Jalanan Jakarta kian ramai. Padat oleh kendaraan yang
berlalu lalang, jam pulang kerja. Kupasang headset
di telinga, sekedar meredam bising yang memekak. Sudah pukul setengah lima,
langkah kaki kupercepat. Aina pasti sudah menunggu.
Halte transjakarta Budi Utomo terlihat padat, para
penumpang berjubel menanti datangnya kendaraan massal yang sudah mulai
beroperasi beberapa tahun lalu, mengatasi macet. Aku mendengus, nyatanya sistem
kerja kendaraan itu belum tertata apik. Jam kedatangan bus yang kadang tak
menentu membuat penumpang menumpuk. Bahkan aku pernah menunggu selama satu jam.
Andai sistem kerjanya lebih tertata, pasti kendaraan massal itu menjadi
alternatif bagi sebagian orang yang tidak ingin terjebak macet, seperti sore
ini. Tinggal menyeberang jembatan layang. Mataku menatap seberang, tak ada.
Kutajamkan pandanganku, awas. Tetap tak ada. Cepat kususuri jembatan layang.
Di bawah jembatan layang tak ada Aina. Juga Pak Tono -ayah
Aina, dan gerobaknya. Kemana mereka? Aku pikir, aku hanya telat beberapa menit
dari waktu seharusnya. Beberapa kali aku terlambat datang karena aktivitas
kampus yang tidak bisa ditinggalkan dan mereka tetap menunggu. Kudekati seorang
pekerja yang sedang memperbaiki saluran air di pinggir jalan, menanyakan
keberadaan Pak Tono dan Aina. Dia menggeleng. Menambah kekecewaanku.
●●●
Pemuda itu terlihat kecewa. Aku mundur ketika matanya
awas mengamati sekeliling. Pohon asem pinggir jalan ini cukup untuk menutupi
tubuhku. Aku bisa melihatnya, tapi pemuda itu tak tahu keberadaanku.
“Bapak, ini hari kamis kan? Kenapa Kak Li tidak datang?”
Aina, putri kecilku, menanyai keberadaan pemuda yang sedang kuamati.
“Kakaknya lagi tidak bisa,” ucapku bohong. Kuusap
rambutnya.
Aina tak lagi menanyaiku. Dia sibuk menyisir rambut
boneka mainannya, hadiah dari pemuda yang sedang kuamati.
“Kakaknya mungkin menunggu di tempat biasanya, Pak.
Kenapa kita tidak kesana?” Aina kembali menanyaiku. Matanya menatapku curiga.
Aku kira dia tak terlalu peduli dengan pemuda itu, ternyata aku salah.
“Dia tidak akan datang lagi,” jawabku. Membuat sepasang
mata yang tengah menatapku terlihat kecewa. Kualihkan pandanganku, tak sanggup
melihat gurat kecewa pada matanya lebih lanjut. Rasanya sakit ketika melihat
pendar kecewa di matanya. Maafkan Bapak nak, Bapak hanya tak ingin membuatku
semakin kecewa nantinya, batinku.
Kutuntun Aina kembali ke gerobak yang berada tak jauh di
belakang kami. Kududukkan dia di sela-sela barang-barang rongsok. Dia hanya
terdiam, masih sibuk menyisir rambut bonekanya. Kutarik gerobak, menjauh dari
jalanan ibu kota yang bising.
●●●
Kuhempaskan tubuh di kasur lantai. Mataku menatap
langit-langit kamar. Kemana mereka? Ini sudah minggu ke tiga sejak Pak Tono dan
Aina tak ada lagi di bawah jembatan layang. Aku sudah berusaha menanyai
beberapa penjual piggir jalan. Hasilnya nihil.
“Kau kenapa?” Andi, teman satu kosku, masuk tanpa
mengetuk dan langsung di depan rak bukuku. Mengambil komik.
“Kau ingat Pak Tono, yang beberapa waktu lalu pernah
kuceritakan padamu,” tanyaku.
Andi hanya mengangguk tanpa melihatku.
“Dia menghilang,” ucapku.
“Menghilang bagaimana?” Andi menatapku.
“Aku tak lagi bertemu mereka di bawah jembatan layang,
sudah sejak tiga minggu lalu.”
“Mungkin dia sudah mendapat pekerjaan.” Andi kembali
membaca komik.
Sepertinya itu tak mungkin. Di awal pertemuanku dengan
Pak Tono, aku pernah menanyakan tentang pekerjaannnya sebelumnya. Dia menjadi
salah satu pekerja pabrik. Sistem kerja outsourching
yang diterapkan membuat dia dan teman-temannya tak punya ketentuan di masa
depan. Dia habis kontrak di tahun ketiganya. Padahal waktu itu dia sedang
membutuhkan biaya banyak. Istrinya sakit kanker payudara dan membutuhkan biaya
yang tidak sedikit. Aina baru berusia
dua tahun. Pak Tono setiap hari mencari
pekerjaan sambil mengurusi Aina dan juga istrinya. Percuma, tak ada pekerjaan
yang didapat. Tabungannya terkuras untuk biaya pengobatan istrinya. Setengah
tahun kemudian istrinya meninggal. Dua
bulan setelah itu, Pak Tono dan Aina berpindah-pindah tempat, tak lagi mampu
membayar sewa.
“Rasanya tak mungkin,” ucapku akhirnya. Aku bangkit,
menatap keluar lewat jendela kamar. Malam ini langit terlihat cerah, beberapa
bintang membagi sinarnya. Kamarku yang terletak di lantai tiga membuatku
sedikit leluasa menatap sekeliling. Mataku menatap jauh. Kerlip lampu
apartemen-apartemen mewah terlihat di depan sana. Dan di bawah sana, di
jalanan, mataku menangkap beberapa rumah yang mampu bergerak. Berpindah-pindah.
Dari sini aku bisa melihat sebuah kenyataan yang membuat hatiku mengisak.
“Benar-benar bagai bumi dan langit,” lirihku. Andai semua
orang peduli, tak ada keegoisan untuk memperkaya diri. Mungkin hal ini tak akan
terjadi.
“Andi, negara ini sedang krisis!” Aku terus menatap
keluar.
“Maksudnya, krisis ekonomi?”
“Tidak! Tapi lebih parah dari itu. Negara ini sedang
mengalami krisis nawaitu, krisis
niat. Ada yang perlu dibenahi di sini. Ah, andai semua orang mampu melaksanakan
kewajibannya dengan baik, pasti tak ada lagi rumah-rumah beroda itu.”
●●●
Hari ini langit siang tiba-tiba mendung. Padahal pagi
tadi sangat cerah. Rintik air hujan pun mulai turun, memaksaku menepi.
Kulajukan motorku ke bawah jalan layang Salemba Carolus. Beberapa pengendara
lainnya mengikutiku. Hujan yang merintik tadi kian deras. Aku tak membawa
mantel, terpaksa menunggu hujan mereda.
“Hati-hati dong, Pak,” tegur seseorang tak jauh dariku.
“Maaf,” Aku mengenal suara itu. Kutolehkan kepalaku ke
samping. Benar. Pak Tono dan Aina ikut meneduh. Kulangkahkan kakiku mendekat.
“Pak Tono,” panggilku. Dia menoleh. Aku bisa melihat
ekspresi kaget di wajahnya. Aku menahannya ketika dia hendak membawa gerobaknya
pergi.
“Hujan, kasihan Aina,” ucapku. Berharap Pak Tono
mengurungkan niatnya. Kulihat Aina sedang tertidur pulas. Dipeluknya boneka yang
pernah kuberikan padanya.
Berhasil. Pak Tono tidak jadi menarik gerobaknya.
“Kenapa Bapak dan Aina tak pernah muncul lagi di sana?”
tanyaku.
Pak Tono menatapku. Matanya terlihat bimbang. Dia seperti
sedang menimbang-nimbang apakah akan menjawab pertanyaanku atau tidak. Dia
menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab.
“Aku tak ingin membuat Aina bertambah kecewa terhadapku.”
“Maksudnya?” Aku tak mengerti dengan jawaban Pak Tono.
“Kau tahu, Aina berusia enam tahun sekarang. Sudah empat
tahun dia tinggal berpindah-pindah seperti ini. Selama itu, dia tak pernah
protes. Sampai hari itu, dia menanyaiku sebuah kosa kata yang baru kau
ajarkan.”
Aku mengerutkan kening. Selama ini aku memang mengajari
Aina membaca, Pak Tono tak mampu menyekolahkannya. Aku pikir tak ada yang salah
dengan materi pengajaranku.
“Dia memintaku mengabulkan satu kosa kata itu, pulang.”
Aku terhenyak mendengarnya. Aku ingat, hari itu aku mengajarkan Aina
tentang bangunan-bangunan dan kosa kata itu.
“Bagaimana mungkin aku mengajaknya pulang. Tak ada rumah
untuk kami. Kau lihat gerobak ini? Ini sungguh bukan rumah. Tak ada rumah yang
seperti ini. Aku hanya tak ingin membuat Aina kecewa lagi.” Pak Tono menatapku.
Aku tak bisa menatap dengan jelas apa yang ada di matanya. Mataku sedikit buram
oleh sesuatu yang panas.
“Mungkin ini hanya hal kecil yang kau ajarkan. Tapi aku
tak tahu, apa lagi yang akan diketahuinya kelak. Aku hanya ingin tak membuatnya
kecewa, bahwa banyak sekali hal yang tak bisa kuberikan padanya. Bahkan sekadar
tempat berteduh. Aku merasa sangat bersalah terhadapnya.” Pak Tono menutup
gerobaknya dengan plastik lebar. Berjalan menjauh. Membawa Aina menyusuri
setiap sudut kota, melindunginya dari hujan dengan sehelai plastik dan gerobak.
Menapaki jalanan dengan rumah beroda. Bukan. Sungguh itu bukan rumah. Karena
tak ada tempat pulang yang seperti itu.
Kutatap gerobaknya yang kian menjauh. Rintik hujan mulai
mereda. Jalanan kembali ramai dengan beragam pengguna. Kuamati mereka. Ah,
banyak sekali korban krisis nawaitu
di jalanan ini. Dadaku kian sesak melihatnya. Ada yang perlu dibenahi.