Menurut saya sendiri, pulang
berarti banyak hal. Pulang yang paling hakiki sendiri adalah pulang ke Sang
Pencipta. Dalam novel ini, Tere Liye, menggambarkan bagaimana Bujang—tokoh
utama dalam novel—memaknai Pulang melalui pertarungan-pertarungan dan hal-hal
yang terjadi pada orang yang disayanginya.
Banyak sekali hal yang saya
dapatkan dari novel ini. Seolah pertanyaan-pertanyaan yang membenak terjawab.
Bahwa kesetiaan terbaik adalah
pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain. (Salonga-187)
Terlepas dari bagaimana cara
Bujang hidup, dia selalu memegang teguh pesan mamaknya. Tak boleh setetes pun
dia meminum tuak dan tak boleh secuil pun dia memakan babi. Sebuah kesetiaan.
Sebuah prinsip yang ia terapkan. Dan itulah yang menjaga Bujang.
Prinsip. Ya pada akhirnya
prinsip-prinsip hidup yang kita peganglah yang membuat kita setia.
Ketahuilah Nak, hidup ini tidak
pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di
hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh
pertempuran. (Tuanku Imam-340)
Aku tahu kau tetap penasaran
dengan banyak hal, karena kau dibesarkan pada rasionalitas. Tapi saat kau tiba
pada titik itu, maka kau akan mengerti dengan sendirinya. Itu perjalanan yang
tidak mudah, Bujang. Kau harus mengalahkan banyak hal. Bukan musuh-musuhmu,
tapi diri-sendiri, menaklukan monster yang ada pada dirimu. Sejatinya, dalam
hidup ini kita tidak perna berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali
tidak perlu. Kta cukup mengalahkan diri-sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian.
Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam
pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja. (Guru Bushi- 387)
Kalimat inilah yang juga menancap
dalam hatiku. Berdamai dengan hati sungguhlah membutuhkan suatu proses. Aku
perlu membujuknya, mendiamkannya, hingga melakukan sesuatu yang membuat hatiku
bosan. Keegoisan, ambisi, bahkan aku pernah pada tahap menutup diri. Aku tak
ingin mendengar bagaimana kabar orang lain entah lewat orangya langsung atau
media social. Salah satu cara membujuk hatiku. Untuk apa selalu melihat orang
lain, tapi kita lupa melihat diri-sendiri. Melihat apa yang dimiliki orang
lain, tapi lupa bersyukur dengan apa yang ada dalam diri kita. Terkadang, aku
lupa berbicara dengan diri sendiri dan aku lupa mengobrolkan diriku dengan
Tuhan.
Semua hal memang butuh proses.
Hidup bukan tentang mengalahkan orang lain. Pada akhirnya, hidup tentang
kedamaian dalam hati kita. Dan aku masih berusaha.
Secara keseluruhan, walaupun aku
lebih menyukai seri anak-anak Mamak (Burlian, Eliana, Pukat, Amelia) milik Tere
Liye, tapi novel ini seperti sebuah jawaban dari apa yang aku cari. Tentang sebuah
prinsip dan kedamaian hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar