Minggu, 21 September 2014

Untukmu yang berusia 22



Hei, kamu yang telah memasuki angka 22, walaupun telat, happy birthday, semoga sisa umur yang ada menjadi lebih berkah.
Sebenarnya aku ingin menuliskannya tepat hari itu, tapi apa daya kamu tahu kan hari itu tepat sidang, yeah , that was one of big thing in this year, right? Alhamdulillah, semua berjalan lancar.
Kuucapkan terima kasih untuk mamak yang telah membuatkan nasi kuning untukmu, selalu. Walaupun kamu tak bisa selalu berada di sampingnya, thanks mom for remembering. Maaf, dia masih sering merepotkanmu. Always love you, Mom ;).
Untuk teman-teman, terima kasih telah memberimu kejutan. Terima kasih untuk membuat harimu semakin berwarna, menemanimu, menyemangatimu, dan berjuang bersama. Kalian salah satu hal yang membuatmu menjadi seperti sekarang. Hope, persahabatan kita tak pernah berakhir guys.
Apa yang telah kamu lakukan selama beberapa tahun terakhir ini?
Banyak hal bukan yang terjadi, mulai dari sibuk proposal, bimbingan, skripsi, seminar, sidang, dan insyaallah wisuda beberapa hari lagi.  Akhirnya, salah satu mimpimu segera tercapai. Selamat. Terima kasih, untuk berusaha sejauh ini. Tapi, Hanya itukah?
I dont think so..
Banyak hal lain bukan. Kamu yang merasa cukup enggan untuk pergi ke yogya. Dan kamu yang sangat bersyukur bahwa kamu memilih untuk pergi. Buakankah di sana kamu bertemu dengan orang-orang keren. Kamu merasa pulang ke sbuah rumah yang telah lama kamu cari bukan. Yah, tempat yang ketika kamu berada di dalamnya, kamu akan berkata “yah, ini rumahku”. Benar. Banyak hal di rumah itu yang kamu dapatkan. Tentang literasi, semangat, sebuah perjuangan. Ada hal yang berubah bukan saat kamu kembali ke aktivitasmu sehari-hari. Bahwa sebuah mimpi itu harus diperjuangkan. Banyak orang-orang di luar sana yang mencapai mimpinya dan mereka adalah orang-orang yang gigih. Senang sekali rasanya menjadi bagian dari keluarga kampus fiksi. Btw, bukankah kamu rindu untuk berkumpul lagi bersama mereka? Ya, suatu saat nanti semoga kami bisa berkumpul dan saling bertukar karya...aamiin.
Tanpa disadari waktu terus berlalu. Entah kamu merasa cepat atau lambat, dia tetap bergulir. Manfaatkan waktumu sebaik mungkin. Hidup ini ada untuk dijalani. Setiap episode tak ada yang sama, seperti angin yang sama tak akan berhembus dalam keadaan yang sama persis. Dimensi ruag mungkin iya, tapi dimensi waktu tidak. Dan dimensi waktu yang berubah, sedikit banyak membuat dimensi ruang berubah juga bukan? Ingatlah hal ini.
Teruslah bermimpi. Rajutlah mimpi, mulailah, dan selesaikan. Ya, kau harus menyelesaikan apa yang telah kamu mulai. Tanpa menyelesaikan tak akan ada hasil yang terlihat bukan? Kerjakan semuanya dengan semangat penuh, mengerti?
Jadilah pribadi yang lebih baik. Pahamilah dirimu dan orang-orang di sekitarmu. Selalu bersyukur dengan apa yang telah kamu miliki. Dan berbagilah!
Semoga kita bertemu lagi tahun depan. Jaga diri dan orang-orang di sekelilingmu dengan baik. Aku menunggu ceritamu yang jauh lebih keren J

Sabtu, 28 Juni 2014

Mendengar tapi tidak mendengar

Ini bukan hanya tentang bagaimana kau mendengar,
Atau kau hanya bilang,
“Ya, aku mendengar.”
Nyatanya kau mendengar tapi kau tidak mendengar.
Tapi di sela-sela ucapaanmu kau mengucapkan “apa” atau “kenapa” dan parahnya kau hanya berucap “hm”. Dan ketika kau mendengarnya kau tidak melihat dengan seseorang yang sedang mengobrol denganmu, kau hanya bermain dengan benda yang bernama gadget. Aku pikir jika kau seperti itu aku bisa mengatakan bahwa “kau mendengar tapi kau tidak benar-benar mendengar.”
Gadget? Aku pikir itu benda yang penting. Tapi kau harus tau kapan saat menggunakannya dan kapan kau tidak menggunakannya. Gadget, seperti ungkapan kadang ”mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Padahal, ingat, orang yang langsung bisa membantumu ketika kau ada kesulitan bukankah orang-orang yang ada di dekatmu. Maka, pandai-pandailah menggunakan alat yang satu itu.
Aku bisa tahan dengan orang yang mengobrol tapi tangannya terus sibuk memencet tombol-tombol gadget, tapi maaf daya tahanku hanya untuk beberapa menit selebihnya silahkan mengobrol dengan gadget mu dan jangan salahkan aku jika suatu kali aku tak lagi ngeh untuk mengobrol denganmu, karena hal itu sangat menjengahkan. Sama seperti ketika aku mengobrol dengan orang songong, aku bisa tahan untuk beberapa menit, tapi maaf setelahnya aku lebih memilih untuk mengobrol dengan yang lain. Mentok aku akan membaca atau mengerjakan suatu hal yang lebih bermanfaat.
Mendengar ini bukan hanya tentang membuka telingamu saja. Ada etikanya, setidaknya menurutku. Bukan hanya buka telingamu, tapi juga perhatikan orang yang sedang kau dengar, beri reaksi, beri tanggapan, beri masukan, maka dengan begitu kau benar-benar mendengarnya.
Apa yang kau lakukan, seringnya itulah yang akan kau dapatkan.
Kau respect dengan orang lain, kemungkinan besar orang lain respect denganmu.
Kau mendengar orang lain, kemungkinan besar orang lain akan mendengarmu.

Sabtu, 21 Juni 2014

Aku mencintaimu, Bu



Beberapa waktu terakhir, sering muncul wajah ibu ketika aku bangun. Oya, aku sekarang tak lagi di rumah. Tak lagi di kamarku. Tak lagi bisa menemukan wajah ibu yang biasanya selalu membuatkanku entah teh atau susu atau kopi di pagi hari. Mungkin aku sedang merindukannya. Bukan mungkin, karena benar aku merindukannya.
Jika aku merindukannya seperti ini, apakah Ibu juga merindukanku? Ya, Ibu lebih merindukanku dibanding aku merindukannya. Pasti begitu.
Dalam keluargaku memang jarang sekali ada pernyataan sayang. Hampir tidak pernah malah. Pernah sekali, seorang bijak berkata “ucaplah pada Ibu kalian Aku sayang Ibu karena Allah.”
Dan, aku melakukannya. Kala itu aku merasa tak cukup kuat untuk mengatakannya langsung. Ku sms ibu. “Aku mencintai Ibu karena Allah.”
Beberapa menit kemudian balasan itu muncul. “Kau kenapa nak?” begitulah jawaban Ibu.
Aku hanya membalas, tak apa-apa. Kemudian dalam smsku, tak lagi kuungkit kata-kata itu.
Bagi Ibu mungkin aneh, aku tiba-tiba mengatakan hal seperti itu. Tapi aku lega, setidaknya aku pernah menyatakan cintaku langsung padanya, secara sadar, walaupuan hanya lewat sms. Itu pernyataan cinta pertamaku kepada seseorang.
Ada yang bilang, cinta itu butuh pernyataan. Sebagai penegasan bahwa benar kau mencintainya.  Lalu, pernahkah kau menyatakannya cinta itu langsung? Bukan lewat media sosial. Yah, sekadar bertanya saja sih.
Well, cinta bukan melulu sebuah pernyataan, tapi dia tercermin dari perilaku. Cinta itu sungguh mampu kita rasakan.
Aku yakin, setiap Ibu pasti mencintai anak-anaknya. Dan aku juga sangat mencintai Ibuku. Dan Ibu jauh lebih besar cintanya kepadaku dibandingkan cintaku padanya.
Ketika aku pulang, Ibu selalu tidur denganku. Tidur di sebelahku. Kadang mengudangku. Ya, aku yang sudah sebesar ini dia kudang.  “anak wedok anak wedok nduk genduk..” kudangnya sambil mengusap rambutku. Malu? Tidak. Aku senang. Karena saat itu aku merasa kembali menjadi anak kecil dengan orang yang sangat menyayangiku ada di sampingku.
Ibu juga selalu menanyakan apa yang ingin aku makan. Lalu dimasaknya makanan-makanan kesukaanku. Bukan itu saja, Ibu selalu mendengar ceritaku, walaupun terkadang cerita itu tak penting-penting amat. Tapi Ibu terlihat senang ketika aku bercerita padanya.
Aku sering mengusik Ibu ketika sedang makan. Meminta disuapi. Dan dengan tangannya Ibu menyuapiku. Tangannya yang tak lagi halus menyentuh bibirku. Dan yang kutahu, rasa makanan itu lebih nikmat dibanding restoran manapun.
Mungkin Ibu kita tak pernah meminta kita pulang secara langsung, tak pernah meminta peluk, tapi dengarlah (bacalah) ini baik-baik, Ibu kita selalu menantikan hal itu dari diri kita. Bahkan ketika aku mengerti beberapa hal tentang ibu, aku tahu pengertian Ibu terhadapku masih jauh lebih besar dibanding pengertianku terhadapnya.
Ibu, Aku mencintaimu.

Rabu, 04 Juni 2014

Lepas

Kupandangi wajahnya. Tak percaya dengan apa yang baru saja dia bilang.
“Aku menemukannya Emmi.” ucapnya lagi, masih dengan wajah cerah.
Lalu kau pikir selama ini kita apa? Ingin sekali kumuntahkan kata-kata itu padanya. Kau selalu ada untukku, menemaniku, menghiburku, dan segalanya yang membuatmu lebih dari sekedar teman. Walaupun kau tak pernah mengatakannya, tapi kupikir kau juga merasakan hal yang sama.
“Entahlah, Emmi. Kurasa, ada sesuatu yang berbeda ketika aku bersamanya.” Wajahnya terlihat sangat riang. “Kenapa kau diam saja?” lanjutnya ketika aku tak merespon. Tangannya mencubit kedua pipiku.
 Banyak sekali yang ingin kukatakan padanya, lebih untuk menuntut penjelasan.
“Kau menemukannya?”tanyaku pelan.
Dia mengangguk-angguk.
Mataku mulai terasa panas. Jika aku tak pergi, aku tak tau apakah aku akan mampu menahannya agar tak jatuh atau tidak.
“Aku harus pulang.” putusku. Kuambil tas.
“Hei, kau mau kemana Emmi? Kenapa kau ingin pulang? Bahkan minuan pesanan kita belum datang.” Dia menahan tanganku.
“Kau itu bodoh atau pura-pura bodoh. Kau tahu, selama ini aku pikir aku telah menemukanmu. But i can’t believe that i’m the fool again. I thought this love would never end. How was i to know you never told me. Aku bodoh Yu, karena berpikir kau juga menemukanku.” Kuhempaskan tangannya. Keluar dari Cafe. Tak kupedulikan panggilannya. Aku terus berjalan menjauh. Melepaskan diri dari jangkauannya.


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Ketemu



Aku termenung, menatapi jalan Otista yang kian memadat. Inilah kebiasan baruku, menunggumu tiap sore senggangku tiba. Tidak senggang sebenarnya. Hanya, aku yang selalu menyenggangkan diri. Duduk sendiri di kedai kopi kecil ini, sebentar-sebentar mengok keluar. Berharap menemukan sosokmu.
Masih teringat, hari itu dengan kemeja kotak-kotak tosca kau duduk di depanku. Membawa secangkir latte yang masih mengepul. Hujan mengguyur deras di luar.
Boleh bergabung? Semua bangku penuh, begitu katamu sambil tersenyum. Memperlihatkan dempil di pipimu. Aku hanya mengangguk waktu itu. Setelah itu, mataku tak lagi bisa berkonsentrasi pada jejeran kata-kata dalam novel yang kubaca.
Kau mengajakku mengobrol. Menanyaiku ini dan itu. Aku kagum dengan wawasan luasmu. Ramahmu. Dan senyummu.
Ya. Kupikir aku hanya sebatas kagum. Salah. Lebih dari itu aku menyukaimu. Memikirkanmu sejak hari itu. Seperti orang gila. Dan di sinilah aku, menungguimu tiap sore. Ah, rasa suka memang kadang membuat gila, begitu kata orang-orang. Dan sialnya itu benar.
Hari ini, hari ke 40 sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Hanya hari kemarin aku absen menungguimu. Demam.
Kulayangkan pandanganku ke luar. Kendaraan memadat. Tak percaya, mataku  menangkap bayangmu. Senyumku merekah.Berharap kau masuk ke kedai ini dan duduk di depanku, lagi.
Masih dengan kemeja kotak-kotak kau melangkah masuk. Memesan latte dan duduk di meja seberangku. Aku kecewa. Sudah tak mengenaliku kah kau?
Kuamati gerakmu.
Tersadar. Aku pikir, mungkin kau juga merasa menemukanku seperti aku yang menemukanmu. Tapi sepertinya aku hanyalah orang yang tak sengaja kau temui bagimu.
Kulangkahkan kakiku ke luar. Meninggalkanmu, yang aku tahu dari gerakmu sedang berharap bertemu seseorang. Karena seperti itulah aku selama menungguimu. Semoga orang yang kautemukan itu juga merasa telah menemukanmu.

Senin, 26 Mei 2014

[Cerpen] Terimakasih, Untuk Menjadi Ibuku

         
Kereta mulai berjalan. Telat 10 menit dari jadwal seharusnya. Malam ini, walaupun bukan akhir pekan, kereta ekonomi jurusan Pasar Senen-Jogjakarta cukup penuh. Semua penumpang saling tak acuh, sibuk dengan kepentingan masing-masing. Lorong kereta ekonomi yang sempit menambah gaduh penumpang yang belum menemukan kursinya. Ada juga yang mengomel ketika kursinya sudah diduduki orang lain. Menuduh. Begitu dicek tiket, salah gerbong. Membuat beberapa orang bersorak.
            “Permisi ya mbak,” sapa seseorang. Aku baru saja duduk setelah menyempilkan ranselku di tempat barang yang sesak, entah bawa apa semua penumpang ini.
            Aku menoleh, seorang ibu dengan anak kecil di gendoangannya, mungkin berusia tiga tahun, berdiri di sampingku.
            “Iya, Bu. Silahkan!” Aku mempersilahkan ibu itu duduk. Bawaannya tak terlalu banyak sebenarnya. Hanya satu tas yang ditentengnya. Diletakkan di bawah kursi.
            “Turun mana?” ibu itu menanyaiku.
            “Kutoarjo. Ibu turun mana?” tanyaku basa-basi. Tak ada minat mengobrol.
            “Oh, Ibu turun di Stasiun Lempuyangan.”
            Aku mengangguk-angguk dan tersenyum, tak ingin mengobrol lebih panjang lagi.
            “Mbak nya sendirian?” tanya Ibu itu lagi. Sedikit mengusikku yang mulai membaca novel. Kuanggukkan kepala.
            “Ibu sendirian? Nggak sama suami?” tanyaku. Basa-basi lagi.
            “Suami Ibu sudah meninggal,” ucapnya. Membuatku teringat pada Ibu.
            “Maaf,” ucapku. Kali ini tidak lagi basa-basi.
            “Permisi.” Seorang wanita muda muncul. Perutnya membuncit. Hamil. Di sampingnya, seorang laki-laki membawa tas. Suaminya. Mereka duduk di depanku. Kursi kereta ekonomi memang berhadapan.
            “Anaknya berapa tahun, Bu?” tanya wanita muda itu.
            “Tiga tahun.” Tepat tebakanku tadi.
            “Udah berapa bulan Mba hamilnya?” tanya Ibu-ibu di sampingku. Pembicaraan ibu-ibu pun dimulai. Setidaknya bukan menggosip. Aku sebenarnya tak berniat mendengarkan. Tapi mau bagaimana, jarak yang rapat membuat pembicaraan itu terdengar. Dan lagi, aku sedang malas mendengarkan musik.
            “Delapan bulan, Bu. Ini mau melahirkan di kampung rencananya. Sakit ya Bu, melahirkan itu?” tanya wanita muda itu. Mataku masih menatap baris-baris tulisan dari novel yang kupegang. Tapi sebenarnya, tak ada kata-kata yang mampu kuserap.
            “Sakit sih iya. Sakitnya juga tak bisa dibagi. Tapi karena sakit itu seorang anak bisa lahir.” Teringat pelajaran SMA dulu bahwa sebelum melahirkan ada ‘pembukaan’ sebagai jalan sang bayi lahir. Sesakit apa sebenarnya?
            “Tapi rasa sakit itu lenyap ketika bayi itu lahir. Rasanya itu...bahagia sekali.” sambung Ibu-ibu di sampingku. Kulirik sebentar. Tangannya sedang mengelus-elus kepala anaknya yang mulai terlelap di pangkuannya.
            “Ibu kayaknya sayang banget sama anaknya,” ucap wanita  muda di depanku.
            “Iya. Setiap ibu pasti sayang sama. Membuatnya senang juga membuat kami senang.”
            Aku teringat Ibu. Seperti itukah Bu? Ya, Bu. Aku akan membuatmu senang seperti kau selalu membuatku senang. Aku semakin mantap dengan rencana yang telah kususun beberapa hari ini.
            Kuputuskan memakai headset. Tak ingin lebih jauh mendengar obrolan ibu-ibu.
●●●
            Udara pagi di kampung memang terasa berbeda dengan ibukota. Lebih segar. Aku baru saja turun dari angkot. Sebuah keramaian tertangkap di depanku.
            Pasar Kemiri tak berbeda dari terakhir kali kuingat. Ramai sekali hari ini. Pantas. Hari ini hari Sabtu, hari pasaran. Kulangkahkan kakiku masuk. Sedikit sesak. Kanan kiri jalan dipakai untuk berjualan sayur. Lesehan. Begitu memasuki pasar, aroma Soto menggoda hidungku. Membuat perutku yang memang belum terisi menggeliat. Kuedarkan pandangan. Tak jauh dari pintu masuk ada penjual Soto.
            Aku lebih dalam memasuki pasar. Berjalan pelan agar tak menabrak orang. Ibu-ibu sibuk membawa belanjaannya. Kutangkap bayangan  Ibu. Tangannya sedang sibuk menata dagangan. Kuhampiri lapaknya.
            Aku tak langsung memanggilnya. Sudah lama sekali aku tak melihat Ibu berjualan di pasar. Beberapa orang mengerumuni barang dagangan. Memilah. Masih kuamati gerak-gerik Ibu.
            Teringat perkataan Ibu-ibu di kereta tadi malam. Seorang Ibu pasti akan selalu menyayangi anaknya. Seberapa keras pun itu. Bukannya saat melahirkan itu juga seorang Ibu merasakan sakit yang tidak bisa dibagi dengan siapa pun. Tapi karena sakit itulah seorang anak bisa lahir.
            “Bu..” panggilku. Benarkah benar-benar akan kukatakan rencana itu padanya. Sisi diriku masih tak setuju. Masih jelas dalam ingatanku wajah berseri Ibu ketika aku diterima di Perguruan Tinggi tempatku menuntut ilmu sekarang. Waktu itu aku ragu, untuk mengambilnya atau tidak. Walaupun aku bisa mencari besiswa nantinya, tapi uang masuk tetap ada sementara beasiswa belum turun. Tapi Ibu menganggup dengan mantap, menyuruhku tetap maju. Selang beberapa hari dijualnya dua cincin peninggalan Bapak, hanya disisakan cincin nikah. Sisanya, aku tak tahu darimana Ibu mendapatkan biaya. Sisi diriku yang lain mempertahankan rencana itu. Bukankah dengan begitu aku akan meringankan beban Ibu?
            Ibu menoleh. Wajahnya sedikit terkejut melihatku. Aku memang tak memberitahunya kepulanganku kali ini. Perlahan wajah itu tersenyum.
            “Ningrum!” ucapnya.
            Kulangkahkan kakiku mendekat. Mencium tangannya. Telapaknya terasa lebih kasar dari terakhir kali kuingat.
            “Kenapa ndak memberitahu Ibu?” tanyanya. Beberapa orang memandangi kami.
            “Pengen bikin kejutan buat Ibu.” Tak mungkin kukatan rencanaku sekarang. Di tempat ini.
            “Anaknya Bu? Kerja atau sekolah?” tanya seorang pedagang buah di di samping lapak Ibu.
            “Masih kuliah di Jakarta.” Kutangkap ada rasa bangga di suara Ibu.
            Kusalami beberapa penjual di sekitar lapak Ibu.
            “Ibu anter pulang ya?”
            Ndak usah. Ningrum jalan kaki aja. Deket juga kok,” tolakku. Selain rumahku yang memang dekat dengan pasar, aku juga butuh beberapa waktu untuk menyiapkan diri.
            “Ya udah, Ningrum mau jajan apa?” Ibu menanyaiku seperti aku masih anak kecil. Kugelengkan kepala. Tak terlalu berminat dengan jajaran pasar.
            “Lupis ya, ibu beliin..” Tanpa persetujuanku ibu langsung melangkah pergi. Menuju lapak jajanan pasar yang memang tak jauh dari lapaknya. Kuamati Ibu. Sering sekali Ibu memperlakukanku seperti anak kecil. Kadang ketika aku pulang, ibu membelikanku berbagai macam jajanan pasar tanpa kuminta. Kadang pula Ibu memaksa menyuapiku makan ketika aku sedang malas.
            Ibu terlihat mengobrol dengan ibu-ibu penjual jajanan pasar itu. Sesekali mereka melihat ke arahku. Aku tersenyum. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Mungkin sedang membicarakanku. Wajah ibu terlihat bahagia.
            Kuteringat perkataan dosen waktu itu.
            “Kalian harus tahu, yang menjadi kebanggaan orang tua itu anaknya?” ucapnya di sela-sela mengajar tentang Kurva Philip. Kami, mahasiswanya, hanya mengangguk-angguk. Ada hubungan apa antara kurva yang menjelaskan mengenai inflasi itu dengan kebanggaan orang tua.
            “Kalian harus tahu ini. Di mana-mana itu, kalau orang tua ketemu temannya yang akan ditanyakan itu anaknya. Anaknya sekarang di mana? Kuliah atau kerja? Kalau kerja di mana? Kalau kuliah di mana? Tak ada yang akan menanyakan, emasmu sekarang udah berapa kilo? Jumlah mobilmu berapa? Apalagi nanya jumlah digit di rekening.” Kami terkekeh mendengarnya. Betul juga.
            “Makanya kalian harus belajar yang serius,” pungkasnya. Dan Kurva Philip pun lanjut dibahas.
            Kuhembuskan napas panjang. Benarkah seperti itu? Sudah berhari-hari kupikirkan rencana untuk berhenti kuliah. Mending bekerja. Bisa menghasilkan uang. Bisa memebeli ini-itu. Ah, ya. Membeli apapun yang aku inginkan tanpa harus merengek pada Ibu, bukankah dengan begitu Ibu juga akan bangga. Sepertinya ajakan Nina memang benar.
            “Ningrum, aku mau berhenti kuliah,” ucapnya saat kami sedang asyik menikmati siomay di kantin. Keningku berkerut
            “Aku mau kerja saja,” lanjutnya.
            “Kenapa? Kita kan tinggal dua tahun lagi, nggak sayang tuh. Lagian orang tuamu memang nggak bakal kecewa?” tanyaku.
            Nina menggeleng, “Menurutku nggak. Coba bayangin, kalau aku kerja, aku nggak perlu ngerepotin orang tuaku lagi. Aku juga bisa membeli apa saja yang  kuinginkan. Jalan-jalan. Kebetulan aku juga ditawari kerja sama temenku di Semarang. Kerja di bagian marketing  gitu katanya. Minggu depan udah harus ngajuin lamaran. Oh, ya katanya bisa buat dua orang. Ayo kamu kerja aja,” ajaknya.
            Aku menatapnya. Selama ini memang kadang terbesit dalam pikiranku untuk bekerja. Hidup di ibu kota bukan hal yang murah. Apalagi di tambah teman-teman kuliah yang sering mengajak jalan. Juga gadget yang selalu baru. Membuatku minder kala di dekat mereka.
            “Kamu pengen beli note kan?” tanya Nina seakan mengerti pikiranku.
            “Nanti kupikirkan.”
            “Jangan lama-lama. Dua minggu lagi lho, inget.”
            Aku hanya tersenyum waktu itu. Tak terlalu berminat sebenarnya. Tapi semakin kupikir perkataan Nina ada benarnya. Kulihat HP-ku dengan model yang kutahu betul sudah tidak diproduksi lagi. Sering terpikir andaikan aku bisa membeli HP baru, tak usah model terbaru, cukup HP pintar saja. Atau bisa jalan-jalan kapan saja ketika aku ingin. Keputusanku semakin mantap. Aku harus mengatakannya pada Ibu malam ini.
            “Ningrum,” panggil Ibu.
            “Hmm?” jawabku sedikit tergeragap. Tak kusadari Ibu sudah berdiri di sampingku.
            “Ini. Pulang dan istirahat. Jangan lupa makan. Nanti Ibu pulang lebih cepat.” Ibu mengulurkan kantong plastik.  Aku mengangguk.
●●●
            Kuusap mataku. Masih jam sepuluh malam. Tadi sehabis magrib aku ketiduran.
            Terdengar suara mesin jahit. Kulangkahkan kakiku ke ruang tengah. Ibu sedang menjahit. Punggungnya terlihat lebih bungkuk. Tangannya cekatan menarik kain yang sedang dijahit. Mesin jahit model lama dengan putaran tangan ada di depannya.
            Mataku masih menatap Ibu. Sebegitu keraskah Ibu bekerja untuk menghidupi kami berdua? Sejak Ayah meninggal, Ibu bekerja keras. Kita harus mandiri, begitu katanya. Tak mau merepotkan saudara yang lain.
            Tersadar. Aku tak pernah tahu kapan Ibu tidur. Ketika aku membuka mata, Ibu selalu ada. Ibu selalu bangun lebih awal dan tidur lebih malam dariku. Sejak dulu. Tanpa kusadari, aku selalu merasa tenang ketika Ibu ada di sekitarku.
            Kumantapkan hatiku. Dengan bekerja aku bisa membantu Ibu dan bisa membeli apapun yang  kuinginkan.
            “Bu..”panggilku.
            Ibu menoleh. Tangannya berhenti memutar roda mesin jahit.
            “Kamu bangun Nduk. Ayo makan dulu, tadi sore kan belum makan.” Ibu melepas kaca matanya, beranjak. Menuju lemari makan. Kuikuti langkahnya.
            “Ada yang ingin Ningrum bilang ke Ibu,”ucapku serius.
            Ibu berhenti mengambil lauk. Diletakannya piring yang sudah terisi nasi dan sayur kangkung di meja. Menatapku. Kurasakan kakiku sedikit gemetar. Aku tak pernah merasa segrogi ini ketika berbicara dengan Ibu.
            “Ningrum mau berhenti kuliah. Ningrum mau kerja saja. Ningrum mau bantu Ibu, jadi Ibu ndak menderita lagi,” ucapku cepat. Akhirnya kata itu keluar juga. Lega.
            Wajah Ibu berubah. Kaget mendengar perkataanku mungkin.
            “Biar Ibu ndak  menderita lagi?” tanyanya.
            “Iya. Biar Ibu ndak menderita lagi. Ibu nggak perlu susah-susah nyari biaya kuliah dan biaya hidup Ningrum di Jakarta..”
Plak.
            Pipiku terasa panas. Tak terlalu keras tamparan Ibu. Tapi cukup membuatku tercekat. Tak kumengerti kenapa Ibu menamparku. Seumur-umur Ibu tak pernah memukulku, berkata kasar pun tidak.
            “Jangan pernah mengatakan Ibu menderita karena kamu.”ucap Ibu. Matanya terlihat basah.
            “Tapi..”
            “Ibu ndak pernah menderita membesarkanmu. Ibu ikhlas bekerja buat Ningrum. Jangan pernah berpikir seperti itu lagi.”
            “Tapi, kalau Ningrum kerja, Ningrum bisa bantu Ibu, Ningrum juga bisa beli apapun yang Ningrum inginkan sendiri, jadi Ningrum ndak ngerepotin Ibu,” belaku. Mataku mulai terasa panas.
            “Ningrum, maafkan Ibu, kalau selama ini Ibu ndak bisa menuhin apa yang Ningrum inginkan. Ibu mungkin berbeda dengan orang tua yag lain yang bisa ngasih apapun. Maaf, Ibu memang tak bisa memberimu harta, tapi Ibu ingin memberimu ilmu. Jadilah orang yang pintar, jadilah orang yang lebih baik dari Ibu.”
            Perkataan Ibu menampar hatiku. Jauh lebih sakit dengan tamparan pipi tadi. Selama ini aku sering sekali main-main tanpa serius belajar. Menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tak jelas manfaatnya.
            Aku jahat. Bahkan sebenarnya pemikiran asliku bukan untuk membantu. Tapi memenuhi sisi egoisku.
            “Maafkan Ningrum Bu.” Kupeluk tubuh Ibu. Menyrurukkan kepalaku di dadanya yang hangat. Terisak.
            “Jangan pernah berkata seperti itu lagi. Kamu harus kuliah yang benar nduk. Untuk saat ini, yang membuat Ibu senang, kalau kamu serius belajarnya.” ucap Ibu sambil mengusap-usap kepalaku. Aku mengangguk.
            ”Maafkan Ningrum yang berpikir seperti itu. Maafkan Ningrum juga Bu, selama ini, Ningrum tak serius belajar. Maafkan Ningrum, Bu,” ucapku lagi. Kueratkan pelukanku ke Ibu.
            “Sudahlah, ayo kamu makan. Ibu suapin. ”
            Aku mengangguk.
            Ibu melepaskan pelukan, menghapus air mataku, tersenyum. Kemudian mengambil lauk ikan pindang yang disambal dan menaruhnya di piring yang sudah terisi nasi dan sayur kangkung tadi. Bahkan setelah aku menyebalkan dan membuatnya terluka, Ibu masih mau memanjakanku.
            Ibu menyuapiku dengan tangan. Kurasakan guratan tangan ibu yang sedikit kasar ketika menyentuh bibirku. Membuatku berjanji ketika aku malas akan kuingat tangan Ibu yang telah bekerja untukku hingga tak lagi halus.
            “Terima kasih Bu, untuk menjadi Ibu Ningrum.”
Catatan:
Ndak = tidak, nggak
Nduk = panggilan untuk anak perempuan