Rabu, 20 Juli 2016

Orang Asing Dalam Sebuah Perjalanan

Menikmati sebuah perjalanan dengan ditemani orang asing kadang menjadi hal yang menyenangkan. Aku tak tahu bagaimana dia dan dia tak tahu bagaimana aku. Kita bisa mengobrol tentang apapun. Bahkan tentang hal-hal yang tak bisa kita bicarakan dengan orang yang kita kenal. Dalam sebuah film (lupa judulnya), film ini tentang sebuah keluarga dan salah satu pemainnya sering mengobrol dengan orang asing yang ditemuinya di perpustakaan, ada salah satu ucapan yang aku sukai.

Karena ada hal-hal yang tak bisa selalu kita katakan dengan keluarga. Begitulah sebuah keluarga bisa bertahan. Dengan tidak menyakiti satu dengan yang lainnya. Dan mungkin membicarakan hal tersebut dengan orang asing adalah hal yang menyenangkan. Orang yang tak memiliki ekspektasi tentang apa yang akan kita katakan dan apa yang kita lakukan. Orang yang mungkin tak bisa kita temui lagi.

Dalam perjalanan kembali ke tempat rantau kemarin, sebenarnya aku sedikit was-was karena pesawat yang akan kunaiki telat dari jadwal yang seharusnya. Dari yogya aku akan terbang ke Surabaya dan transit untuk melanjutkan perjalanan ke palangkaraya. Bagaimana jadinya bila pesawat yang kunaiki telat sampai satu jam padahal jadwal transit di Surabaya hanya satu jam setengah. Untunglah setengah jam setelah menunggu peswat itu datang dan kami langsung dipersilahkan naik.

Aku disambut oleh senyum ramah seorang bapak-bapak yang usianya kutebak lebih dari lima puluh tahun. Dia bangkit dan mempersilahkanku duduk (tempat dudukku dekat jendela). Lalu obrolan khas dua orang asing yang bertemu pun dimulai. Awalnya bapak itu mengira aku kuliah di jogja dan akan pulang kampung ke Surabaya (mungkin mukaku masih kelihatan muda, yesss). Kujelaskan aku sudah bekerja di salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah. Bapak itu ternyata juga akan ke Palangkaraya dan menaiki pesawat yang sama denganku.

Dan sebuah obrolan pun dimulai. Awalnya aku menahan rasa kantuk karena lelah setelah beberapa jam menempuh perjalanan dari Purworejo ke Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta dengan dibonceng sepeda motor oleh sepupu (akibat kurang grecep nyari tiket Damri bandara purworejo-yogya). Sungguh, Bapak itu memiliki wawasan yang luas dan pemikiran yang terbuka. Dia menanyaiku apakah aku akan menetap di Kalimantan Tengah. Dan kujawab jujur tidak. Aku ingin kembali ke pulau Jawa. Kenapa? Tanyanya lagi. Semua keluargaku di sana. Loh, kau kan masih bisa pulang? Aku hanya menjawabnya sambil tersenyum (Kupikir, senyum adaalah jawaban terbaik ketika apa yang kita pikirkan tidak sejalan dengan lawan bicara kita. Dan orang asing tak pernah memaksakan pendapatnya. Ada sebuah toleransi yang terwujud. Itulah yang membuatku senang mengobrol dengan orang asing yang menyenangkan). Lalu, dia bercerita bahwa dia membebaskan anak-anaknya untuk menetap dimana saja.

Bapak tersebut ternyata dulu juga bersekolah di salah satu perguruan tinggi kedinasan (sama denganku). Aku tak mau jadi pengangguran, begitu pikirnya. Dan katanya dia bejo karena terpilih menjadi salah satu dari tujuh orang yang diterima. Padahal pendaftarnya puluhan. Orang pinter kadang dikalahkan sama orang bejo, begitu tuturnya sambil tertawa. Right, Sir. Dengan sekolah di kedinasan dia akan meringankan beban oran tuanya. Dan yang membuatku sedikit berkaca-kaca teringat ibuku karena perkataannya, “Yang cerdas sebenarnya bukan kita, tapi orang tua kita. Orang tua saya adalah orang desa, yang bahkan tak pernah kemana-mana, tapi dia bisa mendidik saya menjadi orang yang baik. Dia tahu cara membedakan mana uang yang menjadi haknya dan mana yang bukan. Orang-orang di luar sana yang punya pendidikan tinggi bahkan belum tentu bisa.” Ibuku sendiri pernah berkata bahwa ia tak bisa memberiku harta yang banyak, tapi dia akan mengusahakan agar aku memiliki banyak ilmu, dan yang selalu ia ingatkan padaku adalah jangan pernah meninggalkan yang lima waktu.

 Pekerjaannya di bidang penerbangan mengantarkannya ke banyak tempat. Bapak tersebut bekerja di sebuah perusahaan penyewaan helikopter. Dia pernah menjelajah Papua. Lantas, pernah mengusahakan pembangunan jalan raya dari salah satu kabupaten ke kabupaten lain (aku lupa namanya). Tapi proyek pembangunan jalan itu harus terhenti karena masalah pembebasan lahan yang membutuhkan biaya sangat besar. Ada warga setempat yang meminta biaya pembebasan lahan bukan hanya ke nama pemilik lahan namun juga ke anak, orang tua, kakek nenek, dan saudara-saudara pemilik lahan.

Bapak itu juga menceritakan bahwa dia membebaskan anak-anaknya untuk kuliah dijurusan apa. Salah satu anaknya memilih jurusan tentang kelautan karena ia menyukai laut. Bapak itu tak memaksakan anak-anaknya untuk memilih jurusan beken yang ratusan bahkan ribuan peminatnya. Bahkan kalau bisa, anaknya kuliah di jurusan yang sedikit sekali peminatnya. “Anaknya bisa jadi “emas” di jurusan tersebut dan persaingannya masih sedikit.” Katanya sambil terkekeh. Betul sekali, Pak. Dia hanya berharap bahwa anaknya menikmati apapun yang dipilihnya.

Bapak itu juga menceritakan bahwa salah satu anak didiknya yang bekerja di perusahaan yang sama dengannya “dilamar” oleh perusahaan lain. Ketika atasannya sedikit cemas dia hanya menjawab dengan santai “Biarkan saja. Berarti mereka mengakui hasil didik bagus kan? Kalau yang ditawarin mau ya sudah, tinggal ngedidik lagi kan?” Ilmu memang harus diwariskan, jangan pernah pelit sama ilmu.

Dalam obrolan sore itu, aku lebih menjadi pendengar. Banyak sekali tema yang ia angkat. Tentang islam saat ini. Tentang anak-anak kecil yang mampu menghapal Al-Quran bahkan ketika mereka belum terlalu memahaminya, sebagai cara Allah SWT menjaga kalam-Nya di dunia ini. Malu sekali rasanya ketika mendengarnya berusaha menghapal Al-Quran dan maknanya. Dibanding bapak itu aku tidak ada apa-apanya. Tentang seorang muslim yang mempelajari alkitab dan hapal isinya.

Dan di akhir obrolan kami di dalam pesawat, dia memberiku pesan, “Di manapun kamu tinggal, dengan siapapun nanti kamu menikah, apakah dia muslim atau mualaf, selalu pegang teguh akidah islam. Buatlah misi dan tunjukkan dengan sikapmu bahwa Islam itu lembut. Dan berdoa, semoga kita memiliki anak yang sholeh dan sholehah. Kalau anak-anaknya nanti sholeh sholehah berarti orang tuanya juga kan? Petani mangga saja kalau berdoa semoga mangganya manis. Kalau mangganya manis, bibitnya juga bagus kan?” Aku tersenyum.

Sisa perjalanan hari itu, setelah sampai di bandara Juanda Surabaya, aku terus membuntut sang Bapak. Bahkan setelah seseorang menyapa sang bapak, kami berjalan bersama ke peawat yang akan mengantar kami ke Palangkaraya. Dia bercerita bahwa wanita tadi pernah bekerja sama dengannya sekali sebagai penyedia katering dan sebenarnya dia tak akan ingat andai wanita itu tak menyapanya. Sungguhlah bapak itu orang yang menyenangkan hingga orang yang sekali bekerja dengannya mau menyapanya lagi di tengah hiruk pikuk bandara.

Dan kami pun berpisah karena bangku pesawat yang berbeda. Satu yang kulupakan untuk kukatakan padanya, “Adakah salah satu anak didiknya yang bisa menjadi imamku?” (Hehe, tak ada salahnya bukan berusaha ;D). Semoga suatu saat kita bertemu lagi, Pak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar