Taman itu
terletak agak menjorok ke tengah hutan. Tak berukuran besar seperti taman
biasanya. Hanya sebuah bangku dan serumpun bunga matahari. Awan hitam
menumpahkan air sangat deras. Seperti batu-batu kecil. Memukul dengan
keras. Hujan kali ini tak seperti
kemarin. Juga kemarinnya lagi. Lili menghitung butiran-butiran air yang jatuh.
Satu, dua. Setelahnya berhenti. Butiran air teramat banyak kali ini.
Telapak tangan
Lili menengadah. Merasakan tiap butiran itu menyentuh. Masuk ke dalam
pori-porinya. Matanya memejam. Hujan adalah musik yang paling hebat. Seketika
itu, Lili bisa merasakan kehadiran Nat. Duduk di sebelahnya. Memejam mata dan
menikmati.
“Kau tak
berhenti melakukan ini?” Nat bertanya.
Lili
menggeleng, “Aku tak pernah bisa berhenti.”
Terdiam. Tik
tik tik. Air masih tumpah dari langit.
“Kau curang
Lili!” tuduh Nat. “Kau tak pernah membagi hujan dengan siapapun.”
“Aku
membaginya denganmu,” bela Lili.
“Bukan itu,
kau seharusnya tak seperti ini.”
Lili mendesah.
“Kau tak tahu Nat, beberapa tahun terakhir aku terlalu sulit mendapatkan rintik
hujan pertama. Dia tak lagi sama. Mungkin hujan sudah bertunangan dengan
kemarau. Mereka bergandengan tangan sekarang.”
Nat memeluk
Lili.
“Maafkan aku
Lili, membiarkanmu seperti ini.”
Angin bermain.
Membuat air turun tak lagi lurus.
“Lili, kau harus maju, dengan atau tanpa
aku.”
“Tidak, Lili, kau harus bisa bahagia
tanpaku.”
“Kau selalu bisa menemukanku saat hujan
datang, itulah yang selalu membuatku bahagia denganmu.”
“Lili..”
“Lili..”
“Lili..”
Lili
tersentak. Matanya terbuka. Sekelilingnya mendadak bisu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar