Kutarik
koperku pelan. Hiruk pikuk di bandara kuredam dengan headset yang menyalurkan
lagu dari HP. Terkadang aku heran, bagaimana tranportasi umum selalu ramai.
Tidak kereta atau pesawat. Ada saja orang yang berpergian setiap hari. Kemana
mereka sebenarnya?
Aku
mendengar kabar itu dua bulan lalu. Ketika siang di hari minggu yang panas, HP
ku berdering. Nomer yang sangat kukenal. Kedua ujung bibirku terangkat.
“Emily,
masih hidup ya?” Suara yang sangat akrab langsung menyergap telingaku. Anna.
“Bagaimana
kau bisa menyapa seseorang seperti itu?” Protesku dengan suara yang kubuat
kesal. Walau aku tak bisa melihatnya, kubayangkan dia sedang terkekeh.
“Mendengar
kau bicara seperti itu, berarti kau baik-baik saja.” Entah kenapa aku mendengar
warna lain dalam suaranya. Dia tidak lagi sama.
“Aku
akan ke Borneo, Em.” Selanya sebelum aku berkata. “Mengurus rangkaian
pernikahanku.”
“Kau?
Bagaimana?” Aku hanya mampu mengucapkan kata-kata itu. Sisanya tersangkut dalam
tenggorokanku.
“Em, kau
harus datang ke pernikahanku. Dua bulan lagi. Simpanlah keingintahuanmu. Aku
akan memberitahumu ketika kita bertemu. Jangan lupa bawa kado.”
Dan
tiba-tiba sambungan terputus. Aku merasa kesal. Bagaimana dia bisa bersikap
seperti itu? Aku mencoba menghubunginya, percuma. Tak ada jawaban. Baiklah,
jika dia ingin sok misterius. Aku berusaha tak mempedulikannya. Walaupun
sungguh, dalam hatiku rasa penasaran menggunung.
Tunggu
dulu, Borneo? Aku berusaha mengingat sesuatu. Selepas lulus kuliah, dia memilih
bekerja di Sulawesi, sedangkan aku memilih Borneo. Aku mendecak ketika ingatan
itu muncul. Ada seseorang yang berasal dari Borneo. Ya, aku ingat. Anna pernah
menyukai seseorang yang berasal dari Borneo. Edo.
Semester
tujuh. Kami berada dalam satu kelas yang sama. Edo seorang anak yang supel. Dia
membuat orang yang berada di sekitarnya merasa nyaman. Tapi dia seorang yang
pelupa. Dalam satu waktu, dia membuat seseorang yang baru ditemuinya merasa
nyaman, tapi dalam waktu berikutnya, dia sudah lupa bahwa pernah bertemu dengan
orang tersebut.
Dalam
suatu pagi, Anna bercerita padaku bahwa Edo muncul dalam mimpinya. Lebih dari
itu, Edo mengambil peran sebagai seorang superhero. Mimpi dikejar hantu dan
tentu tokoh laki-lakilah yang berusaha melindungi si wanita. Aku tertawa hebat
mendengar ceritanya. Kami menganggap hal itu hanya angin lalu saja. Tapi
beberapa hari kemudian, Edo kembali muncul dalam mimpi Anna. Aku
menertawakannya lagi. Bagaimana bisa? Sejak itu, aku sering menggoda Anna,
terlebih ketika ada Edo di sekitar kami.
Mungkin
benar perkataan orang. Rasa suka bisa muncul karena suatu kebiasaan. Tapi ini,
karena mimpi? Aku sangat kaget ketika suatu siang di kantin kampus Anna mengaku
mulai menyukai Edo. Kupastikan aku tak salah dengar.
Aku
memperingatkan Anna bahwa Edo mempunyai kebiasaan mudah membuat nyaman
seseorang, agar Anna tak salah paham dalam hubungan mereka. Aku hanya akan
mencoba sampai hatiku menyuruhku untuk berhenti, begitu jawaban Anna. Dan
seperti gayung yang bersambut, kedekatan mereka semakin erat. Kutepis
kekhawatiranku. Mungkin kali ini Edo juga memiliki perasaan dengan Anna.
Beberapa
waktu pun berlalu. Hingga beberapa hari menjelang wisuda, sebuah informasi
menyeruak. Edo sudah punya seseorang. Hati Anna hancur. Dia menangis. Aku
menyalahkan Edo, kenapa tak bilang dari awal. Bukankah gerak gerik Anna sangat
kentara? Walaupun begitu, Anna menepis. Dia merasa bodoh karena tak langsung
menanyai Edo.
“Nona
Emily?”
Aku
terbangun dari lamunanku.
“Ya.” Jawabku
tergeragap.
“Mari
ikut dengan saya.” Orang itu menarik koperku dan aku membuntutinya. Umurnya
masih tiga puluhan.. Ini kompensasi Anna atas kedatanganku. Dia menjamin
akomodasiku.
Kukenakan
sebuah gaun berwarna maroon dengan tas tangan yang berwarna serupa. Kumasukkan
sebuah kado dengan bingkisan berwarna biru. Warna kesukaan Anna.
Sebuah
pesta kebun yang cantik. Tepat sekali dengan keinginan Anna. Tak jauh dari
panggung pengantin yang dibuat minimalis tapi sangat mengesankan terdapat
sebuah danau. Perpaduan warna biru dan putih menambah pemandangan pernikahan
Anna menjadi semakin cantik.
“Em..”
Seseorang memanggilku. Dia mengenakan setelan jas. Mukanya terlihat lebih bersih dari terakhir
kuingat.
“Kau
datang juga?” Pertanyaan bodoh itulah yang kulontarkan.
Dia
hanya mengangguk.
“Kau
terlihat cantik hari ini.”
Aku
hanya tersenyum. Dia tak ubahnya seperti saat kuliah dulu. Tapi, kenapa dia di
sini? Apa yang terjadi sebenarnya?
●●●
“Anna,
kukira dia...”
“Tentu
bukan dia Emily sayang.” Tukas Anna sebelum kalimatku tuntas. Kami sedang
berada di sebuah kedai kopi.
Aku
terbahak. Merasa bodoh dengan pemikiranku.
“Aku
sangat kaget ketika dia muncul di depanku, kukira dia yang akan berada di
panggung bersamamu.”
Anna
terkekeh.
“Bagaimana
bisa kau dengan dia? Dia, laki-laki yang pernah mengirimu sekardus cokelat
bukan?” Tentu saja aku masih ingat dengan nama laki-laki yang tanpa pikir
panajng mau mengirim sekardus cokelat untuk perempuan yang baru dikenalnya. Aku
merasa beruntung satu kamar dengan Anna saat itu.
“Ya, itu
suamiku. Laki-laki yang mengirimiku cokelat dan kau ikut menikmatinya.”
Aku
terkekeh. Juga masih merasa ganjil mendengarnya berucap suamiku.
“Bagaimana
ceritanya?” Kini aku ingin menuntaskan rasa penasaranku tentang kisah cinta
Anna.
“Awalnya
aku tak tertarik. Apalagi saat itu aku masih menyukai orang itu. Kau tahu kan
tanpa aku perlu menyebutnya.”
Aku
mengangguk cepat.
“Juga
ketika aku patah hati, aku belum menyukainya. Tapi, lama-kelamaan aku merasa
kehilangan ketika dia tidak menghubungiku. Kau ingat kan saat itu? Aku selalu
mengeluh saat dia tidak menelponku.”
“Ya, kau
akan memandangi ponselmu terus.”
Anna
tersenyum.
“Ya
semuanya terjadi begitu saja.”
“Ayolah
Anna, kau seperti membunuhku kalau tidak bercerita dengan detail.”
Anna
tertawa.
“Dia
datang ke rumahku Em. Memintaku pada orang tuaku. Saat itulah aku tahu dia
serius. Dari orang-orang dekatnya aku pun tahu dia orang yang baik dan
bertanggung jawab. Aku tak tahu sejak kapan menyukainya, aku hanya merasa ‘Ya,
dialah orangnya.’ Dan aku menerimanya.”
Kupegang
tangan Anna dan mengucapkan selamat dengan tulus. Aku sungguh berdoa semoga
mereka menjadi keluarga yang dirindukan surga. Akan lahir putra putri yang
mampu menjadi penerang dalam kehiduapan mereka.
“Anna,”
panggilku.
Anna
berhenti menyeruput kopi dan menatapku.
“Kau tak
boleh lupa memakai kado yang aku berikan untukmu.” Pesanku dengan muka yang
kubuat serius.
Sedetik
kemudian kami tertawa bersama. Aku sungguh berbahagia atas pernikahanmu, Anna.
Catatan:
Cerpen ini kupersembahkan untuk seseorang yang aku pernah menjanjikan membuat
cerita tentangnya. Tapi, sebagian hanyalah fiktif belaka. Hehe. Hei, kawan,
yang selama empat tahun lalu hampir selalu bertemu denganku siang dan malam,
aku turut berbahagia untukmu. Obrolan seputar pernikahan dan nama anak favorit
rasanya baru kemarin. Ternyata, seiring berjalannya waktu obrolan-obrolan itu
menjadi kenyataan satu persatu menjadi kenyataan. Pesanku, ingatlah, pernikahan
itu merger bukan akuisisi (ini hanyalah pesan dari seseorang yang belum
menikah, jadi boleh diabaikan boleh tidak). Hehe. Semoga menjadi keluarga yang
sakinah, mawaddah warrohmah. Memiliki putra putri yang sholeh dan sholehah. Dan
menjadi keluarga yang dirindukan surga.
Maafkan
aku yang tidak bisa datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar