Ayahku selalu
bilang padaku, “Banyaklah membaca buku, dengan begitu kamu akan memahami
dunia.” Ibuku juga selalu bilang, “Lebih baik jadi seorang kutu buku kan nak,
daripada harus keluyuran nggak
jelas?”. Segala quotes tentang buku,
tiba-tiba membuatku ingat pada film “Night at the Museum”, imajinasiku menari
pada dunia “Books when you aren’t around”
Buku
Dongeng : “Aku buku yang paling
asyik. Cukup baca aku, kemudian akan aku bawa pembacaku ke dunia yang indah.”
Buku
Ensiklopedia : “Tapi kamu cuma fiksi,
sementara dunia ini butuh kenyataan. Akulah yang terbaik. Aku bisa membawa
pembaca keliling dunia, walaupun raga mereka tetap di tempat yang sama, di
tempat mereka membacaku.”
Buku
Novel : “Sayangnya,
kenyataannya manusia juga butuh imajinasi. Dengan membacaku, mereka bisa
menciptakan dunia mereka sendiri sesuai imajinasi mereka.”
Buku
Pelajaran : “Bukankah aku yang
membantu manusia memahami mata pelajaran yang diajarkan di sekolah mereka? Jadi
aku yang paling dibutuhkan.”
Buku
Komik : “Nyatanya aku yang
paling menarik. Kombinasi gambar dan tulisan pada diriku seimbang. Ringan,
menyenangkan. Aku bisa dibaca semua golongan usia.”
Mereka terus memperdebatkan siapa
yang terbaik diantara mereka. Rak buku yang sedari tadi diam, kini berusaha
melerai.
Rak
Buku : “Berhentilah
berdebat! Tidak ada satupun buku yang lebih baik dari buku yang lainnya. Karena
semua dari kalian adalah yang terbaik, dengan segala kekurangan dan kelebihan
masing-masing. Karena kalian adalah buku. Kalian yang membuat manusia bisa tahu
dari apa yang sebelumnya tak diketahui, bisa lebih tahu dari sebelumnya yang
sudah diketahui, bisa membuat mereka tertawa, sedih, marah, terharu. Kalian itu
special. Kombinasi dari kalian akan
menyeimbangkan otak kiri dan kanan manusia, untuk seluruh pengetahuan dan
imajinasi yang kalian berikan, untuk seluruh penggunaan logika dan emosional
saat membaca kalian. Sekali lagi, karena kalian adalah buku, Sang Jendela
Dunia.”
Buku-buku yang semula berdebat,
kini saling melirik, tersenyum, dan kembali berdebat untuk berebut meminta
maaf. Rak buku hanya pasrah, capek mendengar perdebatan mereka. Tiba-tiba
terdengar suara langkah kaki manusia mendekat.
Rak
Buku : “ Ssssstt...! Diam!
Ada manusia datang.”
Hening. Kemudian muncul sesosok
manusia menuju rak buku tersebut. Sibuk memilih buku mana yang hendak ia baca.
Tapi tahukah kalian? Buku-buku itu tersenyum, rak buku juga ikut tersenyum.