Rabu, 13 Januari 2016

Pulang-Tere Liye

Menurut saya sendiri, pulang berarti banyak hal. Pulang yang paling hakiki sendiri adalah pulang ke Sang Pencipta. Dalam novel ini, Tere Liye, menggambarkan bagaimana Bujang—tokoh utama dalam novel—memaknai Pulang melalui pertarungan-pertarungan dan hal-hal yang terjadi pada orang yang disayanginya.

Banyak sekali hal yang saya dapatkan dari novel ini. Seolah pertanyaan-pertanyaan yang membenak terjawab.

Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain. (Salonga-187)

Terlepas dari bagaimana cara Bujang hidup, dia selalu memegang teguh pesan mamaknya. Tak boleh setetes pun dia meminum tuak dan tak boleh secuil pun dia memakan babi. Sebuah kesetiaan. Sebuah prinsip yang ia terapkan. Dan itulah yang menjaga Bujang.

Prinsip. Ya pada akhirnya prinsip-prinsip hidup yang kita peganglah yang membuat kita setia.
Ketahuilah Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran. (Tuanku Imam-340)

Aku tahu kau tetap penasaran dengan banyak hal, karena kau dibesarkan pada rasionalitas. Tapi saat kau tiba pada titik itu, maka kau akan mengerti dengan sendirinya. Itu perjalanan yang tidak mudah, Bujang. Kau harus mengalahkan banyak hal. Bukan musuh-musuhmu, tapi diri-sendiri, menaklukan monster yang ada pada dirimu. Sejatinya, dalam hidup ini kita tidak perna berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kta cukup mengalahkan diri-sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja. (Guru Bushi- 387)

Kalimat inilah yang juga menancap dalam hatiku. Berdamai dengan hati sungguhlah membutuhkan suatu proses. Aku perlu membujuknya, mendiamkannya, hingga melakukan sesuatu yang membuat hatiku bosan. Keegoisan, ambisi, bahkan aku pernah pada tahap menutup diri. Aku tak ingin mendengar bagaimana kabar orang lain entah lewat orangya langsung atau media social. Salah satu cara membujuk hatiku. Untuk apa selalu melihat orang lain, tapi kita lupa melihat diri-sendiri. Melihat apa yang dimiliki orang lain, tapi lupa bersyukur dengan apa yang ada dalam diri kita. Terkadang, aku lupa berbicara dengan diri sendiri dan aku lupa mengobrolkan diriku dengan Tuhan.
Semua hal memang butuh proses. Hidup bukan tentang mengalahkan orang lain. Pada akhirnya, hidup tentang kedamaian dalam hati kita. Dan aku masih berusaha.


Secara keseluruhan, walaupun aku lebih menyukai seri anak-anak Mamak (Burlian, Eliana, Pukat, Amelia) milik Tere Liye, tapi novel ini seperti sebuah jawaban dari apa yang aku cari. Tentang sebuah prinsip dan kedamaian hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar