Kamis, 07 Mei 2015

Pulang (Kumcer : Mayat Dalam Lumbung, Forum Aktif Menulis Publishing 2014)


            Jalanan Jakarta kian ramai. Padat oleh kendaraan yang berlalu lalang, jam pulang kerja. Kupasang headset di telinga, sekedar meredam bising yang memekak. Sudah pukul setengah lima, langkah kaki kupercepat. Aina pasti sudah menunggu.
            Halte transjakarta Budi Utomo terlihat padat, para penumpang berjubel menanti datangnya kendaraan massal yang sudah mulai beroperasi beberapa tahun lalu, mengatasi macet. Aku mendengus, nyatanya sistem kerja kendaraan itu belum tertata apik. Jam kedatangan bus yang kadang tak menentu membuat penumpang menumpuk. Bahkan aku pernah menunggu selama satu jam. Andai sistem kerjanya lebih tertata, pasti kendaraan massal itu menjadi alternatif bagi sebagian orang yang tidak ingin terjebak macet, seperti sore ini. Tinggal menyeberang jembatan layang. Mataku menatap seberang, tak ada. Kutajamkan pandanganku, awas. Tetap tak ada. Cepat kususuri jembatan layang.
            Di bawah jembatan layang tak ada Aina. Juga Pak Tono -ayah Aina, dan gerobaknya. Kemana mereka? Aku pikir, aku hanya telat beberapa menit dari waktu seharusnya. Beberapa kali aku terlambat datang karena aktivitas kampus yang tidak bisa ditinggalkan dan mereka tetap menunggu. Kudekati seorang pekerja yang sedang memperbaiki saluran air di pinggir jalan, menanyakan keberadaan Pak Tono dan Aina. Dia menggeleng. Menambah kekecewaanku.
●●●
            Pemuda itu terlihat kecewa. Aku mundur ketika matanya awas mengamati sekeliling. Pohon asem pinggir jalan ini cukup untuk menutupi tubuhku. Aku bisa melihatnya, tapi pemuda itu tak tahu keberadaanku.
            “Bapak, ini hari kamis kan? Kenapa Kak Li tidak datang?” Aina, putri kecilku, menanyai keberadaan pemuda yang sedang kuamati.
            “Kakaknya lagi tidak bisa,” ucapku bohong. Kuusap rambutnya.
            Aina tak lagi menanyaiku. Dia sibuk menyisir rambut boneka mainannya, hadiah dari pemuda yang sedang kuamati.
            “Kakaknya mungkin menunggu di tempat biasanya, Pak. Kenapa kita tidak kesana?” Aina kembali menanyaiku. Matanya menatapku curiga. Aku kira dia tak terlalu peduli dengan pemuda itu, ternyata aku salah.
            “Dia tidak akan datang lagi,” jawabku. Membuat sepasang mata yang tengah menatapku terlihat kecewa. Kualihkan pandanganku, tak sanggup melihat gurat kecewa pada matanya lebih lanjut. Rasanya sakit ketika melihat pendar kecewa di matanya. Maafkan Bapak nak, Bapak hanya tak ingin membuatku semakin kecewa nantinya, batinku.
            Kutuntun Aina kembali ke gerobak yang berada tak jauh di belakang kami. Kududukkan dia di sela-sela barang-barang rongsok. Dia hanya terdiam, masih sibuk menyisir rambut bonekanya. Kutarik gerobak, menjauh dari jalanan ibu kota yang bising.
●●●
            Kuhempaskan tubuh di kasur lantai. Mataku menatap langit-langit kamar. Kemana mereka? Ini sudah minggu ke tiga sejak Pak Tono dan Aina tak ada lagi di bawah jembatan layang. Aku sudah berusaha menanyai beberapa penjual piggir jalan. Hasilnya nihil.
            “Kau kenapa?” Andi, teman satu kosku, masuk tanpa mengetuk dan langsung di depan rak bukuku. Mengambil komik.
            “Kau ingat Pak Tono, yang beberapa waktu lalu pernah kuceritakan padamu,” tanyaku.
            Andi hanya mengangguk tanpa melihatku.
            “Dia menghilang,” ucapku.
            “Menghilang bagaimana?” Andi menatapku.
            “Aku tak lagi bertemu mereka di bawah jembatan layang, sudah sejak tiga minggu lalu.”
            “Mungkin dia sudah mendapat pekerjaan.” Andi kembali membaca komik.
            Sepertinya itu tak mungkin. Di awal pertemuanku dengan Pak Tono, aku pernah menanyakan tentang pekerjaannnya sebelumnya. Dia menjadi salah satu pekerja pabrik. Sistem kerja outsourching yang diterapkan membuat dia dan teman-temannya tak punya ketentuan di masa depan. Dia habis kontrak di tahun ketiganya. Padahal waktu itu dia sedang membutuhkan biaya banyak. Istrinya sakit kanker payudara dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Aina  baru berusia dua  tahun. Pak Tono setiap hari mencari pekerjaan sambil mengurusi Aina dan juga istrinya. Percuma, tak ada pekerjaan yang didapat. Tabungannya terkuras untuk biaya pengobatan istrinya. Setengah tahun kemudian istrinya meninggal.  Dua bulan setelah itu, Pak Tono dan Aina berpindah-pindah tempat, tak lagi mampu membayar sewa.
            “Rasanya tak mungkin,” ucapku akhirnya. Aku bangkit, menatap keluar lewat jendela kamar. Malam ini langit terlihat cerah, beberapa bintang membagi sinarnya. Kamarku yang terletak di lantai tiga membuatku sedikit leluasa menatap sekeliling. Mataku menatap jauh. Kerlip lampu apartemen-apartemen mewah terlihat di depan sana. Dan di bawah sana, di jalanan, mataku menangkap beberapa rumah yang mampu bergerak. Berpindah-pindah. Dari sini aku bisa melihat sebuah kenyataan yang membuat hatiku mengisak.
            “Benar-benar bagai bumi dan langit,” lirihku. Andai semua orang peduli, tak ada keegoisan untuk memperkaya diri. Mungkin hal ini tak akan terjadi.
            “Andi, negara ini sedang krisis!” Aku terus menatap keluar.
            “Maksudnya, krisis ekonomi?”
            “Tidak! Tapi lebih parah dari itu. Negara ini sedang mengalami krisis nawaitu, krisis niat. Ada yang perlu dibenahi di sini. Ah, andai semua orang mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik, pasti tak ada lagi rumah-rumah beroda itu.”
●●●
            Hari ini langit siang tiba-tiba mendung. Padahal pagi tadi sangat cerah. Rintik air hujan pun mulai turun, memaksaku menepi. Kulajukan motorku ke bawah jalan layang Salemba Carolus. Beberapa pengendara lainnya mengikutiku. Hujan yang merintik tadi kian deras. Aku tak membawa mantel, terpaksa menunggu hujan mereda.
            “Hati-hati dong, Pak,” tegur seseorang  tak jauh dariku.
            “Maaf,” Aku mengenal suara itu. Kutolehkan kepalaku ke samping. Benar. Pak Tono dan Aina ikut meneduh. Kulangkahkan kakiku mendekat.
            “Pak Tono,” panggilku. Dia menoleh. Aku bisa melihat ekspresi kaget di wajahnya. Aku menahannya ketika dia hendak membawa gerobaknya pergi.
            “Hujan, kasihan Aina,” ucapku. Berharap Pak Tono mengurungkan niatnya. Kulihat Aina sedang tertidur pulas. Dipeluknya boneka yang pernah kuberikan padanya.
            Berhasil. Pak Tono tidak jadi menarik gerobaknya.
            “Kenapa Bapak dan Aina tak pernah muncul lagi di sana?” tanyaku.
            Pak Tono menatapku. Matanya terlihat bimbang. Dia seperti sedang menimbang-nimbang apakah akan menjawab pertanyaanku atau tidak. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab.
            “Aku tak ingin membuat Aina bertambah kecewa terhadapku.”
            “Maksudnya?” Aku tak mengerti dengan jawaban Pak Tono.
            “Kau tahu, Aina berusia enam tahun sekarang. Sudah empat tahun dia tinggal berpindah-pindah seperti ini. Selama itu, dia tak pernah protes. Sampai hari itu, dia menanyaiku sebuah kosa kata yang baru kau ajarkan.”
            Aku mengerutkan kening. Selama ini aku memang mengajari Aina membaca, Pak Tono tak mampu menyekolahkannya. Aku pikir tak ada yang salah dengan materi pengajaranku.
            “Dia memintaku mengabulkan satu kosa kata itu, pulang.”
            Aku terhenyak mendengarnya.  Aku ingat, hari itu aku mengajarkan Aina tentang bangunan-bangunan dan kosa kata itu.
            “Bagaimana mungkin aku mengajaknya pulang. Tak ada rumah untuk kami. Kau lihat gerobak ini? Ini sungguh bukan rumah. Tak ada rumah yang seperti ini. Aku hanya tak ingin membuat Aina kecewa lagi.” Pak Tono menatapku. Aku tak bisa menatap dengan jelas apa yang ada di matanya. Mataku sedikit buram oleh sesuatu yang panas.
            “Mungkin ini hanya hal kecil yang kau ajarkan. Tapi aku tak tahu, apa lagi yang akan diketahuinya kelak. Aku hanya ingin tak membuatnya kecewa, bahwa banyak sekali hal yang tak bisa kuberikan padanya. Bahkan sekadar tempat berteduh. Aku merasa sangat bersalah terhadapnya.” Pak Tono menutup gerobaknya dengan plastik lebar. Berjalan menjauh. Membawa Aina menyusuri setiap sudut kota, melindunginya dari hujan dengan sehelai plastik dan gerobak. Menapaki jalanan dengan rumah beroda. Bukan. Sungguh itu bukan rumah. Karena tak ada tempat pulang yang seperti itu.
            Kutatap gerobaknya yang kian menjauh. Rintik hujan mulai mereda. Jalanan kembali ramai dengan beragam pengguna. Kuamati mereka. Ah, banyak sekali korban krisis nawaitu di jalanan ini. Dadaku kian sesak melihatnya. Ada yang perlu dibenahi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar