Alhamdulillah. Yatta. Akhirnya.
Berhasil juga netasin anak kecil satu. Hehe
Catatan di awal ini tak bermaksud apa-apa, hehe, hanya pengingat momen untuk diri sendiri.
Cerpen ini sebenarnya sudah lama
sekali kubuat, sekitar bulan ke sepuluh tahun 2014. Yap, benar tahun 2014. Jauh
banget nggak tuh sampai bulan Juni 2016 pas ada konfirmasi. Satu tahun setengah ternyata si cerpen
ngantri di meja redaksi. Awalnya pas lagi dapat email, saya kira dari olshop
(kalo boleh jujur, sebenarnya dari dulu saya selalu excited ketika mendapat email masuk, tapi akhir-akhir ini email
saya isinya lebih banyak dari olshop,haha), ternyata sebuah email berisi
konfirmasi untuk pemuatan. Langsung senyum-senyum sendiri di pojokan (emang
kejatah tempat duduk di pojok sih kalau di tempat kerja, hehe). Untungnya masih
sepi, kalau nggak bisa diledekin senyum-senyum sendiri di pojokan.
Langsung deh saya buka file cerpen
karena sebenarnya saya sendiri sudah lupa pernah buat cerpen iu dan pernah
mengirimkannya ke majalah UMMI. Lupa juga ceritanya tentang apa. Saya juga
ubek-ubek lagi email saya, voilaaaaa, ternyata cerpen ini pernah kukirim ke
majalah lainnya dan ditolak. Setelah penolakan itu, baru saya kirim ke majalah
UMMI. Berbicara soal penolakan, dulu sekali, saat pertama kali menerima email
penolakan, saya senang sekali. Padahal emailnya penolakan lho, tapi saya
senang. Ternyata tulisan saya dibaca
oleh redaksi. Pernah juga diminta menunggu enam bulan dan tak ada kabar sampai
sekarang. Haha. Banyak juga yang tak berbalas. Setiap cerita punya jodohnya masing-masing.
Sambung lagi, mbak nya bilang,
kalau cerpennya bakal tayang bulan juli. Alhamdulillah berkah bulan Ramadhan. :)
Cerpen ini murni dan belum ada
editan dari redaksi UMMI. Oh ya, FYI majalah UMMI memberi batasan bahwa setiap penulis
cerpen majalah UMMI, cerpennya bisa terbit di majalah UMMI dengan minimal jarak
enam bulan. Jadi misal cerpennya terbit bulan juli, bisa terbit lagi nanti
bulan januari tahun depan. Semoga tahun depan bisa lagi nongol di majalah UMMI :) Selamat membaca.
#######
Kurenggangkan
tubuh, menghilangkan pegal-pegal. Rasanya baru sebentar aku menghadap komputer,
tapi punggungku sudah terasa panas. Kulirik jam di dinding, sudah pukul lima
sore. Pantas. Sudah tiga jam lebih aku duduk di depan komputer.
Kulangkahkan
kakiku ke kamar mandi. Mengambil handuk di jemuran baju terlebih dahulu.
Tubuhku terasa segar ketika air dari shower
mengguyur. Sedikit menghilangkan penat dan jenuh yang beberapa hari ini
menumpuk. Agak lama aku berada di bawah guyuran air, baru melilitkan handuk
ketika tubuhku mulai menggigil.
Aku
sedang membaca novel yang kubeli kemarin sepulang kerja ketika dia pulang.
Lelaki yang satu bulan terakhir ini hidup bersamaku. Aku hanya mengangguk tanpa
mengalihkan pandanganku dari novel ketika dia memberi salam.
Sebenarnya tak ada yang salah dengan
hubungan kami. Setidaknya itu yang kurasa. Hanan;lelaki yang kini menjadi
suamiku, telah kukenal sejak setahun lalu. Waktu itu aku sedang liburan ke luar
negeri dengan menggunakan jasa agen wisata. Dia termasuk dalam salah satu
kelompok tur kami. Begitulah kami berkenalan. Mungkin terdengar klise, tapi aku
merasa jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Mata hitamnya;yang setiap
melihatnya aku merasa seperti ada biji kopi, mampu membuat hatiku tenang.
Setahun kemudian kami memutuskan menikah.
“Kamu
belum membuatkanku teh?” tanyanya.
Aku
hanya menggeleng. Sudah seminggu terakhir aku tak melakukan hal yang dia minta,
teh sepulang kerja dan pagi hari. Bukankah dia bisa membuat sendiri, teh dan
gula sudah kusediakan di dapur. Air panas juga sudah ada.
“Sudah
kubilang kan, aku selalu suka minum teh setiap pulang kerja dan pagi hari.
Kenapa kamu tak pernah mendengarkan?” Nada suaranya terdengar satu oktaf lebih
tinggi.
“Kamu
tahu bukan? Aku tak suka minum teh,” sanggahku. Mataku masih terpaku pada
tulisan-tulisan di depanku, tapi tak ada yang benar-benar masuk di kepalaku.
Rasa jenuh itu kembali merayap.
“Kamu
tak harus minum teh?”
“Lalu
buat apa aku membuat teh?”
“Kamu
tau aku menyukainya.”
“Kenapa
kamu selalu mempermasalahkan tentang teh. Sebegitu pentingkah teh bagimu? Aku
tak mempermasalahkan kamu yang tak mengecup keningku tiap pagi sebelum
berangkat kerja.” Kutatap matanya.
“Oh
sudahlah, kamu tak mengerti maksudku.”
Kudengar
langkah kakinya menjauh. Sepertinya dia masuk ke kamar. Kuhembuskan nafas. Apa
sebenarnya maunya? Ayahku baik-baik saja tanpa teh sepulang kerja dan pagi
hari. Ayah tak pernah mengomel pada Ibu. Sepenting apa teh baginya.
Dulu,
sebelum menikah, aku merasa akan menjadi sangat bahagia ketika berumah tangga.
Bukan berarti aku tak bahagia sekarang. Aku bahagia dan aku sangat mencintai
Hanan. Hanya saja, aku sering merasa tak nyaman. Dia menjadi seseorang yang
berbeda.
Hanan
seperti orang yang baru kukenal setiap harinya. Banyak hal baru yang kutemui
dalam dirinya, yang sayangnya tak begitu kusukai. Salah satunya tentang teh.
Jujur, aku bukan orang yang mudah beradaptasi dan aku bukan orang yang akan
memaksakan diri melakukan hal yang tak kusukai sekalipun itu untuk orang yang
kusayangi. Lebih baik mengatakannya langsung bahwa aku tak suka, begitu caraku.
Dan itu sepertinya tak berlaku dalam hubunganku dengan Hanan.
Kutaruh
novel yang baru setengah kubaca, tak lagi berminat. Kuambil remot TV dan kutekan
tombol on. Memencet-mencet tombol channel, tak ada yang menarik. Kumatikan
TV dan beranjak ke kamar.
Dia
tidur di bagian kiri ranjang kami, menghadap tembok, entah sudah benar-benar
tidur atau belum. Kumatikan lampu kamar, berganti dengan remang lampu tidur.
Kurebahkan badan di bagian kanan ranjang kami, saling memunggungi.
Tak
ada yang berbicara di antara kami. Apalagi cium dan tatap menghujam bola mata
yang dulu begitu menghibur. Hanya punggung kami yang saling menghadap. Sebenarnya,
ingin sekali kuceritakan apa yang terjadi denganku hari ini. Tentang anak
didikku yang sering bertengkar, tentang guru-guru lain di tempatku mengajar,
tentang jalanan Jakarta yang selalu panas, apapun itu. Aku selalu suka
bercerita sebelum tidur. Tapi tak ada satu kalimat pun yang keluar dari
bibirku. Mungkin jenuh itu bukan hanya ada dalam hatiku, tapi juga merambat ke
mulutku.
Begitulah
malam yang kami lewatkan. Begitu saja.
Keesokan
paginya, kami sibuk dengan persiapan berangkat kerja. Kuurungkan niatku memakaikannya
dasi. Kurang rapi, begitu alasan dia menolakku waktu pertama aku melakukannya,
dulu. Walaupun pernah kubilang aku menyukai melakukannya, dia tetap menolakku.
Dia
menurunkanku di depan tempatku mengajar, sebelum meneruskan ke kantornya.
“Sampai
nanti.” Ucapnya sebelum aku menutup pintu mobil.
Dia
sudah melaju sebelum aku sempat melambaikan tangan. Sebenarnya apa yang terjadi
di antara kami. Ini bulan kedua semenjak aku sah menjadi istrinya, tapi rasanya
ada yang salah.
Rasanya
hari itu sangat berantakan. Anak-anak didikku menjadi sasaranku. Aku mengomel
panjang lebar hanya karena ada yang tak mengerjakan PR. Padahal biasanya aku
hanya akan memberi hukuman. Menjadi guru yang suka mengomel, sungguh bukan
tipeku.
Hari
itu kuputuskan untuk mampir ke toko buku, caraku menghibur diri. Tak ada novel
yang sedang ingin kubaca sebenarnya. Baru ketika matahari mulai tenggelam
kuputuskan untuk pulang.
Aku
melihat mobil Hanan ketika membuka pagar. Tak biasanya dia pulang cepat. Aku
menangkap sosoknya yang sedang menonton televisi ketika melewati ruang tengah.
Kuucapkan salam. Dia menyahut tanpa menoleh.
Kulangkahkan
kakiku ke kamar. Menaruh semua barang-barangku dan menelungkupkan wajahku ke
bantal. Aku menangis. Aku tak tahu pasti kenapa aku menangis, tapi mungkin
menangis bisa membuatku lega. Kupikir pernikahanku akan membuatku nyaman. Aku
hanya ingin membentuk keluarga seperti keluargaku.
Kudengar
pintu kamar terbuka dan menutup kembali. Aku tak mengangkat wajahku. Walaupun
suara tangisku tak keras, isakanku membuatku bahuku naik turun. Hanan pasti
tahu aku menangis.
“Kamu
kenapa?” tanyanya.
Aku
masih diam.
“Kita
harus bicara Aira?” suaranya terdengar tegas, tanda dia ingin berbicara serius.
Kuangkat
wajahku, semuanya memang harus segera diselesaikan.
“Kamu
bahagia menikah denganku?” tanyaku.
“Tentu
saja.” Dia kemudian duduk di sampingku. “Memangnya kamu tak bahagia?”
“Aku
bahagia,hanya saja...aku merasa tak nyaman,” kataku jujur.
Dia
terlihat sedikit kaget. Mungkin tak menyangka aku akan mengatakannya secepat
itu.
“Begitu...”
Dia menghembuskan nafasnya, terlihat berat.
“Aku
tak suka minum teh, tapi kamu selalu menanyaiku teh. Apa teh begitu penting?”
“Bukan
masalah teh sebenarnya, aku suka ketika aku pulang kamu menyambutku. Dan teh
hangat salah satu caranya. Ibuku selalu begitu, dan aku rasa ayahku sangat
bahagia ketika dia diperlakukan seperti itu oleh ibu.”
“Aku
bukan ibumu,” sanggahku. Dia harus sadar akan hal itu, bahwa kini dia tinggal
bersamaku bukan ibunya. Kami terdiam cukup lama.
“Aku
akan sangat senang kalau kamu mau melakukannya,” ucapnya lirih.
“Jangan
egois. Hanan, kamu juga tak pernah melakukan apa yang kusukai. Aku suka
memakaikanmu dasi, aku ingin kau mengecup dahiku tiap pagi, aku ingin kita
berolah raga bersama tiap akhir pekan. Ayahku selalu melakukannya dengan ibu.
Dan mereka bahagia.”
“Dan
aku bukan ayahmu,” ucapnya kemudian. Hanan menatapku lama. Kata-katanya
menamparku.
Selama
ini, aku hanya menyalahkan Hanan. Tanpa sadar bahwa aku juga melakukan
kesalahan. Pernikahan kami tak ubahnya seperti anak kecil yang bermain
rumah-rumahan. Yang kami bangun hanyalah sebuah rumah peran. Dia berperan
sebagai Ayahnya dan aku berperan sebagai Ibuku. Tak ada benang merah yang
menghubungkan peran kami, karena aku mengharapkannya seperti ayahku dan dia
mengharapkanku seperti ibunya.

congrats riniiii
BalasHapusMana ya komenku kok gak muncul
BalasHapusMbaah, aku jadi introspeksi nih. Jgn2 aku ky gt juga ya, tp beruntungnya si mas ga ky gt.. makasih mbah. Aku slalu suka cerpen2mu :*
BalasHapuseput: makasih
BalasHapusmbah :ah...mbah, wish you have a beautifull marriage :)
Luarbiasa
BalasHapus