Hujan
ini milik siapa katamu?
Aku
tak bisa menjawab. Karena ia bisa milik siapa saja. Pun ketika kau bertanya
tentang hujan yang turun di sudut mataku. Apakah kau berharap itu milikmu?
Tidak.
Tidak. Tidak. Hujan itu bukan milik siapapun. Hujan itu tetap milikku. Karena
aku telah membiarkan bagian diriku terluka. Aku telah mengecewakan diriku
sendiri karena berharap padamu. Bahkan ketika aku tahu harapan itu harusnya
kutujukan pada siapa.
Aku
suka hujan. Tapi aku benci hujan yang ada pada mataku. Dan sore ini,
hujan-hujan itu turun bersamaan. Aku lega sekaligus lelah. Lega karena hujan
itu menghiburku. Dan lelah karena hujan itu datang padaku.
Ada
pelangi. Bukan mejikuhibiniu. Hanya merah, kuning, hijau. Dia datang setelah
hujan. Aku suka. Tapi aku juga benci karena ia tak selalu datang setelah hujan
turun.
Cepatlah
datang. Mari menari di bawah hujan bersama. Jangan jadi hujan. Jangan jadi
pelangi. Jadilah orang yang ada di sampingku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar