Minggu, 25 Oktober 2015

Lili Mencuri Hujan

Taman itu terletak agak menjorok ke tengah hutan. Tak berukuran besar seperti taman biasanya. Hanya sebuah bangku dan serumpun bunga matahari. Awan hitam menumpahkan air sangat deras. Seperti batu-batu kecil. Memukul dengan keras.  Hujan kali ini tak seperti kemarin. Juga kemarinnya lagi. Lili menghitung butiran-butiran air yang jatuh. Satu, dua. Setelahnya berhenti. Butiran air teramat banyak kali ini.
Telapak tangan Lili menengadah. Merasakan tiap butiran itu menyentuh. Masuk ke dalam pori-porinya. Matanya memejam. Hujan adalah musik yang paling hebat. Seketika itu, Lili bisa merasakan kehadiran Nat. Duduk di sebelahnya. Memejam mata dan menikmati.
“Kau tak berhenti melakukan ini?” Nat bertanya.
Lili menggeleng, “Aku tak pernah bisa berhenti.”
Terdiam. Tik tik tik. Air masih tumpah dari langit.
“Kau curang Lili!” tuduh Nat. “Kau tak pernah membagi hujan dengan siapapun.”
“Aku membaginya denganmu,” bela Lili.
“Bukan itu, kau seharusnya tak seperti ini.”
Lili mendesah. “Kau tak tahu Nat, beberapa tahun terakhir aku terlalu sulit mendapatkan rintik hujan pertama. Dia tak lagi sama. Mungkin hujan sudah bertunangan dengan kemarau. Mereka bergandengan tangan sekarang.”
Nat memeluk Lili.
“Maafkan aku Lili, membiarkanmu seperti ini.”
Angin bermain. Membuat air turun tak lagi lurus.
“Lili, kau harus maju, dengan atau tanpa aku.”
“Tidak, Lili, kau harus bisa bahagia tanpaku.”
“Kau selalu bisa menemukanku saat hujan datang, itulah yang selalu membuatku bahagia denganmu.”
“Lili..”
“Lili..”
“Lili..”

Lili tersentak. Matanya terbuka. Sekelilingnya mendadak bisu.