![]() |
| Sumber: google |
Judul : Nil Battey Sannata
Kategori : Drama, Keluarga
Rilis : 22 April 2016
Pemain : Pankaj
Tripathy, Ratna Pathak, Riya Shukla, Swara Bhaskar
Negara : India
Durasi : 1 jam 36 menit
Haii,
kali ini saya ingin mengulas sebuah film. Film ini menjadi pilihan untuk
ditonton saat melihat rating nya lumayan tinggi. Dan, this movie is really worth to watch! Selain film yang bergenre
komedi, petualangan, salah satu film yang saya sukai adalah yang bergenre
keluarga. So, ayo kita mulai.
Film
india biasanya memiliki durasi yang cukup panjang, bisa sampai dua, tiga, atau
bahkan empat jam. Tapi film ini memiliki durasi 1 jam 36 menit, sama seperti
film-film lainnya.
Film
ini mengisahkan tentang seorang anak perempuan yang tinggal hanya bersama
ibunya. Untuk menghidupi keluarga, sang Ibu bekerja sebagai pembantu di sebuah
keluarga yang berprofesi sebagai dokter, Dr Deewan. Selain itu dia juga bekerja
di tempat lain sebagai buruh untuk menambah penghasilan. Sang anak, yang
bernama Appu, terkenal sebagai murid yang sering terlambat dan memiliki
peringkat yang buruk di kelasnya. Suatu malam, saat menjelang tidur, Appu
menceritakan bahwa temannya sangat beruntung. Dia akan menjadi supir, sama
seperti ayahnya. Lalu Ibu Appu bertanya, apa cita-cita Appu, apakah dia pernah
memikirkannya.
Keesokan
harinya Ibu Appu terus memikirkan akan menjadi apa Appu kelak. Apakah cita-cita
Appu? Saat ditanyai lagi, Appu menjawab dengan malas. Seorang anak dokter akan
menjadi dokter, seorang anak insinyur akan menjadi insinyur, dan ia yang hanya
anak pembantu tentu saja akan menjadi pembantu. Ibu Appu marah, apakah
pemikiran seperti itu yang membuat Appu hanya bermalas-malasan setiap harinya.
Ibu Appu bercerita pada Dr Deewan, bagaimana ia bisa mengubah anaknya. Untuk
mengajari anaknya langsung, ia tidak terlalu pintar. Lalu, muncullah ide agar
Ibu Apu ikut bersekolah di tempat Appu dan di kelas yang sama. Pagi ia akan
berberes di rumah Dr Deewan, kemudian ke sekolah, dan bekerja di beberapa
tempat samai larut malam. Ia juga mendatangi seorang rumah kolektor, menanykan
jurusan kuliah apa yang harus diambil agar anaknya bisa menjadi seorang
kolektor.
Appu
pun sangat terkejut melihat ibunya. Ia memohon agar ibunya tak kembali ke
sekolah dan ia berjanji akan rajin belajar. Ibu Appu hanya mau berhenti jika
pada ujian yang akan datang Appu bisa mengalahkan nilainya. Dan, tara, Appu
berhasil. Ibu Appu sangat senang. Ia berpikir Appu akan mau melanjutkan kuliah,
mengambil ujian UPSC dan menjadi seorang kolektor. Tapi pemikiran Appu tak
berubah. Appu belajar hanya untuk menghentikan ibunya ke sekolah. Ia menyangka
ibunya menyuruhya menjadi seorang kolektor karena ibunya tak bisa mencapainya
sendiri. Juga untuk apa dia melanjutkan sekolah kalau ibunya tak bisa
membiayainya. Ibu Appu sangat marah. Esoknya Ibu Appu kembali bersekolah. Appu
yang sangat sebal menghabiskan semua tabungan ibunya untuk hura-hura. Terlebih
ketika ia mendapati ibunya diantar oleh seorang laki-laki. Kelakukan Appu
sangat membuat marah ibunya. Bahkan Ibu Appu esoknya tak lagi pergi ke sekolah.
Esoknya
di sekolah, semua murid disuruh untuk menuliskan esai tentang cita-cita mereka.
Appu hanya menjawab, bahwa orang miskin tak punya hak untuk bermimpi, ketika
temannya menanyai apa cita-citanya. Bahkan guru Appu mengatakan, mungkin hanya
Appu satu-satunya wanita yang tidak memiliki impian, ketika esoknya hanya Appu
yang tidak menulis esai. Dalam hati, Appu sebenarnya merasa tak nyaman. Lalu,
malamnya, ia ditunjukkan salah seorang temannya, seorang anak laki-laki pintar
yang sering membantu Ibu Appu belajar, di mana Ibu Appu bekerja dan siapa
laki-laki yang mengantarnya pulang.
Film
ini ditutup dengan adegan Appu mengikuti tes UPSC. Setelah Apu tahu bagaimana
ibunya bekerja keras untuknya selama ini, Appu berusaha keras meraih sebuah
mimpi. Ketika ditanya, kenapa dia mengikuti ujian itu oleh salah seorang juri,
Appu menjawab, karena ia tak mau menjadi pembantu.
Film
ini memberikan banyak sekali pelajaran. Terutama tentang mimpi, harapan, dan
cita-cita. Ingat perkataan Appu, “Orang miskin tak punya hak untuk memiliki
mimpi.” Big NO. Semua orang berhak untuk memiliki mimpi dan mengusahakannya. Bukan
karena, orang tuaku bukan seorang yang berprofesi sebagai ‘ini’ bagaimana
mungkin aku bisa berprofesi ‘ini’. Mungkin suatu kali kita terpikir, “ah, dia
mudah saja meraih hal itu, kan orang tuanya begini begitu.” Percayalah,
memiliki orang tua yang bisa mendukung secara materi dalam meraih sebuah
impian, hanyalah salah satu bonus. Jika seseorang tak mau berusaha, sia-sialah
bonus itu. Dan jika kita jeli melihat, masih banyak jalan yang bisa memberimu
bonus-bonus yang lainnya. Asal kita mau berusaha. Orang-orang sukses di luar
sana pasti punya perjuangannya masing-masing. Rasa pahit dalam berjuang? Menurut
saya pasti ada, hanya saja kadang kala mereka tak bercerita dan kita tak
mengetahuinya.
Film
ini juga memberikan pesan, bagaimana besarnya rasa sayang orang tua terhadap
anaknya. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Ketika kau
ingin berbuat ‘nakal’ ingatlah kata-kata ini.
“Mungkin
kamu tidak mengharapkan apa-apa pada dirimu, tapi dia (Ibumu) berharap banyak
padamu. Dia tidak memaksakan impiannya padamu, karena kamulah impiannya. “ (Teman
Appu)
Dan kata-kata yang paling saya sukai dalam film ini,
“Sebenarnya,
mereka yang tidak punya impian, adalah yang sangat miskin.” (Chanda Sahay, Ibu
Appu)
Yess,
mimpi adalah sesuatu yang menjadikan kita lebih hidup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar