Aku belajar rasa pahit dari Ibu. Dari rasa pahit sayur
pare yang sesekali ia sajikan di atas meja. Yang kemudian bertambah sering
karena aku menyukainya. Pahitnya ternyata tak seburuk yang aku pikirkan.
Aku juga belajar rasa pahit dari Bapak. Dari kopi hitam
yang selalu ia santap setiap jam lima pagi. Lalu, aku tertular menyukainya.
Pahit memang, tapi membuatku cerlang. Bahkan akan sangat menyenangkan
menikmatinya bersama hujan.
Pare dan kopi. Aku menyukai keduanya. Juga rasa pahit
yang ada di dalamnya.
Lantas, kenapa aku harus benci saat perjalanan hidupku
ada yang terasa pahit. Dibalik rasa pahit bukankah manis yang kita rasa
selanjutnya akan terasa lebih manis. Itulah award
yang kita terima. Menaikkan level suatu “bagian” dalam diri kita. Setelah
“pahit” yang kita rasa, kita bisa menjadi diri yang lebih bijak, lebih dewasa,
dan menyukuri apa yang kita miliki.
Dan, jika ada segala rasa pahit dalam hidup ini, telan
dan habiskan saja, seperti saat kau menikmati secangkir kopi hingga tuntas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar