Rabu, 02 September 2015

Seorang Kawan

Kutarik koperku pelan. Hiruk pikuk di bandara kuredam dengan headset yang menyalurkan lagu dari HP. Terkadang aku heran, bagaimana tranportasi umum selalu ramai. Tidak kereta atau pesawat. Ada saja orang yang berpergian setiap hari. Kemana mereka sebenarnya?
Aku mendengar kabar itu dua bulan lalu. Ketika siang di hari minggu yang panas, HP ku berdering. Nomer yang sangat kukenal. Kedua ujung bibirku terangkat.
“Emily, masih hidup ya?” Suara yang sangat akrab langsung menyergap telingaku. Anna.
“Bagaimana kau bisa menyapa seseorang seperti itu?” Protesku dengan suara yang kubuat kesal. Walau aku tak bisa melihatnya, kubayangkan dia sedang terkekeh.
“Mendengar kau bicara seperti itu, berarti kau baik-baik saja.” Entah kenapa aku mendengar warna lain dalam suaranya. Dia tidak lagi sama.
“Aku akan ke Borneo, Em.” Selanya sebelum aku berkata. “Mengurus rangkaian pernikahanku.”
“Kau? Bagaimana?” Aku hanya mampu mengucapkan kata-kata itu. Sisanya tersangkut dalam tenggorokanku.
“Em, kau harus datang ke pernikahanku. Dua bulan lagi. Simpanlah keingintahuanmu. Aku akan memberitahumu ketika kita bertemu. Jangan lupa bawa kado.”
Dan tiba-tiba sambungan terputus. Aku merasa kesal. Bagaimana dia bisa bersikap seperti itu? Aku mencoba menghubunginya, percuma. Tak ada jawaban. Baiklah, jika dia ingin sok misterius. Aku berusaha tak mempedulikannya. Walaupun sungguh, dalam hatiku rasa penasaran menggunung.
Tunggu dulu, Borneo? Aku berusaha mengingat sesuatu. Selepas lulus kuliah, dia memilih bekerja di Sulawesi, sedangkan aku memilih Borneo. Aku mendecak ketika ingatan itu muncul. Ada seseorang yang berasal dari Borneo. Ya, aku ingat. Anna pernah menyukai seseorang yang berasal dari Borneo. Edo.
Semester tujuh. Kami berada dalam satu kelas yang sama. Edo seorang anak yang supel. Dia membuat orang yang berada di sekitarnya merasa nyaman. Tapi dia seorang yang pelupa. Dalam satu waktu, dia membuat seseorang yang baru ditemuinya merasa nyaman, tapi dalam waktu berikutnya, dia sudah lupa bahwa pernah bertemu dengan orang tersebut.
Dalam suatu pagi, Anna bercerita padaku bahwa Edo muncul dalam mimpinya. Lebih dari itu, Edo mengambil peran sebagai seorang superhero. Mimpi dikejar hantu dan tentu tokoh laki-lakilah yang berusaha melindungi si wanita. Aku tertawa hebat mendengar ceritanya. Kami menganggap hal itu hanya angin lalu saja. Tapi beberapa hari kemudian, Edo kembali muncul dalam mimpi Anna. Aku menertawakannya lagi. Bagaimana bisa? Sejak itu, aku sering menggoda Anna, terlebih ketika ada Edo di sekitar kami.
Mungkin benar perkataan orang. Rasa suka bisa muncul karena suatu kebiasaan. Tapi ini, karena mimpi? Aku sangat kaget ketika suatu siang di kantin kampus Anna mengaku mulai menyukai Edo. Kupastikan aku tak salah dengar.
Aku memperingatkan Anna bahwa Edo mempunyai kebiasaan mudah membuat nyaman seseorang, agar Anna tak salah paham dalam hubungan mereka. Aku hanya akan mencoba sampai hatiku menyuruhku untuk berhenti, begitu jawaban Anna. Dan seperti gayung yang bersambut, kedekatan mereka semakin erat. Kutepis kekhawatiranku. Mungkin kali ini Edo juga memiliki perasaan dengan Anna.
Beberapa waktu pun berlalu. Hingga beberapa hari menjelang wisuda, sebuah informasi menyeruak. Edo sudah punya seseorang. Hati Anna hancur. Dia menangis. Aku menyalahkan Edo, kenapa tak bilang dari awal. Bukankah gerak gerik Anna sangat kentara? Walaupun begitu, Anna menepis. Dia merasa bodoh karena tak langsung menanyai Edo.
“Nona Emily?”
Aku terbangun dari lamunanku.
“Ya.” Jawabku tergeragap.
“Mari ikut dengan saya.” Orang itu menarik koperku dan aku membuntutinya. Umurnya masih tiga puluhan.. Ini kompensasi Anna atas kedatanganku. Dia menjamin akomodasiku.
Kukenakan sebuah gaun berwarna maroon dengan tas tangan yang berwarna serupa. Kumasukkan sebuah kado dengan bingkisan berwarna biru. Warna kesukaan Anna.
Sebuah pesta kebun yang cantik. Tepat sekali dengan keinginan Anna. Tak jauh dari panggung pengantin yang dibuat minimalis tapi sangat mengesankan terdapat sebuah danau. Perpaduan warna biru dan putih menambah pemandangan pernikahan Anna menjadi semakin cantik.
“Em..” Seseorang memanggilku. Dia mengenakan setelan jas.  Mukanya terlihat lebih bersih dari terakhir kuingat.
“Kau datang juga?” Pertanyaan bodoh itulah yang kulontarkan.
Dia hanya mengangguk.
“Kau terlihat cantik hari ini.”
Aku hanya tersenyum. Dia tak ubahnya seperti saat kuliah dulu. Tapi, kenapa dia di sini? Apa yang terjadi sebenarnya?
●●●
“Anna, kukira dia...”
“Tentu bukan dia Emily sayang.” Tukas Anna sebelum kalimatku tuntas. Kami sedang berada di sebuah kedai kopi.
Aku terbahak. Merasa bodoh dengan pemikiranku.
“Aku sangat kaget ketika dia muncul di depanku, kukira dia yang akan berada di panggung bersamamu.”
Anna terkekeh.
“Bagaimana bisa kau dengan dia? Dia, laki-laki yang pernah mengirimu sekardus cokelat bukan?” Tentu saja aku masih ingat dengan nama laki-laki yang tanpa pikir panajng mau mengirim sekardus cokelat untuk perempuan yang baru dikenalnya. Aku merasa beruntung satu kamar dengan Anna saat itu.
“Ya, itu suamiku. Laki-laki yang mengirimiku cokelat dan kau ikut menikmatinya.”
Aku terkekeh. Juga masih merasa ganjil mendengarnya berucap suamiku.
“Bagaimana ceritanya?” Kini aku ingin menuntaskan rasa penasaranku tentang kisah cinta Anna.
“Awalnya aku tak tertarik. Apalagi saat itu aku masih menyukai orang itu. Kau tahu kan tanpa aku perlu menyebutnya.”
Aku mengangguk cepat.
“Juga ketika aku patah hati, aku belum menyukainya. Tapi, lama-kelamaan aku merasa kehilangan ketika dia tidak menghubungiku. Kau ingat kan saat itu? Aku selalu mengeluh saat dia tidak menelponku.”
“Ya, kau akan memandangi ponselmu terus.”
Anna tersenyum.
“Ya semuanya terjadi begitu saja.”
“Ayolah Anna, kau seperti membunuhku kalau tidak bercerita dengan detail.”
Anna tertawa.
“Dia datang ke rumahku Em. Memintaku pada orang tuaku. Saat itulah aku tahu dia serius. Dari orang-orang dekatnya aku pun tahu dia orang yang baik dan bertanggung jawab. Aku tak tahu sejak kapan menyukainya, aku hanya merasa ‘Ya, dialah orangnya.’ Dan aku menerimanya.”
Kupegang tangan Anna dan mengucapkan selamat dengan tulus. Aku sungguh berdoa semoga mereka menjadi keluarga yang dirindukan surga. Akan lahir putra putri yang mampu menjadi penerang dalam kehiduapan mereka.
“Anna,” panggilku.
Anna berhenti menyeruput kopi dan menatapku.
“Kau tak boleh lupa memakai kado yang aku berikan untukmu.” Pesanku dengan muka yang kubuat serius.
Sedetik kemudian kami tertawa bersama. Aku sungguh berbahagia atas pernikahanmu, Anna.

Catatan: Cerpen ini kupersembahkan untuk seseorang yang aku pernah menjanjikan membuat cerita tentangnya. Tapi, sebagian hanyalah fiktif belaka. Hehe. Hei, kawan, yang selama empat tahun lalu hampir selalu bertemu denganku siang dan malam, aku turut berbahagia untukmu. Obrolan seputar pernikahan dan nama anak favorit rasanya baru kemarin. Ternyata, seiring berjalannya waktu obrolan-obrolan itu menjadi kenyataan satu persatu menjadi kenyataan. Pesanku, ingatlah, pernikahan itu merger bukan akuisisi (ini hanyalah pesan dari seseorang yang belum menikah, jadi boleh diabaikan boleh tidak). Hehe. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah warrohmah. Memiliki putra putri yang sholeh dan sholehah. Dan menjadi keluarga yang dirindukan surga.

Maafkan aku yang tidak bisa datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar