Aku termenung, menatapi jalan
Otista yang kian memadat. Inilah kebiasan baruku, menunggumu tiap sore
senggangku tiba. Tidak senggang sebenarnya. Hanya, aku yang selalu menyenggangkan
diri. Duduk sendiri di kedai kopi kecil ini, sebentar-sebentar mengok keluar.
Berharap menemukan sosokmu.
Masih teringat, hari itu dengan
kemeja kotak-kotak tosca kau duduk di depanku. Membawa secangkir latte yang
masih mengepul. Hujan mengguyur deras di luar.
Boleh bergabung? Semua bangku
penuh, begitu katamu sambil tersenyum. Memperlihatkan dempil di pipimu. Aku
hanya mengangguk waktu itu. Setelah itu, mataku tak lagi bisa berkonsentrasi
pada jejeran kata-kata dalam novel yang kubaca.
Kau mengajakku mengobrol.
Menanyaiku ini dan itu. Aku kagum dengan wawasan luasmu. Ramahmu. Dan senyummu.
Ya. Kupikir aku hanya sebatas
kagum. Salah. Lebih dari itu aku menyukaimu. Memikirkanmu sejak hari itu.
Seperti orang gila. Dan di sinilah aku, menungguimu tiap sore. Ah, rasa suka
memang kadang membuat gila, begitu kata orang-orang. Dan sialnya itu benar.
Hari ini, hari ke 40 sejak
pertama kali aku bertemu denganmu. Hanya hari kemarin aku absen menungguimu.
Demam.
Kulayangkan pandanganku ke luar.
Kendaraan memadat. Tak percaya, mataku menangkap bayangmu. Senyumku merekah.Berharap
kau masuk ke kedai ini dan duduk di depanku, lagi.
Masih dengan kemeja kotak-kotak
kau melangkah masuk. Memesan latte dan duduk di meja seberangku. Aku kecewa.
Sudah tak mengenaliku kah kau?
Kuamati gerakmu.
Tersadar. Aku pikir, mungkin kau
juga merasa menemukanku seperti aku yang menemukanmu. Tapi sepertinya aku
hanyalah orang yang tak sengaja kau temui bagimu.
Kulangkahkan kakiku ke luar.
Meninggalkanmu, yang aku tahu dari gerakmu sedang berharap bertemu seseorang.
Karena seperti itulah aku selama menungguimu. Semoga orang yang kautemukan itu
juga merasa telah menemukanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar