Minggu, 26 Februari 2017

Its okay, sepanjang itu bukan saya

Menjadi semakin dewasa, yeah, I am an adult now, ternyata membuat saya semakin banyak berpikir tentang diri saya. Sudah pernah kubilang kan kalau saya suka berpikir, actually, there are so much thing that’s just come to my mind, tapi pemikiran itu menjalar, dari satu hal ke hal yang lainnya. Saya pernah berpikir bahwa setiap orang sebenarnya memiliki sisi egois, entah dia terendap menjadi sifat yang berada di lapisan paling bawah, di bagian tengah, atau bagian atas sehingga sangat terlihat. Mungkin, sifat-sifat dalam diri manusia tumpang tindih
Apa kalian pernah berpikir, ketika sesuatu yang—yaahh katakan saja tidak terlalu baik, its okay, sepanjang itu bukan saya. Ya, tak apa-apa hal itu terjadi, sepanjang hal itu tidak terjadi pada saya. Egois? Tak punya hati? Kejam memang kedengarannya? Tapi, sialnya hal ini sering menghampiri saya akhir-akhir ini.
Terkadang, pada saat menonton drama, seorang pemeran utama yang memiliki sifat penolong dan sifat-sifat terpuji lainnya, dan melihat orang lain kesusahan, mereka berkata pada diri-sendiri “itu bukan urusan saya, saya tak harus menolongnya.” Lalu, beberapa saat kemudian, dia pasti akan menghentikan apapun yang dia lakukan untuk menolong. Pada saat itu, apa yang sebenarnya mereka lakukan?
Berbuat baik pada diri sendiri. Saya pikir itu jawabannya. Dari pertolongannya itu, menolong orang lain bukanlah hal pertama yang dia lakukan. Tapi dia sedang berbuat baik pada dirinya sendiri. Membuat hatinya yang resah melihat orang lain kesusahan menjadi tenang. Membuat penyesalan yang mungkin akan dia rasakan nantinya karena dia tidak menolong orang tersebut menjadi tak ada. Kau pernah merasa gelisah atas suatu hal karena tak menolong saat melihat orang lain kesusahan?
Sama seperti pemikiran saya bahwa setiap orang memiliki sifat egois, saya meyakini bahwa pada dasarnya setiap orang adalah orang yang baik. Ketika kau meyakini bahwa kau adalah orang yang baik, jangan pernah mengecewakan dirimu dengan hal-hal yang tidak baik. Nah, soal baik ini, akhir-akhir ini saya sedang menerapkan pada diri saya, jangan khawatir menjadi terlalu baik. Jadilah orang baik yang cerdas, baik pada orang tapi jangan mau ditipu. Kebaikan yang kita lakukan pada orang lain, mungkin kita tak mendapatkannya kembali dari mereka.
Terkadang saya mendengar perkataan, kenapa saya harus baik pada dia, padahal dia seperti itu pada saya. Ya, saya juga merasakannya. Saya seperti ini padanya, tapi dia setega ini pada saya. Saya pernah merasa kekecewaan yang sangat pada seorang teman. Tak pernah ada dalam persangkaan saya bahwa ia akan berkata seperti itu. Bahwa pada akhirnya ketika hal yang membuatnya susah bukan berasal dari saya, tak ada ucapan maaf sama sekali. Saya mengingatnya jelas hingga sekarang. Saya mungkin sudah memaafkannya, tapi saya tak bisa melupakannya. Hal inilah yang membuat saya belajar, bahwa ketika kita membuat luka pada orang lain, hal itu sulit sekali untuk dilupakan. Maka sebisa mungkin, saya akan hati-hati untuk tidak melukai orang lain.
Tak peduli. Ternyata, saya menggunakan sikap tak peduli saya untuk melindungi diri. Saya tak ingin kecewa olehnya lagi, maka saya memutus sikap peduli saya padanya. Saya tahu, harusnya saya tak seperti itu. Tapi saya belum bisa. Ketika saya merasa terlalu tak nyaman dengan seseorang karena apa yang dia lakukan pada saya, saya hanya akan mengangganya orang asing. Benar, rasa kecewa yag sangat tidak datang dari orang asing, tapi orang yang kita anggap dekat. Jika dia adalah orang lain, saya tak akan merasa terganggu dengan sikapnya. Itulah yang saya lakukan. Untuk yang satu ini, saya masih belum mendapatkan solusi lain untuk diri saya.
Mungkin hidup memang tentang belajar. Tak peduli berapapun usia, saya masih harus banyak belajar. Belajar menimbulkan sifat-sifat baik dan membuatnya superior, menenggelamkan sifat-sifat buruk agar ia tak timbul. Tak usah pedulikan apakah seseorang akan membalas hal-hal baik yang kau lakukan pada mereka, sepanjang hal itu tidak menyakiti hati sendiri, maka lakukanlah.  Its okay, sepanjang itu bukan saya? No. Tidak seperti itu. Its okay, sepanjang saya bisa membantu dan saya merasa nyaman melakukannya.

Selasa, 14 Februari 2017

Pare, Kopi, dan Segala Rasa Pahit


Aku belajar rasa pahit dari Ibu. Dari rasa pahit sayur pare yang sesekali ia sajikan di atas meja. Yang kemudian bertambah sering karena aku menyukainya. Pahitnya ternyata tak seburuk yang aku pikirkan.

Aku juga belajar rasa pahit dari Bapak. Dari kopi hitam yang selalu ia santap setiap jam lima pagi. Lalu, aku tertular menyukainya. Pahit memang, tapi membuatku cerlang. Bahkan akan sangat menyenangkan menikmatinya bersama hujan.

Pare dan kopi. Aku menyukai keduanya. Juga rasa pahit yang ada di dalamnya.
Lantas, kenapa aku harus benci saat perjalanan hidupku ada yang terasa pahit. Dibalik rasa pahit bukankah manis yang kita rasa selanjutnya akan terasa lebih manis. Itulah award yang kita terima. Menaikkan level suatu “bagian” dalam diri kita. Setelah “pahit” yang kita rasa, kita bisa menjadi diri yang lebih bijak, lebih dewasa, dan menyukuri apa yang kita miliki.

Dan, jika ada segala rasa pahit dalam hidup ini, telan dan habiskan saja, seperti saat kau menikmati secangkir kopi hingga tuntas.