Pagi ini saya memutuskan untuk berjalan kaki. Menapaki
jalan setapak, menyapa siapa pun yang saya temui. Bunga pukul sembilan yang ada
di tepi jalan sudah bersiap mekar. Padahal ini masih jam tujuh pagi. Andai saya
bisa seperti bunga pukul sembilan, selalu bersiap sebelum masanya tiba. Saya
harus belajar.
Di belakang saya ada anjing yang menggonggong. Saya
ingin berlari. Eh, tapi kenapa saya harus lari? Bukankah saya tak ada salah
padanya? Tunggu, kalaupun saya ada salah, saya harus meminta maaf. Kenapa saya
harus lari? Mungkin tadi saya tak sengaja menginjak ekornya. Atau saya melewati
daerah kekuasaannya yang sudah ditandainya dengan air kencing tanpa permisi.
Rasanya tidak. Katanya, jika ada anjing yang menggonggongi, kita harus berbalik
menggertak. Ini masalah mental. Siapa yang lebih kuat dalam melawan. Apakah
kita? Atau si anjing? Tapi, masa iya saya juga harus menggonggonginya balik.
Akhirnya saya berdiam, menatapnya, dan memutuskan kembali berjalan. Jika saya
meladeninya, rasanya percuma, hanya akan buang-buang waktu.
Anjing itu tertinggal di belakang, masih terdengar sayup-sayup
suara gonggongannya. Ada sesuatu yang memang harus ditinggal seperti itu.
Abaikan saja. Perihal anjing, tak semuanya menggonggong galak. Di dekat rumas
saya tinggal, ada anjing dengan kaki pendek yang sering mendekat. Ekornya yang
juga pendek mengibas-ibas. Saya tahu dia mengajak bermain.
Saya melanjutkan jalan. Matahari semakin tinggi.
Panasnya semakin terasa hangat. Aku menikmatinya. Saya bukan tipe orang yang
bisa menikmati cuaca panas sebenarnya. Panas cepat sekali membuat saya
mendidih. Pusing. Tapi hujan, sering membuat saya bahagia. Saya ingat benar,
sewaktu SMP saya sering pulang kehujanan saat musim hujan. Setengah jam saya
naik sepeda tanpa payung. Terkadang, bukan karena saya tak membawa payung. Tapi
karena teman pulang saya tak membawa. Begitu juga sebaliknya. Saya tak tahu
mengapa saya begitu, tapi saya senang kami kehujanan bersama. Sekarang, jika
dipikir, jarang sekali saya bersikap seperti itu. Tak terlalu bayak orang di
sekitar saya yang mampu membuat saya bertindak bodoh. Entah saya terlalu
berlogika atau memikirkan perasaan, banyak perlakuan mereka yang menghentikan
saya. Dan saya tak ingin pura-pura bersikap peduli. Pura-pura membuatmu lelah.
Ketika saya tersadar, ternyata langkah saya tak
kemana-mana. Ini malam. Dan saya menikmati sebuah lagu jepang dan cuaca yang
biasa, membunuh kebosanan. Oh iya, saya sedang belajar membunuh kebosanan yang
sering singgah tanpa permisi. Semoga besok atau lusa, saya bisa benar-benar
berjalan kaki. Berharap, seseorang kawan yang klik dengan saya bisa menemani.
Ah, bicara tentang apa saya sebenarnya.