Air
sungai itu begitu jernih. Aku bisa berkaca dengannya. Ikan-ikan delik dengan
matanya yang lebar dan tubuhnya yang kecil berenang-renang. Ketika kau
menatapnya, dia seakan balas menatapmu. Saat tanganmu ingin menangkapnya, dia
akan berenang cepat. Menghindar dari sergapan.
Sungai
itu terletak tak jauh dari rumah simbah. Hanya berbatas pelataran yang di
dalamnya ditanami berbagai macam sayuran. Ketela, kangkung, bayam, cabai
misalnya. Simbah kakung selalu mengajakku bermain ke sungai kala itu. Dia akan
sibuk mengurus sayuran dan aku sibuk menangkap ikan delik. Sebuah saringan
santan yang sudah tidak dipakai simbah putri menjadi andalanku menangkap ikan.
Kadang kudapati pula udang-udang kecil yang bersembunyi di balik batu atau ranting-ranting
kayu.
Simbah
kakung akan menemaniku menangkapi ikan ketika selesai mengurus sayuran. Kami
akan terkekeh ketika ikan-ikan delik berhasil kabur melewati jaring yang
berlubang. Ketika matahari semakin tinggi, simbah akan mengajakku pulang. Melepas
penat. Ketika panas sudah mulai tergelincir, simbah akan mengajakku pergi ke
sungai lagi. Kali ini, untuk memetik sayuran. Aku sering membantu mengikat
sayur dengan bilahan bambu yang disiapkan dari rumah. Sayuran itu, sebagian
untuk dimasak simbah putri dan sebagian lagi di jual di warung Mak Inah yang
letaknya di ujung jalan dekat lapangan desa. Aku akan ikut simbah putri
mengantar. Bukan apa-apa, aku hanya akan meminta dibelikan jajan.
Begitulah
aku selalu melewati akhir pekanku. Simbah, sungai, ikan, saringan santan. Tak
ada dalam persangkaanku hal itu akan menjadi peganganku kelak.
●●●
Orang-orang
sering terjebak di antara kenangan. Dalam hujan yang merintik atau dalam
benda-benda yang ada di sekitar dia tinggal, misalnya. Kenangan menjadi salah
satu bukti bahwa kita pernah berada dalam
suatu masa. Setidaknya begitulah menurutku. Terlebih, ketika hidup
terasa sangat kacau. Kau akan memanggil kenangan-kenangan bahagiamu. Menjadi
pegangan. Tapi, apa jadinya jika dirimu sendiri tak sanggup memanggil kenangan
itu. Sepertiku.
Aku
semakin gelisah. Anak itu belum nampak. Ketika matahari mulai menyingsing,
biasanya dia akan muncul. Dengan tas punggungnya yang bergambar princess dan rambutnya yang berkucir
dua. Lalu dia akan menukar uang sakunya dengan permen dan es lilin. Atau
terkadang sebuah mie remas dengan bumbu penyedap yang sangat asin.
Beberapa
saat kemudian dia muncul. Aku menyongsongnya. Ada ruah buncah dalam dadaku. Dia
menatap aneh. Aku berusaha terlihat seperti biasa. Ternyata, mengendalikan diri
agar terlihat biasa saja saat kau sangat senang sangatlah susah. Kali ini, dia
menukar uang sakunya dengan mie remas.
Anak
kecil itu bernama Mei. Mata bulatnya sempurna hitam dan jernih. Seperti
kelereng yang menjadi salah satu barang daganganku. Sesuatu yang aku cari
selama ini.
“Mei.”
Panggilku ketika dia mulai berjalan pergi setelah mendapatkan mie remas. Anak
itu menoleh. Kuncir duanya bergoyang.
“Aku
punya hadiah untukmu. Kau bisa ikut denganku kalau kau mau.”
Aku
sudah merencanakan ini sejak lama. Akan kutawarkan sebuah hadiah agar dia mau
mengikutiku. Mei selalu pulang sendirian. Ibunya mungkin tak akan curiga jika
dia pulang sedikit terlambat. Aku akan membawanya ke kontrakanku sebentar. Aku
hanya ingin lari dari mimpi buruk. Sebentar saja Mei. Aku butuh membangunkan
kenangan itu. Jika tidak, kegilaanlah yang mungkin akan menyergapku.
Aku
mendahului langkah Mei. Kutinggalkan warung kecilku menuju kontrakan yang
jaraknya hanya beberapa meter. Lewat ekor mata, kutahu dia mengikuti. Langkah
kaki sedikit kupercepat.
Pintu
berderit ketika aku mendorongnya melalui kenop. Bunyinya terkadang membuat
geli. Tapi, mau bagaimana lagi. Hanya rumah kontrakan yang luasnya tak lebih
besar dari kandang ayam milik simbah inilah yang cocok dengan pendapatanku dari
usaha warung.
“Masuklah
Mei.” Kubuka pintu sedikit lebar agar Mei bisa masuk. Dia menatapku,
menyelidik, sebelum memutuskan untuk melangkahkan kakinya. Entah, apa yang
sedang ada dalam pikirannya kini.
Dia
duduk di antara barang-barangku yang berantakan. Matanya terlihat mencari. Sebuah
bentol besar yang berada di betisnya terlihat ketika rok panjang merahnya
sedikit terangkat. Wudun. Aku teringat, dulu simbah kakung sering mengoleskan
daun waru yang telah diremas ke wudun yang hinggap di betisku. Daun waru itu
dipetiknya dari pohon waru yang banyak tumbuh di tepi sungai. Bunganya yang
berwarna kuning kadang kujadikan muatan perahu kertas yang kubuat. Dan
kulajukan di aliran sungai.
“Balurkan
daun waru yang diremas, itu akan membantu mematangkan wudun yang menempel di
betismu. Lalu, isi nanahnya bisa kau keluarkan.”
Mata
Mei membulat. Aku tersadar mengatakan hal itu tanpa sengaja.
“Ini,
hadiah untukmu.” Kuulurkan sebuah kotak berbungkus warna biru.
Tatapan
Mei tampak sedikit ragu-ragu walaupun akhirnya tangannya terulur juga. Dia
memegang bungkusan itu seakan menimbang. Menebak isi berdasar berat yang dirasakan.
Ah, kau terlalu lugu Mei, jika mengira bungkusan yang berat dan besar lebih
berharga dari yang kecil maka kau salah.
Mata
bulatnya terlihat semakin berbinar. Tataplah mataku Mei.
Tiba-tiba,
pintu berderit dengan gaduh. Beberapa orang masuk. Mei terlihat kaget, begitu
juga aku. Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluhan menyerubuk tubuh Mei,
memeluknya sangat erat hingga bingkisan biru itu jatuh. Aku hendak
mengambilkannya dan tersadar bahwa beberapa orang telah memegang lenganku.
Mengunci gerak.
“Apa
yang kau lakukan padanya?” Perempuan yang memiliki wajah mirip Mei membentak. Mama
Mei. Tangannya erat memeluk.
Aku
hendak mengatakan sesuatu, tapi tak ada yang keluar. Segala yang ada di depanku
tiba-tiba berubah. Seperti sebuah kail dengan benang pancing yang sangat
panjang, dia membuat sebuah kenangan itu muncul. Kenangan yang sengaja
kutenggelamkan sangat dalam. Ya, kenangan memang kadang melekat di mana saja.
Tanpa kau minta.
“Apa
yang kau lakukan padanya?” Ibu memelukku erat. Aku tak pernah mendengar
suaranya sekeras ini.
“Aku
tak melakukan apa-apa. Tanyakan saja padanya!” Suara balasan itu tak kalah
keras. Suara seorang ayah, setidaknya begitulah ibu mengajariku untuk
memanggilnya. Aku hanya mengkerut. Tidak berani menatap ayah yang kala itu
sering mendatangiku ketika ibu tidak berada di rumah. Memberiku sebuah bungkusan
besar dan berat dengan sebuah senyuman yang menurutku lebih mirip seringaian.
Tapi, juga meninggalkan rasa sakit di pantatku. Hal yang tak pernah diketahui
ibu sebelum hari itu. Dia membelikanku sebuah sepeda sebagai kado ulang tahunku
yang ke delapan. Aku tak mau menaikinya. Pantatku terlalu sakit.
“Apa
yang kau lakukan padanya?” Kali ini ibu membentak dengan suara yang lebih keras
dan bergetar.
Aku
memilih berlari ke dalam kamar. Menguncinya rapat. Tapi, di dalam kamar pun tak
kutemukan ketenangan. Seisi kamar seperti berisi seringaian ayah, dalam bola
basket, mainan robot, dan barang-barang lainnya. Baru kusadari isi kamarku
penuh dengan bingkisan ayah. Kupejamkan mata dan kututup telinga.
●●●
Aku
tak pernah ingat, sejak kapan aku mulai menyukai menghabiskan waktuku lebih
banyak di rumah simbah. Terlebih di sungai. Tidak seperti teman-temanku yang
lebih suka jalan-jalan ke pusat kota untuk membeli sesuatu atau hanya sekadar
nongkrong, aku lebih memilih mengayuh sepedaku menuju rumah simbah yang
letaknya memang tak jauh.
Rumah
tak lagi menjadi rumah. Perabot rumah tangga tiba-tiba memiliki sayap. Seperti
anak burung yang baru belajar terbang. Sesekali menabrak tembok dan memecah.
Selebihnya membanting lantai ketika baru lepas landas. Teramat berisik. Aku tak
pernah tahu penyebab pertengkaran itu. Kutemukan diriku tertidur dilantai suatu
pagi tepat hari ke dua ulang tahunku yang ke delapan. Dan semua itu berawal.
Ibu
sering menatapku dengan wajah aneh. Ada tangis, jijik, marah. Di meja makan,
ibu selalu dingin. Sedingin sup yang sering tersaji di meja. Kami akan makan
dalam diam. Setelah itu, seperti sebuah kaset yang di setel berulang, makian
ibu akan terdengar. Bersahut dengan cacian ayah yang tak kalah keras.
Heran.
Jika ibu kesal, kenapa ibu tak mengusir ayah pergi seperti aku yang selalu
mengusir teman-temanku jika mereka membuatku jengkel. Tersadar. Bukankah itu
rumah ayah? Aku bersama ibu datang ke rumah itu ketika hari pertama masuk
sekolah dasar.
Aku
tak seperti kebanyakan anak seusiaku. Terlalu pendiam. Aku sering memaki. Entah
pada barang-barang atau orang yang membuatku kesal. Semakin besar, hidupku
rasanya semakin kacau. Selepas SMA, kuputuskan untuk merantau. Kemanapun, asal
keluar dari rumah.
●●●
“Mari
kita bawa ke polisi saja?”
“Tenang,
ada apa ini?”
“Bukankah
belum tentu dia berbuat yang tidak-tidak?”
“Dia
membawa anakku ke rumahnya dan menutup pintu, hanya ada mereka berdua.
Menurutmu, apa lagi yang akan dia lakukan.”
“Dia
memang kurang waras, aku sering melihatnya meracau, kadang juga memaki.”
“Aku
pernah dengar, dia memiliki masa kecil yang mengerikan. Dia juga membuka warung
ini katanya dengan mencuri uang.”
“Dasar
cabul.”
“Orang
gila.”
Kepalaku
terasa sangat pening. Teriakan ibu dan ayah bercampur dengan suara-suara lain. Makian.
Aku meronta. Aku tak pernah berada dalam masa itu. Itu sungguh bukan
kenanganku.
Aku
ingin berlari ke sungai yang letaknya tak jauh dari rumah simbah. Sebuah sungai
yang tenang dengan airnya yang jernih. Menemukan lagi diriku. Mei, di mana Mei.
Aku terus meronta. Orang-orang itu memegangku semakin erat. Hingga sebuah
tangan memukul kepalaku.
“Mei...”
lirihku. Bola-bola mata itu menatapku. Bola-bola mata yang selama ini aku cari,
yang begitu jernih hingga aku bisa berkaca dengannya.
Seketika
aku berada di sungai. Ikan-ikan delik menatapku. Kuceburkan diri. Ikut
berenang. Menemukan diriku. Aku tak lagi mendengar perkataan orang-orang. Hanya
gemericik air mengalir. Dan suara simbah yang mendengung di kepalaku.
“Air
di sungai ini memang sangat jernih Jun, sejernih matamu. Kita bisa berkaca
dengannya.”
Aku
tersenyum. Lewat bola-bola mata itulah setidaknya aku sadar, bahwa aku pernah
bahagia. Tak mengertikah mereka?
Gunung
Mas, 30 November 2015
Catatan:
Pelataran:
sejenis ladang yang berada di tepi sungai.
Simbah
kakung/putri: kakek/nenek
Wudun:
bisul