Senin, 05 November 2018

Berhenti bertanya

Semakin kesini, saya semakin segan untuk bertanya kepada orang lain mengenai kehidupan mereka. Mengurangi rasa kepo. Siapa yang suka bila hal-hal privasi ditanyakan oleh orang lain, terlebih orang-orang yang sebetulnya tidak terlalu dekat dengan kita.
Untuk apa terlalu tahu kehidupan orang lain? Biar lebih bahagia karena merasa kehidupan kita lebih baik dari mereka, atau yang terburuk, malah bisa jadi memperburuk suasana hati, kenapa kita tak mendapat apa yang orang lain dapatkan.
Orang yang dekat cenderung malah tak bertanya jika kita tak menceritakannya, ada batasan apa yang boleh ditanyakan dan tidak ditanyakan. Jika dirasa perlu, pasti kita akan bercerita terhadap orang-orang dekat. Cukup ada untuk mereka. Cukup mendengarkan dan beri saran, tidak menghakimi.
Saya tak terlalu suka bila orang lain kepo pada kehidupan saya, sehingga saya pun tak kepo pada kehidupan mereka. Dan batasan-batasan privasi tiap orang berbeda-beda. Toh, apa untungnya jika kita tahu tentang kehidupan privasi orang lain.
Saya pikir, hal ini akan membahagiakan. Berhenti bertanya, berhenti terlalu melihat kehidupan orang lain.
Dalam drama yang pernah saya tonton berjudul “Wise Prison Life”, ada satu dialog yang membekas dalam ingatan saya. Begini kira-kira,
Jadi apa arti sebuah kebahagiaan?
Kebahagiaan sebenarnya sederhana, jika kita tak melihat pandangan orang lain.
Tidak terlalu berhubungan sih, tapi saya suka aja.
Nikmati hidupmu, lakukan hal-hal positif yang kau sukai, ,menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Hidup cuma sekali, buat apa dihabiskan untuk mengurusi kehidupan orang lain ketika banyak sekali hal dalam hidupmu sendiri yang perlu kau nikmati dan syukuri.