Kamis, 24 September 2015

Kacamata-kacamata


Assalamualaikum,

Hai, kau, yang usiamu bertambah, semoga sisa umurmu menjadi semakin berkah. Alhamdulillah, bisa bertemu lagi kita. Apa kabar kau?
Aku tahu kau akan tersenyum ketika aku bertanya begitu. Tapi, sungguh aku bertanya. Bukan sekadar basa-basi yang bisa kau angin lalukan. Apa kabar?
Eh, sebuah helaan nafas? Ada apa? Ya, setidaknya kau berasa menjadi lebih baik setiap harinya.

Tahun ini bagaimana? Lebih hebat dari setahun lalu bukan?
Lihat, tahun ini banyak sekali warna perasaanmu. Jika aku mengurai, warna abumu kian mengeruh.  Tapi ada titik jingga yang menyembul di antaranya. Ya, banyak sekali hal yang terjadi setahun lalu. Dari mulai wisuda—selamat untuk yang satu ini, magang, dan penempatan.

Beberapa bulan magang, yang mengenalkanmu sedikit tentang dunia kerja, mengenalkanmu betapa pentingnya kerja sama, dan menambah banyak teman. Dan yang pasti, kau harus mulai belajar mengatur keuangan. Alhamdulillah, sudah dapat gaji kan? Ingatlah untuk menyalurkan sebagian rizkimu kepada orang-orang yang berhak. Membantu seseorang kadang belum tentu memberi, bisa dengan melakukan sesuatu untuk orang lain. Banyak sekali cara. Merekalah yang akan menjadi kawanmu kelak.

Waktu terus berjalan, kakimu tak bisa terus menapak di satu tempat.

Keluar dari zona nyaman memang tak mudah. Ternyata empat tahun merantau di jakarta tak cukup membuatmu mengerti apa arti sebuah rantau. Bukankah hidup ini adalah sebuah perantauan, yang kepada-Nya lah kita akan kembali. Jika kau merasa lelah, berisitirahatlah sebentar. Renungkan perjalananmu dan melangkahlah lagi. Merantau mengajarkanmu arti pulang dan bahagianya bertemu dengan orang-orang yang kau cintai bukan? Walaupun kau tak bisa selalu berada di dekat mereka, tapi kau bisa selalu menjaga mereka di ujung-ujung doamu. Jangan pernah merasa iri dengan kondisi orang lain. Irilah pada kebaikan-kebaikan mereka, pada ibadahnya. Ketika orang lain bisa berbuat baik, beribadah dengan lebih baik, irilah pada mereka. Sehingga kau bisa mencontoh mereka, bahkan lebih baik.

Ingat perkataan seorang teman bahwa bekerja itu ibadah. Ketika kau lemah, ingatlah itu. Kuatlah. Hal-hal baik akan datang padamu ketika kau juga meyakininya. Jagalah keyakinan akan hal-hal baik itu tanpa menepikan sebuah usaha.

Menjadi diri-sendiri itu penting. Aku sungguh tahu ketika kau mencoba menjadi orang lain yang sangat tidak “kau”. Kau tidak perlu menyenangkan orang lain dengan menjadi seperti yang mereka inginkan. Itu melelahkan bukan? Dan aku sangat tidak menyukainya. Jadilah diri-sendiri. Berubah tak apa. Asalkan perubahan itu ke arah yang lebih baik. Dan kau menyadari bahwa perubahan itu memang baik untukmu. Walaupun terkadang, ada perubahan yang perlu kau paksakan ke dalam dirimu. Yang penting, berubahlah ke arah yang lebih baik dan sadari bahwa perubahan itu penting. Sesuatu yang dijalani dengan mengetahui maksdunya akan lebih menyenangkan dan tertanam dalam dirimu.

Selalu syukuri apa yang ada di sekitarmu. Walaupun kadang sulit, berusahalah. Ketika dengan satu kacamata kau belum bisa, ambil kacamata-kacamata lain hingga kau bisa bersyukur.  Lihatlah sekelilingmu dengan kacamata yang berbeda hingga hatimu merasa lega dan bersyukur betapa besarnya karunia Allah untukmu. Terkadang apa yang kita inginkan belum tentu apa yang kita butuhkan, tapi Allah selalu tahu apa yang kita butuhkan.

Hei, bagaimana kabar mimpimu? Kau bilang, kau sedang mengusahakannya. Jangan pernah lelah. Kau sendiri yang berkata bahwa tak ada yang akan meraihkan mimpi untukmu kecuali dirimu sendiri, terlebih mendapatkan sesuatu yang kau inginkan dengan usahamu sendiri sungguh menyenangkan bukan? Walaupun kadang, hal yang kau inginkan sangat sulit untuk digapai, berusahalah, ketika kau gagal, coba lagi. Teruslah bermimpi! Karena mimpilah yang akan membuat orang menjadi lebih hidup. Keep fighting!

Selesaikanlah apa yang telah kau mulai. Apabila kau melakukan banyak hal tapi tak pernah menyelesaikannya, maka sama saja bohong. Perihal hasilnya, jika sekali tak baik, cobalah kedua kalinya, tidak baik lagi, ketiga kalinya, begitu seterusnya. Orang yang berani mencoba masih lebih baik ketimbang mengangankannya saja dan takut jatuh. Walaupun terjatuh, orang yang belajar naik sepeda akan tahu bagaimana rasanya naik sepeda. Hingga, karena kegigihannya, sepeda yang dinaiki akan melaju kencang.
Istikomahlah dalam berusaha menjadi sholehah. Semangat itu memang naik turun. Manfaatkan waktu sebaik mungkin. Ketika kau sedang marah, sebal, yang hanya akan membuatmu kacau, salurkanlah emosimu lewat hal-hal yang baik. Jika kau tak mampu maka berdiamlah. Berdiamlah sampai emosimu mereda. Berbuat hal yang menyakitkan hanya akan membuatmu menyesal nantinya.

Semoga kau selalu bahagia. Ya, sungguh, semoga kau melakukan sesuatu bukan hanya untuk membuat orang lain bahagia. Tapi juga membuat dirimu sendiri bahagia. Semoga banyak hal hebat lain yang terjadi tahun ini.
Semoga kita bisa berjumpa lagi tahun depan.


Wassalamualaikum,

Rabu, 02 September 2015

Seorang Kawan

Kutarik koperku pelan. Hiruk pikuk di bandara kuredam dengan headset yang menyalurkan lagu dari HP. Terkadang aku heran, bagaimana tranportasi umum selalu ramai. Tidak kereta atau pesawat. Ada saja orang yang berpergian setiap hari. Kemana mereka sebenarnya?
Aku mendengar kabar itu dua bulan lalu. Ketika siang di hari minggu yang panas, HP ku berdering. Nomer yang sangat kukenal. Kedua ujung bibirku terangkat.
“Emily, masih hidup ya?” Suara yang sangat akrab langsung menyergap telingaku. Anna.
“Bagaimana kau bisa menyapa seseorang seperti itu?” Protesku dengan suara yang kubuat kesal. Walau aku tak bisa melihatnya, kubayangkan dia sedang terkekeh.
“Mendengar kau bicara seperti itu, berarti kau baik-baik saja.” Entah kenapa aku mendengar warna lain dalam suaranya. Dia tidak lagi sama.
“Aku akan ke Borneo, Em.” Selanya sebelum aku berkata. “Mengurus rangkaian pernikahanku.”
“Kau? Bagaimana?” Aku hanya mampu mengucapkan kata-kata itu. Sisanya tersangkut dalam tenggorokanku.
“Em, kau harus datang ke pernikahanku. Dua bulan lagi. Simpanlah keingintahuanmu. Aku akan memberitahumu ketika kita bertemu. Jangan lupa bawa kado.”
Dan tiba-tiba sambungan terputus. Aku merasa kesal. Bagaimana dia bisa bersikap seperti itu? Aku mencoba menghubunginya, percuma. Tak ada jawaban. Baiklah, jika dia ingin sok misterius. Aku berusaha tak mempedulikannya. Walaupun sungguh, dalam hatiku rasa penasaran menggunung.
Tunggu dulu, Borneo? Aku berusaha mengingat sesuatu. Selepas lulus kuliah, dia memilih bekerja di Sulawesi, sedangkan aku memilih Borneo. Aku mendecak ketika ingatan itu muncul. Ada seseorang yang berasal dari Borneo. Ya, aku ingat. Anna pernah menyukai seseorang yang berasal dari Borneo. Edo.
Semester tujuh. Kami berada dalam satu kelas yang sama. Edo seorang anak yang supel. Dia membuat orang yang berada di sekitarnya merasa nyaman. Tapi dia seorang yang pelupa. Dalam satu waktu, dia membuat seseorang yang baru ditemuinya merasa nyaman, tapi dalam waktu berikutnya, dia sudah lupa bahwa pernah bertemu dengan orang tersebut.
Dalam suatu pagi, Anna bercerita padaku bahwa Edo muncul dalam mimpinya. Lebih dari itu, Edo mengambil peran sebagai seorang superhero. Mimpi dikejar hantu dan tentu tokoh laki-lakilah yang berusaha melindungi si wanita. Aku tertawa hebat mendengar ceritanya. Kami menganggap hal itu hanya angin lalu saja. Tapi beberapa hari kemudian, Edo kembali muncul dalam mimpi Anna. Aku menertawakannya lagi. Bagaimana bisa? Sejak itu, aku sering menggoda Anna, terlebih ketika ada Edo di sekitar kami.
Mungkin benar perkataan orang. Rasa suka bisa muncul karena suatu kebiasaan. Tapi ini, karena mimpi? Aku sangat kaget ketika suatu siang di kantin kampus Anna mengaku mulai menyukai Edo. Kupastikan aku tak salah dengar.
Aku memperingatkan Anna bahwa Edo mempunyai kebiasaan mudah membuat nyaman seseorang, agar Anna tak salah paham dalam hubungan mereka. Aku hanya akan mencoba sampai hatiku menyuruhku untuk berhenti, begitu jawaban Anna. Dan seperti gayung yang bersambut, kedekatan mereka semakin erat. Kutepis kekhawatiranku. Mungkin kali ini Edo juga memiliki perasaan dengan Anna.
Beberapa waktu pun berlalu. Hingga beberapa hari menjelang wisuda, sebuah informasi menyeruak. Edo sudah punya seseorang. Hati Anna hancur. Dia menangis. Aku menyalahkan Edo, kenapa tak bilang dari awal. Bukankah gerak gerik Anna sangat kentara? Walaupun begitu, Anna menepis. Dia merasa bodoh karena tak langsung menanyai Edo.
“Nona Emily?”
Aku terbangun dari lamunanku.
“Ya.” Jawabku tergeragap.
“Mari ikut dengan saya.” Orang itu menarik koperku dan aku membuntutinya. Umurnya masih tiga puluhan.. Ini kompensasi Anna atas kedatanganku. Dia menjamin akomodasiku.
Kukenakan sebuah gaun berwarna maroon dengan tas tangan yang berwarna serupa. Kumasukkan sebuah kado dengan bingkisan berwarna biru. Warna kesukaan Anna.
Sebuah pesta kebun yang cantik. Tepat sekali dengan keinginan Anna. Tak jauh dari panggung pengantin yang dibuat minimalis tapi sangat mengesankan terdapat sebuah danau. Perpaduan warna biru dan putih menambah pemandangan pernikahan Anna menjadi semakin cantik.
“Em..” Seseorang memanggilku. Dia mengenakan setelan jas.  Mukanya terlihat lebih bersih dari terakhir kuingat.
“Kau datang juga?” Pertanyaan bodoh itulah yang kulontarkan.
Dia hanya mengangguk.
“Kau terlihat cantik hari ini.”
Aku hanya tersenyum. Dia tak ubahnya seperti saat kuliah dulu. Tapi, kenapa dia di sini? Apa yang terjadi sebenarnya?
●●●
“Anna, kukira dia...”
“Tentu bukan dia Emily sayang.” Tukas Anna sebelum kalimatku tuntas. Kami sedang berada di sebuah kedai kopi.
Aku terbahak. Merasa bodoh dengan pemikiranku.
“Aku sangat kaget ketika dia muncul di depanku, kukira dia yang akan berada di panggung bersamamu.”
Anna terkekeh.
“Bagaimana bisa kau dengan dia? Dia, laki-laki yang pernah mengirimu sekardus cokelat bukan?” Tentu saja aku masih ingat dengan nama laki-laki yang tanpa pikir panajng mau mengirim sekardus cokelat untuk perempuan yang baru dikenalnya. Aku merasa beruntung satu kamar dengan Anna saat itu.
“Ya, itu suamiku. Laki-laki yang mengirimiku cokelat dan kau ikut menikmatinya.”
Aku terkekeh. Juga masih merasa ganjil mendengarnya berucap suamiku.
“Bagaimana ceritanya?” Kini aku ingin menuntaskan rasa penasaranku tentang kisah cinta Anna.
“Awalnya aku tak tertarik. Apalagi saat itu aku masih menyukai orang itu. Kau tahu kan tanpa aku perlu menyebutnya.”
Aku mengangguk cepat.
“Juga ketika aku patah hati, aku belum menyukainya. Tapi, lama-kelamaan aku merasa kehilangan ketika dia tidak menghubungiku. Kau ingat kan saat itu? Aku selalu mengeluh saat dia tidak menelponku.”
“Ya, kau akan memandangi ponselmu terus.”
Anna tersenyum.
“Ya semuanya terjadi begitu saja.”
“Ayolah Anna, kau seperti membunuhku kalau tidak bercerita dengan detail.”
Anna tertawa.
“Dia datang ke rumahku Em. Memintaku pada orang tuaku. Saat itulah aku tahu dia serius. Dari orang-orang dekatnya aku pun tahu dia orang yang baik dan bertanggung jawab. Aku tak tahu sejak kapan menyukainya, aku hanya merasa ‘Ya, dialah orangnya.’ Dan aku menerimanya.”
Kupegang tangan Anna dan mengucapkan selamat dengan tulus. Aku sungguh berdoa semoga mereka menjadi keluarga yang dirindukan surga. Akan lahir putra putri yang mampu menjadi penerang dalam kehiduapan mereka.
“Anna,” panggilku.
Anna berhenti menyeruput kopi dan menatapku.
“Kau tak boleh lupa memakai kado yang aku berikan untukmu.” Pesanku dengan muka yang kubuat serius.
Sedetik kemudian kami tertawa bersama. Aku sungguh berbahagia atas pernikahanmu, Anna.

Catatan: Cerpen ini kupersembahkan untuk seseorang yang aku pernah menjanjikan membuat cerita tentangnya. Tapi, sebagian hanyalah fiktif belaka. Hehe. Hei, kawan, yang selama empat tahun lalu hampir selalu bertemu denganku siang dan malam, aku turut berbahagia untukmu. Obrolan seputar pernikahan dan nama anak favorit rasanya baru kemarin. Ternyata, seiring berjalannya waktu obrolan-obrolan itu menjadi kenyataan satu persatu menjadi kenyataan. Pesanku, ingatlah, pernikahan itu merger bukan akuisisi (ini hanyalah pesan dari seseorang yang belum menikah, jadi boleh diabaikan boleh tidak). Hehe. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah warrohmah. Memiliki putra putri yang sholeh dan sholehah. Dan menjadi keluarga yang dirindukan surga.

Maafkan aku yang tidak bisa datang.