Selasa, 19 Mei 2015

Cerita dari senyum


Lihat,lihatlah baik-baik, matahari mulai nampak di ufuk timur. Biarkan hangatnya menyentuh kita. Pagi yang berembun, hujan membuat kian basah.

Tak masalah bukan, selama ada aku, kamu, dan menjadi kita. Ya, tentu kita bisa.

Pagi itu kita meniti bersama, jalan yang terlihat panjang, entah apa yang ada di depan sana. Selama kita saling percaya, saling ada, aku yakin, kita akan sampai, di ujung tujuan kita.
Tangis, marah, kecewa, jatuh, kenapa kita harus takut dengan kata-kata itu? Bukankah mereka pengelok hati kita. Tangis membuat kita mengerti artinya kesedihan, marah mengajarkan kita akan emosi yang harus kita jaga, kecewa menjaga kita dari kesombongan, dan jatuh, menyadarkan kita bahwa kita masih punya orang-orang di sekeliling kita. Aku yakin, di ujung semua perasaan itu akan ada senyum, senyum yang, ah itu sungguh cantik, anak dari sebuah perjuangan.

Banyak yang sudah kita lalui bersama, dalam kesedihan, kecerian, perjuangan. Lihat kita sudah sampai di satu persinggahan, persinggahan yang kadang kita ragukan, ah, apakah aku akan sampai di titik ini, bisakah, mungkinkah. Ragu itu boleh muncul, tapi hanya satu detik, selebihnya, biarkan kobar api semangat yang menemani kita. Nyatanya kita benar-benar sampai bukan? Bersama.

Jalan ini masih panjang. Walaupun  mungkin, tak ada lagi jari jemari kita yang terpaut, tak ada lagi langkah kaki yang saling beriring, tak ada lagi mata yang saling beradu, kita selalu ada, aku selalu ada untukmu, dan kamu juga akan selalu ada untukku bukan?
Lari, kencangkan tali sepatu dan terus berlari, hari masih panjang. Di persinggahan-persinggahan nanti kita akan berjumpa lagi, membawa cerita dari sebuah senyum di bibir kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar