Jumat, 10 Maret 2017

Film : Nil Battey Sannata

Sumber: google


Judul                     : Nil Battey Sannata
Kategori                : Drama, Keluarga
Rilis                       : 22 April 2016
Pemain                   : Pankaj Tripathy, Ratna Pathak, Riya Shukla, Swara Bhaskar
Negara                   : India
Durasi                    : 1 jam 36 menit               

Haii, kali ini saya ingin mengulas sebuah film. Film ini menjadi pilihan untuk ditonton saat melihat rating nya lumayan tinggi. Dan, this movie is really worth to watch! Selain film yang bergenre komedi, petualangan, salah satu film yang saya sukai adalah yang bergenre keluarga. So, ayo kita mulai.
Film india biasanya memiliki durasi yang cukup panjang, bisa sampai dua, tiga, atau bahkan empat jam. Tapi film ini memiliki durasi 1 jam 36 menit, sama seperti film-film lainnya.
Film ini mengisahkan tentang seorang anak perempuan yang tinggal hanya bersama ibunya. Untuk menghidupi keluarga, sang Ibu bekerja sebagai pembantu di sebuah keluarga yang berprofesi sebagai dokter, Dr Deewan. Selain itu dia juga bekerja di tempat lain sebagai buruh untuk menambah penghasilan. Sang anak, yang bernama Appu, terkenal sebagai murid yang sering terlambat dan memiliki peringkat yang buruk di kelasnya. Suatu malam, saat menjelang tidur, Appu menceritakan bahwa temannya sangat beruntung. Dia akan menjadi supir, sama seperti ayahnya. Lalu Ibu Appu bertanya, apa cita-cita Appu, apakah dia pernah memikirkannya.
Keesokan harinya Ibu Appu terus memikirkan akan menjadi apa Appu kelak. Apakah cita-cita Appu? Saat ditanyai lagi, Appu menjawab dengan malas. Seorang anak dokter akan menjadi dokter, seorang anak insinyur akan menjadi insinyur, dan ia yang hanya anak pembantu tentu saja akan menjadi pembantu. Ibu Appu marah, apakah pemikiran seperti itu yang membuat Appu hanya bermalas-malasan setiap harinya. Ibu Appu bercerita pada Dr Deewan, bagaimana ia bisa mengubah anaknya. Untuk mengajari anaknya langsung, ia tidak terlalu pintar. Lalu, muncullah ide agar Ibu Apu ikut bersekolah di tempat Appu dan di kelas yang sama. Pagi ia akan berberes di rumah Dr Deewan, kemudian ke sekolah, dan bekerja di beberapa tempat samai larut malam. Ia juga mendatangi seorang rumah kolektor, menanykan jurusan kuliah apa yang harus diambil agar anaknya bisa menjadi seorang kolektor.
Appu pun sangat terkejut melihat ibunya. Ia memohon agar ibunya tak kembali ke sekolah dan ia berjanji akan rajin belajar. Ibu Appu hanya mau berhenti jika pada ujian yang akan datang Appu bisa mengalahkan nilainya. Dan, tara, Appu berhasil. Ibu Appu sangat senang. Ia berpikir Appu akan mau melanjutkan kuliah, mengambil ujian UPSC dan menjadi seorang kolektor. Tapi pemikiran Appu tak berubah. Appu belajar hanya untuk menghentikan ibunya ke sekolah. Ia menyangka ibunya menyuruhya menjadi seorang kolektor karena ibunya tak bisa mencapainya sendiri. Juga untuk apa dia melanjutkan sekolah kalau ibunya tak bisa membiayainya. Ibu Appu sangat marah. Esoknya Ibu Appu kembali bersekolah. Appu yang sangat sebal menghabiskan semua tabungan ibunya untuk hura-hura. Terlebih ketika ia mendapati ibunya diantar oleh seorang laki-laki. Kelakukan Appu sangat membuat marah ibunya. Bahkan Ibu Appu esoknya tak lagi pergi ke sekolah.
Esoknya di sekolah, semua murid disuruh untuk menuliskan esai tentang cita-cita mereka. Appu hanya menjawab, bahwa orang miskin tak punya hak untuk bermimpi, ketika temannya menanyai apa cita-citanya. Bahkan guru Appu mengatakan, mungkin hanya Appu satu-satunya wanita yang tidak memiliki impian, ketika esoknya hanya Appu yang tidak menulis esai. Dalam hati, Appu sebenarnya merasa tak nyaman. Lalu, malamnya, ia ditunjukkan salah seorang temannya, seorang anak laki-laki pintar yang sering membantu Ibu Appu belajar, di mana Ibu Appu bekerja dan siapa laki-laki yang mengantarnya pulang.
Film ini ditutup dengan adegan Appu mengikuti tes UPSC. Setelah Apu tahu bagaimana ibunya bekerja keras untuknya selama ini, Appu berusaha keras meraih sebuah mimpi. Ketika ditanya, kenapa dia mengikuti ujian itu oleh salah seorang juri, Appu menjawab, karena ia tak mau menjadi pembantu.
Film ini memberikan banyak sekali pelajaran. Terutama tentang mimpi, harapan, dan cita-cita. Ingat perkataan Appu, “Orang miskin tak punya hak untuk memiliki mimpi.” Big NO. Semua orang berhak untuk memiliki mimpi dan mengusahakannya. Bukan karena, orang tuaku bukan seorang yang berprofesi sebagai ‘ini’ bagaimana mungkin aku bisa berprofesi ‘ini’. Mungkin suatu kali kita terpikir, “ah, dia mudah saja meraih hal itu, kan orang tuanya begini begitu.” Percayalah, memiliki orang tua yang bisa mendukung secara materi dalam meraih sebuah impian, hanyalah salah satu bonus. Jika seseorang tak mau berusaha, sia-sialah bonus itu. Dan jika kita jeli melihat, masih banyak jalan yang bisa memberimu bonus-bonus yang lainnya. Asal kita mau berusaha. Orang-orang sukses di luar sana pasti punya perjuangannya masing-masing. Rasa pahit dalam berjuang? Menurut saya pasti ada, hanya saja kadang kala mereka tak bercerita dan kita tak mengetahuinya.
Film ini juga memberikan pesan, bagaimana besarnya rasa sayang orang tua terhadap anaknya. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Ketika kau ingin berbuat ‘nakal’ ingatlah kata-kata ini.
“Mungkin kamu tidak mengharapkan apa-apa pada dirimu, tapi dia (Ibumu) berharap banyak padamu. Dia tidak memaksakan impiannya padamu, karena kamulah impiannya. “ (Teman Appu)
Dan kata-kata yang paling saya sukai dalam film ini,
“Sebenarnya, mereka yang tidak punya impian, adalah yang sangat miskin.” (Chanda Sahay, Ibu Appu)

Yess, mimpi adalah sesuatu yang menjadikan kita lebih hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar