Rabu, 04 Juni 2014

Lepas

Kupandangi wajahnya. Tak percaya dengan apa yang baru saja dia bilang.
“Aku menemukannya Emmi.” ucapnya lagi, masih dengan wajah cerah.
Lalu kau pikir selama ini kita apa? Ingin sekali kumuntahkan kata-kata itu padanya. Kau selalu ada untukku, menemaniku, menghiburku, dan segalanya yang membuatmu lebih dari sekedar teman. Walaupun kau tak pernah mengatakannya, tapi kupikir kau juga merasakan hal yang sama.
“Entahlah, Emmi. Kurasa, ada sesuatu yang berbeda ketika aku bersamanya.” Wajahnya terlihat sangat riang. “Kenapa kau diam saja?” lanjutnya ketika aku tak merespon. Tangannya mencubit kedua pipiku.
 Banyak sekali yang ingin kukatakan padanya, lebih untuk menuntut penjelasan.
“Kau menemukannya?”tanyaku pelan.
Dia mengangguk-angguk.
Mataku mulai terasa panas. Jika aku tak pergi, aku tak tau apakah aku akan mampu menahannya agar tak jatuh atau tidak.
“Aku harus pulang.” putusku. Kuambil tas.
“Hei, kau mau kemana Emmi? Kenapa kau ingin pulang? Bahkan minuan pesanan kita belum datang.” Dia menahan tanganku.
“Kau itu bodoh atau pura-pura bodoh. Kau tahu, selama ini aku pikir aku telah menemukanmu. But i can’t believe that i’m the fool again. I thought this love would never end. How was i to know you never told me. Aku bodoh Yu, karena berpikir kau juga menemukanku.” Kuhempaskan tangannya. Keluar dari Cafe. Tak kupedulikan panggilannya. Aku terus berjalan menjauh. Melepaskan diri dari jangkauannya.


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar