Sabtu, 21 Juni 2014

Aku mencintaimu, Bu



Beberapa waktu terakhir, sering muncul wajah ibu ketika aku bangun. Oya, aku sekarang tak lagi di rumah. Tak lagi di kamarku. Tak lagi bisa menemukan wajah ibu yang biasanya selalu membuatkanku entah teh atau susu atau kopi di pagi hari. Mungkin aku sedang merindukannya. Bukan mungkin, karena benar aku merindukannya.
Jika aku merindukannya seperti ini, apakah Ibu juga merindukanku? Ya, Ibu lebih merindukanku dibanding aku merindukannya. Pasti begitu.
Dalam keluargaku memang jarang sekali ada pernyataan sayang. Hampir tidak pernah malah. Pernah sekali, seorang bijak berkata “ucaplah pada Ibu kalian Aku sayang Ibu karena Allah.”
Dan, aku melakukannya. Kala itu aku merasa tak cukup kuat untuk mengatakannya langsung. Ku sms ibu. “Aku mencintai Ibu karena Allah.”
Beberapa menit kemudian balasan itu muncul. “Kau kenapa nak?” begitulah jawaban Ibu.
Aku hanya membalas, tak apa-apa. Kemudian dalam smsku, tak lagi kuungkit kata-kata itu.
Bagi Ibu mungkin aneh, aku tiba-tiba mengatakan hal seperti itu. Tapi aku lega, setidaknya aku pernah menyatakan cintaku langsung padanya, secara sadar, walaupuan hanya lewat sms. Itu pernyataan cinta pertamaku kepada seseorang.
Ada yang bilang, cinta itu butuh pernyataan. Sebagai penegasan bahwa benar kau mencintainya.  Lalu, pernahkah kau menyatakannya cinta itu langsung? Bukan lewat media sosial. Yah, sekadar bertanya saja sih.
Well, cinta bukan melulu sebuah pernyataan, tapi dia tercermin dari perilaku. Cinta itu sungguh mampu kita rasakan.
Aku yakin, setiap Ibu pasti mencintai anak-anaknya. Dan aku juga sangat mencintai Ibuku. Dan Ibu jauh lebih besar cintanya kepadaku dibandingkan cintaku padanya.
Ketika aku pulang, Ibu selalu tidur denganku. Tidur di sebelahku. Kadang mengudangku. Ya, aku yang sudah sebesar ini dia kudang.  “anak wedok anak wedok nduk genduk..” kudangnya sambil mengusap rambutku. Malu? Tidak. Aku senang. Karena saat itu aku merasa kembali menjadi anak kecil dengan orang yang sangat menyayangiku ada di sampingku.
Ibu juga selalu menanyakan apa yang ingin aku makan. Lalu dimasaknya makanan-makanan kesukaanku. Bukan itu saja, Ibu selalu mendengar ceritaku, walaupun terkadang cerita itu tak penting-penting amat. Tapi Ibu terlihat senang ketika aku bercerita padanya.
Aku sering mengusik Ibu ketika sedang makan. Meminta disuapi. Dan dengan tangannya Ibu menyuapiku. Tangannya yang tak lagi halus menyentuh bibirku. Dan yang kutahu, rasa makanan itu lebih nikmat dibanding restoran manapun.
Mungkin Ibu kita tak pernah meminta kita pulang secara langsung, tak pernah meminta peluk, tapi dengarlah (bacalah) ini baik-baik, Ibu kita selalu menantikan hal itu dari diri kita. Bahkan ketika aku mengerti beberapa hal tentang ibu, aku tahu pengertian Ibu terhadapku masih jauh lebih besar dibanding pengertianku terhadapnya.
Ibu, Aku mencintaimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar