Aku mendengus kesal.
Usahaku seperti tak ada artinya. Berhari-hari aku menulis, berjam-jam berteman
dengan layar komputer, tapi tak pernah membuahkan hasil. Jika aku harus
mengungkapkannya, maka aku sudah lelah dengan mimpiku. Berkali-kali patah hati
karena naskah ditolak, berkali-kali gagal dalam ajang perlombaan membuatku
lelah. Ya, aku sudah lelah.
“Kamu kenapa sayang?” ibuku menghampiriku. “Kok kusut
sekali wajahnya.”
Aku menatap dalam matanya. “Aku lelah bu, aku lelah dengan
mimpiku.”
Walau tak terlalu kentara aku mampu menangkap ekspresi
kaget di wajahnya. Mungkin dia tak menyangka aku akan menyerah dengan mimpi
yang selalu kubicarakan. Dielusnya lembut wajahku.
“Kau mau mendengar cerita ibu?” tanyanya.
Aku mengangguk. Tak terlalu berminat sebenarnya. Tapi aku
tak ingin melihat wajah ibu kecewa. Aku memandang lurus ke depan. Ke pohon
mangga yang mulai berbuah di halaman rumah. Langit senja mulai terlihat.
“Dulu, dulu sekali ada seorang tukang kayu.” Ibu mulai
bercerita. Pandangannya mengikutiku lurus ke depan seperti membayang ke masa
lalu.
“Dia seorang yang pantang menyerah. Setelah lulus SMA,
dia memutuskan untuk bekerja. Ayahnya sudah meninggal karena kecelakaan. Dan
dia hidup hanya dengan ibu dan kelima adiknya. Jika dia mengikuti keinginannya,
ingin sekali dia masuk ke sebuah universitas, mengambil jurusan seni,
mewujudkan mimpinya untuk menjadi seorang seniman. Tapi, kau tahu sayang,
dengan bijak dia memilih mimpi yang lain. Mimpi untuk menjadi jembatan agar
adik-adiknya bisa mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Dia memilih membantu
ibunya membiayai pendidikan kelima adiknya. Awalnya dia hanya menjadi salah
satu pegawai di sebuah toko furniture. Dan
tiap hari dia memperhatikan bagaimana cara tukang kayu membuat sebuah meja,
lemari, atau kursi yang cantik. Bagaimana ukiran itu mereka kerjakan dengan
detail, bagaimana meraka melakukannya dengan tersenyum. Dia seorang pengamat
yang baik, pembelajar yang cepat. Dengan telaten dia selalu memperhatikan. Tak
jarang dia bertanya pada para tukang kayu apa yang belum dia mengerti. Dan
suatu ketika, karena terjadi masalah, toko furniture
itu tutup. Maka tak punya pekerjaanlah pemuda ini. Lalu dia mulai bekerja
apa saja, menjual koran, menjadi buruh, apapun yang bisa dia lakukan.
Penghasilannya sebagian diberikan untuk ibunya, sebagian lagi ditabung. Ketika
tabungannya dirasa cukup, dia mulai membeli peralatan tukang kayu, dan beberapa
potong kayu jati. Habislah tabungannya selama setahun. Dibuatnya plang di depan
rumah, ‘Menerima pesanan meja, kursi, atau lemari.’ Kau tahu sayang, dia
menunggu satu bulan, dua bulan, tiga bulan, tak ada yang memesan. Dan pada
bulan ke tujuh, diputuskannya untuk membuat sebuah kursi. Bukan untuk orang
lain, tapi untuk keluarganya. Dalam waktu tiga minggu, kursi itu jadi, sebuah
kursi dengan ukiran yang cantik di sandarannya. Kursi itu diletakkan di teras
rumah untuk duduk-duduk mengobrol bersama keluarganya. Pemuda itu masih bekerja
apa saja, dia masih terus menabung. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, tetap
tak ada yang memesan. Dia terus berharap, mungkin esok lusa akan ada yang
memesan. Dan kau tahu, tepat dua tahun, ketika plang di depan rumahnya sudah
usang, ketika orang lain tak ada yang memercayainya untuk membuatkan sebuah
meja, kursi, ataupun lemari, seseorang datang. Seseorang dari kota yang jauh.
Seorang pengusaha furniture yang
sukses. Seorang teman dari teman pemuda ini yang pernah berkunjung ke rumahnya.
Pengusaha ini langsung jatuh cinta ketika melihat kursi itu. Dan pemuda ini
diajak bekerja sama. Perekonomian pemuda ini mulai membaik, dia pun mampu
menyekolahkan adik-adiknya. Kau tahu siapa pemuda ini?”
Aku menatap ibu, takjub dengan ceritanya dan menggeleng.
“Dia kakekmu.”katanya tersenyum. Aku menatapnya tak
percaya.
“Kadang seseorang hanya melihat hasil akhir dari
perjuangan orang lain tanpa melihat perjuangan orang itu. Jadilah orang yang
bijak sayang.”
Aku mengangguk. Maka sore ini, ada pemahaman baru dalam
diriku. Aku akan terus memperjuangkan mimpiku. Dan aku rindu sosok pemuda itu,
sosok kakek yang sejak kecil satu tangannya telah diamputasi karena sebuah
kecelakaan.