Selasa, 19 September 2017

Ocehan

Pagi ini saya memutuskan untuk berjalan kaki. Menapaki jalan setapak, menyapa siapa pun yang saya temui. Bunga pukul sembilan yang ada di tepi jalan sudah bersiap mekar. Padahal ini masih jam tujuh pagi. Andai saya bisa seperti bunga pukul sembilan, selalu bersiap sebelum masanya tiba. Saya harus belajar.
Di belakang saya ada anjing yang menggonggong. Saya ingin berlari. Eh, tapi kenapa saya harus lari? Bukankah saya tak ada salah padanya? Tunggu, kalaupun saya ada salah, saya harus meminta maaf. Kenapa saya harus lari? Mungkin tadi saya tak sengaja menginjak ekornya. Atau saya melewati daerah kekuasaannya yang sudah ditandainya dengan air kencing tanpa permisi. Rasanya tidak. Katanya, jika ada anjing yang menggonggongi, kita harus berbalik menggertak. Ini masalah mental. Siapa yang lebih kuat dalam melawan. Apakah kita? Atau si anjing? Tapi, masa iya saya juga harus menggonggonginya balik. Akhirnya saya berdiam, menatapnya, dan memutuskan kembali berjalan. Jika saya meladeninya, rasanya percuma, hanya akan buang-buang waktu.
Anjing itu tertinggal di belakang, masih terdengar sayup-sayup suara gonggongannya. Ada sesuatu yang memang harus ditinggal seperti itu. Abaikan saja. Perihal anjing, tak semuanya menggonggong galak. Di dekat rumas saya tinggal, ada anjing dengan kaki pendek yang sering mendekat. Ekornya yang juga pendek mengibas-ibas. Saya tahu dia mengajak bermain.
Saya melanjutkan jalan. Matahari semakin tinggi. Panasnya semakin terasa hangat. Aku menikmatinya. Saya bukan tipe orang yang bisa menikmati cuaca panas sebenarnya. Panas cepat sekali membuat saya mendidih. Pusing. Tapi hujan, sering membuat saya bahagia. Saya ingat benar, sewaktu SMP saya sering pulang kehujanan saat musim hujan. Setengah jam saya naik sepeda tanpa payung. Terkadang, bukan karena saya tak membawa payung. Tapi karena teman pulang saya tak membawa. Begitu juga sebaliknya. Saya tak tahu mengapa saya begitu, tapi saya senang kami kehujanan bersama. Sekarang, jika dipikir, jarang sekali saya bersikap seperti itu. Tak terlalu bayak orang di sekitar saya yang mampu membuat saya bertindak bodoh. Entah saya terlalu berlogika atau memikirkan perasaan, banyak perlakuan mereka yang menghentikan saya. Dan saya tak ingin pura-pura bersikap peduli. Pura-pura membuatmu lelah.

Ketika saya tersadar, ternyata langkah saya tak kemana-mana. Ini malam. Dan saya menikmati sebuah lagu jepang dan cuaca yang biasa, membunuh kebosanan. Oh iya, saya sedang belajar membunuh kebosanan yang sering singgah tanpa permisi. Semoga besok atau lusa, saya bisa benar-benar berjalan kaki. Berharap, seseorang kawan yang klik dengan saya bisa menemani. Ah, bicara tentang apa saya sebenarnya.

Selasa, 12 September 2017

Jeda

Hei, Nung, biarlah kali ini aku memanggilmu dengan nama kecilmu.
Jedalah sebentar jika kau merasa waktu yang berputar tak memberimu kesempatan beristirahat. Karena sang waktu, dia memang akan terus berputar. Kesempatan itu, jika orang-orang di sekitarmu tak memberikannya padamu, kenapa kau bersedih? Bukannya kau tahu kepada siapa kau harus meminta? Buatlah jeda setiap hari, berbicaralah kepadaNya. Kau tahu persis yang harus kau lakukan. Buatlah kesempatan itu ada.
Aku tahu, yang paling kau benci adalah ketika kau mengatakan sesuatu ke orang lain, tapi kau sendiri tak melakukannya, menuliskannya untuk orang lain tapi kau sendiri tak menggenapinya. Bukannya itu alasan kau menulis judul blog ini, menulis, menegur diri-sendiri, karena kau ingin dengan tulisanmu kau lebih bisa menghandle dirimu sendiri. Syukur-syukur kalau ada orang lain yang membaca dan bisa menjadi lebih baik.
Kau percaya bahwa musuh terbesar dalam hidup adalah egomu sendiri. Seperti berpuasa yang akhirnya kau mulai menyadari betul maknanya. Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tapi lebih pada bagaimana kau menahan nafsu yang ada pada dirimu. Hidup memang tentang mengalahkan diri sendiri. Aku tahu, sesekali kau ingin sekali membalas orang-orang yang mengganggumu. Tapi, jika melepas emosi hanya akan membuatmu menyesal kemudian, maka diamlah. Bahkan diam adalah salah satu cara membalas yang paling menyakitkan. Kumohon, belajarlah menahan emosi.
Hei, aku tahu persis kau mulai merasa kehilangan orang di sekelilingmu. Kadang, suatu kali kau ingin tinggal di satu waktu dengan orang-orang terdekatmu. Hei bro, pesta saja ada usainya lho. Hidup ini, memang bukanlah pesta yang penuh semarak setiap saatnya. Oh iya bro, kebahagiaanmu itu tanggung jawabmu lho. Maka pilihlah bahagia dengan apa yang ada di sekelilingmu. Mulailah merasa bahagia atas kebahagiaan orang lain. Aku tahu persis, dalam hati dasarmu kau selalu merasa bahagia untuk orang lain.
Hei, jedalah sebentar jika kau merasa mulai lelah. Dalam hidup, kadang kau merasa kehilangan arah dan ingin menangis. Jedalah sebentar. Dengarkan suaramu, apa sebenarnya yang terlewat. Dan mulailah berjalan lagi. Buatlah hatimu senang melakukan banyak hal. Hidup adalah anugerah. Maka, kau harus banyak bersyukur.
Akan ada waktu yang tepat untuk sesuatu yang istimewa. Kau tahu itu. Jangan pernah lelah untuk berdoa dan berikhtiar. Semoga, kau tak pernah lelah belajar menjadi manusia, sebaik-baik manusia.
Dan padamu, dirimu yang berumur dua belas tahun, terima kasih telah merasa kehilangan, terima kasih karena beberapa waktu lalu kau bisa mengucapkan selamat tinggal pada ketakutan akan kehilangan. Tidak apa kau telah menghabiskan waktu yang lama, setidaknya, akhirnya kau mulai tahu bagaimana cara untuk mencintai. Dan, teruslah belajar mencintaiNya.
Selamat mengulang tahun, semoga umurmu semakin berkah. Semoga tak ada kebosanan yang menggerogotimu lagi.  Ya Allah, tolong atur hidupnya. Rabbi laa tadzarni fardan. Ya Allah, jangan biarkan aku sendiri.
Gunung Mas, 12 September 2017