Minggu, 29 Mei 2016

Bola-Bola Mata [Cerpen Apresiasi Mei, www.tamanfiksi.com]

Air sungai itu begitu jernih. Aku bisa berkaca dengannya. Ikan-ikan delik dengan matanya yang lebar dan tubuhnya yang kecil berenang-renang. Ketika kau menatapnya, dia seakan balas menatapmu. Saat tanganmu ingin menangkapnya, dia akan berenang cepat. Menghindar dari sergapan.
Sungai itu terletak tak jauh dari rumah simbah. Hanya berbatas pelataran yang di dalamnya ditanami berbagai macam sayuran. Ketela, kangkung, bayam, cabai misalnya. Simbah kakung selalu mengajakku bermain ke sungai kala itu. Dia akan sibuk mengurus sayuran dan aku sibuk menangkap ikan delik. Sebuah saringan santan yang sudah tidak dipakai simbah putri menjadi andalanku menangkap ikan. Kadang kudapati pula udang-udang kecil yang bersembunyi di balik batu atau ranting-ranting kayu.
Simbah kakung akan menemaniku menangkapi ikan ketika selesai mengurus sayuran. Kami akan terkekeh ketika ikan-ikan delik berhasil kabur melewati jaring yang berlubang. Ketika matahari semakin tinggi, simbah akan mengajakku pulang. Melepas penat. Ketika panas sudah mulai tergelincir, simbah akan mengajakku pergi ke sungai lagi. Kali ini, untuk memetik sayuran. Aku sering membantu mengikat sayur dengan bilahan bambu yang disiapkan dari rumah. Sayuran itu, sebagian untuk dimasak simbah putri dan sebagian lagi di jual di warung Mak Inah yang letaknya di ujung jalan dekat lapangan desa. Aku akan ikut simbah putri mengantar. Bukan apa-apa, aku hanya akan meminta dibelikan jajan.
Begitulah aku selalu melewati akhir pekanku. Simbah, sungai, ikan, saringan santan. Tak ada dalam persangkaanku hal itu akan menjadi peganganku kelak.
●●●
Orang-orang sering terjebak di antara kenangan. Dalam hujan yang merintik atau dalam benda-benda yang ada di sekitar dia tinggal, misalnya. Kenangan menjadi salah satu bukti bahwa kita pernah berada dalam  suatu masa. Setidaknya begitulah menurutku. Terlebih, ketika hidup terasa sangat kacau. Kau akan memanggil kenangan-kenangan bahagiamu. Menjadi pegangan. Tapi, apa jadinya jika dirimu sendiri tak sanggup memanggil kenangan itu. Sepertiku.
Aku semakin gelisah. Anak itu belum nampak. Ketika matahari mulai menyingsing, biasanya dia akan muncul. Dengan tas punggungnya yang bergambar princess dan rambutnya yang berkucir dua. Lalu dia akan menukar uang sakunya dengan permen dan es lilin. Atau terkadang sebuah mie remas dengan bumbu penyedap yang sangat asin.
Beberapa saat kemudian dia muncul. Aku menyongsongnya. Ada ruah buncah dalam dadaku. Dia menatap aneh. Aku berusaha terlihat seperti biasa. Ternyata, mengendalikan diri agar terlihat biasa saja saat kau sangat senang sangatlah susah. Kali ini, dia menukar uang sakunya dengan mie remas.
Anak kecil itu bernama Mei. Mata bulatnya sempurna hitam dan jernih. Seperti kelereng yang menjadi salah satu barang daganganku. Sesuatu yang aku cari selama ini.
“Mei.” Panggilku ketika dia mulai berjalan pergi setelah mendapatkan mie remas. Anak itu menoleh. Kuncir duanya bergoyang.
“Aku punya hadiah untukmu. Kau bisa ikut denganku kalau kau mau.”
Aku sudah merencanakan ini sejak lama. Akan kutawarkan sebuah hadiah agar dia mau mengikutiku. Mei selalu pulang sendirian. Ibunya mungkin tak akan curiga jika dia pulang sedikit terlambat. Aku akan membawanya ke kontrakanku sebentar. Aku hanya ingin lari dari mimpi buruk. Sebentar saja Mei. Aku butuh membangunkan kenangan itu. Jika tidak, kegilaanlah yang mungkin akan menyergapku.
Aku mendahului langkah Mei. Kutinggalkan warung kecilku menuju kontrakan yang jaraknya hanya beberapa meter. Lewat ekor mata, kutahu dia mengikuti. Langkah kaki sedikit kupercepat.
Pintu berderit ketika aku mendorongnya melalui kenop. Bunyinya terkadang membuat geli. Tapi, mau bagaimana lagi. Hanya rumah kontrakan yang luasnya tak lebih besar dari kandang ayam milik simbah inilah yang cocok dengan pendapatanku dari usaha warung.
“Masuklah Mei.” Kubuka pintu sedikit lebar agar Mei bisa masuk. Dia menatapku, menyelidik, sebelum memutuskan untuk melangkahkan kakinya. Entah, apa yang sedang ada dalam pikirannya kini.
Dia duduk di antara barang-barangku yang berantakan. Matanya terlihat mencari. Sebuah bentol besar yang berada di betisnya terlihat ketika rok panjang merahnya sedikit terangkat. Wudun. Aku teringat, dulu simbah kakung sering mengoleskan daun waru yang telah diremas ke wudun yang hinggap di betisku. Daun waru itu dipetiknya dari pohon waru yang banyak tumbuh di tepi sungai. Bunganya yang berwarna kuning kadang kujadikan muatan perahu kertas yang kubuat. Dan kulajukan di aliran sungai.
“Balurkan daun waru yang diremas, itu akan membantu mematangkan wudun yang menempel di betismu. Lalu, isi nanahnya bisa kau keluarkan.”
Mata Mei membulat. Aku tersadar mengatakan hal itu tanpa sengaja.
“Ini, hadiah untukmu.” Kuulurkan sebuah kotak berbungkus warna biru.
Tatapan Mei tampak sedikit ragu-ragu walaupun akhirnya tangannya terulur juga. Dia memegang bungkusan itu seakan menimbang. Menebak isi berdasar berat yang dirasakan. Ah, kau terlalu lugu Mei, jika mengira bungkusan yang berat dan besar lebih berharga dari yang kecil maka kau salah.
Mata bulatnya terlihat semakin berbinar. Tataplah mataku Mei.
Tiba-tiba, pintu berderit dengan gaduh. Beberapa orang masuk. Mei terlihat kaget, begitu juga aku. Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluhan menyerubuk tubuh Mei, memeluknya sangat erat hingga bingkisan biru itu jatuh. Aku hendak mengambilkannya dan tersadar bahwa beberapa orang telah memegang lenganku. Mengunci gerak.
“Apa yang kau lakukan padanya?” Perempuan yang memiliki wajah mirip Mei membentak. Mama Mei. Tangannya erat memeluk.
Aku hendak mengatakan sesuatu, tapi tak ada yang keluar. Segala yang ada di depanku tiba-tiba berubah. Seperti sebuah kail dengan benang pancing yang sangat panjang, dia membuat sebuah kenangan itu muncul. Kenangan yang sengaja kutenggelamkan sangat dalam. Ya, kenangan memang kadang melekat di mana saja. Tanpa kau minta.
“Apa yang kau lakukan padanya?” Ibu memelukku erat. Aku tak pernah mendengar suaranya sekeras ini.
“Aku tak melakukan apa-apa. Tanyakan saja padanya!” Suara balasan itu tak kalah keras. Suara seorang ayah, setidaknya begitulah ibu mengajariku untuk memanggilnya. Aku hanya mengkerut. Tidak berani menatap ayah yang kala itu sering mendatangiku ketika ibu tidak berada di rumah. Memberiku sebuah bungkusan besar dan berat dengan sebuah senyuman yang menurutku lebih mirip seringaian. Tapi, juga meninggalkan rasa sakit di pantatku. Hal yang tak pernah diketahui ibu sebelum hari itu. Dia membelikanku sebuah sepeda sebagai kado ulang tahunku yang ke delapan. Aku tak mau menaikinya. Pantatku terlalu sakit.
“Apa yang kau lakukan padanya?” Kali ini ibu membentak dengan suara yang lebih keras dan bergetar.
Aku memilih berlari ke dalam kamar. Menguncinya rapat. Tapi, di dalam kamar pun tak kutemukan ketenangan. Seisi kamar seperti berisi seringaian ayah, dalam bola basket, mainan robot, dan barang-barang lainnya. Baru kusadari isi kamarku penuh dengan bingkisan ayah. Kupejamkan mata dan kututup telinga.
●●●
Aku tak pernah ingat, sejak kapan aku mulai menyukai menghabiskan waktuku lebih banyak di rumah simbah. Terlebih di sungai. Tidak seperti teman-temanku yang lebih suka jalan-jalan ke pusat kota untuk membeli sesuatu atau hanya sekadar nongkrong, aku lebih memilih mengayuh sepedaku menuju rumah simbah yang letaknya memang tak jauh.
Rumah tak lagi menjadi rumah. Perabot rumah tangga tiba-tiba memiliki sayap. Seperti anak burung yang baru belajar terbang. Sesekali menabrak tembok dan memecah. Selebihnya membanting lantai ketika baru lepas landas. Teramat berisik. Aku tak pernah tahu penyebab pertengkaran itu. Kutemukan diriku tertidur dilantai suatu pagi tepat hari ke dua ulang tahunku yang ke delapan. Dan semua itu berawal.
Ibu sering menatapku dengan wajah aneh. Ada tangis, jijik, marah. Di meja makan, ibu selalu dingin. Sedingin sup yang sering tersaji di meja. Kami akan makan dalam diam. Setelah itu, seperti sebuah kaset yang di setel berulang, makian ibu akan terdengar. Bersahut dengan cacian ayah yang tak kalah keras.
Heran. Jika ibu kesal, kenapa ibu tak mengusir ayah pergi seperti aku yang selalu mengusir teman-temanku jika mereka membuatku jengkel. Tersadar. Bukankah itu rumah ayah? Aku bersama ibu datang ke rumah itu ketika hari pertama masuk sekolah dasar.
Aku tak seperti kebanyakan anak seusiaku. Terlalu pendiam. Aku sering memaki. Entah pada barang-barang atau orang yang membuatku kesal. Semakin besar, hidupku rasanya semakin kacau. Selepas SMA, kuputuskan untuk merantau. Kemanapun, asal keluar dari rumah.
●●●
“Mari kita bawa ke polisi saja?”
“Tenang, ada apa ini?”
“Bukankah belum tentu dia berbuat yang tidak-tidak?”
“Dia membawa anakku ke rumahnya dan menutup pintu, hanya ada mereka berdua. Menurutmu, apa lagi yang akan dia lakukan.”
“Dia memang kurang waras, aku sering melihatnya meracau, kadang juga memaki.”
“Aku pernah dengar, dia memiliki masa kecil yang mengerikan. Dia juga membuka warung ini katanya dengan mencuri uang.”
“Dasar cabul.”
“Orang gila.”
Kepalaku terasa sangat pening. Teriakan ibu dan ayah bercampur dengan suara-suara lain. Makian. Aku meronta. Aku tak pernah berada dalam masa itu. Itu sungguh bukan kenanganku.
Aku ingin berlari ke sungai yang letaknya tak jauh dari rumah simbah. Sebuah sungai yang tenang dengan airnya yang jernih. Menemukan lagi diriku. Mei, di mana Mei. Aku terus meronta. Orang-orang itu memegangku semakin erat. Hingga sebuah tangan memukul kepalaku.
“Mei...” lirihku. Bola-bola mata itu menatapku. Bola-bola mata yang selama ini aku cari, yang begitu jernih hingga aku bisa berkaca dengannya.
Seketika aku berada di sungai. Ikan-ikan delik menatapku. Kuceburkan diri. Ikut berenang. Menemukan diriku. Aku tak lagi mendengar perkataan orang-orang. Hanya gemericik air mengalir. Dan suara simbah yang mendengung di kepalaku.
“Air di sungai ini memang sangat jernih Jun, sejernih matamu. Kita bisa berkaca dengannya.”
Aku tersenyum. Lewat bola-bola mata itulah setidaknya aku sadar, bahwa aku pernah bahagia. Tak mengertikah mereka?        
                                                                                             Gunung Mas, 30 November 2015
Catatan:
Pelataran: sejenis ladang yang berada di tepi sungai.
Simbah kakung/putri: kakek/nenek

Wudun: bisul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar