Selasa, 14 Februari 2017

Pare, Kopi, dan Segala Rasa Pahit


Aku belajar rasa pahit dari Ibu. Dari rasa pahit sayur pare yang sesekali ia sajikan di atas meja. Yang kemudian bertambah sering karena aku menyukainya. Pahitnya ternyata tak seburuk yang aku pikirkan.

Aku juga belajar rasa pahit dari Bapak. Dari kopi hitam yang selalu ia santap setiap jam lima pagi. Lalu, aku tertular menyukainya. Pahit memang, tapi membuatku cerlang. Bahkan akan sangat menyenangkan menikmatinya bersama hujan.

Pare dan kopi. Aku menyukai keduanya. Juga rasa pahit yang ada di dalamnya.
Lantas, kenapa aku harus benci saat perjalanan hidupku ada yang terasa pahit. Dibalik rasa pahit bukankah manis yang kita rasa selanjutnya akan terasa lebih manis. Itulah award yang kita terima. Menaikkan level suatu “bagian” dalam diri kita. Setelah “pahit” yang kita rasa, kita bisa menjadi diri yang lebih bijak, lebih dewasa, dan menyukuri apa yang kita miliki.

Dan, jika ada segala rasa pahit dalam hidup ini, telan dan habiskan saja, seperti saat kau menikmati secangkir kopi hingga tuntas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar