Rabu, 04 Juni 2014

Ketemu



Aku termenung, menatapi jalan Otista yang kian memadat. Inilah kebiasan baruku, menunggumu tiap sore senggangku tiba. Tidak senggang sebenarnya. Hanya, aku yang selalu menyenggangkan diri. Duduk sendiri di kedai kopi kecil ini, sebentar-sebentar mengok keluar. Berharap menemukan sosokmu.
Masih teringat, hari itu dengan kemeja kotak-kotak tosca kau duduk di depanku. Membawa secangkir latte yang masih mengepul. Hujan mengguyur deras di luar.
Boleh bergabung? Semua bangku penuh, begitu katamu sambil tersenyum. Memperlihatkan dempil di pipimu. Aku hanya mengangguk waktu itu. Setelah itu, mataku tak lagi bisa berkonsentrasi pada jejeran kata-kata dalam novel yang kubaca.
Kau mengajakku mengobrol. Menanyaiku ini dan itu. Aku kagum dengan wawasan luasmu. Ramahmu. Dan senyummu.
Ya. Kupikir aku hanya sebatas kagum. Salah. Lebih dari itu aku menyukaimu. Memikirkanmu sejak hari itu. Seperti orang gila. Dan di sinilah aku, menungguimu tiap sore. Ah, rasa suka memang kadang membuat gila, begitu kata orang-orang. Dan sialnya itu benar.
Hari ini, hari ke 40 sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Hanya hari kemarin aku absen menungguimu. Demam.
Kulayangkan pandanganku ke luar. Kendaraan memadat. Tak percaya, mataku  menangkap bayangmu. Senyumku merekah.Berharap kau masuk ke kedai ini dan duduk di depanku, lagi.
Masih dengan kemeja kotak-kotak kau melangkah masuk. Memesan latte dan duduk di meja seberangku. Aku kecewa. Sudah tak mengenaliku kah kau?
Kuamati gerakmu.
Tersadar. Aku pikir, mungkin kau juga merasa menemukanku seperti aku yang menemukanmu. Tapi sepertinya aku hanyalah orang yang tak sengaja kau temui bagimu.
Kulangkahkan kakiku ke luar. Meninggalkanmu, yang aku tahu dari gerakmu sedang berharap bertemu seseorang. Karena seperti itulah aku selama menungguimu. Semoga orang yang kautemukan itu juga merasa telah menemukanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar