Selasa, 05 Desember 2017

Menjaga

When you start to look at peoples heart instead of their face, life become so clear.
-anonim-
Ada hal-hal yang harus kau jaga dalam dirimu. Salah satunya lidahmu. Terlebih sebagai kaum perempuan, gatal sekali untuk mengomentari orang lain. Saya pernah membaca bahwa, apa yang harus didengar oleh kita adalah Tuhan, orang tua, dan orang yang benar-benar dekat dengan kita. Sisanya, biarlah seperti angin lalu. Jika tidak seperti itu, mungkin hatimu akan sering sekali sakit.
Bagi sebagian orang kata-kata mungkin seperti angin lalu. Ia hanya perlu memuntahkannya dari bibirnya. Sisanya ia tak peduli. Apakah orang lain sakit hati mendengarnya, apakah orang lain memasukkannya ke dalam hati dan menyimpannya rapat-rapat, lalu kata-kata itu kan mengendap di dasarnya. Dan kata-kata menjadi duri, siap menyakiti kapan saja.
Kau tahu, ketika kau berkata-kata yang menyakitkan, menurut saya, kau sedang menghancurkan dirimu sendiri. Di mata orang lain, ada tanda minus yang akan melekat pada dirimu. Orang itu akan ingat terus, bahkan saat kau telah melupakannya. Ke depannya, dia akan menghindar dari berhubungan denganmu. Jangan salahkan dia, karena jika kau tahu, kau sendirilah yang membuatnya seperti itu.
Lebih dari alasan karena dia tidak mau disakitimu untuk ke sekian kalinya, tapi dia sudah kehilangan respect terhadapmu. Ada yang pernah menulis, suatu hal yang tidak bisa didapatkan seseorang lagi setelah ia kehilangan keperawanan adalah respect. Jika ia telah kau nodai sekali, ia tak akan lagi sama. Kau yang membuat orang lain respect padamu, pada akhirnya kau lah juga yang menghancurkannya.
Saya bukan orang baik seperti yang kau pikirkan, tapi saya juga tak seburuk yang terlintas di hatimu (Ali Bin Abu Thalib).
Saya masih belajar mengendalikan nafsu dalam diri saya. Nafsu untuk berbicara asal, nafsu untuk berbuat jahat, nafsu untuk berpikiran yang tidak-tidak, terlbehih nafsu untuk menang sendiri. Maafkan, jika saya belum selesai dengan diri saya sendiri.Ya, saya butuh belajar seumur hidup saya menjadi manusia, sebaik-baik manusia.
Soal berkata-kata, pikirkan dulu apa yang akan keluar dari bibirmu. Karena sekalipun kau meminta maaf, kau tak akan tahu apakah kata-kata itu sudah menancap dalam hati seseorang. Terkadang, ah bahkan sering sekali memaafkan jauh lebih mudah dari pada melupakan. Karena kenangan mudah sekali menempel sesuatu. Kau mungkin biasa berkata keras atau dikerasi orang lain, tapi tak semua orang sama denganmu. Orang lain tak akan selau bisa memahamimu. Buang saja alasan, “aku memang begini orangnya”, karena menurut saya itu hanya sebuah pembelaan saat kau tak mau mengerti orang lain.
Jika ingin marah, telusuri dulu. Apakah benar apa yang kau marah kan? Jangan-jangan kau marah karena tak sabar meruntut suatu perkara? Kau butuh sekali menuntaskan kejengkelanmu pada orang lain. Sering sekali aku menjumpai hal seperti ini. Padahal lingkunganku sebenarnya adalah orang-orang yang harusnya lebih jeli akan suatu keadaan. Ah, sudahlah. Jika pun ingin marah, ingatlah untuk diam. Jika kau masih merasa gelisah saat diam maka duduklah.

Allah mengajari hal-hal yang baik, oleh karenanya Dia menyuruh kita menegur seseorang dengan cara yang baik.

.

Kenapa kamu takut,
padahal Allah sangat dekat dengan hambaNya