Lihat,lihatlah
baik-baik, matahari mulai nampak di ufuk timur. Biarkan hangatnya menyentuh
kita. Pagi yang berembun, hujan membuat kian basah.
Tak masalah
bukan, selama ada aku, kamu, dan menjadi kita. Ya, tentu kita bisa.
Pagi itu kita
meniti bersama, jalan yang terlihat panjang, entah apa yang ada di depan sana.
Selama kita saling percaya, saling ada, aku yakin, kita akan sampai, di ujung
tujuan kita.
Tangis,
marah, kecewa, jatuh, kenapa kita harus takut dengan kata-kata itu? Bukankah mereka
pengelok hati kita. Tangis membuat kita mengerti artinya kesedihan, marah
mengajarkan kita akan emosi yang harus kita jaga, kecewa menjaga kita dari
kesombongan, dan jatuh, menyadarkan kita bahwa kita masih punya orang-orang di
sekeliling kita. Aku yakin, di ujung semua perasaan itu akan ada senyum, senyum
yang, ah itu sungguh cantik, anak dari sebuah perjuangan.
Banyak yang
sudah kita lalui bersama, dalam kesedihan, kecerian, perjuangan. Lihat kita
sudah sampai di satu persinggahan, persinggahan yang kadang kita ragukan, ah,
apakah aku akan sampai di titik ini, bisakah, mungkinkah. Ragu itu boleh
muncul, tapi hanya satu detik, selebihnya, biarkan kobar api semangat yang
menemani kita. Nyatanya kita benar-benar sampai bukan? Bersama.
Jalan ini
masih panjang. Walaupun mungkin, tak ada
lagi jari jemari kita yang terpaut, tak ada lagi langkah kaki yang saling
beriring, tak ada lagi mata yang saling beradu, kita selalu ada, aku selalu ada
untukmu, dan kamu juga akan selalu ada untukku bukan?
Lari, kencangkan
tali sepatu dan terus berlari, hari masih panjang. Di persinggahan-persinggahan
nanti kita akan berjumpa lagi, membawa cerita dari sebuah senyum di bibir kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar