Sabtu, 17 September 2016

Teruntuk Saya

Sebelum saya membicarakan banyak hal, saya ingin mengucap syukur Alhamdulillah, tahun ini saya masih bisa menulis. Terima kasih juga untuk ibuku tercinta, mamak, yang selalu membuatkan putri-putrinya nasi kuning walaupun kami tak bisa selalu berada di sampingmu. Terima kasih untuk doanya, walaupun tanpa kuminta pun aku tahu, engkau selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anakmu.
Teruntuk diri saya sendiri, saya ingin membicarakanmu kali ini. Membicarakan diri sendiri tidak membuat dosa kan? Hehe. Walaupun setiap hari, saya selalu menyuruh diri saya sendiri untuk menanyakan kabar tentang diri sendiri  hanya beberapa menit, mari kita berbicara panjang kali ini.
Setahun terakhir, banyak sekali pemikiran yang mampir dalam kepala saya. Tentang, kenapa saya sekarang ada di tempat ini? Kenapa saya melakukan pekerjaan ini? Kenapa saya jauh dari rumah ibu? Kenapa saya sering kali merasa bosan? Kenapa saya rindu masa kecil saya? Dan kenapa saya banyak berpikir? Ada yang bilang kadang tensi darah saya cenderung tinggi karena saya suka berpikir. Ya. Mungkin saya sering kali terlalu banyak berpikir tanpa saya sadari. Bahkan, jika boleh jujur, salah satu alasan kenapa saya menyukai sebuah perjalanan selain kesempatan bertemu orang asing yang menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah karena saya suka berpikir saat sedang bepergian. Dulu, sewaktu masih kuliah, saya sering berpikir di antara deru kereta api. Sering juga saya berpikir, ternyata banyak sekali orang-orang yang bepergian setiap harinya. Terbukti dari sarana transportasi umum jarak jauh semacam kereta yang selalu penuh. Lantas, ketika harus bekerja di luar Pulau Jawa, ada alasan bagi saya untuk merenung di dalam pesawat. Ketika teman sebangku bukanlah orang asing yang menyenangkan untuk mengobrol, saya memilih untuk merenung sambil memandangi awan-awan yang berarak. Memutar kehidupan saya sendiri untuk beberapa episode-episode terakhir.
Kenapa saya di sini? Kenapa saya melakukan pekerjaan ini? Inilah pertanyaan yang sering kali mampir dalam benak saya. Di antara banyak pilihan, saya berada dalam pekerjaan ini. Menyesal? Tidak. Sejak awal saya tahu bahwa saya akan bekerja di bidang ini, walaupun sebenarnya banyak sekali hal-hal yang tak terduga sebelumnya. Tapi, hidup ini memang sebuah misteri bukan? Saya tak akan tahu apa yang akan terjadi kecuali saya menjalaninya. “Walaupun ini sulit, cobalah untuk menikmatinya” inilah yang selalu saya katakan pada diri sendiri. Temukan sesuatu yang membuatmu memiliki hati yang ringan dan tinggalkan hal-hal yang membuatmu berat hati. Saya tahu hal ini kadang terasa sulit, tapi cobalah. Dan cobalah untuk bersabar. Bukan tidak mungkin bahwa suatu hari nanti saya akan bekerja di bidang lain, pekerjaan yang amat sangat saya sukai.
Lantas, kenapa saya sering kali merasa bosan? Merasa hidup datar-datar begitu saja. Saat itulah, waktu merenung saya semakin panjang. Benar kata orang, kebosanan adalah hal yang mematikan. Alasan kenapa saya merasa bosan sebenarnya sudah saya tahu. Saya tak punya sesuatu yang saya usahakan. Semua hal di sekeliling saya saperti berjalan dengan semestinya. Benjamin Franklin said, ”Most people die at 25 and aren’t buried until they’re 75.” Saya tak mau seperti itu. Saya tak ingin merasa bosan. Saya harus kembali mengupayakan mimpi-mimpi saya. Jika satu mimpi sudah tercapai, saya harus membuat mimpi yang lain. Dengan begitu, saya tak akan merasa bosan. Bermimpi dan berusaha menggapainya membuatmu hidup.
Kenapa saya banyak berpikir? Bahkan ketika ingatan saya tentang pekerjaan tercecer entah kemana, saya bisa mengingat kebiasaan tetangga saya yang bahkan tak terlalu saya kenal. Hal-hal kecil yang ada di lingkungan saya, yang seringkali dianggap tak penting bagi orang lain, begitu mudahnya menempel dalam kepala saya. Mungkin tanpa saya sadari, saya terlalu memperhatikan banyak hal. Bahkan pernah, saat buang air besar di kamar mandi, tiba-tiba tatapan saya tertuju pada satu hewan yang menempel di lantai kamar mandi. Hewan yang seperti nyamuk, dengan kaki-kaki yang sangat panjang, entah apa namanya. Kakinya menempel di lantai kamar mandi yang basah. Saya melihatnya. Ia begitu keras berusaha menggerak-gerakkan kakinya, berusaha melepaskan diri dari basahnya lantai untuk kembali terbang. Saat itu saya berpikir, bagaimana kalau ia tak bisa melepaskan diri. Pasti ia akan hanyut terbawa air saat ada yang sedang mandi atau malah terinjak tak sengaja. Saat saya sudah selesai, saya membebaskan kakinya dari lantai. Bahkan seekor hewan kecil pun berusaha untuk hidupnya. Harusnya saya malu. Ini menjadi tamparan bagi saya ketika saya malas dan banyak mengeluh. Kadang, apa yang saya usahakan memang terasa sulit, tapi saya harus berusaha sekeras mungkin untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai.
Kenapa saya rindu masa kecil saya? Saya lima belas tahun lalu adalah diri saya yang berbeda. Masa kecil adalah masa yang menyenangkan bukan? Rasanya saya tak terlalu banyak berpikir, terlalu lelah, ketika masa-masa saya saat masih SD. Saya berangkat sekolah. Hampir setiap pagi mandi bersama kakak perempuan kedua  saya. Berebut air mandi yang hangat di ember-ember yang disiapkan ibu. Lantas, kebiasaan itu hilang ketika kakak perempuan saya sudah memasuki masa SMP.
Saya tinggal di lingkungan yang menurut saya menyenangkan. Walaupun jauh dari hiruk pikuk kota. Jauh dari permainan-permainan modern yang baru saya tahu ketika saya besar. Sawah, sungai, parit, ladang, sepeda. Saya dan kakak saya sering kali mencuri-curi waktu bermain di sungai. Saya berteman dengan sepupu saya, juga anak tetangga. Saat salah satu dari kami ada yang berulang tahun, masing-masing dari kami akan sibuk menyiapkan kado, sebenarnya ibu kami yang menyiapkan. Kami hanya akan asyik menggunting kertas bekas buku sekolah yang tak terpakai. Malamnya kami akan datang ke rumah anak yang berulang tahun. Tak pernah ada undangan sebenarnya. Kami akan datang dengan senang hati. Saya tahu, setiap anak yang berulang tahun akan menunggu kedatangan kami pada malam hari sebelum hari ulang tahunnya datang. Ibunya akan menyiapkan sebuah bingkisan yang berisi jajanan atau akan mengantar sepiring nasi kuning dengan pelengkap keesokan paginya.
Sejauh ingatanku, tak pernah ada kue dalam setiap ulang tahun. Tapi, kue tak pernah jadi perisau bagi kami. Kami akan menaburi si anak ulang tahun dengan kertas yang telah kami siapkan. Menyanyikan lagu ulang tahun. Memberikan kado. Melihatnya membuka kado satu persatu. Dan bermain. Kado-kado tersebut sebenarnya isinya tak terlalu spesial. Kado yang diberikan hanya berkisar buku tulis, alat-alat tulis, jajanan, lotion, bahkan kadang berisi beberapa bungkus mie instan. Tapi, ulang tahun saat itu selalu menjadi hal yang spesial. Bukan karena kado, tapi karena ada mereka yang ikut bahagia. Ada satu malam dalam setahun terakhir, teman-teman datang dan mendoakan kita dengan tersenyum.
Dari masa kecil saya, saya juga menjadi penikmat hujan. Bahwa, ketika hujan jatuh satu per satu hingga menderas dan membuatmu basah, ada tawa yang muncul. Hujan bukan hanya membuatmu basah, tapi juga bahagia. Saya dan Mbak berdiri di bawah pancuran air hujan di sampin rumah. Atau membuat kapal ketika hujan sangat deras hingga ada aliran air di samping rumah.
Mungkin, suatu kali, saya akan menulis lebih banyak tentang masa kecil saya. Sawah, hujan, galengan, sungai, tangis, tawa, layang-layang, es lilin, kenakalan. Saya rasa, saya tak bisa menukar masa kecil saya dengan apapun.
Beranjak dewasa rasanya semakin banyak hal-hal yang menganggu hati saya. Saya lebih memikirkan banyak hal ketika bertindak. Dulu, saya adalah penikmat tontonan televisi. Suatu kali, saat akan mengahadapi ujian kelulusan SMP, ada tayangan Televisi yang sangat saya sukai sedang diputar. Dari pada saya belajar tapi tidak tenang karena memikirkan bagaimana kelanjutan cerita tayangan yang saya sukai itu, saya memilih meletakkan buku saya dan duduk manis di depan televisi. Soal belajar untuk ujian besok, berarti saya hanya harus tidur lebih malam karena saya menggunakan waktu belajar saya dengan menonton Televisi. Jika mungkin orang tua lain akan melarang anaknya, ibu saya memilih membiarkan saya. Dan voila, saya tak akan memberitahukan hasil ujian SMP saya di sini. Hal itu masih berlaku hingga saya SMA. Mungkin, tanpa saya sadari, saat itulah saya mulai belajar, bahwa setiap pilihan ada sebuah konsekuensi. Dan setiap kita memilih, kita harus siap dengan konsekuensi itu.
Bahkan sekarang, saya tak terlalu berani mengambil resiko atas sesuatu yang ingin saya lakukan. Saya terlalu mempertimbangkan banyak hal. Saat ini, sungguh, saya ingin sifat anak kecil ada dalam diri saya, melakukan sesuatu tanpa terlalu banyak berpikir, jika gagal, saya hanya perlu mencobanya lagi. Tapi, hidup memang bergerak maju. Semakin besar, semain banyak hal yang masuk dalam diri saya. Untuk hal-hal yang bersifat prinsipal, saya harus memikirkan segala perbuatan saya. Keinginan-keinginan saya adalah:
Saya ingin merasa berada di ‘rumah’ di mana pun saya berada. Ketika pagi baru bangun, saya ingin menyambut hari dengan, wah apa yang akan terjadi hari ini. Bukan dengan sebuah pemikiran, ah hari ini mungkin sama aja dengan kemarin, pagi kerja, sore pulang, esoknya kerja lagi. Saya tak ingin pemikiran saya seperti itu.
Saya ingin setidaknya, sekali dalam setahun, saya berkunjung ke tempat yang belum pernah saya kunjungi. Entah sendiri atau bersama teman. Semoga nanti, bisa jalan-jalan dengan seseorang yang halal buat digandeng, hehe. Jika saya belum bisa menemukan orang baik, semoga Allah berkenan mengirimkan orang baik untuk menemukan saya.
Saya ingin lebih banyak membaca. Membaca membuat pemikiran saya terbuka. Saya ingin membuat diri saya tidak mudah ‘nesu’ kalau pendapat orang lain berbeda dengan saya. Banyak sekali sudut pandang untuk memahami suatu hal, dan membaca adalah salah satu cara untuk memperkaya sudut pandang itu. 
You might be poor, your shoes might be broken, but your mind is your palace-Frank McCourt-
Saya ingin menjadi manusia yang berani. Berani untuk bermimpi dan mengejar mimpi. Mungkin mimpi saya hanya sebuah lelucon bagi orang lain. Tapi, bagi saya mimpi adalah sumbu yang membuat saya menjadi lebih hidup. Saya juga ingin berani intropeksi diri, bahwa ketika saya salah, maka saya harus meminta maaf, bukan mencari alasan yang sebenarnya saya sendiri tahu bahwa itu hanyalah sebuah ‘alasan’. Saya ingin menanamkan dalam diri saya bahwa ketika saya berbuat tidak baik, berarti saya sedang menyakiti diri saya sendiri. Walaupun saya tahu, saya tidaklah sebaik apa yang orang lain lihat, karena Allah telah menutup aib-aib saya. Saya hanya ingin menjadi orang yang lebih baik setiap harinya. Ketika saya akan berbuat tidak baik, saya harus berpikir panjang, apakah saya akan sanggup menerima konsekuensinya, apakah saya akan menyakiti diri saya sendiri dan tentunya orang lain. Jika pembalasan atas apa yang kita lakukan di dunia ini tidak sekarang, di akhirat kelak pasti ada. Maka saya harus berpikir panajng ketika akan berbuat tak baik. Tapi, ketika saya ingin berbuat baik, saya tak boleh terlalu banyak berpikir. Seseorang berkata “ketika kau ingin berbuat baik, langsung lakukan saja, jangan dipikir, kalau dipikir akan membuatmu menemukan ‘alasan’, ‘alasan’ untuk tak melakukannya”. Saya tak ingin seperti itu.
Saya tidak ingin iri pada orang lain. Saya ingin tersenyum ketika orang-orang sekeliling saya mendapatkan kebahagiaan. Saya tidak ingin berpikir, kenapa saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan? Mereka mendapatkannya juga dengan usaha mereka. Everyone have their own battle. Saya hanya harus tersenyum. Saya harus berhenti nyinyir terhadap orang lain. Nyinyir terhadap orang lain hanya membuat lelah. Saya tak ingin lelah karena hal itu.
Sekian. Semoga tahun depan bisa berjumpa lagi.
Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (QS. Muhammad 36)
Setiap orang memiliki seninya masing-masing dalam mengenang. Dan inilah cara saya mengenang, dengan menuliskannya. Kelak, suatu hari, ketika pintu-pintu ingatan dalam kepala saya tak bisa lagi saya masuki dengan mudah, saya akan berkunjung ke sini.

                                                                            Gunung Mas, 18 September 2016




Tidak ada komentar:

Posting Komentar