When you start to look at peoples heart instead of
their face, life become so clear.
-anonim-
Ada hal-hal yang harus kau jaga dalam dirimu. Salah
satunya lidahmu. Terlebih sebagai kaum perempuan, gatal sekali untuk
mengomentari orang lain. Saya pernah membaca bahwa, apa yang harus didengar
oleh kita adalah Tuhan, orang tua, dan orang yang benar-benar dekat dengan
kita. Sisanya, biarlah seperti angin lalu. Jika tidak seperti itu, mungkin
hatimu akan sering sekali sakit.
Bagi sebagian orang kata-kata mungkin seperti angin
lalu. Ia hanya perlu memuntahkannya dari bibirnya. Sisanya ia tak peduli.
Apakah orang lain sakit hati mendengarnya, apakah orang lain memasukkannya ke
dalam hati dan menyimpannya rapat-rapat, lalu kata-kata itu kan mengendap di
dasarnya. Dan kata-kata menjadi duri, siap menyakiti kapan saja.
Kau tahu, ketika kau berkata-kata yang menyakitkan,
menurut saya, kau sedang menghancurkan dirimu sendiri. Di mata orang lain, ada
tanda minus yang akan melekat pada dirimu. Orang itu akan ingat terus, bahkan
saat kau telah melupakannya. Ke depannya, dia akan menghindar dari berhubungan
denganmu. Jangan salahkan dia, karena jika kau tahu, kau sendirilah yang
membuatnya seperti itu.
Lebih dari alasan karena dia tidak mau disakitimu untuk
ke sekian kalinya, tapi dia sudah kehilangan respect terhadapmu. Ada yang pernah menulis, suatu hal yang tidak
bisa didapatkan seseorang lagi setelah ia kehilangan keperawanan adalah respect. Jika ia telah kau nodai sekali,
ia tak akan lagi sama. Kau yang membuat orang lain respect padamu, pada akhirnya kau lah juga yang menghancurkannya.
Saya bukan orang baik seperti yang kau pikirkan, tapi
saya juga tak seburuk yang terlintas di hatimu (Ali Bin Abu Thalib).
Saya masih belajar mengendalikan nafsu dalam diri
saya. Nafsu untuk berbicara asal, nafsu untuk berbuat jahat, nafsu untuk
berpikiran yang tidak-tidak, terlbehih nafsu untuk menang sendiri. Maafkan,
jika saya belum selesai dengan diri saya sendiri.Ya, saya butuh belajar seumur
hidup saya menjadi manusia, sebaik-baik manusia.
Soal berkata-kata, pikirkan dulu apa yang akan keluar
dari bibirmu. Karena sekalipun kau meminta maaf, kau tak akan tahu apakah
kata-kata itu sudah menancap dalam hati seseorang. Terkadang, ah bahkan sering
sekali memaafkan jauh lebih mudah dari pada melupakan. Karena kenangan mudah
sekali menempel sesuatu. Kau mungkin biasa berkata keras atau dikerasi orang
lain, tapi tak semua orang sama denganmu. Orang lain tak akan selau bisa
memahamimu. Buang saja alasan, “aku memang begini orangnya”, karena menurut
saya itu hanya sebuah pembelaan saat kau tak mau mengerti orang lain.
Jika ingin marah, telusuri dulu. Apakah benar apa yang
kau marah kan? Jangan-jangan kau marah karena tak sabar meruntut suatu perkara?
Kau butuh sekali menuntaskan kejengkelanmu pada orang lain. Sering sekali aku
menjumpai hal seperti ini. Padahal lingkunganku sebenarnya adalah orang-orang
yang harusnya lebih jeli akan suatu keadaan. Ah, sudahlah. Jika pun ingin
marah, ingatlah untuk diam. Jika kau masih merasa gelisah saat diam maka
duduklah.
Allah mengajari hal-hal yang baik, oleh karenanya Dia
menyuruh kita menegur seseorang dengan cara yang baik.