Ini bukan hanya tentang bagaimana kau mendengar,
Atau kau hanya bilang,
“Ya, aku mendengar.”
Nyatanya kau mendengar tapi kau tidak mendengar.
Tapi di sela-sela ucapaanmu kau mengucapkan “apa” atau “kenapa”
dan parahnya kau hanya berucap “hm”. Dan ketika kau mendengarnya kau tidak
melihat dengan seseorang yang sedang mengobrol denganmu, kau hanya bermain
dengan benda yang bernama gadget. Aku pikir jika kau seperti itu aku bisa
mengatakan bahwa “kau mendengar tapi kau tidak benar-benar mendengar.”
Gadget? Aku pikir itu benda yang penting. Tapi kau harus tau
kapan saat menggunakannya dan kapan kau tidak menggunakannya. Gadget, seperti
ungkapan kadang ”mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Padahal, ingat,
orang yang langsung bisa membantumu ketika kau ada kesulitan bukankah
orang-orang yang ada di dekatmu. Maka, pandai-pandailah menggunakan alat yang
satu itu.
Aku bisa tahan dengan orang yang mengobrol tapi tangannya
terus sibuk memencet tombol-tombol gadget, tapi maaf daya tahanku hanya untuk
beberapa menit selebihnya silahkan mengobrol dengan gadget mu dan jangan
salahkan aku jika suatu kali aku tak lagi ngeh untuk mengobrol denganmu, karena
hal itu sangat menjengahkan. Sama seperti ketika aku mengobrol dengan orang
songong, aku bisa tahan untuk beberapa menit, tapi maaf setelahnya aku lebih
memilih untuk mengobrol dengan yang lain. Mentok aku akan membaca atau
mengerjakan suatu hal yang lebih bermanfaat.
Mendengar ini bukan hanya tentang membuka telingamu saja.
Ada etikanya, setidaknya menurutku. Bukan hanya buka telingamu, tapi juga
perhatikan orang yang sedang kau dengar, beri reaksi, beri tanggapan, beri
masukan, maka dengan begitu kau benar-benar mendengarnya.
Apa yang kau lakukan, seringnya itulah yang akan kau
dapatkan.
Kau respect dengan orang lain, kemungkinan besar orang lain
respect denganmu.
Kau mendengar orang lain, kemungkinan besar orang lain akan
mendengarmu.