Kamis, 15 September 2016

Rumah Peran (Cerpen, Majalah UMMI, edisi Juli 2016)

Alhamdulillah. Yatta. Akhirnya. Berhasil juga netasin anak kecil satu. Hehe
Catatan di awal ini tak bermaksud apa-apa, hehe, hanya pengingat momen untuk diri sendiri.
Cerpen ini sebenarnya sudah lama sekali kubuat, sekitar bulan ke sepuluh tahun 2014. Yap, benar tahun 2014. Jauh banget nggak tuh sampai bulan Juni 2016 pas ada konfirmasi.  Satu tahun setengah ternyata si cerpen ngantri di meja redaksi. Awalnya pas lagi dapat email, saya kira dari olshop (kalo boleh jujur, sebenarnya dari dulu saya selalu excited ketika mendapat email masuk, tapi akhir-akhir ini email saya isinya lebih banyak dari olshop,haha), ternyata sebuah email berisi konfirmasi untuk pemuatan. Langsung senyum-senyum sendiri di pojokan (emang kejatah tempat duduk di pojok sih kalau di tempat kerja, hehe). Untungnya masih sepi, kalau nggak bisa diledekin senyum-senyum sendiri di pojokan.
Langsung deh saya buka file cerpen karena sebenarnya saya sendiri sudah lupa pernah buat cerpen iu dan pernah mengirimkannya ke majalah UMMI. Lupa juga ceritanya tentang apa. Saya juga ubek-ubek lagi email saya, voilaaaaa, ternyata cerpen ini pernah kukirim ke majalah lainnya dan ditolak. Setelah penolakan itu, baru saya kirim ke majalah UMMI. Berbicara soal penolakan, dulu sekali, saat pertama kali menerima email penolakan, saya senang sekali. Padahal emailnya penolakan lho, tapi saya senang.  Ternyata tulisan saya dibaca oleh redaksi. Pernah juga diminta menunggu enam bulan dan tak ada kabar sampai sekarang. Haha. Banyak juga yang tak berbalas. Setiap cerita punya jodohnya masing-masing.
Sambung lagi, mbak nya bilang, kalau cerpennya bakal tayang bulan juli. Alhamdulillah berkah bulan Ramadhan. :)

Cerpen ini murni dan belum ada editan dari redaksi UMMI. Oh ya, FYI majalah UMMI memberi batasan bahwa setiap penulis cerpen majalah UMMI, cerpennya bisa terbit di majalah UMMI dengan minimal jarak enam bulan. Jadi misal cerpennya terbit bulan juli, bisa terbit lagi nanti bulan januari tahun depan. Semoga tahun depan bisa lagi nongol di majalah UMMI :) Selamat membaca.

#######

Kurenggangkan tubuh, menghilangkan pegal-pegal. Rasanya baru sebentar aku menghadap komputer, tapi punggungku sudah terasa panas. Kulirik jam di dinding, sudah pukul lima sore. Pantas. Sudah tiga jam lebih aku duduk di depan komputer.
Kulangkahkan kakiku ke kamar mandi. Mengambil handuk di jemuran baju terlebih dahulu. Tubuhku terasa segar ketika air dari shower mengguyur. Sedikit menghilangkan penat dan jenuh yang beberapa hari ini menumpuk. Agak lama aku berada di bawah guyuran air, baru melilitkan handuk ketika tubuhku mulai menggigil.
Aku sedang membaca novel yang kubeli kemarin sepulang kerja ketika dia pulang. Lelaki yang satu bulan terakhir ini hidup bersamaku. Aku hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandanganku dari novel ketika dia memberi salam.
Sebenarnya tak ada yang salah dengan hubungan kami. Setidaknya itu yang kurasa. Hanan;lelaki yang kini menjadi suamiku, telah kukenal sejak setahun lalu. Waktu itu aku sedang liburan ke luar negeri dengan menggunakan jasa agen wisata. Dia termasuk dalam salah satu kelompok tur kami. Begitulah kami berkenalan. Mungkin terdengar klise, tapi aku merasa jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Mata hitamnya;yang setiap melihatnya aku merasa seperti ada biji kopi, mampu membuat hatiku tenang. Setahun kemudian kami memutuskan menikah.
“Kamu belum membuatkanku teh?” tanyanya.
Aku hanya menggeleng. Sudah seminggu terakhir aku tak melakukan hal yang dia minta, teh sepulang kerja dan pagi hari. Bukankah dia bisa membuat sendiri, teh dan gula sudah kusediakan di dapur. Air panas juga sudah ada.
“Sudah kubilang kan, aku selalu suka minum teh setiap pulang kerja dan pagi hari. Kenapa kamu tak pernah mendengarkan?” Nada suaranya terdengar satu oktaf lebih tinggi.
“Kamu tahu bukan? Aku tak suka minum teh,” sanggahku. Mataku masih terpaku pada tulisan-tulisan di depanku, tapi tak ada yang benar-benar masuk di kepalaku. Rasa jenuh itu kembali merayap.
“Kamu tak harus minum teh?”
“Lalu buat apa aku membuat teh?”
“Kamu tau aku menyukainya.”
“Kenapa kamu selalu mempermasalahkan tentang teh. Sebegitu pentingkah teh bagimu? Aku tak mempermasalahkan kamu yang tak mengecup keningku tiap pagi sebelum berangkat kerja.” Kutatap matanya.
“Oh sudahlah, kamu tak mengerti maksudku.”
Kudengar langkah kakinya menjauh. Sepertinya dia masuk ke kamar. Kuhembuskan nafas. Apa sebenarnya maunya? Ayahku baik-baik saja tanpa teh sepulang kerja dan pagi hari. Ayah tak pernah mengomel pada Ibu. Sepenting apa teh baginya.
Dulu, sebelum menikah, aku merasa akan menjadi sangat bahagia ketika berumah tangga. Bukan berarti aku tak bahagia sekarang. Aku bahagia dan aku sangat mencintai Hanan. Hanya saja, aku sering merasa tak nyaman. Dia menjadi seseorang yang berbeda.
Hanan seperti orang yang baru kukenal setiap harinya. Banyak hal baru yang kutemui dalam dirinya, yang sayangnya tak begitu kusukai. Salah satunya tentang teh. Jujur, aku bukan orang yang mudah beradaptasi dan aku bukan orang yang akan memaksakan diri melakukan hal yang tak kusukai sekalipun itu untuk orang yang kusayangi. Lebih baik mengatakannya langsung bahwa aku tak suka, begitu caraku. Dan itu sepertinya tak berlaku dalam hubunganku dengan Hanan.
Kutaruh novel yang baru setengah kubaca, tak lagi berminat. Kuambil remot TV dan kutekan tombol on. Memencet-mencet tombol channel, tak ada yang menarik. Kumatikan TV dan beranjak ke kamar.
Dia tidur di bagian kiri ranjang kami, menghadap tembok, entah sudah benar-benar tidur atau belum. Kumatikan lampu kamar, berganti dengan remang lampu tidur. Kurebahkan badan di bagian kanan ranjang kami, saling memunggungi.
Tak ada yang berbicara di antara kami. Apalagi cium dan tatap menghujam bola mata yang dulu begitu menghibur. Hanya punggung kami yang saling menghadap. Sebenarnya, ingin sekali kuceritakan apa yang terjadi denganku hari ini. Tentang anak didikku yang sering bertengkar, tentang guru-guru lain di tempatku mengajar, tentang jalanan Jakarta yang selalu panas, apapun itu. Aku selalu suka bercerita sebelum tidur. Tapi tak ada satu kalimat pun yang keluar dari bibirku. Mungkin jenuh itu bukan hanya ada dalam hatiku, tapi juga merambat ke mulutku.
Begitulah malam yang kami lewatkan. Begitu saja.
Keesokan paginya, kami sibuk dengan persiapan berangkat kerja. Kuurungkan niatku memakaikannya dasi. Kurang rapi, begitu alasan dia menolakku waktu pertama aku melakukannya, dulu. Walaupun pernah kubilang aku menyukai melakukannya, dia tetap menolakku.
Dia menurunkanku di depan tempatku mengajar, sebelum meneruskan ke kantornya.
“Sampai nanti.” Ucapnya sebelum aku menutup pintu mobil.
Dia sudah melaju sebelum aku sempat melambaikan tangan. Sebenarnya apa yang terjadi di antara kami. Ini bulan kedua semenjak aku sah menjadi istrinya, tapi rasanya ada yang salah.
Rasanya hari itu sangat berantakan. Anak-anak didikku menjadi sasaranku. Aku mengomel panjang lebar hanya karena ada yang tak mengerjakan PR. Padahal biasanya aku hanya akan memberi hukuman. Menjadi guru yang suka mengomel, sungguh bukan tipeku.
Hari itu kuputuskan untuk mampir ke toko buku, caraku menghibur diri. Tak ada novel yang sedang ingin kubaca sebenarnya. Baru ketika matahari mulai tenggelam kuputuskan untuk pulang.
Aku melihat mobil Hanan ketika membuka pagar. Tak biasanya dia pulang cepat. Aku menangkap sosoknya yang sedang menonton televisi ketika melewati ruang tengah. Kuucapkan salam. Dia menyahut tanpa menoleh.
Kulangkahkan kakiku ke kamar. Menaruh semua barang-barangku dan menelungkupkan wajahku ke bantal. Aku menangis. Aku tak tahu pasti kenapa aku menangis, tapi mungkin menangis bisa membuatku lega. Kupikir pernikahanku akan membuatku nyaman. Aku hanya ingin membentuk keluarga seperti keluargaku.
Kudengar pintu kamar terbuka dan menutup kembali. Aku tak mengangkat wajahku. Walaupun suara tangisku tak keras, isakanku membuatku bahuku naik turun. Hanan pasti tahu aku menangis.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
Aku masih diam.
“Kita harus bicara Aira?” suaranya terdengar tegas, tanda dia ingin berbicara serius.
Kuangkat wajahku, semuanya memang harus segera diselesaikan.
“Kamu bahagia menikah denganku?” tanyaku.
“Tentu saja.” Dia kemudian duduk di sampingku. “Memangnya kamu tak bahagia?”
“Aku bahagia,hanya saja...aku merasa tak nyaman,” kataku jujur.
Dia terlihat sedikit kaget. Mungkin tak menyangka aku akan mengatakannya secepat itu.
“Begitu...” Dia menghembuskan nafasnya, terlihat berat.
“Aku tak suka minum teh, tapi kamu selalu menanyaiku teh. Apa teh begitu penting?”
“Bukan masalah teh sebenarnya, aku suka ketika aku pulang kamu menyambutku. Dan teh hangat salah satu caranya. Ibuku selalu begitu, dan aku rasa ayahku sangat bahagia ketika dia diperlakukan seperti itu oleh ibu.”
“Aku bukan ibumu,” sanggahku. Dia harus sadar akan hal itu, bahwa kini dia tinggal bersamaku bukan ibunya. Kami terdiam cukup lama.
“Aku akan sangat senang kalau kamu mau melakukannya,” ucapnya lirih.
“Jangan egois. Hanan, kamu juga tak pernah melakukan apa yang kusukai. Aku suka memakaikanmu dasi, aku ingin kau mengecup dahiku tiap pagi, aku ingin kita berolah raga bersama tiap akhir pekan. Ayahku selalu melakukannya dengan ibu. Dan mereka bahagia.”
“Dan aku bukan ayahmu,” ucapnya kemudian. Hanan menatapku lama. Kata-katanya menamparku.
Selama ini, aku hanya menyalahkan Hanan. Tanpa sadar bahwa aku juga melakukan kesalahan. Pernikahan kami tak ubahnya seperti anak kecil yang bermain rumah-rumahan. Yang kami bangun hanyalah sebuah rumah peran. Dia berperan sebagai Ayahnya dan aku berperan sebagai Ibuku. Tak ada benang merah yang menghubungkan peran kami, karena aku mengharapkannya seperti ayahku dan dia mengharapkanku seperti ibunya. 


5 komentar:

  1. Mbaah, aku jadi introspeksi nih. Jgn2 aku ky gt juga ya, tp beruntungnya si mas ga ky gt.. makasih mbah. Aku slalu suka cerpen2mu :*

    BalasHapus
  2. eput: makasih
    mbah :ah...mbah, wish you have a beautifull marriage :)

    BalasHapus