Jumat, 11 Desember 2015

Persahabatan: Sebuah rezeki

Lagi-lagi, dalam malam yang terlalu bisu, hal ini melintas. Sesuatu yang beberapa hari ini terpikir ketika saya membaca sebuah bacaan di basabasi.co, mengenai rezeki yang tak kasat mata. Suatu hal yang kadang terlewat untuk saya syukuri. Ya, persahabatan. Perkoncoan. Rencang. Rezeki tak kasatmata yang kadang terlewat.

Mendapati orang-orang yang peduli pada kita tentunya sebuah kebahagian.  Keluarga, tentu saja. Tapi dalam konteks ini, keluarga tidak termasuk. Karena secara otomatis keluarga selalu menjadi orang yang peduli dan kita pedulikan.

Sahabat, teman, konco, rencang, apapun sebutannya, tak masalah. Mereka orang yang sebenarnya asing tapi perlahan menjadi orang yang kita kenal. Lebih dari itu, orang yang kita anggap penting. Orang yang peduli dan kita pedulikan.

Di luar sana, banyak pertemanan yang jika ditelisik lebih dalam hanya mengatasnamakan uang, kekuasaan, jabatan.  Ada gula ada semut. Habis manis sepah dibuang. Setelah mendapat apa yang diinginkan mereka pergi. Tak peduli lagi padamu. Tak peduli padamu yang dulu pernah meminjamimu uang, lantas ketika kau terpuruk mereka seolah tak kenal. Tak peduli padamu yang pernah membantunya dan ketika kau butuh bantuan mereka memalingkan muka. Tak mengherankan memang ketika kau sedang berdiri di puncak, banyak “teman” yang mengelilingimu. Lantas, mereka langsung putar badan menjauh ketika kau jatuh.

Ah, jadi ingat sebuah buku dengan judul “Andai aku jalan kaki, masihkah engkau selalu ada untukku?”. Ya, andai aku saat ini hanya pejalan kaki yang mencari remah-remah semangat, masih adakah kalian untukku? Maka, sahabat yang selalu ada untuk kita di saat kondisi apapun adalah sebuah rezeki yang patut kita syukuri.

Bagiku sendiri sahabat adalah mereka yang dengannya aku bisa membicarakan banyak hal, entah itu penting mengenai cita-cita atau sekadar cerita tentang apa yang dimimpikan tadi malam. Yang tak peduli ketika kami berkumpul, hanyalah sekumpulan bocah dengan kekurangan masing-masinng. Tidak ada anggapan bahwa salah satu dari kami melebihi yang lain. Kami, hanyalah orang-orang dengan pribadi masing-masing.

Biar kuceritakan padamu. Ada sekumpulan bocah yang berkumpul dengan kekurangannya masing-masing. Ada yang gak kuat tidur malam, agak telmi tapi pinter, banyak makan dan super rajin, narsis dan centil, banyak kentut tapi kadang dewasa (kadang banget), tapi sekumpulan bocah itu tetap baik-baik saja. Jarang sekali kesamaan yang mereka miliki, kecuali gender mereka sama-sama perempuan. Ketika nonton sebuah film, ada yang sering nolak, ketiduran, komen soal ganteng nya si aktor, atau merhatiin betul alur cerita. Tapi, toh mereka baik-baik saja. Berkumpul dengan seseorang yang memiliki passion yang sama sangat menyenangkan. Tapi, berkumpul dengan pribadi yang berbeda bukankah menjadi penyeimbang. Bahwa ada banyak sekali karakter manusia di dunia ini, bahwa menghargai pribadi seseorang itu penting.

Dan aku bersyukur, kumpulan bocah itu bisa memahami setiap karakter.
Pada akhirnya, semua akan berjalan di jalannya masing-masing. Ya, pada akhirnya sekumpulan bocah itu meniti jalannya masing-masing. Dengan kebas sayap yang mereka miliki, dengan mimpi yang telah mereka rajut. Kawan, seperti apapun kita nanti, dimana pun kita berada nanti, semoga Allah selalu bersama kita.

Dan ini hanyalah pengingat, satu pengingat kecil dariku di antara kenangan kita yang bertebar, bahwa aku bersyukur menjadi salah satu bagian ingatan jika kalian mendengar kata “persahabatan”.  Terima kasih untuk menjadi sekumpulan bocah yang tak selalu memuji, tetapi menjadi pengingat ketika ada kesalahan. Untuk tidak membiarkan sebuah kekeliruan semakin berlarut.

Jangan pernah sungkan, ketika ada kesenangan maupun kesusahan untuk saling berbagi. Walaupun, kita sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing, semoga kita selalu bisa berbagi kabar, berbagi cerita. Yah, meskipun ketika kita berkumpul, entah hanya via suara,  berapapun umur kita, apapun status kita, rasanya tetap saja kita hanya sekumpulan bocah.

Semoga, Allah selalu menyertai kita.
Salam bocah

Selasa, 03 November 2015

Lili Mencuri Hujan (2)

Lili menggaruk. Kulitnya yang putih kini berhias merah karena garukan tangannya. Ilalang. Angin musim kering berhembus lancang. Rambutnya yang ikal bergerak-gerak. Topi bundarnya sudah terbawa terbang. Mendarat di atas rumpunan ilalang.
“Nat, kenapa kau membawaku kemari? Tak adakah tempat lain yang lebih indah,” protes Lili.
Nat menjepret sekali lagi dengan kameranya sebelum menjawab,”Ini sangat indah Lili. Lili dan ilalang. Sebuah potret yang indah.”
“Jika menjadi indah harus begini gatalnya, aku akan menolaknya Nat.”
Nat hanya tersenyum. Temannya itu sudah menggerutu sejak memasuki rumpunan ilalang yang hampir menyamai tingginya.
“Setelah ini akan ada taman yang bagus. Percaya padaku, kau akan menyukainya.”
Mereka terus maju ke depan. Menerobos kawananan ilalang yang seakan tak mengijinkannya berjalan lebih jauh.
“Ini topimu.” Nat mengulurkan topi jerami Lili.
“Terima kasih sudah mengambilkan untukku.” Lili menjawab dengan muka masamnya.
“Ayo,” Nat menarik tangan Lili, membimbingnya ke suatu tempat.
Tepat saat itu hati Lili bergetar. Seperti ada kunang-kunang yang beterbangan di dadanya. Bukan hanya satu.
“Aku tak akan tersesat.” Lili menepis tangan Nat. Tak dibiarkannya kunang-kunang itu beterbangan lebih lama.
Nat hanya tersenyum menanggapinya. Kemudian dia berjalan, membiarkan Lili mengekor di belakangnya.
Rumpunan ilalang semakin jauh. Suara serangga yang sengau mulai bising terdengar. Sisi kanan kiri mulai dihiasai pohon besar dan tanaman menjalar –rumput yang besar bagi Lili.
“Kapan kita akan sampai?” Lili dapat mendengar anak kecil yang mulai bosan dalam nada suaranya.
“Kau memang harus keluar dari kotakmu, Lili. Hidupmu terlalu datar.”
“Kau membahasnya lagi? Baiklah, hidupku memang datar tapi aku bahagia.”
“Lalu, apa tujuanmu hidup Lili? Hanya membuat dirimu bahagia.”
Lili hanya terdiam. Pertanyaan itulah yang tak pernah berhasil dijawabnya. Nat sudah melemparkan pertanyaan itu sejak pertama kali bertemu. Lalu, sebuah tanya hinggap di kepala Lili yang semakin lama semakin besar.
“Kita sudah sampai.” Ucap Nat yang membuat pikiran Lili kembali ke tempat dia berdiri.
“Wah, bunga matahari.” Lili berlari ke sekerumun bunga matahari yang seang mekar dengan wajah sumringah, melupakan gatal dan penat yang beberapa waku lalu digerutukan.
“Kau pasti lelah, ayo kita makan.”
Nat lalu membongkar isi tas nya. Mengeluarkan kotak perbekalan satu persatu. Menggelar kain lebar bermotif kotak yang akan digunakan sebagai alas. Lili cukup terkejut melihat isi tas Nat yang cukup komplit –Nat tak bermain-main dengan ajakan pikniknya.
“Aku hanya membawa ini.” Lili mengeluarkan dua kotak makan dan membukanya. Isinya sudah cukup berantakan karena tergoyang selama perjalanan.
“Nasi goreng?”
“Yah, ini mungkin memang tak tepat sebagai hidangan piknik, aku tahu itu.”
“Asal rasanya enak tak apa.” Nat langsung mencomot sesendok dan memasukkan ke dalam mulutnya.
“Rasanya juga seadanya Nat.”
Seketika tawa mereka pecah. Nat dengan nasi goreng di mulutnya yang masih belum tuntas dikunyah dan Lili dengan bayangan lidah Nat yang sedang mengalami kekagetan tingkat tinggi sekarang.
“Aku memang payah dalam memasak.”
“Ya, kau memang sangat payah.”
Bekal yang dibawa Nat membuat Lili takjub. Ikan balado dengan rasa yang enak, salad buah dan sayur, dan beberapa sosis.
“Kau membuat semua ini?”Lili bertanya dengan mulut penuh.
“Tentu saja.” Nat menjawab dengan sedikit kagum pada dirinya sendiri.
Mereka terdiam. Mengobati lapar yang hinggap beberapa waktu lalu.
“Masakanmu lumayan.” Ucap Lili jujur, tak berniat memuji. Tapi ucapannya tak urung membuat senyum Nat semakin lebar. Direbahkannya badannya. Angin berhembus sepoi membuai mata.
“Ini masuk ke dalam waktu terbaikku Nat. Bagaimana denganmu?”
●●●
Lili tergeragap. Bangun mendadak. Terbangun di tempat asing adalah salah satu hal yang tidak disukainya. Kepalanya pening. Matanya menangkap sosok Nat yang sedang duduk tak jauh darinya. Seingatnya, dia sedang mengobrol tadi sebelum kantuk menyekapnya.
“Kau sudah bangun rupanya, Putri Tidur.” Ucap Nat sambil menatapnya.
“Jam berapa ini? Langit sudah sore sepertinya.”
“Sudah setengah enam.”
“Kenapa kau tak membangunkanku. Nanti kita kemalaman di jalan,” protes Lili. Tangannya tergesa memasukkan kotak-kotak makanan ke dalam tas nya. Nat sudah membereskan kotak-kotak itu.
Nat bangkit. Membantu Lii beres-beres.
“Aku tak bisa membayangkan harus menyusuri ilalang dalam gelap.”
“Oh, kau mau mencoba?”
“Tentu saja tidak.”
Kemudian mereka lekas mencangklok tas punggung. Lili berjalan ke arah yang rasanya dilewatinya saat memasuki taman.
“Oh, sungguh kau mau mencoba?” tanya Nat.
“Mencoba? Apa maksudmu Nat? Bukankah kita memang lewat sini. Atau jangan bilang...” Lili menggantung ucapannya. Teringat keisengan Nat yang memang parah.
“Jalan raya tak jauh dari sini Lili. Kecuali kalau kau benar mau melewati padang ilalang itu, akan kutemani.” Nat masih dengan wajah tersenyum.
“Tunjukkan jalannya.” Ucap Lili keras.
“Tak perlu marah begitu.”
Mereka berjalan dalam diam. Hanya sekitar tiga ratus meter, mobil Nat sudah terlihat.
“Demi apa tadi kita berjalan jauh waktu berangkat.” Lili menatap Nat tajam.
“Kadang, kau harus merasakan sebuah perjuangan untuk mendapatkan kebahagian. Piknik tadi lebih memuaskan kan ketimbang kalau kita hanya berjalan sebentar.” Tangan Nat mengacak-acak rambut Lili pelan sebelum menuju mobilnya.

Seketika, dada Lili gaduh. Entah karena ucapan Nat atau usapan tangannya.

Minggu, 25 Oktober 2015

Lili Mencuri Hujan

Taman itu terletak agak menjorok ke tengah hutan. Tak berukuran besar seperti taman biasanya. Hanya sebuah bangku dan serumpun bunga matahari. Awan hitam menumpahkan air sangat deras. Seperti batu-batu kecil. Memukul dengan keras.  Hujan kali ini tak seperti kemarin. Juga kemarinnya lagi. Lili menghitung butiran-butiran air yang jatuh. Satu, dua. Setelahnya berhenti. Butiran air teramat banyak kali ini.
Telapak tangan Lili menengadah. Merasakan tiap butiran itu menyentuh. Masuk ke dalam pori-porinya. Matanya memejam. Hujan adalah musik yang paling hebat. Seketika itu, Lili bisa merasakan kehadiran Nat. Duduk di sebelahnya. Memejam mata dan menikmati.
“Kau tak berhenti melakukan ini?” Nat bertanya.
Lili menggeleng, “Aku tak pernah bisa berhenti.”
Terdiam. Tik tik tik. Air masih tumpah dari langit.
“Kau curang Lili!” tuduh Nat. “Kau tak pernah membagi hujan dengan siapapun.”
“Aku membaginya denganmu,” bela Lili.
“Bukan itu, kau seharusnya tak seperti ini.”
Lili mendesah. “Kau tak tahu Nat, beberapa tahun terakhir aku terlalu sulit mendapatkan rintik hujan pertama. Dia tak lagi sama. Mungkin hujan sudah bertunangan dengan kemarau. Mereka bergandengan tangan sekarang.”
Nat memeluk Lili.
“Maafkan aku Lili, membiarkanmu seperti ini.”
Angin bermain. Membuat air turun tak lagi lurus.
“Lili, kau harus maju, dengan atau tanpa aku.”
“Tidak, Lili, kau harus bisa bahagia tanpaku.”
“Kau selalu bisa menemukanku saat hujan datang, itulah yang selalu membuatku bahagia denganmu.”
“Lili..”
“Lili..”
“Lili..”

Lili tersentak. Matanya terbuka. Sekelilingnya mendadak bisu.

Kamis, 24 September 2015

Kacamata-kacamata


Assalamualaikum,

Hai, kau, yang usiamu bertambah, semoga sisa umurmu menjadi semakin berkah. Alhamdulillah, bisa bertemu lagi kita. Apa kabar kau?
Aku tahu kau akan tersenyum ketika aku bertanya begitu. Tapi, sungguh aku bertanya. Bukan sekadar basa-basi yang bisa kau angin lalukan. Apa kabar?
Eh, sebuah helaan nafas? Ada apa? Ya, setidaknya kau berasa menjadi lebih baik setiap harinya.

Tahun ini bagaimana? Lebih hebat dari setahun lalu bukan?
Lihat, tahun ini banyak sekali warna perasaanmu. Jika aku mengurai, warna abumu kian mengeruh.  Tapi ada titik jingga yang menyembul di antaranya. Ya, banyak sekali hal yang terjadi setahun lalu. Dari mulai wisuda—selamat untuk yang satu ini, magang, dan penempatan.

Beberapa bulan magang, yang mengenalkanmu sedikit tentang dunia kerja, mengenalkanmu betapa pentingnya kerja sama, dan menambah banyak teman. Dan yang pasti, kau harus mulai belajar mengatur keuangan. Alhamdulillah, sudah dapat gaji kan? Ingatlah untuk menyalurkan sebagian rizkimu kepada orang-orang yang berhak. Membantu seseorang kadang belum tentu memberi, bisa dengan melakukan sesuatu untuk orang lain. Banyak sekali cara. Merekalah yang akan menjadi kawanmu kelak.

Waktu terus berjalan, kakimu tak bisa terus menapak di satu tempat.

Keluar dari zona nyaman memang tak mudah. Ternyata empat tahun merantau di jakarta tak cukup membuatmu mengerti apa arti sebuah rantau. Bukankah hidup ini adalah sebuah perantauan, yang kepada-Nya lah kita akan kembali. Jika kau merasa lelah, berisitirahatlah sebentar. Renungkan perjalananmu dan melangkahlah lagi. Merantau mengajarkanmu arti pulang dan bahagianya bertemu dengan orang-orang yang kau cintai bukan? Walaupun kau tak bisa selalu berada di dekat mereka, tapi kau bisa selalu menjaga mereka di ujung-ujung doamu. Jangan pernah merasa iri dengan kondisi orang lain. Irilah pada kebaikan-kebaikan mereka, pada ibadahnya. Ketika orang lain bisa berbuat baik, beribadah dengan lebih baik, irilah pada mereka. Sehingga kau bisa mencontoh mereka, bahkan lebih baik.

Ingat perkataan seorang teman bahwa bekerja itu ibadah. Ketika kau lemah, ingatlah itu. Kuatlah. Hal-hal baik akan datang padamu ketika kau juga meyakininya. Jagalah keyakinan akan hal-hal baik itu tanpa menepikan sebuah usaha.

Menjadi diri-sendiri itu penting. Aku sungguh tahu ketika kau mencoba menjadi orang lain yang sangat tidak “kau”. Kau tidak perlu menyenangkan orang lain dengan menjadi seperti yang mereka inginkan. Itu melelahkan bukan? Dan aku sangat tidak menyukainya. Jadilah diri-sendiri. Berubah tak apa. Asalkan perubahan itu ke arah yang lebih baik. Dan kau menyadari bahwa perubahan itu memang baik untukmu. Walaupun terkadang, ada perubahan yang perlu kau paksakan ke dalam dirimu. Yang penting, berubahlah ke arah yang lebih baik dan sadari bahwa perubahan itu penting. Sesuatu yang dijalani dengan mengetahui maksdunya akan lebih menyenangkan dan tertanam dalam dirimu.

Selalu syukuri apa yang ada di sekitarmu. Walaupun kadang sulit, berusahalah. Ketika dengan satu kacamata kau belum bisa, ambil kacamata-kacamata lain hingga kau bisa bersyukur.  Lihatlah sekelilingmu dengan kacamata yang berbeda hingga hatimu merasa lega dan bersyukur betapa besarnya karunia Allah untukmu. Terkadang apa yang kita inginkan belum tentu apa yang kita butuhkan, tapi Allah selalu tahu apa yang kita butuhkan.

Hei, bagaimana kabar mimpimu? Kau bilang, kau sedang mengusahakannya. Jangan pernah lelah. Kau sendiri yang berkata bahwa tak ada yang akan meraihkan mimpi untukmu kecuali dirimu sendiri, terlebih mendapatkan sesuatu yang kau inginkan dengan usahamu sendiri sungguh menyenangkan bukan? Walaupun kadang, hal yang kau inginkan sangat sulit untuk digapai, berusahalah, ketika kau gagal, coba lagi. Teruslah bermimpi! Karena mimpilah yang akan membuat orang menjadi lebih hidup. Keep fighting!

Selesaikanlah apa yang telah kau mulai. Apabila kau melakukan banyak hal tapi tak pernah menyelesaikannya, maka sama saja bohong. Perihal hasilnya, jika sekali tak baik, cobalah kedua kalinya, tidak baik lagi, ketiga kalinya, begitu seterusnya. Orang yang berani mencoba masih lebih baik ketimbang mengangankannya saja dan takut jatuh. Walaupun terjatuh, orang yang belajar naik sepeda akan tahu bagaimana rasanya naik sepeda. Hingga, karena kegigihannya, sepeda yang dinaiki akan melaju kencang.
Istikomahlah dalam berusaha menjadi sholehah. Semangat itu memang naik turun. Manfaatkan waktu sebaik mungkin. Ketika kau sedang marah, sebal, yang hanya akan membuatmu kacau, salurkanlah emosimu lewat hal-hal yang baik. Jika kau tak mampu maka berdiamlah. Berdiamlah sampai emosimu mereda. Berbuat hal yang menyakitkan hanya akan membuatmu menyesal nantinya.

Semoga kau selalu bahagia. Ya, sungguh, semoga kau melakukan sesuatu bukan hanya untuk membuat orang lain bahagia. Tapi juga membuat dirimu sendiri bahagia. Semoga banyak hal hebat lain yang terjadi tahun ini.
Semoga kita bisa berjumpa lagi tahun depan.


Wassalamualaikum,

Rabu, 02 September 2015

Seorang Kawan

Kutarik koperku pelan. Hiruk pikuk di bandara kuredam dengan headset yang menyalurkan lagu dari HP. Terkadang aku heran, bagaimana tranportasi umum selalu ramai. Tidak kereta atau pesawat. Ada saja orang yang berpergian setiap hari. Kemana mereka sebenarnya?
Aku mendengar kabar itu dua bulan lalu. Ketika siang di hari minggu yang panas, HP ku berdering. Nomer yang sangat kukenal. Kedua ujung bibirku terangkat.
“Emily, masih hidup ya?” Suara yang sangat akrab langsung menyergap telingaku. Anna.
“Bagaimana kau bisa menyapa seseorang seperti itu?” Protesku dengan suara yang kubuat kesal. Walau aku tak bisa melihatnya, kubayangkan dia sedang terkekeh.
“Mendengar kau bicara seperti itu, berarti kau baik-baik saja.” Entah kenapa aku mendengar warna lain dalam suaranya. Dia tidak lagi sama.
“Aku akan ke Borneo, Em.” Selanya sebelum aku berkata. “Mengurus rangkaian pernikahanku.”
“Kau? Bagaimana?” Aku hanya mampu mengucapkan kata-kata itu. Sisanya tersangkut dalam tenggorokanku.
“Em, kau harus datang ke pernikahanku. Dua bulan lagi. Simpanlah keingintahuanmu. Aku akan memberitahumu ketika kita bertemu. Jangan lupa bawa kado.”
Dan tiba-tiba sambungan terputus. Aku merasa kesal. Bagaimana dia bisa bersikap seperti itu? Aku mencoba menghubunginya, percuma. Tak ada jawaban. Baiklah, jika dia ingin sok misterius. Aku berusaha tak mempedulikannya. Walaupun sungguh, dalam hatiku rasa penasaran menggunung.
Tunggu dulu, Borneo? Aku berusaha mengingat sesuatu. Selepas lulus kuliah, dia memilih bekerja di Sulawesi, sedangkan aku memilih Borneo. Aku mendecak ketika ingatan itu muncul. Ada seseorang yang berasal dari Borneo. Ya, aku ingat. Anna pernah menyukai seseorang yang berasal dari Borneo. Edo.
Semester tujuh. Kami berada dalam satu kelas yang sama. Edo seorang anak yang supel. Dia membuat orang yang berada di sekitarnya merasa nyaman. Tapi dia seorang yang pelupa. Dalam satu waktu, dia membuat seseorang yang baru ditemuinya merasa nyaman, tapi dalam waktu berikutnya, dia sudah lupa bahwa pernah bertemu dengan orang tersebut.
Dalam suatu pagi, Anna bercerita padaku bahwa Edo muncul dalam mimpinya. Lebih dari itu, Edo mengambil peran sebagai seorang superhero. Mimpi dikejar hantu dan tentu tokoh laki-lakilah yang berusaha melindungi si wanita. Aku tertawa hebat mendengar ceritanya. Kami menganggap hal itu hanya angin lalu saja. Tapi beberapa hari kemudian, Edo kembali muncul dalam mimpi Anna. Aku menertawakannya lagi. Bagaimana bisa? Sejak itu, aku sering menggoda Anna, terlebih ketika ada Edo di sekitar kami.
Mungkin benar perkataan orang. Rasa suka bisa muncul karena suatu kebiasaan. Tapi ini, karena mimpi? Aku sangat kaget ketika suatu siang di kantin kampus Anna mengaku mulai menyukai Edo. Kupastikan aku tak salah dengar.
Aku memperingatkan Anna bahwa Edo mempunyai kebiasaan mudah membuat nyaman seseorang, agar Anna tak salah paham dalam hubungan mereka. Aku hanya akan mencoba sampai hatiku menyuruhku untuk berhenti, begitu jawaban Anna. Dan seperti gayung yang bersambut, kedekatan mereka semakin erat. Kutepis kekhawatiranku. Mungkin kali ini Edo juga memiliki perasaan dengan Anna.
Beberapa waktu pun berlalu. Hingga beberapa hari menjelang wisuda, sebuah informasi menyeruak. Edo sudah punya seseorang. Hati Anna hancur. Dia menangis. Aku menyalahkan Edo, kenapa tak bilang dari awal. Bukankah gerak gerik Anna sangat kentara? Walaupun begitu, Anna menepis. Dia merasa bodoh karena tak langsung menanyai Edo.
“Nona Emily?”
Aku terbangun dari lamunanku.
“Ya.” Jawabku tergeragap.
“Mari ikut dengan saya.” Orang itu menarik koperku dan aku membuntutinya. Umurnya masih tiga puluhan.. Ini kompensasi Anna atas kedatanganku. Dia menjamin akomodasiku.
Kukenakan sebuah gaun berwarna maroon dengan tas tangan yang berwarna serupa. Kumasukkan sebuah kado dengan bingkisan berwarna biru. Warna kesukaan Anna.
Sebuah pesta kebun yang cantik. Tepat sekali dengan keinginan Anna. Tak jauh dari panggung pengantin yang dibuat minimalis tapi sangat mengesankan terdapat sebuah danau. Perpaduan warna biru dan putih menambah pemandangan pernikahan Anna menjadi semakin cantik.
“Em..” Seseorang memanggilku. Dia mengenakan setelan jas.  Mukanya terlihat lebih bersih dari terakhir kuingat.
“Kau datang juga?” Pertanyaan bodoh itulah yang kulontarkan.
Dia hanya mengangguk.
“Kau terlihat cantik hari ini.”
Aku hanya tersenyum. Dia tak ubahnya seperti saat kuliah dulu. Tapi, kenapa dia di sini? Apa yang terjadi sebenarnya?
●●●
“Anna, kukira dia...”
“Tentu bukan dia Emily sayang.” Tukas Anna sebelum kalimatku tuntas. Kami sedang berada di sebuah kedai kopi.
Aku terbahak. Merasa bodoh dengan pemikiranku.
“Aku sangat kaget ketika dia muncul di depanku, kukira dia yang akan berada di panggung bersamamu.”
Anna terkekeh.
“Bagaimana bisa kau dengan dia? Dia, laki-laki yang pernah mengirimu sekardus cokelat bukan?” Tentu saja aku masih ingat dengan nama laki-laki yang tanpa pikir panajng mau mengirim sekardus cokelat untuk perempuan yang baru dikenalnya. Aku merasa beruntung satu kamar dengan Anna saat itu.
“Ya, itu suamiku. Laki-laki yang mengirimiku cokelat dan kau ikut menikmatinya.”
Aku terkekeh. Juga masih merasa ganjil mendengarnya berucap suamiku.
“Bagaimana ceritanya?” Kini aku ingin menuntaskan rasa penasaranku tentang kisah cinta Anna.
“Awalnya aku tak tertarik. Apalagi saat itu aku masih menyukai orang itu. Kau tahu kan tanpa aku perlu menyebutnya.”
Aku mengangguk cepat.
“Juga ketika aku patah hati, aku belum menyukainya. Tapi, lama-kelamaan aku merasa kehilangan ketika dia tidak menghubungiku. Kau ingat kan saat itu? Aku selalu mengeluh saat dia tidak menelponku.”
“Ya, kau akan memandangi ponselmu terus.”
Anna tersenyum.
“Ya semuanya terjadi begitu saja.”
“Ayolah Anna, kau seperti membunuhku kalau tidak bercerita dengan detail.”
Anna tertawa.
“Dia datang ke rumahku Em. Memintaku pada orang tuaku. Saat itulah aku tahu dia serius. Dari orang-orang dekatnya aku pun tahu dia orang yang baik dan bertanggung jawab. Aku tak tahu sejak kapan menyukainya, aku hanya merasa ‘Ya, dialah orangnya.’ Dan aku menerimanya.”
Kupegang tangan Anna dan mengucapkan selamat dengan tulus. Aku sungguh berdoa semoga mereka menjadi keluarga yang dirindukan surga. Akan lahir putra putri yang mampu menjadi penerang dalam kehiduapan mereka.
“Anna,” panggilku.
Anna berhenti menyeruput kopi dan menatapku.
“Kau tak boleh lupa memakai kado yang aku berikan untukmu.” Pesanku dengan muka yang kubuat serius.
Sedetik kemudian kami tertawa bersama. Aku sungguh berbahagia atas pernikahanmu, Anna.

Catatan: Cerpen ini kupersembahkan untuk seseorang yang aku pernah menjanjikan membuat cerita tentangnya. Tapi, sebagian hanyalah fiktif belaka. Hehe. Hei, kawan, yang selama empat tahun lalu hampir selalu bertemu denganku siang dan malam, aku turut berbahagia untukmu. Obrolan seputar pernikahan dan nama anak favorit rasanya baru kemarin. Ternyata, seiring berjalannya waktu obrolan-obrolan itu menjadi kenyataan satu persatu menjadi kenyataan. Pesanku, ingatlah, pernikahan itu merger bukan akuisisi (ini hanyalah pesan dari seseorang yang belum menikah, jadi boleh diabaikan boleh tidak). Hehe. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah warrohmah. Memiliki putra putri yang sholeh dan sholehah. Dan menjadi keluarga yang dirindukan surga.

Maafkan aku yang tidak bisa datang.

Selasa, 19 Mei 2015

Cerita dari senyum


Lihat,lihatlah baik-baik, matahari mulai nampak di ufuk timur. Biarkan hangatnya menyentuh kita. Pagi yang berembun, hujan membuat kian basah.

Tak masalah bukan, selama ada aku, kamu, dan menjadi kita. Ya, tentu kita bisa.

Pagi itu kita meniti bersama, jalan yang terlihat panjang, entah apa yang ada di depan sana. Selama kita saling percaya, saling ada, aku yakin, kita akan sampai, di ujung tujuan kita.
Tangis, marah, kecewa, jatuh, kenapa kita harus takut dengan kata-kata itu? Bukankah mereka pengelok hati kita. Tangis membuat kita mengerti artinya kesedihan, marah mengajarkan kita akan emosi yang harus kita jaga, kecewa menjaga kita dari kesombongan, dan jatuh, menyadarkan kita bahwa kita masih punya orang-orang di sekeliling kita. Aku yakin, di ujung semua perasaan itu akan ada senyum, senyum yang, ah itu sungguh cantik, anak dari sebuah perjuangan.

Banyak yang sudah kita lalui bersama, dalam kesedihan, kecerian, perjuangan. Lihat kita sudah sampai di satu persinggahan, persinggahan yang kadang kita ragukan, ah, apakah aku akan sampai di titik ini, bisakah, mungkinkah. Ragu itu boleh muncul, tapi hanya satu detik, selebihnya, biarkan kobar api semangat yang menemani kita. Nyatanya kita benar-benar sampai bukan? Bersama.

Jalan ini masih panjang. Walaupun  mungkin, tak ada lagi jari jemari kita yang terpaut, tak ada lagi langkah kaki yang saling beriring, tak ada lagi mata yang saling beradu, kita selalu ada, aku selalu ada untukmu, dan kamu juga akan selalu ada untukku bukan?
Lari, kencangkan tali sepatu dan terus berlari, hari masih panjang. Di persinggahan-persinggahan nanti kita akan berjumpa lagi, membawa cerita dari sebuah senyum di bibir kita.


Kamis, 07 Mei 2015

Pulang (Kumcer : Mayat Dalam Lumbung, Forum Aktif Menulis Publishing 2014)


            Jalanan Jakarta kian ramai. Padat oleh kendaraan yang berlalu lalang, jam pulang kerja. Kupasang headset di telinga, sekedar meredam bising yang memekak. Sudah pukul setengah lima, langkah kaki kupercepat. Aina pasti sudah menunggu.
            Halte transjakarta Budi Utomo terlihat padat, para penumpang berjubel menanti datangnya kendaraan massal yang sudah mulai beroperasi beberapa tahun lalu, mengatasi macet. Aku mendengus, nyatanya sistem kerja kendaraan itu belum tertata apik. Jam kedatangan bus yang kadang tak menentu membuat penumpang menumpuk. Bahkan aku pernah menunggu selama satu jam. Andai sistem kerjanya lebih tertata, pasti kendaraan massal itu menjadi alternatif bagi sebagian orang yang tidak ingin terjebak macet, seperti sore ini. Tinggal menyeberang jembatan layang. Mataku menatap seberang, tak ada. Kutajamkan pandanganku, awas. Tetap tak ada. Cepat kususuri jembatan layang.
            Di bawah jembatan layang tak ada Aina. Juga Pak Tono -ayah Aina, dan gerobaknya. Kemana mereka? Aku pikir, aku hanya telat beberapa menit dari waktu seharusnya. Beberapa kali aku terlambat datang karena aktivitas kampus yang tidak bisa ditinggalkan dan mereka tetap menunggu. Kudekati seorang pekerja yang sedang memperbaiki saluran air di pinggir jalan, menanyakan keberadaan Pak Tono dan Aina. Dia menggeleng. Menambah kekecewaanku.
●●●
            Pemuda itu terlihat kecewa. Aku mundur ketika matanya awas mengamati sekeliling. Pohon asem pinggir jalan ini cukup untuk menutupi tubuhku. Aku bisa melihatnya, tapi pemuda itu tak tahu keberadaanku.
            “Bapak, ini hari kamis kan? Kenapa Kak Li tidak datang?” Aina, putri kecilku, menanyai keberadaan pemuda yang sedang kuamati.
            “Kakaknya lagi tidak bisa,” ucapku bohong. Kuusap rambutnya.
            Aina tak lagi menanyaiku. Dia sibuk menyisir rambut boneka mainannya, hadiah dari pemuda yang sedang kuamati.
            “Kakaknya mungkin menunggu di tempat biasanya, Pak. Kenapa kita tidak kesana?” Aina kembali menanyaiku. Matanya menatapku curiga. Aku kira dia tak terlalu peduli dengan pemuda itu, ternyata aku salah.
            “Dia tidak akan datang lagi,” jawabku. Membuat sepasang mata yang tengah menatapku terlihat kecewa. Kualihkan pandanganku, tak sanggup melihat gurat kecewa pada matanya lebih lanjut. Rasanya sakit ketika melihat pendar kecewa di matanya. Maafkan Bapak nak, Bapak hanya tak ingin membuatku semakin kecewa nantinya, batinku.
            Kutuntun Aina kembali ke gerobak yang berada tak jauh di belakang kami. Kududukkan dia di sela-sela barang-barang rongsok. Dia hanya terdiam, masih sibuk menyisir rambut bonekanya. Kutarik gerobak, menjauh dari jalanan ibu kota yang bising.
●●●
            Kuhempaskan tubuh di kasur lantai. Mataku menatap langit-langit kamar. Kemana mereka? Ini sudah minggu ke tiga sejak Pak Tono dan Aina tak ada lagi di bawah jembatan layang. Aku sudah berusaha menanyai beberapa penjual piggir jalan. Hasilnya nihil.
            “Kau kenapa?” Andi, teman satu kosku, masuk tanpa mengetuk dan langsung di depan rak bukuku. Mengambil komik.
            “Kau ingat Pak Tono, yang beberapa waktu lalu pernah kuceritakan padamu,” tanyaku.
            Andi hanya mengangguk tanpa melihatku.
            “Dia menghilang,” ucapku.
            “Menghilang bagaimana?” Andi menatapku.
            “Aku tak lagi bertemu mereka di bawah jembatan layang, sudah sejak tiga minggu lalu.”
            “Mungkin dia sudah mendapat pekerjaan.” Andi kembali membaca komik.
            Sepertinya itu tak mungkin. Di awal pertemuanku dengan Pak Tono, aku pernah menanyakan tentang pekerjaannnya sebelumnya. Dia menjadi salah satu pekerja pabrik. Sistem kerja outsourching yang diterapkan membuat dia dan teman-temannya tak punya ketentuan di masa depan. Dia habis kontrak di tahun ketiganya. Padahal waktu itu dia sedang membutuhkan biaya banyak. Istrinya sakit kanker payudara dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Aina  baru berusia dua  tahun. Pak Tono setiap hari mencari pekerjaan sambil mengurusi Aina dan juga istrinya. Percuma, tak ada pekerjaan yang didapat. Tabungannya terkuras untuk biaya pengobatan istrinya. Setengah tahun kemudian istrinya meninggal.  Dua bulan setelah itu, Pak Tono dan Aina berpindah-pindah tempat, tak lagi mampu membayar sewa.
            “Rasanya tak mungkin,” ucapku akhirnya. Aku bangkit, menatap keluar lewat jendela kamar. Malam ini langit terlihat cerah, beberapa bintang membagi sinarnya. Kamarku yang terletak di lantai tiga membuatku sedikit leluasa menatap sekeliling. Mataku menatap jauh. Kerlip lampu apartemen-apartemen mewah terlihat di depan sana. Dan di bawah sana, di jalanan, mataku menangkap beberapa rumah yang mampu bergerak. Berpindah-pindah. Dari sini aku bisa melihat sebuah kenyataan yang membuat hatiku mengisak.
            “Benar-benar bagai bumi dan langit,” lirihku. Andai semua orang peduli, tak ada keegoisan untuk memperkaya diri. Mungkin hal ini tak akan terjadi.
            “Andi, negara ini sedang krisis!” Aku terus menatap keluar.
            “Maksudnya, krisis ekonomi?”
            “Tidak! Tapi lebih parah dari itu. Negara ini sedang mengalami krisis nawaitu, krisis niat. Ada yang perlu dibenahi di sini. Ah, andai semua orang mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik, pasti tak ada lagi rumah-rumah beroda itu.”
●●●
            Hari ini langit siang tiba-tiba mendung. Padahal pagi tadi sangat cerah. Rintik air hujan pun mulai turun, memaksaku menepi. Kulajukan motorku ke bawah jalan layang Salemba Carolus. Beberapa pengendara lainnya mengikutiku. Hujan yang merintik tadi kian deras. Aku tak membawa mantel, terpaksa menunggu hujan mereda.
            “Hati-hati dong, Pak,” tegur seseorang  tak jauh dariku.
            “Maaf,” Aku mengenal suara itu. Kutolehkan kepalaku ke samping. Benar. Pak Tono dan Aina ikut meneduh. Kulangkahkan kakiku mendekat.
            “Pak Tono,” panggilku. Dia menoleh. Aku bisa melihat ekspresi kaget di wajahnya. Aku menahannya ketika dia hendak membawa gerobaknya pergi.
            “Hujan, kasihan Aina,” ucapku. Berharap Pak Tono mengurungkan niatnya. Kulihat Aina sedang tertidur pulas. Dipeluknya boneka yang pernah kuberikan padanya.
            Berhasil. Pak Tono tidak jadi menarik gerobaknya.
            “Kenapa Bapak dan Aina tak pernah muncul lagi di sana?” tanyaku.
            Pak Tono menatapku. Matanya terlihat bimbang. Dia seperti sedang menimbang-nimbang apakah akan menjawab pertanyaanku atau tidak. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab.
            “Aku tak ingin membuat Aina bertambah kecewa terhadapku.”
            “Maksudnya?” Aku tak mengerti dengan jawaban Pak Tono.
            “Kau tahu, Aina berusia enam tahun sekarang. Sudah empat tahun dia tinggal berpindah-pindah seperti ini. Selama itu, dia tak pernah protes. Sampai hari itu, dia menanyaiku sebuah kosa kata yang baru kau ajarkan.”
            Aku mengerutkan kening. Selama ini aku memang mengajari Aina membaca, Pak Tono tak mampu menyekolahkannya. Aku pikir tak ada yang salah dengan materi pengajaranku.
            “Dia memintaku mengabulkan satu kosa kata itu, pulang.”
            Aku terhenyak mendengarnya.  Aku ingat, hari itu aku mengajarkan Aina tentang bangunan-bangunan dan kosa kata itu.
            “Bagaimana mungkin aku mengajaknya pulang. Tak ada rumah untuk kami. Kau lihat gerobak ini? Ini sungguh bukan rumah. Tak ada rumah yang seperti ini. Aku hanya tak ingin membuat Aina kecewa lagi.” Pak Tono menatapku. Aku tak bisa menatap dengan jelas apa yang ada di matanya. Mataku sedikit buram oleh sesuatu yang panas.
            “Mungkin ini hanya hal kecil yang kau ajarkan. Tapi aku tak tahu, apa lagi yang akan diketahuinya kelak. Aku hanya ingin tak membuatnya kecewa, bahwa banyak sekali hal yang tak bisa kuberikan padanya. Bahkan sekadar tempat berteduh. Aku merasa sangat bersalah terhadapnya.” Pak Tono menutup gerobaknya dengan plastik lebar. Berjalan menjauh. Membawa Aina menyusuri setiap sudut kota, melindunginya dari hujan dengan sehelai plastik dan gerobak. Menapaki jalanan dengan rumah beroda. Bukan. Sungguh itu bukan rumah. Karena tak ada tempat pulang yang seperti itu.
            Kutatap gerobaknya yang kian menjauh. Rintik hujan mulai mereda. Jalanan kembali ramai dengan beragam pengguna. Kuamati mereka. Ah, banyak sekali korban krisis nawaitu di jalanan ini. Dadaku kian sesak melihatnya. Ada yang perlu dibenahi.