Kereta mulai berjalan. Telat 10
menit dari jadwal seharusnya. Malam ini, walaupun bukan akhir pekan, kereta
ekonomi jurusan Pasar Senen-Jogjakarta cukup penuh. Semua penumpang saling tak
acuh, sibuk dengan kepentingan masing-masing. Lorong kereta ekonomi yang sempit
menambah gaduh penumpang yang belum menemukan kursinya. Ada juga yang mengomel
ketika kursinya sudah diduduki orang lain. Menuduh. Begitu dicek tiket, salah
gerbong. Membuat beberapa orang bersorak.
“Permisi ya mbak,” sapa seseorang.
Aku baru saja duduk setelah menyempilkan ranselku di tempat barang yang sesak,
entah bawa apa semua penumpang ini.
Aku menoleh, seorang ibu dengan anak
kecil di gendoangannya, mungkin berusia tiga tahun, berdiri di sampingku.
“Iya, Bu. Silahkan!” Aku
mempersilahkan ibu itu duduk. Bawaannya tak terlalu banyak sebenarnya. Hanya
satu tas yang ditentengnya. Diletakkan di bawah kursi.
“Turun mana?” ibu itu menanyaiku.
“Kutoarjo. Ibu turun mana?” tanyaku
basa-basi. Tak ada minat mengobrol.
“Oh, Ibu turun di Stasiun
Lempuyangan.”
Aku mengangguk-angguk dan tersenyum,
tak ingin mengobrol lebih panjang lagi.
“Mbak nya sendirian?” tanya Ibu itu
lagi. Sedikit mengusikku yang mulai membaca novel. Kuanggukkan kepala.
“Ibu sendirian? Nggak sama suami?”
tanyaku. Basa-basi lagi.
“Suami Ibu sudah meninggal,”
ucapnya. Membuatku teringat pada Ibu.
“Maaf,” ucapku. Kali ini tidak lagi
basa-basi.
“Permisi.” Seorang wanita muda
muncul. Perutnya membuncit. Hamil. Di sampingnya, seorang laki-laki membawa
tas. Suaminya. Mereka duduk di depanku. Kursi kereta ekonomi memang berhadapan.
“Anaknya berapa tahun, Bu?” tanya
wanita muda itu.
“Tiga tahun.” Tepat tebakanku tadi.
“Udah berapa bulan Mba hamilnya?”
tanya Ibu-ibu di sampingku. Pembicaraan ibu-ibu pun dimulai. Setidaknya bukan
menggosip. Aku sebenarnya tak berniat mendengarkan. Tapi mau bagaimana, jarak
yang rapat membuat pembicaraan itu terdengar. Dan lagi, aku sedang malas
mendengarkan musik.
“Delapan bulan, Bu. Ini mau
melahirkan di kampung rencananya. Sakit ya Bu, melahirkan itu?” tanya wanita
muda itu. Mataku masih menatap baris-baris tulisan dari novel yang kupegang.
Tapi sebenarnya, tak ada kata-kata yang mampu kuserap.
“Sakit sih iya. Sakitnya juga tak
bisa dibagi. Tapi karena sakit itu seorang anak bisa lahir.” Teringat pelajaran
SMA dulu bahwa sebelum melahirkan ada ‘pembukaan’ sebagai jalan sang bayi
lahir. Sesakit apa sebenarnya?
“Tapi rasa sakit itu lenyap ketika
bayi itu lahir. Rasanya itu...bahagia sekali.” sambung Ibu-ibu di sampingku.
Kulirik sebentar. Tangannya sedang mengelus-elus kepala anaknya yang mulai
terlelap di pangkuannya.
“Ibu kayaknya sayang banget sama
anaknya,” ucap wanita muda di depanku.
“Iya. Setiap ibu pasti sayang sama.
Membuatnya senang juga membuat kami senang.”
Aku teringat Ibu. Seperti itukah Bu?
Ya, Bu. Aku akan membuatmu senang seperti kau selalu membuatku senang. Aku
semakin mantap dengan rencana yang telah kususun beberapa hari ini.
Kuputuskan memakai headset. Tak ingin lebih jauh mendengar
obrolan ibu-ibu.
●●●
Udara pagi di kampung memang terasa
berbeda dengan ibukota. Lebih segar. Aku baru saja turun dari angkot. Sebuah
keramaian tertangkap di depanku.
Pasar Kemiri tak berbeda dari
terakhir kali kuingat. Ramai sekali hari ini. Pantas. Hari ini hari Sabtu, hari
pasaran. Kulangkahkan kakiku masuk. Sedikit sesak. Kanan kiri jalan dipakai
untuk berjualan sayur. Lesehan. Begitu memasuki pasar, aroma Soto menggoda
hidungku. Membuat perutku yang memang belum terisi menggeliat. Kuedarkan
pandangan. Tak jauh dari pintu masuk ada penjual Soto.
Aku lebih dalam memasuki pasar.
Berjalan pelan agar tak menabrak orang. Ibu-ibu sibuk membawa belanjaannya.
Kutangkap bayangan Ibu. Tangannya sedang
sibuk menata dagangan. Kuhampiri lapaknya.
Aku tak langsung memanggilnya. Sudah
lama sekali aku tak melihat Ibu berjualan di pasar. Beberapa orang mengerumuni
barang dagangan. Memilah. Masih kuamati gerak-gerik Ibu.
Teringat perkataan Ibu-ibu di kereta
tadi malam. Seorang Ibu pasti akan selalu menyayangi anaknya. Seberapa keras
pun itu. Bukannya saat melahirkan itu juga seorang Ibu merasakan sakit yang
tidak bisa dibagi dengan siapa pun. Tapi karena sakit itulah seorang anak bisa
lahir.
“Bu..” panggilku. Benarkah
benar-benar akan kukatakan rencana itu padanya. Sisi diriku masih tak setuju.
Masih jelas dalam ingatanku wajah berseri Ibu ketika aku diterima di Perguruan
Tinggi tempatku menuntut ilmu sekarang. Waktu itu aku ragu, untuk mengambilnya
atau tidak. Walaupun aku bisa mencari besiswa nantinya, tapi uang masuk tetap
ada sementara beasiswa belum turun. Tapi Ibu menganggup dengan mantap,
menyuruhku tetap maju. Selang beberapa hari dijualnya dua cincin peninggalan
Bapak, hanya disisakan cincin nikah. Sisanya, aku tak tahu darimana Ibu
mendapatkan biaya. Sisi diriku yang lain mempertahankan rencana itu. Bukankah
dengan begitu aku akan meringankan beban Ibu?
Ibu menoleh. Wajahnya sedikit
terkejut melihatku. Aku memang tak memberitahunya kepulanganku kali ini.
Perlahan wajah itu tersenyum.
“Ningrum!” ucapnya.
Kulangkahkan kakiku mendekat.
Mencium tangannya. Telapaknya terasa lebih kasar dari terakhir kali kuingat.
“Kenapa ndak memberitahu Ibu?” tanyanya. Beberapa orang memandangi kami.
“Pengen bikin kejutan buat Ibu.” Tak
mungkin kukatan rencanaku sekarang. Di tempat ini.
“Anaknya Bu? Kerja atau sekolah?”
tanya seorang pedagang buah di di samping lapak Ibu.
“Masih kuliah di Jakarta.” Kutangkap
ada rasa bangga di suara Ibu.
Kusalami beberapa penjual di sekitar
lapak Ibu.
“Ibu anter pulang ya?”
“Ndak
usah. Ningrum jalan kaki aja. Deket juga kok,” tolakku. Selain rumahku yang
memang dekat dengan pasar, aku juga butuh beberapa waktu untuk menyiapkan diri.
“Ya udah, Ningrum mau jajan apa?”
Ibu menanyaiku seperti aku masih anak kecil. Kugelengkan kepala. Tak terlalu
berminat dengan jajaran pasar.
“Lupis ya, ibu beliin..” Tanpa
persetujuanku ibu langsung melangkah pergi. Menuju lapak jajanan pasar yang
memang tak jauh dari lapaknya. Kuamati Ibu. Sering sekali Ibu memperlakukanku
seperti anak kecil. Kadang ketika aku pulang, ibu membelikanku berbagai macam
jajanan pasar tanpa kuminta. Kadang pula Ibu memaksa menyuapiku makan ketika
aku sedang malas.
Ibu terlihat mengobrol dengan
ibu-ibu penjual jajanan pasar itu. Sesekali mereka melihat ke arahku. Aku tersenyum.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Mungkin sedang membicarakanku. Wajah
ibu terlihat bahagia.
Kuteringat perkataan dosen waktu
itu.
“Kalian
harus tahu, yang menjadi kebanggaan orang tua itu anaknya?” ucapnya di
sela-sela mengajar tentang Kurva Philip. Kami, mahasiswanya, hanya
mengangguk-angguk. Ada hubungan apa antara kurva yang menjelaskan mengenai
inflasi itu dengan kebanggaan orang tua.
“Kalian
harus tahu ini. Di mana-mana itu, kalau orang tua ketemu temannya yang akan
ditanyakan itu anaknya. Anaknya sekarang di mana? Kuliah atau kerja? Kalau
kerja di mana? Kalau kuliah di mana? Tak ada yang akan menanyakan, emasmu
sekarang udah berapa kilo? Jumlah mobilmu berapa? Apalagi nanya jumlah digit di
rekening.” Kami terkekeh mendengarnya. Betul juga.
“Makanya
kalian harus belajar yang serius,” pungkasnya. Dan Kurva Philip pun lanjut
dibahas.
Kuhembuskan napas panjang. Benarkah
seperti itu? Sudah berhari-hari kupikirkan rencana untuk berhenti kuliah.
Mending bekerja. Bisa menghasilkan uang. Bisa memebeli ini-itu. Ah, ya. Membeli
apapun yang aku inginkan tanpa harus merengek pada Ibu, bukankah dengan begitu
Ibu juga akan bangga. Sepertinya ajakan Nina memang benar.
“Ningrum,
aku mau berhenti kuliah,” ucapnya saat kami sedang asyik menikmati siomay di
kantin. Keningku berkerut
“Aku
mau kerja saja,” lanjutnya.
“Kenapa?
Kita kan tinggal dua tahun lagi, nggak sayang tuh. Lagian orang tuamu memang
nggak bakal kecewa?” tanyaku.
Nina
menggeleng, “Menurutku nggak. Coba bayangin, kalau aku kerja, aku nggak perlu
ngerepotin orang tuaku lagi. Aku juga bisa membeli apa saja yang kuinginkan. Jalan-jalan. Kebetulan aku juga
ditawari kerja sama temenku di Semarang. Kerja di bagian marketing gitu katanya. Minggu depan udah harus ngajuin
lamaran. Oh, ya katanya bisa buat dua orang. Ayo kamu kerja aja,” ajaknya.
Aku
menatapnya. Selama ini memang kadang terbesit dalam pikiranku untuk bekerja.
Hidup di ibu kota bukan hal yang murah. Apalagi di tambah teman-teman kuliah
yang sering mengajak jalan. Juga gadget yang selalu baru. Membuatku minder kala
di dekat mereka.
“Kamu
pengen beli note kan?” tanya Nina seakan mengerti pikiranku.
“Nanti
kupikirkan.”
“Jangan
lama-lama. Dua minggu lagi lho, inget.”
Aku hanya tersenyum waktu itu. Tak
terlalu berminat sebenarnya. Tapi semakin kupikir perkataan Nina ada benarnya.
Kulihat HP-ku dengan model yang kutahu betul sudah tidak diproduksi lagi.
Sering terpikir andaikan aku bisa membeli HP baru, tak usah model terbaru,
cukup HP pintar saja. Atau bisa jalan-jalan kapan saja ketika aku ingin.
Keputusanku semakin mantap. Aku harus mengatakannya pada Ibu malam ini.
“Ningrum,” panggil Ibu.
“Hmm?” jawabku sedikit tergeragap.
Tak kusadari Ibu sudah berdiri di sampingku.
“Ini. Pulang dan istirahat. Jangan
lupa makan. Nanti Ibu pulang lebih cepat.” Ibu mengulurkan kantong
plastik. Aku mengangguk.
●●●
Kuusap mataku. Masih jam sepuluh
malam. Tadi sehabis magrib aku ketiduran.
Terdengar suara mesin jahit. Kulangkahkan
kakiku ke ruang tengah. Ibu sedang menjahit. Punggungnya terlihat lebih
bungkuk. Tangannya cekatan menarik kain yang sedang dijahit. Mesin jahit model
lama dengan putaran tangan ada di depannya.
Mataku masih menatap Ibu. Sebegitu
keraskah Ibu bekerja untuk menghidupi kami berdua? Sejak Ayah meninggal, Ibu
bekerja keras. Kita harus mandiri, begitu katanya. Tak mau merepotkan saudara
yang lain.
Tersadar. Aku tak pernah tahu kapan
Ibu tidur. Ketika aku membuka mata, Ibu selalu ada. Ibu selalu bangun lebih
awal dan tidur lebih malam dariku. Sejak dulu. Tanpa kusadari, aku selalu
merasa tenang ketika Ibu ada di sekitarku.
Kumantapkan hatiku. Dengan bekerja
aku bisa membantu Ibu dan bisa membeli apapun yang kuinginkan.
“Bu..”panggilku.
Ibu menoleh. Tangannya berhenti
memutar roda mesin jahit.
“Kamu bangun Nduk. Ayo makan dulu, tadi sore kan belum makan.” Ibu melepas kaca
matanya, beranjak. Menuju lemari makan. Kuikuti langkahnya.
“Ada yang ingin Ningrum bilang ke
Ibu,”ucapku serius.
Ibu berhenti mengambil lauk.
Diletakannya piring yang sudah terisi nasi dan sayur kangkung di meja.
Menatapku. Kurasakan kakiku sedikit gemetar. Aku tak pernah merasa segrogi ini
ketika berbicara dengan Ibu.
“Ningrum mau berhenti kuliah.
Ningrum mau kerja saja. Ningrum mau bantu Ibu, jadi Ibu ndak menderita lagi,” ucapku cepat. Akhirnya kata itu keluar juga.
Lega.
Wajah Ibu berubah. Kaget mendengar
perkataanku mungkin.
“Biar Ibu ndak menderita lagi?”
tanyanya.
“Iya. Biar Ibu ndak menderita lagi. Ibu nggak perlu susah-susah nyari biaya kuliah
dan biaya hidup Ningrum di Jakarta..”
Plak.
Pipiku terasa panas. Tak terlalu
keras tamparan Ibu. Tapi cukup membuatku tercekat. Tak kumengerti kenapa Ibu
menamparku. Seumur-umur Ibu tak pernah memukulku, berkata kasar pun tidak.
“Jangan pernah mengatakan Ibu
menderita karena kamu.”ucap Ibu. Matanya terlihat basah.
“Tapi..”
“Ibu ndak pernah menderita membesarkanmu. Ibu ikhlas bekerja buat
Ningrum. Jangan pernah berpikir seperti itu lagi.”
“Tapi, kalau Ningrum kerja, Ningrum bisa
bantu Ibu, Ningrum juga bisa beli apapun yang Ningrum inginkan sendiri, jadi
Ningrum ndak ngerepotin Ibu,” belaku.
Mataku mulai terasa panas.
“Ningrum, maafkan Ibu, kalau selama
ini Ibu ndak bisa menuhin apa yang
Ningrum inginkan. Ibu mungkin berbeda dengan orang tua yag lain yang bisa
ngasih apapun. Maaf, Ibu memang tak bisa memberimu harta, tapi Ibu ingin
memberimu ilmu. Jadilah orang yang pintar, jadilah orang yang lebih baik dari
Ibu.”
Perkataan Ibu menampar hatiku. Jauh
lebih sakit dengan tamparan pipi tadi. Selama ini aku sering sekali main-main
tanpa serius belajar. Menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tak jelas
manfaatnya.
Aku jahat. Bahkan sebenarnya
pemikiran asliku bukan untuk membantu. Tapi memenuhi sisi egoisku.
“Maafkan Ningrum Bu.” Kupeluk tubuh
Ibu. Menyrurukkan kepalaku di dadanya yang hangat. Terisak.
“Jangan pernah berkata seperti itu
lagi. Kamu harus kuliah yang benar nduk.
Untuk saat ini, yang membuat Ibu senang, kalau kamu serius belajarnya.” ucap
Ibu sambil mengusap-usap kepalaku. Aku mengangguk.
”Maafkan Ningrum yang berpikir
seperti itu. Maafkan Ningrum juga Bu, selama ini, Ningrum tak serius belajar.
Maafkan Ningrum, Bu,” ucapku lagi. Kueratkan pelukanku ke Ibu.
“Sudahlah, ayo kamu makan. Ibu
suapin. ”
Aku mengangguk.
Ibu melepaskan pelukan, menghapus
air mataku, tersenyum. Kemudian mengambil lauk ikan pindang yang disambal dan menaruhnya di piring yang sudah
terisi nasi dan sayur kangkung tadi. Bahkan setelah aku menyebalkan dan
membuatnya terluka, Ibu masih mau memanjakanku.
Ibu menyuapiku dengan tangan.
Kurasakan guratan tangan ibu yang sedikit kasar ketika menyentuh bibirku. Membuatku
berjanji ketika aku malas akan kuingat tangan Ibu yang telah bekerja untukku
hingga tak lagi halus.
“Terima kasih Bu, untuk
menjadi Ibu Ningrum.”
Catatan:
Ndak
= tidak, nggak
Nduk
= panggilan untuk anak perempuan