Kupandangi wajahmu yang tak lagi
sendu. Matamu nyata riang. Bahkan, bunga matahari yang sedang kau mainkan
kelopak-kelopaknya kalah cemerlang dari matamu. Sebegitu bahagiakah kau saat
ini?
Masih teringat jelas saat semalam
kau mengetuk pintu rumahku. Menghambur ke dalam pelukanku begitu pintu kubuka.
Kuusap kepalamu. Tak sepatah kata
pun kuucap. Ya, memang tak ada yang perlu kuucap. Kubiarkan kau mengisak di
dadaku, membuat kaosku basah. Tak apa, sungguh tak apa. Dan kau langsung pergi
begitu tangismu tuntas. Begitu saja.
Tapi, pagi ini kau ketuk pintu
rumahku lagi. Dengan senyum mengembang. Mengajakku ke taman bunga matahari. Entah
lenyap kemana kesenduanmu semalam. Kau berceloteh, tertawa, seakan tak ada yang
terjadi apa-apa semalam.
Aku tak apa-apa, begitu jawabmu saat aku bertanya keadaanmu.
Benarkah, kau tak apa-apa?
Jangan katakan itu lagi, katakan aku menderita ketika kau memang
menderita, ucapku sedikit keras. Membuatmu menoleh, berhenti memetik
kelopak-kelopak bunga matahari.
Kau bisa kan mengatakannya. Aku tak butuh kata ‘Aku tak apa-apa’
darimu. Kau pikir, mata riangmu itu bisa membohongiku. Aku tahu kau aktris hebat.
Tapi kau tak bisa berbohong padaku, sepertinya suaraku sedikit meninggi.
Kuselami wajahmu. Meyakinkanmu
bahwa kau bisa berbagi apa saja padaku. Binar matamu melayu. Segera kupeluk
dirimu
Ya, kau bisa menceritakan apa saja padaku. Jangan lagi kau tanggung
sendiri bebanmu. Bukankah kita teman? Ucapku. Kurasakan anggukan kepalamu.
Ya, bukankah kita seorang teman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar