam perjalanan
kembali ke tempat rantau kemarin, sebenarnya aku sedikit was-was karena pesawat
yang akan kunaiki telat dari jadwal yang seharusnya. Dari yogya aku akan
terbang ke Surabaya dan transit untuk melanjutkan perjalanan ke palangkaraya.
Bagaimana jadinya bila pesawat yang kunaiki telat sampai satu jam padahal
jadwal transit di Surabaya hanya satu jam setengah. Untunglah setengah jam
setelah menunggu peswat itu datang dan kami langsung dipersilahkan naik.
Aku disambut
oleh senyum ramah seorang bapak-bapak yang usianya kutebak lebih dari lima
puluh tahun. Dia bangkit dan mempersilahkanku duduk (tempat dudukku dekat
jendela). Lalu obrolan khas dua orang asing yang bertemu pun dimulai. Awalnya
bapak itu mengira aku kuliah di jogja dan akan pulang kampung ke Surabaya
(mungkin mukaku masih kelihatan muda, yesss). Kujelaskan aku sudah bekerja di
salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah. Bapak itu ternyata juga akan ke
Palangkaraya dan menaiki pesawat yang sama denganku.
Dan sebuah
obrolan pun dimulai. Awalnya aku menahan rasa kantuk karena lelah setelah
beberapa jam menempuh perjalanan dari Purworejo ke Bandara Adi Sutjipto
Yogyakarta dengan dibonceng sepeda motor oleh sepupu (akibat kurang grecep
nyari tiket Damri bandara purworejo-yogya). Sungguh, Bapak itu memiliki wawasan
yang luas dan pemikiran yang terbuka. Dia menanyaiku apakah aku akan menetap di
Kalimantan Tengah. Dan kujawab jujur tidak. Aku ingin kembali ke pulau Jawa.
Kenapa? Tanyanya lagi. Semua keluargaku di sana. Loh, kau kan masih bisa
pulang? Aku hanya menjawabnya sambil tersenyum (Kupikir, senyum adaalah jawaban
terbaik ketika apa yang kita pikirkan tidak sejalan dengan lawan bicara kita.
Dan orang asing tak pernah memaksakan pendapatnya. Ada sebuah toleransi yang
terwujud. Itulah yang membuatku senang mengobrol dengan orang asing yang
menyenangkan). Lalu, dia bercerita bahwa dia membebaskan anak-anaknya untuk
menetap dimana saja.
Bapak tersebut
ternyata dulu juga bersekolah di salah satu perguruan tinggi kedinasan (sama
denganku). Aku tak mau jadi pengangguran, begitu pikirnya. Dan katanya dia bejo
karena terpilih menjadi salah satu dari tujuh orang yang diterima. Padahal
pendaftarnya puluhan. Orang pinter kadang dikalahkan sama orang bejo, begitu
tuturnya sambil tertawa. Right, Sir. Dengan
sekolah di kedinasan dia akan meringankan beban oran tuanya. Dan yang membuatku
sedikit berkaca-kaca teringat ibuku karena perkataannya, “Yang cerdas
sebenarnya bukan kita, tapi orang tua kita. Orang tua saya adalah orang desa,
yang bahkan tak pernah kemana-mana, tapi dia bisa mendidik saya menjadi orang
yang baik. Dia tahu cara membedakan mana uang yang menjadi haknya dan mana yang
bukan. Orang-orang di luar sana yang punya pendidikan tinggi bahkan belum tentu
bisa.” Ibuku sendiri pernah berkata bahwa ia tak bisa memberiku harta yang
banyak, tapi dia akan mengusahakan agar aku memiliki banyak ilmu, dan yang
selalu ia ingatkan padaku adalah jangan pernah meninggalkan yang lima waktu.
Pekerjaannya di bidang penerbangan
mengantarkannya ke banyak tempat. Bapak tersebut bekerja di sebuah perusahaan
penyewaan helikopter. Dia pernah menjelajah Papua. Lantas, pernah mengusahakan
pembangunan jalan raya dari salah satu kabupaten ke kabupaten lain (aku lupa
namanya). Tapi proyek pembangunan jalan itu harus terhenti karena masalah
pembebasan lahan yang membutuhkan biaya sangat besar. Ada warga setempat yang
meminta biaya pembebasan lahan bukan hanya ke nama pemilik lahan namun juga ke
anak, orang tua, kakek nenek, dan saudara-saudara pemilik lahan.
Bapak itu juga
menceritakan bahwa dia membebaskan anak-anaknya untuk kuliah dijurusan apa.
Salah satu anaknya memilih jurusan tentang kelautan karena ia menyukai laut.
Bapak itu tak memaksakan anak-anaknya untuk memilih jurusan beken yang ratusan
bahkan ribuan peminatnya. Bahkan kalau bisa, anaknya kuliah di jurusan yang
sedikit sekali peminatnya. “Anaknya bisa jadi “emas” di jurusan tersebut dan
persaingannya masih sedikit.” Katanya sambil terkekeh. Betul sekali, Pak. Dia
hanya berharap bahwa anaknya menikmati apapun yang dipilihnya.
Bapak itu juga
menceritakan bahwa salah satu anak didiknya yang bekerja di perusahaan yang
sama dengannya “dilamar” oleh perusahaan lain. Ketika atasannya sedikit cemas
dia hanya menjawab dengan santai “Biarkan saja. Berarti mereka mengakui hasil
didik bagus kan? Kalau yang ditawarin mau ya sudah, tinggal ngedidik lagi kan?”
Ilmu memang harus diwariskan, jangan pernah pelit sama ilmu.
Dalam obrolan
sore itu, aku lebih menjadi pendengar. Banyak sekali tema yang ia angkat.
Tentang islam saat ini. Tentang anak-anak kecil yang mampu menghapal Al-Quran
bahkan ketika mereka belum terlalu memahaminya, sebagai cara Allah SWT menjaga
kalam-Nya di dunia ini. Malu sekali rasanya ketika mendengarnya berusaha
menghapal Al-Quran dan maknanya. Dibanding bapak itu aku tidak ada apa-apanya. Tentang
seorang muslim yang mempelajari alkitab dan hapal isinya.
Dan di akhir
obrolan kami di dalam pesawat, dia memberiku pesan, “Di manapun kamu tinggal,
dengan siapapun nanti kamu menikah, apakah dia muslim atau mualaf, selalu
pegang teguh akidah islam. Buatlah misi dan tunjukkan dengan sikapmu bahwa
Islam itu lembut. Dan berdoa, semoga kita memiliki anak yang sholeh dan
sholehah. Kalau anak-anaknya nanti sholeh sholehah berarti orang tuanya juga
kan? Petani mangga saja kalau berdoa semoga mangganya manis. Kalau mangganya
manis, bibitnya juga bagus kan?” Aku tersenyum.
Sisa perjalanan
hari itu, setelah sampai di bandara Juanda Surabaya, aku terus membuntut sang
Bapak. Bahkan setelah seseorang menyapa sang bapak, kami berjalan bersama ke
peawat yang akan mengantar kami ke Palangkaraya. Dia bercerita bahwa wanita
tadi pernah bekerja sama dengannya sekali sebagai penyedia katering dan
sebenarnya dia tak akan ingat andai wanita itu tak menyapanya. Sungguhlah bapak
itu orang yang menyenangkan hingga orang yang sekali bekerja dengannya mau
menyapanya lagi di tengah hiruk pikuk bandara.
Dan kami pun
berpisah karena bangku pesawat yang berbeda. Satu yang kulupakan untuk
kukatakan padanya, “Adakah salah satu anak didiknya yang bisa menjadi imamku?”
(Hehe, tak ada salahnya bukan berusaha ;D). Semoga suatu saat kita bertemu
lagi, Pak.